ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Sepasang


Sebuah danau kecil yang dialiri oleh Dua air terjun tinggi dan berdampingan,  Sehingga dari jauh terlihat seperti buaian.


Sesuai dengan namanya, Di antara dua air terjun itulah Sekte Lubuk bebuai berada.


Sekte itu Berdiri di hulu sembilan sungai, yang mengalir ke seluruh penjuru negeri. Maka dari itu pulalah negeri tersebut di kenal dengan sebutan Negeri Sungai Sembilan.


Sebuah Sekte kuno yang hanya di isi oleh wanita dan melarang keras laki-laki berada di sana. Jangankan masuk, mendekat saja, nyawa mereka bisa melayang. Hukum yang sudah dinketahui dan begitu di hormati bahkan oleh ketujuh Negeri di Daratan itu.


Bersamaan dengan sampainya dua surat dari Harupanrama dan Karpatandanu di istana Malka, sehari setelahnya, Lindu Ara ketua Sekte Lubuk Bebuai juga menerimanya.


Namun, pesan Citra Ayu pada ketua sektenya itu, berbeda.


Di sana, Citra Ayu menceritakan bagaimana keadaan Daratan Barat saat ini. Dia juga menceritakan bahwa dia dikejar oleh pasukan dari Barus Alih-alih istana Malka.


Hal tersebut, langsung memperjelas kecurigaan Lindu Ara. Memang sejak awal dia sudah sulit untuk mempercayainya.


Mencuri Inti Tanah terasa sangat mudah seolah istana Malka sengaja membiarkan mereka membawanya. Apalagi sampai sekarang, tidak ada tanda-tanda pasukan kerajaan itu untuk menyerang.


Padahal, Lubuk Bebuai sudah menarik semua pendekar-pendekar hebat sekte itu, dan mempersiapkan pasukan tempur terkuat mereka guna berjaga-jaga jika Malka benar-benar menyerang.


Akan tetapi, sampai saat ini itu tidak terjadi. Lindu Ara sedikit menyesal karena hanya mengutus Citra Ayu untuk ke Daratan timur mencari orang yang dikabarkan memiliki kehebatan Master Alchemist itu.


Dan seperti apa yang dikatakan Citra ayu di dalam surat yang kini berada di tangan Lindu Ara itu, muridnya tersebut berhasil menemukan seseorang yang memiliki ilmu Alchemist. Dan saat ini ada bersamanya.


Seperti biasanya. Hal-hal menyangkut Daratan Timur, terdengar tidak bisa di percaya. Sebagai pendekar yang sudah malang melintang di dunia dan sudah mengetahui sepak terjang para pendekar, Lindu Ara menganggap muridnya itu hanya terlalu bersemangat untuk memuji pendekar-pendekar yang mengalahkan pasukan dari kota Barus itu.


Akan tetapi munculnya nama Rangkupala, benar-benar mengejutkannya. Jika benar apa yang dikatakan Citra Ayu, Rangkupala tidak akan pernah muncul lagi jika Daratan Barat atau kerajaan Swarna tidak dalam bahaya.


Hal itu sebenarnya bukan tanpa alasan. Lindu Ara dan Rangkupala adalah dua legenda hidup Daratan ini. Mereka tumbuh dalam satu generasi, yang pernah menjadi lawan dan akhirnya berteman.


Meski kehilangan kabar, Lindu Ara sangat yakin Rangkupala masih hidup. Jadi, kemunculannya benar-benar sebuah pertanda.


Lubuk Bebuai memiliki hutang pada si Kebojalang. Jika Rangkupala langsung yang meminta maka Lindu Ara pasti akan memenuhi permintaannya, Apapun itu.


Akan tetapi, Daratan Timur akan memulai perang bukan berita yang ingin dia dengar. Sekte Lubuk Bebuai memiliki tanggung jawab di Daratan ini dan Sekte Singa Emas di Daratan Timur.


Meski tidak saling berkabar, keduanya seharusnya akan saling membahu jika memang pertempuran akan terjadi.


Di sini, Lindu Ara sedikit menyesal. Dia tau bahwa Daratan Timur jauh tertinggal. Sehingga mungkin, memang itulah kenapa Daratan itu memilih untuk memberontak.


Masalahnya, tanggung jawab dua Sekte ini tidak hanya tentang Daratan ini. Ada dua benda yang jauh lebih berharga dari kerajaan ini yang harus sama-sama mereka jaga.


"Siapa pemuda ini? Lahir pagi, siang hendak perang!"


Lindu Ara sedikit geram. Menurutnya, pemuda yang akan mendatangi Barus dan meminta pertanggung jawaban sesuai dengan isi surat yang di kirim Citra Ayu padanya itu, sangat sembrono.


Namun begitu, dia tetap menjalankan apapun yang di minta di dalam surat tersebut. Jika tidak ada halangan maka seharusnya Citra Ayu dan orang-orang yang dia maksud akan sampai di Negeri Sungai Sembilan, dalam satu bulan.


Nilam Sari hanya mengangguk dan langsung menghilang. Pendekar wanita ini bukan tidak mau menjawab, tapi tak bisa.


Tidak pernah ada suara yang pernah keluar dari mulutnya sejak dia lahir kedunia.


Meski begitu, kekurangannya itu menjadikan dia pendekar wanita dengan ilmu mata-mata yang paling berbahaya dan sangat bisa di percaya.


"Rangkupala. Jika engkau menjadi kepala, tidak ada yang akan susah. Malangnya engkau putra ketiga." Ucap Lindu Ara, penuh sesal.


*****


Kota palas berubah. Para pendekar kehilangan suara mereka. Apalagi saat melihat tiga Iblis wanita berjalan di kota.


Nama enam Iblis pelindung dari Timur sudah di bawa kabar angin sebelumnya. Namun, cerita itu terlalu luar biasa untuk di percaya. Tapi setelah melihat bagaimana wanita ini bertarung, para pendekar di kota Palas sedikit mempercayainya.


Setidaknya, khusus untuk tiga orang wanita itu, para pendekar itu menganggap gelar Iblis pantas di sematkan pada mereka.


Mereka menganggap tiga wanita itu tetap akan bertarung bahkan jika mereka sudah mati. Itulah yang mereka pikirkan saat ini.


Apalagi secara mengejutkan hanya tiga hari setelah pertarungan ketiganya di pagi buta itu, mereka sudah kembali terlihat keluar dan berjalan di tengah kota, seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya.


Berbeda saat sebelum sampai di kota ini, dimana Citra Ayu selalu menempel pada Bai Hua. Sekarang putri Karpatandanu itu seolah mendapat karma.


Sekarang, hampir seluruh anak sultan yang di kenalnya, merongrong padanya agar di bantu untuk bicara pada Luna, Ciel,  dan Bai Hua, supaya salah satu atau bahkan ketiganya mau menjadi guru mereka.


Sri Ratna Sari pernah langsung mencoba. Malang saat itu yang dia minta adalah gadis yang paling tak ramah.


Saat mata Ciel menatapnya. Jangankan bersuara, bernafas saja, saat itu Sri Ratna Sari tak bisa. Akhirnya, Ciel hanya melewatinya begitu saja.


"Citra Ayu, berilah kata pada mereka. Kami semua hendak berguna. Tanya kan syarat pada yang tiga. Kami kan ikut kemana jua."


Surma dan Durma melupakan pertikaian mereka, bahkan perasaan keduanya pada Citra Ayu. Saat ini, Keduanya duduk bersama Gadis itu dan yang lainnya meminta pertolongan Putri Karpatandanu itu.


"kami melihat, tak hanya mendengar. Inilah masa untuk belajar."


"Ya. Bukan aku tidak bicara. Tapi apa hendak di kata. Mereka dekat aku terbata."


Tambah Sri Ratna Sari. Gadis itu kembali mengingat bagaimana menakutkannya tatapan Ciel padanya beberapa hari yang lalu.


Citra Ayu menutup wajah dengan kedua tangannya. Saat Empat anak sultan yang lainnya meminta hal yang sama.


Citra Ayu sama seperti mereka. Dirinya juga ingin di angkat sebagai murid. Tapi, dia juga tau bahwa itu tak mungkin.


Karena menurut Citra Ayu, bukan pada ketiganya mereka harus meminta. Tapi pada suami dari ketiganya, Arya.