
Ledakan-ledakan kembali terdengar dari benteng yang di buat anggota Sekte lembah Hantu. Benteng itu mulai tidak mampu mengimbangi daya hancur yang dilepaskan oleh senjata yang digunakan oleh Serikat Oldenbar.
Bai Fan melihat kedatangan ketiga ketua sekte yang menjadi musuh mereka. Terlihat ketiganya akan menyerang Lamo dan Salu yang kini sedang disibukkan bertarung dengan beberapa orang musuh.
"Argh!"
"Argh!"
Bai Fan muncul tepat waktu. Saat Tungka dan Gayatri ingin menembakkan senjata yang ada di tangan mereka pada Lamo dan Salu, saat itu pedang Bai Fan sudah lebih dahulu menebas kedua tangan mereka.
Meski tidak berhasil membuat tangan keduanya terputus, senjata di tangan Gayatri dan Tungka terlepas. Bai Fan langsung memberi serangan lainnya pada keduanya, tapi dua orang itu berhasil menghindar. Namun, senjata mereka tertinggal tepat di bawah kaki Bai Fan.
"Cih! Kau benar-benar merepotkan!"
Tungka yang lagi-lagi mendapatkan serangan dari Bai Fan untuk kesekian kalinya, mengutuk kakek Bai Hua itu.
"Bom!"
"Arrghhh!"
Semuanya menoleh pada asal suara. Salu terluka. Ternyata Subu berhasil menembakkan senjata sihir tepat mengenai dadanya. Ketua Sekte Telaga Keramat itu kini terkapar di tanah dengan darah segar keluar dari mulutnya.
"Subu! Kau memang sudah jauh tersesat!"
Lamo menatap sahabat lama yang kini menjadi musuh terbesarnya itu dengan tajam.
"Hahahaha!" Subu menganggapi Lamo dengan tawa meremehkan. "Lamo, sudah kubilang, dunia sudah berubah. Sekarang, inilah kekuatan sesungguhnya! " Ucapnya bangga, sambil memamerkan senjata sihir yang berhasil membuat Salu terluka parah.
"Hari ini kau akan mati!"
Lamo mengeluarkan Aura membunuh yang sangat kuat. Ketua Sekte Lembah Hantu tersebut sekarang benar-benar berniat membunuh Subu.
Subu seketika merasakan tanda bahaya. Dirinya langsung mengacungkan sejata sihirnya pada Lamo, namun sudah sedikit terlambat. Lamo sudah lebih dahulu berada di depannya.
"Buk!"
Sebuah tendangan kuat dari Lamo langsung mengenai tepat di dadanya. Subu yang sejak tadi selalu mengandalkan senjata sihir tidak sempat mengantisipasi tendangan itu.
Sehingga saat kaki Lamo mendarat di tubuhnya, Subu tidak sempat memusatkan tenaga dalamnya. Akibatnya, tubuhnya terpental mundur sekitar sepuluh meter kebelakang.
Belum sempat Subu berdiri, Lamo sudah melompat mendekat dan kembali menyerang.
"Bom!"
Beruntung Subu sempat berguling untuk menghidari pukulan tersebut tepat sebelum tinju dari Lamo mengenai kepalanya. Tapi, Lamo tidak hanya sampai di situ. Ketua Sekte Lembah Hantu itu terus menyerang Subu dengan seluruh kekuatannya.
Lamo sama sekali tidak memberikan Subu kesempatan untuk menggunakan senjata sihir yang ada di tangannya.
Beberapa pukulan berhasil mendarat di beberapa bagian tubuh Subu. Hingga, membuat Subu memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Sial!"
Tungka dan Gayatri pun bernasib tidak jauh berbeda. Mereka lengah sesaat dan itu dimanfaatkan Bai Fan untuk menyerang mereka. Ketiganya kini terlibat pertarungan dua melawan satu.
Bai Fan yang memiliki pengalaman bertarung dengan banyak kultivator tingkat tinggi di negaranya, tampak tidak kesulitan menghadapi dua ketua sekte tersebut. Malah, keduanya sudah sangat kesulitan untuk menghindar dari jurus-jurus yang Bai Fan gunakan untuk menyerang mereka.
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
Mereka tidak menyia-nyikan kesempatan saat Bai Fan tidak fokus lagi untuk menghentikan mereka. Sementara itu, Luna dengan sisa kekuatannya, mencoba mengalahkan musuh sebanyak yang dia mampu dan menghalau sisanya.
"Bom!"
Luna berhasil meremukkan beberapa kepala pendekar dan serikat Oldenbar. Namun, jumlah mereka yang sangat banyak dan seperti tidak ada habisnya itu, membuatnya mulai kewalahan.
Sekarang, beberapa sabetan pedang berhasil melukai gadis itu. Meski tidak terlalu parah. Tapi, luka-luka tersebut berhasil memperlambat geraknya.
"Kalian jangan membuat benteng lagi. Sekarang, Bantu Nona Luna menghabisi mereka!" Teriak Salu dengan suara Parau saat menyadari posisi Luna sudah dalam bahaya.
Mendengar perintah Salu itu, semuanya berusaha membantu Luna. Mendapat bantuan dari para pendekar tersebut, Luna bisa sedikit bernafas lega.
Kini, semuanya sudah sadar bahwa, perang ini memang tidak bisa dimenangkan dengan korban yang sedikit dari pihak mereka. Senjata Sihir benar-benar memberi perbedaan nyata dalam perihal kekuatan.
Berbeda dari keadaan di sekitar Bai Fan dan Luna, Rewanda dan Krama sudah membantai setengah dari anggota serikat Oldenbar di sana. Keduanya semakin ganas dalam melancarkan setiap serangan mereka.
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
"Arrrghh!" "Arrrghh!" "Arrrghh!"
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
"Arrrghh!" "Arrrghh!" "Arrrghh!"
"Arrrghh!" "Arrrghh!" "Arrrghh!"
Di antara teriakan tersebut, Krama mendengar sebuah teriakan yang sama sekali tidak ingin di dengarnya.
Beberapa saat yang lalu, Luna baru saja menerima tembakan dari senjata sihir serikat Oldenbar. Kakak Ciel itu terpental dan berguling di tanah akibat dari serangan itu.
Dan kini, gadis itu benar-benar dalam bahaya. Musuh sepertinya sengaja mengincar dirinya.
"Rewanda! Pergi dan lindungi Luna. Aku akan mengatasi yang di sini!"
Rewanda langsung berbalik dan melompat tinggi hingga mendarat tepat di dekat Luna.
"Boom!" "Boom!" "Boom!"
Serangan dari serikat Oldenbar berhasil ditahan Rewanda tepat sesaat sebelum mengenai Luna.
"Tuan Rewanda! ... Tolong Bantu mereka!"
Rewanda melihat tubuh Luna terluka cukup parah. Iblis langit itu sedikit tertegun saat mendengar Luna memintanya melindungi yang lain.
Rewanda tidak menyangka ada manusia lemah yang masih memikirkan orang lain disaat dirinya sendiri dalam bahaya. Itu memberikan perasaan yang asing bagi dirinya.
"Kau sangat hebat! Aku dan Krama akan melindungi kalian semua!"
Setelah mengatakan hal itu. Rewanda mengangkat tubuh Luna. Tidak untuk membawanya kabur, namun Iblis Kera Api tersebut menggendongnya layaknya anak kecil dan membawa Luna bertempur sambil melindungi yang lainnya.
Saat tembakan dari musuh mengarah padanya, Rewanda akan menahan dengan bagian tubuh yang lainnya. Entah apa yang ada dalam pikiran Rewanda saat itu. Tapi, Luna menyadari bahwa dia akan tetap aman bersama Rewanda.
Luna tidak menyia-nyiakan hal itu begitu saja. Gadis itu memanfaatkan keadaan untuk memusatkan tenaga dalamnya untuk mengurangi dampak dari lukanya.
Kehadiran Rewanda di sana memberikan dampak yang cukup besar. Dalam perlindungannya, para pendekar dari Sekte Lembah Hantu, memiliki peluang yang lebih bersar dalam memberikan serangan balasan.
Keadaan yang tadi tidak menguntungkan mereka, kini kembali berbalik. Rewanda menyerang banyak orang yang menggunakan senjata sihir. Hingga kekuatan musuh kian melemah.
Tak jauh berbeda. Krama, bergerak semakin gesit. Bisa dikatakan, tidak ada tembakan yang kini berhasil mengenainya tubuhnya. Dengan tanduknya dan taringnya, Krama sudah menghancurkan banyak tubuh lawannya. Jika terus begitu, maka tidak lama lagi, Ini akan segera selesai.
"Oh. Sial! Makhluk apa ini sebenar?!"
Umpat seorang anggota Serikat Oldenbar, prustasi.