ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Keberangkatan Bai Fan


Hari berikutnya, di pusat kota Basaka, Luna dan Ciel sedang berjalan menuju restoran keluarga Bai. Jarak antara pusat penelitian senjata milik mereka dan restoran Bai Hua itu tidak terlalu jauh.


Akan tetapi, sejak pagi sebuah berita terlah beredar di sana. Meski terlihat masih tenang, sebenarnya seluruh penghuni tiga tempat milik Arya itu sedang sedikit ketar-ketir.


Ini karena informasi tentang bergeraknya seluruh Sekte aliran hitam ke wilayah yang tak jauh dari kota Basaka, ditambah mulai bergeraknya Oldenbar.


Semua terlihat sesuai rencana. Hanya saja jumlah kekuatan sekte aliran hitam jauh lebih banyak dari yang mereka kira. Ternyata beberapa tahun ini, sekte aliran hitam bertumbuhan dan berkembang dengan sangat pesat.


Bahkan sejak kehadiran serikat Oldenbar di Daratan timur, banyak sekte yang dahulunya beraliran putih kini terkesan abu-abu. Sebagian lainnya malah secara terang-terangan berubah haluan.


Pergerakan Oldenbar juga sungguh mengejutkan. Meski sudah di antisipasi dengan kerja sama sebelumnya. Ternyata serikat itu bergerak ketempat yang sama.


Ini pertanda yang sangat buruk. Pasalnya, senjata pelontar yang di pesan Arya sudah tiba. Jika Oldenbat tiba-tiba memutus kerja sama dan memilih berbalik menyerang, Daratan Timur akan sangat terancam.


"Luna, sepertinya kita sedikit salah perhitungan. Dan sampai saat ini, Arya belum kembali."


"Tidak ada pilihan lagi. Kita tidak bisa mundur sekarang. Bagaimanapun, pertempuran akan terjadi."


Sampai di restoran, mereka melihat Bai Hua dan Bai Fan kakeknya saling berpelukkan. Sebenarnya mereka ke sini untuk alasan yang sama.


Hari ini, Bai Fan akan meninggalkan Daratan Timur lebih dahulu.


Melihat kedatangan keduanya, Bai Hua melepas pelukan dari kakeknya itu. Tampak mata gadis itu sedikit memerah.


"Oh, kalian sudah di sini." Sapa Bai Fan.


"Ketua Bai. Apakah kau harus pergi sekarang? Sebaiknya menunggu sebentar lagi. Arya pasti kembali."


"Ya. Aku yakin dia dalam perjalanan."


Bai Fan menggeleng. "Kalian tau kepergian ku ini, adalah bagian dari rencana. Menunda akan berakibat fatal."


Keduanya tidak dapat menahan Bai Fan. Karena Bai Fan memiliki tugas yang sangat penting saat ini.


"Jadi, dimana dia?"


"Kaungsaji menunggu di salah satu desa kami akan bertemu di jalan saat aku menuju pelabuhan. Putri Jasmine bersamanya."


Keduanya langsung mengangguk mengerti. Bai Fan akan membawa putri jasmine bersamanya dalam perjalanan. Tugas kakek Bai Hua itu adalah memastikan cucu Maharaja kerajaan Swarna itu, selamat hingga ke kota barus.


Selain itu, Bai Fan juga membawa pesan penting yang harus di sampaikan pada sang Maharaja. Hal ini terkait dengan bagaimana matinya Putra Mahkota dan kedudukan Daratan Timur kedepannya.


"Ketua Bai, jika begitu, jaga dirimu baik-baik. Suatu saat kami akan mengunjungimu."


Saat Bai Fan menjulurkan tangannya hendak bersalaman, Luna membalas dengan merentangkan tangannya.


"Kami berdua sudah tidak memiliki keluarga lagi sebelumnya. Tapi, kebersamaan kita selama ini, membuat kami merasakan kembali kehangatan sebuah keluarga."


Bai Fan sebenarnya merasakan hal yang sama. Kedua gadis ini tidak bisa lagi dia anggap hanya teman seperjalanan biasa. Mereka telah bertarung bersama. Saling mempercayakan nyawa dan saling menjaga.


"Ya. Aku merasakan hal yang sama. Kalian berdua sudah ku anggap cucuku juga, seperti Hua'er."


Bai Fan membalas pelukan Luna. Ciel yang tidak sabar langsung ikut memeluk mereka. Di susul Bai Hua.


"Ketua Bai. Kau sudah tua, tapi berjanjilah untuk tetap hidup setidaknya hingga kita bisa bertemu lagi." Ucap Ciel.


Bai Fan sudah terbiasa dengan bagaimana cara Ciel berbicara. Baginya gadis itu memang sedikit kasar. Tapi, seperti itulah gadis itu.


Lama mereka berpelukan, hingga akhirnya sampai saat dimana Bai Fan benar-benar harus pergi.


"Jujur saja, aku tetap ingin di sini dan berjuang bersama kalian. Tapi, aku juga memiliki tugas ku sendiri." Ucap Bai Fan.


Ketiganya mengangguk mengerti.


"Hua'er, kau telah memilih jalanmu. Kau harus ingat janjimu padaku."


Kata-kata ini setidaknya sudah diucapkan Bai Fan sepuluh kali untuk hari ini saja.


"Kek, percaya padaku. Aku pasti akan menepati kata-kataku." Balas Bai Hua.


"Tentu saja aku percaya. Jika tidak, sekarang aku pasti sudah menyeret mu untuk ikut bersamaku kembali pulang ke rumah."


Meski mengatakan hal itu, tampak kesan penuh keraguan di wajah Bai Fan.


"Kakek ... " Ciel tiba-tiba mengubah caranya memanggil Bai Fan. "Kau harus percaya pada kami. Kami akan saling menjaga."


"Ya ... Bai Hua tidak sendiri di sini. Ada kami bertiga dan kami akan saling menjaga dan bertambah kuat." Timpa Luna.


Inilah yamg membuat Bai Fan berani membuat keputusan untuk membiarkan Bai Hua cucunya, dengan jalannya.


Bersama mereka, Bai Fan melihat Bai Hua bisa menjadi dirinya sendiri. Bahkan, dengan kedua gadis ini dan Arya, Bai Fan melihat Bai Hua begitu bahagia. Berbeda jauh bagaimana saudara-saudaranya memperlakukannya di rumah.


"Ya. Aku mempercayai kalian."


Selesai mengatakan itu, seseorang masuk ke dalam ruangan. Keempatnya langsung menoleh untuk melihat, namun wajah mereka serentak kecewa. Ternyata orang itu bukan Arya.


"Maaf, mengganggu. Ketua Bai, apakah kita sudah siap untuk berangkat?"


Seorang pemuda datang bertanya untuk memastikan. Dia adalah salah satu yang akan mengantarkan Bai Fan ke pelabuhan di kota Parinan.


"Ya. Kita berangkat sekarang!" Jawab Bai Fan.


Pemuda itu mengangguk. "Baiklah. jika begitu, Kereta sudah menunggu di depan."


Mereka mengantarkan Bai Fan hinga ke depan. Di sana sebuah Kereta kuda sudah menunggu.


Tidak menutupi kesedihan mereka, ketiga gadis itu melepas Bai Fan dengan air mata. Kekaisaran Yang bukan negeri yang dekat. Tidak ada yang tau ke depan akan seperti apa. Mereka hanya bisa berharap, suatu saat dapat berkumpul kembali.


"Baiklah. Jaga diri kalian baik-baik. Aku berangkat."


Tidak mau menunjukkan kesedihannya, Bai Fan langsung naik ke atas kereta. Tak lama, kereta pun mulai berjalan meninggalkan Kota Basaka.


"Kakek Bai, apakah kultivator bisa menangis seperti itu juga?"


Bai Fan terperanjat saat tiba-tiba mendengar seseorang berbicara di sampingnya.


"Arya?! ... Kau?!"


Arya tersenyum padanya, entahlah. Bai Fan tidak bisa membedakan apakah itu sebuah senyuman atau Arya sedang mengejeknya karena menangis.


Tapi, lelaki tua itu sangat senang. Setidaknya sebelum pergi, dia masih sempat bertemu dengan Arya.


"Maaf. Aku tidak bisa menunjukkan diriku di dalam kota. Itu kenapa aku tidak masuk. Banyak hal terjadi." Jelas Arya.


Bai Fan langsung mengangguk mengerti. Dia juga sudah mengetahuinya. Dan wajar saja Arya memilih untuk bersikap seperti itu.


"Arya ... Semua sedikit diluar kendali. Apakah menurutmu semuanya masih sepadan? Maksudku, ... " Bai Fan tampak berfikir. Arya bukan tipe orang yang akan menarik kata-katanya.


"Semua berjalan sesuai dengan rencana. Dan bukankah ini tepat seperti apa katamu sebelum kita memulainya?"


Bai Fan mengernyit heran. Ini jelas ini jelas sudah jauh untuk bisa dibilang sesuai rencana.


"Arya, coba kau ingatkan kembali apa yang pernah aku katakan saat kita ingin memulai rencana ini. Karena umur, sepertinya aku sedikit lupa."


Sampai saat terakhir pun, Bai Fan tidak pernah mengerti bagaimana cara Arya berfikir atau menyimpulkan sesuatu. Sekarang saja, hal itu masih membuatnya bingung.


"Kau bilang, sampah akan lebih mudah dimusnahkan jika di kumpulkan di satu tempat. Sekarang, kita berhasil mengumpulkan sampah-sampah itu. Bukankah ini sangat bagus? Ternyata sampah di Daratan ini sangat banyak dan mereka berkumpul dengan sendirinya."


Ternyata cara berfikir Arya sungguh jauh berbeda. Bagaimana ini bisa dikatakan sangat bagus. Sampah itu hanya perumpamaan. Bai Fan sedikit menyesal memilih sampah sebagai perumpamaan dalam rencana ini. Karena Arya benar-benar mengartikannya seperti itu.


"Aku tidak bisa terus di sini setelah keluar dari kota, ada hal yang harus aku pastikan."


Bai Fan mengangguk mengerti "Arya, meski kau yang paling muda, tapi kau adalah yang terkuat terlebih lagi kau juga laki-laki. Mereka memilih mengikuti mu dan kau harus berjanji padaku, untuk selalu melindungi mereka."


"Kenapa begitu?"


Tiba-tiba kepala Bai Fan terasa sakit. Bahkan hal ini saja tidak bisa dimengerti Arya dengan mudah. Kadang antara kejeniusan dan kebodohan terlihat tidak terlalu berbeda. Saat Bai Fan ingin menjelaskan, Tiba-tiba Arya kembali bicara.


"Aku tidak ingin menjadi penjaga mereka. Tapi, aku berjanji akan menjadikan mereka sangat kuat, hingga mereka bisa menjaga diri mereka sendiri."


Arya baru saja mengatakan Sebuah janji yang lebih berat dari pada apa yang di Harapkan Bai Fan. Dan dari cara Arya mengatakannya, Bai Fan yakin bahwa Arya bersungguh-sungguh.


"Baiklah. Sebagai laki-laki, kau tidak boleh melanggar janjimu!"


Arya mengangguk. "Tentu saja. Kami adalah orang-orang yang akan melampaui para dewa. Mati bukan pilihan bagi kami." Tambahnya.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


Bai Fan langsung terbatuk-batuk setelah mendengar kata-kata Arya itu. Di dunia ini, normalnya manusia berharap atau bermimpi bisa menjadi Dewa.


Akan tetapi, Pemuda gila di sebelahnya ini, dengan penuh percaya diri mengatakan akan mencapai sesuatu yang jauh lebih dari sekedar mustahil dari pada itu.


"Kakek Bai. Jaga dirimu dan berhentilah berkultivasi."


Bai Fan menoleh pada Arya. Saat itu, dia langsung teringat buku yang diberikan Bai Hua padanya.


"Baiklah. Aku akan mengikuti petunjuk yang sudah kau berikan itu."


Saat ini mereka sudah keluar dari Basaka.


"Baiklah. Aku akan turun di depan. Kita akan berjumpa lagi di negerimu. Tunggu kami di sana!"


Bai Fan tersenyum. Arya mengatakan itu dengan mudah seolah itu pasti akan terjadi.


"Ya. Aku akan menunggumu di sana. Sebaiknya saat kalian muncul, kalian sudah sangat kuat. Karena di negeriku, kami memiliki pendekar-pendekar yang sangat jauh lebih kuat dari negerimu ini."


"Bai Hua akan mengalahkan mereka semua. Saat itu tiba, kau akan sangat membanggakannya sebagai cucumu."


Bai Fan hanya bisa tersenyum menanggapinya. "Kalian semua adalah cucuku. Dan tentu saja hal ini membuat aku bangga."


"Baiklah, Kakek Bai. Selamat jalan."


Sebelum Bai Fan menanggapi, Arya sudah langsung memeluknya. Bai Fan hanya bisa menepuk-nepuk punggungnya.


Beberapa waktu setelahnya Arya sudah turun dan tinggal di belakang, sementara kereta itu semakin jauh melaju ke depan.


"Anak muda. Tepati semua janjimu!"