ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pertempuran Daratan Timur IV


Rantoba melebarkan matanya. Dari segi kekuatan, jelas dia unggul dari Anjaran maupun Rapatni. Tapi saat dia melihat keduanya bertarung, pujian Guru dan Paman gurunya itu bukan tanpa alasan.


Gerakan keduanya benar-benar nyaris sempurna. Rantoba mulai berfikir bahwa, Kekuatan memang bukanlah segalanya. Itu kenapa dia melihat gurunya Moro dan Daga adik gurunya itu, terlihat tidak tertarik dengan Pil Zulu.


Keduanya memiliki kekuatan yang aneh, yang Rantoba sendiri tidak tau bagaimana keduannya mendapatkan kekuatan mengerikan seperti itu.


Serangan senjata Sihir dari pasukan serikat Oldenbar sangat mengejutkan. Namun, itu tidak cukup untuk menghancurkan semangat juang pasukan Aliansi.


Terlebih saat ini, di sana sudah muncul Ki Serabang. Pendekar suci tingkat dua itu sudah mulai mengacak-acak pertahan mereka.


Dengan adanya Ki Serabang di sana, para tetua sekte berjumlah puluhan yang terdiri dari pendekar pendekar Raja dan pendekar suci tingkat pertama langsung ikut menyerbu.


Dalam sekejap mata, pasukan kenneth mulai kocar kacir. Senjata sihir memang sangat efektif untuk bertempur jarak jauh, tapi tidak untuk jarak dekat.


Karena jika memaksa untuk tetap menggunakan itu, Mereka akan dengan tidak sengaja melukai teman atau diri sendiri. Itu sangat beresiko.


"Segera mendekat! Dan jangan beri kesempatan mereka menyerang dengan senjata itu.!"


Pasukan Aliansi langsung mengerti. Segera mereka menghambur dan masuk ke pertempuran.


"Sial. Jika begini. Aku terpaksa ikut bertarung." Umpat Kenneth.


Saat dia melihat Ki Serabang, muncul sedikit gentar di hatinya. Tingkat kekuatan mereka sama. Tapi, Serabang terlihat begitu berambisi menghancurkan pasukannya. Kenneth mulai meragukan keputusannya.


Dalam keraguan itu, ternyata tiba-tiba seseorang telah berdiri di depannya. Dan tentu saja ini bukan yang di harapkannya.  Serabang dengan kuda-kuda siap bertarung seolah akan langsung datang menerjangnya.


"Kalianlah awal dari semuanya.!"


Hanya itu saja kalimat Serabang, sesuai dengan perkiraan Kenneth. pendekar itu langsung menyerangnya.


Pertempuran Daratan Timur itu belum sampai satu jam berlangsung. Tapi, intensitas pertarungannya sudah sangat besar. Lembah Haru benar-benar di penuhi dengan pendekar-pendekar yang saling bertukar jurus.


Teriakan demi teriakan membahana di segala penjuru. Suara denting senjata yang saling beradu. Suara-suara elemen air, api, angin, tanah, dan kayu yang saling bersahutan seolah membentuk irama yang sama dan terus berulang.


Bukan dari genderang. Ini lah suara pertempuran yang sesungguhnya. Ratusan ribu manusia beniat membunuh musuh dan mencoba hidup selama mungkin dan terus bertarung sekuat tenaga.


Tekad, seperti apa yang dikatakan Moro sebelumnya. Hal itu benar-benar menjadi pembeda. Pasukannya yang memang memiliki jumlah yang lebih banyak, bisa di imbangi oleh aliansi. Rantoba menjadi sedikit cemas.


"Paman Guru, bukankah sebaiknya kita memerintahkan beberapa pendekar dari sekte kita untuk ikut bertempur? Ini akan sangat membantu saat ini."


Hampir seratus pendekar suci yang sudah siaga dan hanya tinggal untuk diperintahkan oleh Daga, maka mereka akan langsung terjun ke pertempuran saat itu juga.


Moro sendiri berfikir sama. Tapi, dia percaya adiknya memiliki sesuatu yang dia tidak punya. Sebuah intuisi. Memikirkan sesuatu dengan tepat di saat-saat genting.


Daga sendiri sebenarnya juga berfikir seperti itu, Namun sesuatu seolah memintanya agar menahan diri. Dia yakin bahwa apa yang mereka hadapi saat ini, bukanlah musuh sebenarnya.


Daga menoleh pada Kenneth yang sekarang menghadapi Serabang. Pertarungan keduanya membuat Daga mengingat Edward. Jika pertarungan berlangsung lama, maka mereka masih memiliki pasukan cadangan.


Tapi serikat Oldenbar sangat sulit untuk di tebak. Bisa saja Edward tidak datang dan membiarkan pertempuran ini terus berlangsung dan melihat kesempatan apa yang bisa mereka manfaatkan saat itu.


"Baiklah! Perintahkan tiga puluh ... Tidak! Empat puluh pendekar sekte kita untuk membantu."


Rantoba langsung mengangguk. Berarti apa yang dia fikirkan sudah benar. Tak lengah dia dia langsung maju dan memberikan perintah.


Saat pendekar-pendekar itu memasuki Arena pertempuran, Daga sedikit mengangguk. Tetua-tetua sekte aliansi tidak bisa di hadapi dengan pasukan pendekar ahli dan Raja saja.


Jika ini terus berlangsung, korban dari pasukannya akan bertambah banyak. Itu akan sangat merugikan jika apa yang dia takutkan benar-benar terjadi.


Moro yang berada di sebelahnya juga berfikir sama. "Ya. Aku rasa mereka belum semuanya. Keputusanmu sepertinya sangat benar. Untuk saat ini, kita hanya bisa bersiap dengan kemungkinan munculnya musuh yang lain."


Daga mengangguk. "Baiklah. Aku rasa akan tiba saatnya kau menunjukkan betapa mengerikannya pendekar dari Daratan kita pada pendekar-pendekar bodoh ini."


Moro tersenging. Naluri pendekarnya saat ini sudah meronta-ronta untuk ikut bertarung. Seolah itu menjadi kesenangan baginya. Meski Daga di gelar sebagai setan gila. Tapi, jumlah korban Moro sebenarnya jauh di atas adiknya itu.


Memikirkan bagaimana adiknya bersikap hati-hati, ada baiknya bagi dirinya untuk menghemat kekuatan. Dan akan langsung dia gunakan saat musuh yang kuat benar-benar muncul.


"Saat ini, kita lihat saja bagaimana situasinya beberapa waktu ke depan."


Keduanya kembali memperhatikan ke seluruh Lembah. Mencoba mencari tau dan merasakan keberadaan musuh. Namun, saat ini tidak ada yang mereka rasakan.


Daga dan Moro bisa merasakan kehadiran tapi itu bukan manusia, Hanya  Siluman-siluman saja yang bermunculan. Mungkin, bau darah dari medan pertempuran itu, begitu menarik perhatian mereka.


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


Pendekar-pendekar suci dari pasukan Daga, langsung memberi perbedaan. Masuknya mereka ke pertarungan membuat pertahanan ratusan pasukan aliansi berserakan.


Perbedaan kekuatan dari musuh yang sebelumnya mereka hadapi, sangat besar. Hingga baru beberapa menit saja, sudah ada puluhan tubuh teman mereka terkapar di sana.


Para tetua dari aliansi melihat itu dan langsung segera menghadang. Memang merekalah yang paling pantas menghadapinya.


Namun, beberapa pasukan dari serikat Oldenbar masih tampak memegang senjata. Itu akan sangat beresiko jika mereka kembali menggunakan itu untuk menyerang.


Beruntung Serabang berhasil menyudutkan Kenneth. Pemimpin serikat Oldenbar itu kini tidak bisa memberi perintah langsung. Dan pasukan Oldenbar masih bertarung dengan ilmu bela diri saja.


Di sebalik bukit satu kilometer dari sana, Darius dan beberapa ratus petualang yang memutuskan ikut bersama mereka, telah mendengar suara pertempuran itu.


Dia memutuskan untuk mempercepat langkahnya. Supaya bisa ikut terlibat di dalam pertempuran tersebut. Namun, saat dia sampai di sana, dia tidak menyangka pertempuran Daratan paling Timur di ujung dunia ini, akan menjadi sebesar ini.


"Tuan Darius, ini benar-benar pertempuran besar." Seru Nick yang baru saja berhasil menyusulnya di ujung lembah.


"Ya. Aku juga tidak menyangka akan sebesar ini. Tapi Nick. Aku tetap akan terlibat. Bagaimana denganmu?"


Kepala Nick mundur sedikit saat Darius menanyakan hal tersebut. "Tuan Darius, jika apa yang kau katakan itu memang benar, maka kau sudah tau jawabannya."


Darius mengangguk. "Baiklah, kita akan maju!"


Saat itu Darius hendak langsung melangkah, namun Nick langsung menahannya.


"Tuan Darius ... Sebentar!"


"Ada apa? Kau berubah fikiran?"


Nick mengernyit heran. "Bukan, hanya saja. Siapa yang akan kita bela?"


Darius tertegun. Saking bersemangatnya untuk ikut dalam pertempuran tersebut, Dia melupakan hal yang paling penting. Saat ini, di hadapan mereka hanya ada dua kubu. Dan dia sebenarnya juga belum tau kubu yang mana yang akan di belanya.


"Hhmmm ... Soal itu ... "