ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Agenda Nurmageda


Mata Sekar melebar saat mendengar Ciel mengatakan itu. Di Daratan Timur ini, tidak ada yang berani menggelari diri mereka sendiri Dewa ataupun orang yang dijuluki Dewa, sehebat apapun orang itu.


" Kalian pernah melihat salah satu dari mereka? " Sekar menatap keduanya bolak-balik.


Luna menggelengkan kepalanya. " Tidak. Tapi jika kau pernah melihat pendekar dari sekte besar dari sana, maka kau pasti akan percaya apa yang dikatakan oleh Ciel itu "


" Ya! Sebelum kami sampai di sini, kami pernah melihat salah satu pendekar hebat dari sekte besar dari benua itu. Kekuatannya sangat mengerikan! " tambah Ciel.


Sekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sulit baginya untuk mempercayai itu. Tapi, dia juga sudah melihat cara bertarung kedua kakak adik ini. Bahkan Sekar bisa memastikan jika akan sulit mencari lawan sepadan untuk Luna di daerah ini.


" Lalu, bagaimana dengan Tuan Arya? "


Ketiganya melihat pemuda yang tertidur tidak jauh dari mereka.


" Hmmm ... Arya sangat hebat kita semua tau itu. Tapi, aku sendiri pun tidak bisa memastikan kekuatannya. " Ucap Ciel.


" Arya berbeda. " Tambah Luna. " Kami belum pernah melihat seseorang seperti Arya sebelumnya "


Sekar semakin penasaran " Berbeda? "


Ciel mengangguk memastikan " Ya! Aku memiliki mata yang sedikit ... Unik "


Setelah mengatakan itu, Ciel melirik Luna sebentar. Ragu kakaknya akan keberatan jika dia memberitahu rahasianya pada Sekar. Tapi menurut Ciel, sepertinya Luna mempercayai Sekar. Ciel kemudian melanjutkan.


" Aku bisa melihat dengan tepat jumlah tenaga dalam dan aku juga bisa melihat dengan jelas warna jenis elemen seseorang. Tapi, aku sama sekali tidak melihat itu di tubuh Arya. Segala sesuatu yang ada pada pemuda ini, sangat ... Asing! "


Mereka terus membahas Arya dan kembali membahas beberapa pengalaman kedua gadis yang sudah pernah menapakkan kakinya di banyak tempat itu.


Banyak pelajaran yang bisa di ambil Sekar dari keduanya. Namun, Sekar akhirnya memutuskan keluar untuk memberitahu pada Ki Jabara bagaimana keadaan Arya dan gadis itu sekarang.


Ki Jabara sempat sedikit kesal pada Sekar karna membiarkan Arya membahayakan dirinya sendiri untuk menyelamatkan gadis yang tak dikenali oleh mereka itu.


Setelah Ki Jabara memahami situasinya, rasa kesalnya mereda. Mereka mengalihkan pembahasan dan mulai berbicara tentang apa yang akan mereka lakukan setelah ini.


Malam itu juga, gadis itu dipindahkan ke penginapan Bulan Fajar. Sekar menempatkannya di kamar tepat di sebelah kamar Arya.


Keesokan harinya, dimulailah perubahan di Kota Arsa. Ki Jabara dan Sekar mengambil alih pemerintahan kota itu, untuk sementara waktu.


Ada beberapa penolakan kecil dari warga di sana, tapi sebagian besarnya menerima. Karena mereka menganggap cara Nurmageda mengendalikan kota dan wilayah sekitarnya sangat tidak adil.


Ki jabara dan semua orang di sana, juga sudah menyadari sejak malam kejadian, Nurmageda sudah tidak berada di kota Arsa. Jadi, untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, mereka menyuruh para pendekar dan prajurit yang memihak pada Ki Jabara dan Sekar untuk berjaga-jaga.


Arya yang mendapatkan kekuatannya, kembali mencoba untuk menyadarkan gadis itu. Ada kondisi dimana gadis itu akan sulit mendapatkan kesadarannya kembali.


Untuk itu, Arya perlu memperlajari beberapa teknik pengobatan yang ada di salah satu buku catatan Obskura.


Perlu dua hari bagi Arya untuk membuat gadis itu sadar. Dan kini, dibantu oleh Tabib Kenar, mereka merawatnya.


Sejak sadar, gadis itu sama sekali tidak mau membicara apapun dan dengan siapapun. Bahkan untuk sekedar bersuara untuk mengucapkan rasa terimakasih atau menyebutkan namanya pun, tidak.


Setelah dua hari, Keadaan itu mulai sedikit membuat Ciel jengkel.


" Hei, Kau! Aku tidak tau apa masalahmu. Setidaknya, beritahu kami jika kami tidak salah telah menyelamatkanmu. " Ciel menunjuk teoat di depan wajah gadis yang memiliki tatapan kosong itu.


Gadis itu tetap bungkam, dari sorot matanya, siapapun yang ada di sana tau, gadis ini tidak mempercayai siapun saat ini. Atau, gadis ini tidak memikirkan apapun saat ini. Tidak ada dari mereka yang bisa memastikannya.


" Ciel, jangan seperti itu " Luna mengingatkan. " Kau tau bagaimana keadaannya saat pertama kali kita temukan, bukan? "


Mereka tentu mengerti apa yang menyebabkan gadis itu tidak mau bicara. Mungkin saja saat ini, dia masih trauma dengan apa yang sudah dilaluinya.


" Errghh! ... Aku hanya kesal, setelah pengorbanan Arya untuknya, dia malah bersikap seperti itu, menyebalkan! "


Akan tetapi, Berbeda dengan Arya. Pemuda itu sama sekali tidak merasa terganggu. Ada beberapa perasaan manusiawi yang sepertinya sudah hilang di pikiran Arya. Sikap gadis itu sama sekali tidak diperdulikannya.


Saat ini Arya berniat memperbaiki titik-titik Cakra gadis itu yang telah hancur. Sejak gadis itu sadar, Arya terus fokus mempelajari sebuah teknik yang ada di catatan Obskura.


" Arya. Sebaiknya kau melupakan saja niatmu untuk menolongnya lebih jauh! " Ciel menyatakan keberatannya saat Arya memasuki kamar yang kini di tempati oleh gadis itu.


Meski Sekar dan Luna tak bersuara, mereka seolah menyetujui keberatan Ciel itu. Lagipula mereka menganggap untuk mengobati kerusakan titik cakra yang berjumlah sangat banyak itu bisa dikatakan mustahil.


" Aku hanya ingin mencoba teknik yang baru aku pelajari ini " Jawab Arya tanpa memikirkan apa yang membuat Ciel bersikap seperti itu.


Ciel kehabisan kata-kata saat mendengar jawaban Arya. " Huh! " Ciel mendengus kesalnlaku berbalik dan langsung keluar dari ruangan itu.


Tak lama Sekar dan Luna pun pergi menyusulnya. Mereka tak lagi peduli jika gadis itu bisa diselamatkan atau tidak.


Lagipula, menurut mereka Arya hanya ingin mencoba sebuah teknik yang baru dipelajarinya. Setidaknya gadis itu bisa jadi kelinci percobaan Arya.


" Tuan Muda. Apakah mungkin memperbaiki titik cakra gadis ini? "


Tabib Kenar yang masih berada di ruangan itu kini bersuara. Dia sangat senang saat Arya mau melibatkannya dalam hal ini. Jadi, dia tidak keberatan melihat Arya menyembuhkan gadis yang kini terlihat seperti mayat hidup itu.


" Kek. Aku tidak tau ini akan berhasil atau tidak. Tapi, menurut catatan guruku, ini bisa dilakukan " Jawab Arya.


Tabib Kenar mengangguk. " Baiklah. Biarkan aku membantumu "


Setelah itu, Arya dan Tabib Kenar mulai mencoba teknik pengobatan yang ada dicatatan Obskura itu.


Sementara itu, di Balaikota, Ki Jabara dikejutkan dengan apa yang dia temukan di sana.


Di ruangan Nurmageda, Ki Jabara mendapati sebuah catatan yang mengungkapkan agenda sebenarnya Nurmageda.


Menurut catatan itu, kota Arsa ini sekarang hanya sebuah pengalihan saja. Saat ini Nurmageda sedang melakukan sebuah pencarian di daerah yang mereka kenal sebagai Desa Paganti.


" Sial! " Ki Jabara mengumpat kesal " Bagaimana orang-orang di kota Basaka bisa melakukan ini? " ucapnya geram.


Prajurit yang memberitahukan itu sebelumnya dan beberapa orang di sana sama kesalnya dengan Ki Jabara.


" Apa yang terjadi? " Sekar yang tadi dipanggil Ki Jabara barusaja tiba, langsung menanyakan hal itu.


Di belakangnya, Luna dan Ciel ikut masuk bersamanya.


Ki Jabara menunjuk catatan yang kini ada di atas sebuah meja" Kalian Harus melihat itu "


Ketiganya langsung melihat apa yang tertulis di sana. Tak berapa lama, raut wajah mereka berubah.


" Jadi, itu kenapa banyak laki-laki di bawa ke daerah itu selama ini? "


Ki Jabara mengangguk " Ya! Mereka menggunakan tenaga ribuan manusia, hanya untuk menggali sebuah gunung selama beberapa tahun ini! "


Luna dan Ciel membaca beberapa catatan di sana. Mereka sangat penasaran dengan apa yang sedang dicari oleh Nurmageda dan orang di kota Basaka, yang memerintahkan itu padanya.


" Apa yang sebenarnya mereka cari di dalam gunung itu? " Sekar benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan oleh Nurmageda.


" Apapun itu, aku tidak peduli. " Jawab Jabara " Seberharga apapun benda itu, tentu saja tidak akan sebanding dengan apa yang telah dikorbankan mereka untuk itu! "


Sekar menatap Ki Jabara yang kini terlihat sangat murka " Apa yang harus kita lakukan, Ki? "


" Siapkan semua orang! " Ki Jabara menatap Sekar tajam " Kita akan segera menghentikannya! "