ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Kota Palas


"Tuan, apakah pantas tuan memakan pencarian wanita. Tuan bisa mengambil buah."


Saat itu dia katakan, Citra Ayu menatap Rewanda yang hanya berlompatan dari dahan satu ke dahan lainnya di pohon di tempat mereka duduk. 'Tak berbeda Tuan dan Keranya.'


Sementara itu, Luna dan dua gadis lainnya sedang berburu mencari makanan di temani Krama.


"Aku hanya membiarkan mereka latihan, ketiganya harus melakukan itu agar bisa menjadi kuat. Tidak usah terlalu dipikirkan.


Citra Ayu hanya bisa terdiam. Meski tidak bertanya lebih jauh, dia menyimpulkan bahwa Arya adalah pemuda malas anak bangsawan yang mampu membayar pengawal-pengawal dari negeri asing.


Dan ada satu lagi yang mengganjal hatinya. Jika Arya adalah putra seorang bangsawan setidaknya Citra Ayu pasti pernah mendengarnya. Dengan cara ketiga pendekar wanita asing yang begitu menghormatinya, jelas Arya bukan dari bangsawan biasa.


***


Mereka memutuskan untuk menginap di rumah yang dibuat Citra Ayu dari elemen tanah itu. Keesokan harinya barulah mereka memulai perjalanan.


Akan tetapi, di perjalanan, Citra Ayu selalu menempel pada Bai Hua. Tidak peduli gadis itu terlihat tidak nyaman, Citra Ayu terus-terusan memujinya.


"Tuah badan memang tak memandang. Wajah cantik nan rupawan, ilmu tinggi setinggi awan."


Semua itu karena dia baru pertama kali merasakan masakan Bai Hua. Menurutnya itu adalah makanan yang paling enak yang pernah dia makan seumur hidupnya.


"Nona, jika kau berkenan. Aku akan memperkenalkan kau dengan pria tampan nan hartawan."


"Nona Citra Ayu, akan lebih baik jika kau berhenti bicara agar kita bisa terus berjalan. Jika tidak aku akan meminta senior untuk berubah pikiran."


Bai Hua benar-benar di buat sakit kepala oleh segala macam pujian yang di ucapkan Citra Ayu itu padanya.


"Oh, sungguh dermawan. Bulan tak perlu pujian. Sebagai perempuan Nona sungguh idaman."


Luna dan Ciel tertawa sepanjang jalan melihat ulah Citra Ayu dan Bai Hua. Sementara Arya seolah tak memperdulikannya.


Arya sendiri tampak sedang berfikir. Di buku manapun yang di tinggalkan oleh Obskura, dia tidak pernah mengingat sebuah batu bernama Inti Tanah.


Hal itu sangat menarik perhatiannya. Karena jika apa yang dikatakan Citra Ayu itu benar, maka Inti tanah mungkin sebutan lain pada sebuah benda yang pernah di bacanya.


"Arya, aku dan Krama akan berjalan terlebih dahulu. Aku rasa sudah setengah hari kita berjalan, aku tidak melihat tanda-tanda keramaian sama sekali."


"Baiklah. Aku rasa itu ide yang bagus."


Setelah mengatakan itu, Ciel langsung memacu langkahnya.


"Krama, jalanlah lebih dahulu bersama Ciel."


Tanpa menunggu, Krama dengan wujud anjing nya langsung menyusul Ciel di belakang.


"Arya, apa menurutmu gadis ini bisa dipercaya?"


Arya tak langsung mengangguk ataupun menggeleng. "Aku tak perduli. Jika dia berbahaya, aku rasa kau mampu membereskannya. Hanya saja, batu yang dia sebut-sebut itu, membuatku penasaran."


Luna langsung mengangguk mengerti. "Lagipula, apa yang kita harapkan jika sudah memutuskan bertualang, Bukan? "


"Ya, Aku ingin mengetahui Dunia. Aku tidak akan menghindari masalah, jika itu memberikan aku pengetahuan."


Sementara itu jauh di depan, Ciel dan Krama memimpin jalan. Setelah beberapa jam berlari dengan ilmu meringankan tubuh, Ciel menemukan sebuah pusat keramaian.


Tempat itu lebih mirip sebuah kota kecil. Namun sangat Ramai. Saat ini, Ciel menyadari bahwa Citra Ayu sengaja membawa mereka berjalan di tempat yang tidak di lalui kebanyakan orang.


Sebuah kota yang sangat ramai di tengah pegunungan terpencil. Hal itu tentu saja terlihat tidak wajar.


Krama dan Ciel sengaja mengelilingi kota tersebut. Dengan kekuatan matanya dan penciuman Krama, keduanya bisa mengetahui di tengah hutan, penjagaan Kota itu sangat ketat.


Setiap dua ratus meter, terlihat banyak para pendekar berjaga. Ciel sendiri bisa mengetahui bahwa kota itu hanya memiliki satu gerbang yang di gunakan untuk keluar masuk. Yang berarti hanya ada satu jalan saja yang bisa di gunakan untuk memasuki kota tersebut.


Ciel memutuskan berputar arah untuk melaporkan itu pada Arya dan juga memastikan apakah benar kota ini yang sedang mereka tuju.


Ciel tidak mudah percaya pada siapapun. Meski Citra Ayu tampak cukup meyakinkan, baginya gadis itu tampak terlalu banyak memiliki rahasia.


Kota itu bernama Kota Palas. Terletak di antara Negeri Pasir putih dan negeri Ambang. Kota itu memiliki nama lain, para penduduk dari dua negeri menyebut kota itu sebagai kota pendekar.


Seluruh pendekar dari segala penjuru Daratan Barat begitu tertarik untuk datang ke sana. Karena di sana hanya memiliki satu hukum saja. Siapa yang kuat, maka dia yang benar.


"Surma, langit tak retak bumi pun tidak. Orang berjalan membawa kabar. Citra Ayu menghilang, kau diam?"


"Sendang. Aku tak berada di atas api. Kenapa pula aku yang terbakar? Citra Ayu seorang pendekar. Dia tak hilang hanya tak berkabar."


Sendang mengetahui cara berfikir Surma. Kabar yang beredar mengatakan bahwa dia atau saudaranya lah yang menculik Citra Ayu.


Sebenarnya itu cukup pelik. Dengan kekuatan gadis itu yang sudah cukup tersohor di penjuru negeri, tidak mungkin orang bisa menculiknya dengan diam-diam.


Istana Pasir Putih bukan istana yang siapa saja bisa masuk jika dia menginginkannya. Alih-alih menculik sang putri istana, pendekar suci di bawah tingkat enam, akan mati hanya karena mengganggu dayang-dayang istana.


"Durma tak bergeming engkau pun tidak. Karpatandanu mengancam perang. Apa gerangan tanggapan Sultan?"


"Ayahanda bijak tidak Terkira. Gentar tidak takutpun tidak. Jika Pasir Putih keras menyerang, negeri Ambang pasti di hadang."


"Sungguh Karpatandanu malang, dengan buta menunjuk, dalang."


"Hei Sendang. Jika engkau menjadi bapak, Anak mu hilang di siang petang. Jika itu bukan malang, Perkara apa yang engkau buat?"


Meski Surma dan Sendang mengetahui bahwa Karpatandanu hanya menuduh dia dan saudaranya yang menculik Citra Ayu, dia sama sekali tidak tersinggung.


Karena menurutnya, apa yang difikirkan oleh Karpantandanu sangat masuk akal. Bahkan, jika Surma mampu, sudah ratusan kali dia berfikir untuk menculik Citra Ayu.


"Bapak bijak anakpun bijak. Jika pinang tak terbelah. Engkau sungguh putra mahkota."


Di kota itu, tidak hanya ada Surma sekarang. Durma juga sudah berada di sana. Bukan karena mereka ingin berperang, tapi karena kota Palas akan mengadakan lelang.


Di bangunan-bangunan lain di dalam kota. Ada beberapa pendekar yang memiliki tingkat kekuatan setara kedua kakak beradik itu.


Mereka memiliki asal usul yang beragam. Pendekar, anak sultan dan petualang hingga pendekar-pendekar lepas yang sudah malang melintang di Daratan barat.


Hari sudah gelap saat Arya dan yang lainnya tiba di kota Palas. Menurut Citra Ayu, kota itu sama sekali tidak peduli dengan asal usul seseorang.


Di kota ini, jika seseorang bisa menjaga diri dan bisa bertahan hidup, maka orang itu pantas berada di dalamnya. Itu saja.