
Daisuke hanya menanggapi teriakkan dengan niat membunuh Umbara itu dengan cibiran.
"Majulah, biar aku tunjukkan padamu kenapa kami menganggap kalian begitu bodohnya."
Lagi-lagi pengalaman akan menjadi pembeda. Karena saat itu terjadi, Salendra melihat sepintas bahkan tidak ada lagi pasukan Nippokure yang mencoba menghalangi Umbara saat melesat langsung pada Daisuke.
"Umbara, menghindar ... !"
Tudak atau apa yang akan terjadi, tapi Salendra sadar ada sesuatu yang akan membahayakan keponakannya itu jika di terus melangkah maju.
Beruntung Umbara masih sempat mendengar dan mengalihkan pandangan untuk memeriksa apa yang ada di sekeitarnya.
Benar saja, beberapa pendekar dengan hampir seluruh wajah mereka tertutup kecuali bagian mata, Muncul dari bayangan-bayangan panji oerang pasukan Daisuke.
Jika hanya muncul saja, tentu itu tidak akan berbahaya. Namun, mereka langsung datang dan menebaskan pedang pada putra Suktan Jampa itu.
"Ting ... !"
Umbara berhenti untuk menangkis serangan tersebut. Namun, karena ada beberapa dari mereka, dalam waktu singkat Umbara sudah terkepung.
"Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !"
"Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !"
"Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !"
Empat melawan satu. Pertukaran jurus pedang pun langsung terjadi di antara mereka.
Umbara memang cukup tangguh. Seperti apa yang dikatakan Salendra pamannya. Namun, menghadapi empat pendekar pedang dengan teknik tinggi, tentu saja tetap sangat menyulitkan.
Saat Salendra hendak melangkah berniat membantu, namun di depannya sudah menunggu beberapa pendekar dengan pakaian yang sama dengan pendekar-pendekar yang kini di lawan Umbara.
"Apa wajah kalian terlalu buruk? Hingga kalian sangat malu untuk menunjukkannya?"
"Huh, kau akan mati di tangan kami, orang tua."
Meski mengejek lawannya, Salendra tidak mengendurkan kewaspadaannya untuk menghadapi mereka.
Salendra langsung menghambur dan meninju satu orang dengan sangat kuat. Saking kuatnya, tubuh orang itu terpental jauh ke arah Daisuke.
Tau bahwa dada pasukannya itu telah remuk, Daisuke maju dan menarik pedang, lalu membelahnya.
"Kau akan berterimaksih karena aku telah membuat kematianmu, mudah."
Salendra hanya tersenyum miring saat melihat itu. Bagaimanapun apa yang dilakukan Daisuke ada benarnya. Jika tidak mendapat tabib yang hebat, pendekar itu hanya akan tersiksa sebelum ajal menjemputnya.
"Salendra, kita tidak bksa terus bertempur jika masih di bawah ancaman senjata-senjata sihir itu, kau mengerti maksudku?"
Saat itu, Rangkupala sudah berlari melewatinya. Tentu saja pendekar itu sudah menghabisi lawan-lawannya terlebih dahulu.
"Jemba, biar aku yang mengurusnya ... Buka kan jalan untukku ... !"
"Kalau begitu, cepatlah ... Kenapa kau lama sekali menghabisi cecunguk-cecunguk itu?"
Kesal karena Rangkupala mengejeknya, Salendra menarik nafas dalam dan menatap sembilan lawannya.
"Mati kalian bedebah ... "
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
"Bom ... !" "Bom ... !" "Bom ... !"
Rangkupala langsung meninju dan menampar bagian-bagian tubuh lawan-lawannya. Kepala, dada, perut bahkan kaki-kaki mereka hancur saat mendapatkan pukulan penuh tenaga dalam itu.
"Jemba, yang di sana ... !"
Tanpa menjawab, Rangkupala sudah tau kemana dirinya harus pergi saat itu juga.
Namun, saat dia ingin berlari sedikit lebih dekat, tiga orang yang terlihat sangat kuat, datang menghadangnya.
"Kau tidak akan kami biarkan lewat, orang tua."
"Cobalah, menghentikanku jika kalian memang mampu ... !"
"Cakar Elang ... !"
"Sret ... !" "Sret ... !" "Sret ... !"
"Sret ... !" "Sret ... !" "Sret ... !"
"Sret ... !" "Sret ... !" "Sret ... !"
"Sret ... !" "Sret ... !" "Sret ... !"
Rangkupala melewati tiga orang tadi dengan tubuh yang sudah dipenuhi luka tebasan pedang.
Salendra yang menyusul di belakang, dan melihat ketuganya menggelengkan kepala dan langsung berseru pada Rangkupala.
"Jemba, kau tidak boleh menipu lawan-lawanmu ... "
"Apa maksudmu? ... "
Rangkupala hanya menggelengkan kepala dan menjawab dari depan.
"Seharusnya kau juga memberi nama jurus-jurus mu. Kau hanya terus berteriak agar musuh-musuhmu mati ... "
Cara keduanya berinteraksi di dalam pertempuran yang terlihat sedang bercanda itu, membuat para pendekar-pendekar lainnya tertawa.
Bukan karena lucunya. Akan tetapi, saat ini mereka sadar bahwa mereka sedang bertempur dengan dua orang terkuat di daratan ini. Tentu saja itu memicu semangat mereka kian membara.
"Kalian, semua ... Cepat kita habisi yang di sini dan mengikuti Tuan Rangku dan Tuan Salendra ... !"
Karpatandanu dan kelompoknya, memutuskan untuk menyapu lawan-lawan yang di tinggalkan dua pendekar tua itu.
Menurutnya, tidak harus semuanya maju. Melihat Daisuke memiliki banyak Trik, dia lebih memilih tetap di tengah untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan.
Umbara yang tadi melawan empat pendekar itu, sudah bisa sedikit lega. Baru saja kelompok ya berhasil menyusul dan membantunya melawan empat orang tersebut.
"Zup ... !" "Zup ... !" "Zup ... !" "Zup ... !"
"Zup ... !" "Zup ... !" "Zup ... !" "Zup ... !"
"Zup ... !" "Zup ... !" "Zup ... !" "Zup ... !"
"Zup ... !" "Zup ... !" "Zup ... !" "Zup ... !"
"Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !"
"Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !"
"Arhg ... !" "Arhg ... !" "Arhg ... !"
Saat itu, tiba-tiba saja pendekar-pendekar yang menjadi lawannya, melemlarkan senjata tersembunyi.
Umbara sempat menangkis dan menghindari beberapa.
Namun malang bagi beberapa pendekar yang tak sempat menangkis maupun menghindar. Mereka terkena serangan dari senjata rahasia tersebut.
"Zup ... !" "Zup ... !" "Zup ... !" "Zup ... !"
"Zup ... !" "Zup ... !" "Zup ... !" "Zup ... !"
"Zup ... !" "Zup ... !" "Zup ... !" "Zup ... !"
"Zup ... !" "Zup ... !" "Zup ... !" "Zup ... !"
"Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !"
"Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !" "Ting ... !"
Sementara itu, Umbara juga melihat kelompok-kelompok lain yang juga sudah berhasil maju sejauh dirinya, mendapat serangan yang sama.
Itulah yang Karpatandanu takutkan. Meski belum memastikan sebelumnya, ternyata senjata-senjata inilah yang di katakan Luna pada mereka.
"Hati-hati, senjata itu beracun ... !"
Karena Racunnya, itu kenapa mereka tidak bisa menggunakannya sejak tadi. Lagipula, jika mereka melempar senajata-senjata itu terus menerus, maka pendekar-pendekar lawan beresiko akan mengenai teman mereka sendiri.
"Jangan berkumpul terlalu dekat ... !"
Mendengar teriakan Karpatandanu untuk kedua kalinya, pendekar-pendekar pembela negeri Jampa langsung mengerti.
Jika mereka berkumpul terlalu dekat, musuh akan lebih mudah untuk menyerang dengan senjata-senjata jenis lempar tersebut.
Daisuke dan beberapa petinggi yang ada di bagian paling belakang pasukan Nippokure, sempat merasa serangan itu akan mampu mengurangi musuh dalam jumlah besar dengan sangat cepat.
Akan tetapi, lagi-lagi Karpatandanu bisa memikirkan cara untuk mengatisipasinya.
"Kalian bertiga ... Maju dan lumpuhkan Sultan sialan itu ... !"
"Baik!"
"Baik!"
"Baik!"
Saat itu juga, tiga orang petinggi setara endekat Ranah Bumi tingkat pertama langsung melesat menuju tempat di mana Karpatandanu dan kelompoknya sedang bertarung.
"Hiiiiiyyyyyaaaaaa ... !!"
"Booooooom ... !"
Satu senjata Sihir baru saja di angkat dan di lemparkan oleh Salendra.
Hal tersebut, langsung memecah konsentrasi pasukan musuh. Mata mereka terbelalak saat melihat seseorang mampu melemparkan senjata-senjata yang berukuran sangat besar itu, pada senjata pelontar lainnya.
Saat itu juga, dua senjata pelontar langsung rusak parah.
"Salendra, lihat kemana kau melemparnya ... Kau ingin menimpaku?"
"Maaf, aku terlalu bersemangat. Hahahha ... !"