ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Aku Bukan Dia


Saat itu, Ciel sudah sangat yakin bahwa Arya akan menebas kepala Siluman Kerang Darah Batu yang ada di depan mereka.


Apalagi saat itu, Arya sudah dalam mode jurus kedua, Gerbang Basava. Akan tetapi, setelah sedikit lama tebasan tidak juga diayunkannya.


Tentu saja itu membuat Ciel menjadi heran. Dan keheranan itu semakin bertambah, saat Arya bersuara.


"Katakan, kenapa kau menunggu kami?"


Siluman Kerang yang sudah merasa ajal akan segera menjemputnya itupun heran. Manusia ini bisa saja membunuhnya dan dia yakin itu.


"Kenapa kau bertanya? Bukankah sudah jelas, itu karena kau sudah mengambil serpihan batu milikku."


"Arya apa yang kau lakukan?!"


Tentu saja Ciel protes karena tiba-tiba saja pemuda itu menyimpan Bahuraksa, dan kembali ke mode manusia biasa.


Tidak menanggapi protes Ciel yang masih berada di punggungnya itu, Arya kembali mengajak sang Siluman kerang berbicara.


"Kami bukanlah manusia yang kau tunggu."


"Tidak mungkin. Kalian sama."


"Ya tentu saja kami sama, cuma aku bukan dia."


Siluman kerang terdiam cukup lama. Dan Arya membiarkannya begitu. Namun Ciel terlihat gelisah.


Gadis itu tentu saja ingin sekali Arya membunuh Siluman ini karena beberapa saat yang lalu, siluman ini benar-benar berniat membunuh mereka.


"Di mataku semua manusia sama dan aku tak bisa membedakannya. Tapi, sepertinya kau memang berbeda. Karena manusia yang sebelumnya, berniat membunuhku."


"Aku bisa saja membunuhmu, tapi aku belum melakukannya. Sekarang, katakan kenapa kau masih hidup setelah melawannya."


"Arya, kita tidak punya Waktu, nyawa Citra Ayu sedang terancam. Sebaiknya selesaikan saja." Bisik Ciel.


"Ya, kau memang bukan dia. Saat itu, sudah lama sekali. Aku belum seperti ini dan tidak berniat menjadi seperti ini ... "


Mulailah sang Siluman menceritakan kisahnya. Dia bercerita bahwa seperti kerang-kerang lainnya, dia hanya mencari makan untuk bertahan hidup.


Akan tetapi, waktu berlalu dan dia terus hidup hingga tubuhnya membesar. Dia menyerap apa saja untuk di saring menjadikan makanan.


Awalnya, dia tidak tau kenapa manusia menyerangnya. Namun, demi bertahan hidup, dia balas menyerang. Selalu begitu selama ribuan tahun.


Akan tetapi, setelah waktu berlalu, Saat itu tubuhnya tidak sebesar sekarang. Muncul seorang manusia yang mencoba membunuhnya.


Setelah bertarung beberapa lama, manusia itu berhasil mengalahkannya dengan menusuk inti energinya yang membuat batu itu pecah.


Karena pertarungan di dalam laut, manusia itu hanya bisa mengambil pecahan batu itu dan membiarkan sisanya.


Setelah beberapa lama, Siluman itu ternyata mampu bertahan hidup dan memutuskan untuk membalas manusia itu.


Hanya saja, setelah waktu berlalu begitu lama, sang manusia tidak kembali juga. Bahkan beberapa waktu yang lalu, Siluman itu merasa manusia itu tak akan pernah kembali lagi.


"Jadi,  bagaimana kau mengetahui bahwa kami adalah manusia yang kau tunggu?"


Tanya Arya lagi setelah mendengar penjelasan Siluman itu.


"Sesuatu membangunkanku. Dan aku berusaha menyerapnya. Tapi, aku tidak menyangka bahwa itu adalah manusia dan manusia itu memegang benda yang sama dengan kini yang kau pegang."


Arya dan Ciel mengangguk bersamaan. Ternyata Kerang ini benar-benar menunggu Arangga.


"Aku bukan dia, dan pedang ini, memang miliknya."


"Manusia, kenapa kalian membenci bangsa kami? Kalian selalu membunuh bangsa kami."


Pertanyaan Siluman itu, membuat Arya dan Ciel tertegun. Karena sebagai manusia, mereka tidak punya dendam sama sekali dengan kerang. Akan tetapi, Arya memiliki jawabannya.


"Kami manusia, juga ingin bertahan ini hanya hukum alam. Tidak ada dendam antara manusia dan bangsamu."


"Bukankah, kau datang dengan maksud tertentu?"


Arya langsung mengangguk. "Ya, aku memiliki tujuan dan tujuanku memang untuk menemukanmu ... "


"Tidak, aku tidak perlu membunuhmu. Aku hanya melakukanya jika terpaksa. Tapi, karena sudah di sini, aku ingin meminta bantuanmu ... "


****


"Sejalu, sudah terang. Tapi yang sepasang tak kunjung pulang."


Saat menunggu, tadi malam Salendra dan yang lainnya dikejutkan dengan suara dentuman yang menggelegar di tengah lautan.


Mereka berfikir Arya dan Ciel benar-benar bisa menemukan Siluman itu. Namun, setelah menunggu hingga siang. Tidak ada tanda-tanda pertarungan di permukaan laut, sepanjang mata mereka memandang karena laut terasa begitu tenang.


"Nan Tua, aku sama gelapnya dengan mu. Jika bertanya, berikan saja pada tuan Salendra."


Tau apa tang dimaksud semua orang, Salendra hanya menggelengkan kepala. "Aku juga belum lama mengenal mereka. Tapi percayalah, keduanya memiliki kekuatan yang sangat gila."


Mereka semua mencoba percaya apalagi yang mengatakan itu adalah Salendra. Di lihat dari mana saja, jika Rangkupala tidak ada, maka dirinyalah yang akan di daulat manjadi legenda.


Akan tetapi mempercayai bahwa seorang pemuda tanpa tenaga dalam dan Gadis yang hanya memiliki level pendekar raja lebih kuat dari keduanya, tentu saja itu sangat sulit untuk di terima.


"Tuan Salendra, aku tau kau pendekar yang bijaksana. Tapi, membiarkan mereka mencari Siluman kerang, aku takut mereka tak akan pernah kembali. Bukankah sebaiknya kalian pergi mencari?"


Salendra langsung menggeleng. "Percayalah, jika mereka tidak bisa melawannya. Maka tidak ada yang bisa. Lagipula, jika mereka tidak kembali dalam satu hari lagi, aku harus cepat kembali. Salah satu nyawa yang lainnya harus di selamatkan."


Nan Tuo menggelengkan kepala seolah tak percaya. "Mereka bertaruh dua nyawa untuk satu nyawa ... Siapa yang bisa mengira ... "


Mereka terus menunggu di pinggir dan menatap kelaut. Waktu berlalu, hingga petang menjelang sore.


Salendra sudah hampir putus asa. Karena menurutnya, walaupun kedua anak muda itu berhasil menemukan Siluman kerang itu, belum tentu mereka bisa langsung mengalahkannya.


Dari kisah yang di ceritakan Nan Tuo, sudah jelas pendekar yang pernah mengalahkan Siluman itu, harus bertarung berhari-hari demi mengalahkannya.


Tepat pada sore hari dimana seharusnya air laut menyurut, sebuah fenomena terjadi.


Nan Tuo dan Sejalu tentu saja langsung menyadari hal itu begitu juga penduduk di sana.


Melihat perubahan raut wajah banyak orang di sana, tentu saja membuat Salendra langsung bertanya.


"Sejalu, apa yang terjadi?"


"Ini tidak bisa di urut. Laut pasang tak jadi surut."


Saat itu mereka melihat gelombang kecil mulai datang dari tengah laut yang tadi tenang.


Gelombang kecil itu berakhir menjadi deburan ombak. Hal itu sudah bisa bagi penduduk di sana kecuali waktunya sekarang yang tak biasa.


Akan tetapi, beberapa saat kemudian semua mata di pinggi laut itu benar-benar di buat terbuka lebar.


Sesuatu yang sangat besar seolah akan muncul dari laut di lihat bagai mana air yang tadi datar beriak, kini mencuat tinggi.


"BBBYYUUUUUUUSSSSSS ... "


Tiba-tiba saja, tidak begitu jauh dari mereka muncul sebuah pulau.


"Mundur ... !!"


Gelombang sangat tinggi datang seperti tsunami kecil, namun cukup membahayakan jika penduduk-penduduk itu masih di pinggir sana.


Mata mereka benar-benar terbelalak dan jantung mereka berdebar sangat hebat saat mengetahui pulau itu ternyata mendekat.


Keterkejutan itu membuat semua orang kehilangan suara, saat melihat pulau itu kini terangkat.


Beberapa lama mereka terperangah, sebelum akhirnya mengerti apa yang sedang mereka lihat saat ini.


Kisah itu benar. Dan sangat benar. Siluman Kerang Darah Batu benar-benar ada dan kini sedang berada di hadapan mereka semua. Dan ukurannya, juga besar luar biasa.


"Itu mereka ... !"


Di cangkang bawah kerang yang terbuka, seorang pendekar melihat Arya dan Ciel berdiri di tepinya.


"Mereka benar-benar menemukannya." Gumam, Salendra.