ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Nasib Gonggo dan Bujang Paju


Luna langsung menoleh pada adiknya yang duduk di sebelahnya itu.


"Ciel, maksudmu?"


Ciel menggelengkan kepala dan kembali berkata, untuk menjelaskannya.


"Dengar, sekarang Arya sedang tidak sadarkan diri. Dan waktu terus berjalan ... "


Mulailah Ciel menjelaskan. Menurutnya, mereka tidak bisa membawa Arya dalam pembahasan ini. Karena, tidak ada yang bisa di lakukan Arya jika dia belum sadarkan diri.


Baik Daratan Timur ataupun Daratan Barat ini, tidak bisa menghentikan apa yang akan terjadi. Saat itu juga, Ciel menyarankan agar semuanya terus melanjutkan sesuai rencana.


Saat itu, Luna langsung mengerti maksud adiknya. Dia mengangguk, dan berbalik menoleh pada semua.


"Tuan-tuan. Kita tidak tau kapan Arya akan terbangun. Namun, kita tidak bisa terus menunggu. Jadi, aku sarankan kalian dan seluruh kekuatan untuk mulai berjalan ke Malka."


Mereka semua langsung mengerti saat itu juga. Namun, beberapa saat kemudian, Luna kembali bersuara.


"Percayalah, saat Arya terbangun, dia akan menemukan solusinya. Namun, sebelum kami tiba, Cobalah untuk bertahan sekuat yang kalian bisa ... !"


Saat itu, Salendra langsung balas berkata. "Nona, ini Daratan Kami, dan kami berkewajiban untuk membelanya. Sebaiknya, jika saat Tuan Muda sadar, kalian bisa—"


Belum sempat Salendra menyelesaikan kata-katanya, Ciel langsung memotongnya.


"Percayalah, jika Arya mengatakan bahwa dia akan menolong Daratan Barat ini, maka itulah yang akan terjadi. Aku dan kakakku, sedikitpun tidak meragukannya. Namun, saat ini teruskanlah dengan kepercayaan yang sama, seperti saat bagaimana kita memulai rencana ini."


"Ya, Arya selalu punya Cara dan bertanggung jawab tentang segala sesuatunya... Dan satu-satunya cara kita untuk mewujudkan cara dan tanggung jawab Arya itu, adalah dengan, mempercayainya ... !" Tegas Luna.


Mereka semua langsung mengerti. Karena apapun yang terjadi, dua Daratan akan dalam masalah. Jadi, saat itu juga Rangkupala dan yang lainnya, memutuskan untuk berangkat pada keesokan harinya untuk meneruskan rencana mereka.


Sementara itu, tanpa mereka sadari, di salah satu negeri lainnya di Daratan Tersebut, sebuah hal yang sangat tidak terduga sedang terjadi.


Entah bagaimana bisa, di dua orang kini sedang berdiri di atas sebuah panggung kayu, di tengah kota, dengan tangan terikat rantai dan tubuh di penuhi luka.


Gonggo dan Putranya Bujang Paju di tangkap dan di siksa sebelum akhirnya di rantai di sana, dalam keadaan tak lagi sadarkan diri.


Tengku Arif benar-benar telah terlambat saat mengetahuinya. Negeri Litapa sepenuhnya telah di ambil alih oleh pasukan Nippokure.


Mereka harus menghentikan langkah mereka untuk menyerang Nippokure karena hal tersebut.


Berfikir bahwa kedatangannya bersama pasukan negeri Serambar untuk membantu Gonggo melawan penindasan Nippokure, berganti menjadi rencana penyelamatan Sultan dan Putra mahkota negeri itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini?! ... "


Di sebuah lembah di sebalik bukit, lima puluh ribu pasukan Serambar terpaksa berkemah. Di sana, Sultan Tengku Arif benar-benar sulit mempercayai keadaan negeri Litapa, yang sudah sejak sehari yang lalu di masukinya ini.


Alih-alih menyerang, kini mereka terpaksa harus bersembunyi. Karena jika Nippokure menyadari kedatangan mereka, bisa saja Sultan Litapa dan Putranya mati dibunuh pasukan asing itu.


"Tabik, Sultan ... Aku telah mengirim dua pasang mata untuk menyelidikinya, jika tidak ada yang menghalang, dua hari ke depan, mereka akan pulang membawa kabar."


Sultan tengku Arif mengangguk mengerti.


Sambil menunggu kabar yang lebih banyak, Tengku Arif tetap ingin menyelamatkankan Gonggo dan putranya secepatnya.


Namun, dia juga menyadari bahwa bertindak gegabah pasti akan sangat berbahaya.


"Patih Leman, kita tidak bisa menunggu lama. Kirim dua ribu orang untuk berjalan memutar. Dalam tiga hari, kita harus mengepung kota itu."


Saat Patihnya ingin menanggapi, Tengku Arif kembali bicara. "Tidak, lima ribu pasukan. Tapi, perintahkan mereka berjalan menyebar di hutan. Kita tidak boleh ketahuan."


"Tabik, Sultan ... Perintah aku emban dan akan aku laksanakan."


Begitu Patih leman pergi, dindalam tenda, Sri Ratna Sari yang bersikeras untuk ikut berperang, mengeluarkan pendapatnya.


"Ayahanda, perbolehkan ananda pergi dengan beberapa ... Aku ingin menyeberang Litapa, dan mengabarkan ini pada Lindu Ara."


Kata-kata putrinya itu, mendapat gelengan kepala dari Tengku Arif. "Tidak, Lubuk Bebuai, tidak boleh meninggalkan Sekte mereka."


Saat itu juga, Sri Ratna merasa sangat yakin bahwa Ayahnya memiliki pengetahuan yang banyak tentan Sekte itu.


Tengku Arif memandang putrinya yang menatapanya dengan wajah penasaran.


"Sri Ratna Sari putriku. Kita tidak bisa meminta pertolongan mereka. Akan tetapi, jika saat ini mereka meminta pertolongan kita, kita harus segera meninggalkan Litapa, meski Gonggo dan putranya meregang nyawa."


Tentu saja jawaban itu tidak di sangka-sangka oleh Sri Ratna Sari. Bagaimana bisa ayahnya meninggalkan Gonggo begitu saja, jika sekte Lubuk Bebuai memang membutuhkan pertolongan mereka saat ini.


"Ayah, apa maksudmu?"


Tengku Arif menarik nafas sejenak, lalu melepasnya. "Meski ini adalah pertempuran pertamamu, tapi ada kemungkinan bahwa ini adalah pertempuran terbesar di Daratan ini, sepanjang sejarah kerajaan swarna ... "


Saat itu, Tengku Arif memutuskan untuk memberi tahu semua Rahasia yang dia ketahui dari Rangkupala terkait sekte Lubuk Bebuai dengan Daratan Barat ini.


Tentu saja semua penjelasannya itu akan membuat putrinya terkejut dan cenderung akan sulit mempercayainya.


Akan tetapi saat ini, tentu saja dia harus menceritakan kenapa Sekte tersebut yang paling harus di utamakan, jika kemungkinan terburuk di Daratan ini, benar-benar terjadi.


Namun, seperti pepatah lama. Semakin kita tidak menginginkan sesuatu terjadi, maka kemungkinan hal itu terjadi semakin besar.


Tidak sampai beberapa helaan nafas dari keterkejutan Sri Ratna Sari setelah menerima informasi dari Ayahnya itu, Patih Leman tiba-tiba kembali masuk ke tenda.


"Patih Leman, kenapa kau kembali?" Tanya tengku Arif, heran.


"Tabik, Sultan ... Seorang utusan dari negeri Sungai Sembilan, datang membawa berita."


Saat melihat utusan itu masuk, Saat itu juga, darah Tengku Arif terasa mendesir.


"Tabik, Sultan ... Aku datang membawa beban, sebuah surat dari Sultanah Sedayu, di negeri Sungai Sembilan."


"Beban engkau akun lepaskan ... "


Utusan itu membungkuk lalu mengeluarkan sebuah gulungan dari bajunya dan berjalan mendekat pada Tengku Arif.


Saat membukanya, tidak butuh waktu lama bagi Suktan Serambar itu untuk memahami isinya.


Tengku Arif berdiri dan langsung menoleh lada Patihnya.


"Patih Leman, urungkan apa yang tadi aku perintahkan ... "


Patih Leman langsung bisa menyadari perubahan mimik wajah Tengku Arif.


"Tabik, Tuanku Sultan ... Ada apakah, gerangan?"


Tengku Arif sempat menoleh pada putrinya sebentar, lalu kembali menoleh pada Patih Leman sebelum kembali berkata.


"Kita beralih Tujuan ... Sekarang juga, kita harus ke Sungai Sembilan!"


Mata Sri Ratna Sari, seketika melebar. Dia tidak menyangka bahwa apa yang baru saja dia ketahui, benar-benar terjadi. 


Dan tepat seperti apa yang dikatakan Ayahnya itu sebelumnya, mereka akan segera meninggalkan Litapa, meski Gonggo dan Putranya akan mati meregang nyawa.


Di saat bersamaan dengan di terimanya surat yang kini berada di tangan Tengku Arif itu, di Kota Malka, Banjanang tertawa lantang.


"Hahahahahhaha ... Akhirnya ... Hahahahahha ... !"


Meski tidak tertawa seperti gurunya itu, tapi Adiaksa tentu merasa lebih senang banjanang.


Latihan tertutupnya benar-benar membuahkan hasil yang jauh lebih baik dari apa yang dia harapkan.


Banjanang tidak bisa lagi mengukur level kependekaran serta kekuatan Adiaksa. Raja Malka itu, kini telah sangat jauh berubah.


"Guru, apakah sekarang sudah waktunya? Aku sudah tidak sabar untuk mencoba kekuatanku ini ... "


Banjanang langsung mengangguk.


"Ya, tentu saja ... Sekaranglah waktunya. Hahahahahaha ... !"