ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pertempuran Daratan Timur XI


Bai Hua telah melatih elemennya dengan sangat keras. Memang dia belum sanggup mengendalikannya saat ini.


Akan tetapi, jika dia bertarung sendiri, maka itu tidak akan jadi masalah. Karena dia tidak perlu takut akan melukai orang yang tidak diinginkannya.


"Huh! Gadis gila itu ... Pasti sedang pamer!" Gumam Ciel


Darsapati, Kaungsaji, Lamo, Salu, dan seluruh ketua serta tetua sekte aliran putih, di kejutkan oleh Ciel dari keterbengongan mereka.


Mereka tak bisa membayangkan apa yang di rasakan Daga saat menghadapi Bai Hua saat ini. Semuanya merasa beruntung sekali bahwa empat orang ini bukanlah musuh.


"Kalian, pertempuran sesungguhnya akan kami mulai. Tolong mundur dan cari jarak aman.!"


Kata-kata ciel kembali membuat mereka tersentak. Apalagi gadis itu kini tampak berjalan ke arah musuh yang jumlahnya mendekati seratus ribu dengan santainya.


"Nona Ciel, apa tidak ada yang bisa kami bantu?!"


Meski mereka telah berubah menjadi begitu mendominasi pertempuran, Saat ini, Darsapati dan yang lainnya sangat ingin bertarung. Apalagi musuh masih terlihat sangat banyak. Tentu saja mereka ingin membantu menghabisinya.


"Kalian sudah mendengar permintaan Arya bukan?" Ciel berbalik menatap Darsapati dan Kaungsaji.


"Kami tidak bisa bertarung dengan leluasa jika harus memikirkan satu saja nyawa kalian yang sedang terancam. Tidak perlu ada korban lagi."


"Tapi Nona—"


Kata-kata Kaungsaji terhenti saat Lamo menahannya. Kaungsaji berbalik hendak Protes namun Lamo langsung menyela.


"Ki Kaung, itu belum semuanya.!"


"Apa maksudmu?!"


"Ya. Sebentar lagi, kalian akan mengetahuinya. Lihatlah itu?"


Mata semua orang tertuju pada Arah dimana Salu menunjuk. Tentu saja kening mereka mengernyit heran.


"Kera?! ... Anjing?!"


Mereka bergumam bersamaan.


Namun, Belum sempat mereka berfikir lebih jauh untuk mencerna, satu kejutan terakhir ini, benar-benar membuat semua orang mengerti, kenapa Arya meminta semua orang untuk menjauh.


"Rewanda! Krama! ... Sudah saatnya!"


Mata mereka terbelalak, saat menyaksikan langsung perubahan Kera dan Anjing yang berjalan di kedua sisi Ciel, menjadi makhluk yang paling mengerikan yang pernah mereka lihat sepanjang hidup mereka.


Kera berwarna emas itu, berubah menjadi Seekor Siluman Kera yang sangat besar, dengan Api menyala memenuhi tubuhnya.


Sementara anjing kecil lucu yang mereka lihat selalu mengekori Arya itu, berubah menjadi siluman Serigala sebesar Kuda, dengan tanduk runcing di kepalanya.


Edward dan tiga bawahannya, berusaha menghabisi Luna. Seharusnya dengan kekuatannya yang bisa menghisap tenaga dalam lawan, pemimpin Oldenbar itu bisa dengan mudah mengalahkan Luna.


Masalahnya, tenaga dalam yang dimiliki Luna terasa asing baginya. Sehingga saat dia berusaha menyerapnya, tangannya seolah terasa lumpuh.


Jadi, kelebihan tubuh uniknya sama sekali tidak menguntungkan saat dia harus berhadapan dengan Luna, dalam mode bercahaya seperti ini.


Mereka begitu berusaha dengan susah payah hanya untuk menghadapi pendekar raja wanita ini. meski ketiganya adalah pendekar suci. Bahkan, saat ini Edward berada pada level pendekar suci tingkat empat.


"Kenneth! Cepat serang dia, sekarang!"


Perintah Edward pada Kenneth begitu melihat selah untuk menjatuhkan Luna. Namun, Kenneth tidak bergerak sesuai dengan apa yang di perintahkannya.


"Pemimpin ... Lihat di sana!"


"Sial! Apalagi itu?  ... " Separuh nyawa Edward terasa menghilang saat melihat arah yang ditunjuk Kenneth.


Tepat ke arah mereka, sedang berlari siluman Kera Api yang sangat besar. Saat itu terjadi, Edward benar-benar telah berputus asa.


"Booom ... !"


Kepala Edward baru saja terpisah dari tubuhnya. Namun, tidak utuh. Kepalanya pacah menjadi ratusan bagian.


Kenneth dan Ludwig hanya berdiri mematung, sama putus asanya.


"Kenneth ... Ini sudah berakhir.!" Gumam Ludwig.


Saat mereka berkata seperti itu, Siluman kera api sudah memasuki medan tempur. Setiap pendekar yang dilaluinya terbakar dan sebagian lagi hancur karena hantaman Rewanda. Siluman itu jelas sedang menatap keduanya.


"BOOOOOMMM ... !"


Baru saja sebuah tubuh yang berasal dari hutan di belakang lembah, menghantam tanah dengan sangat keras. Hal itu membuat ratusan pasukan sekte aliran hitam terpental ke segala arah.


"Aaaarrrggggghhhh ... !"


Suara teriakan memilukan memekak telinga lainnya. Saat melihat siapa yang baru saja memiliki nasib buruk itu, mereka semua menyadari bahwa itu adalah Moro. Si Pendekar Ranah Bumi.


Tidak terlalu memperdulikan hal itu, Ciel  langsung duduk di atas punggung Krama. Setelah itu, mereka juga masuk ke medan tempur. Krama langsung membelah pasukan musuh.


Ciel melepas panah dengan tenaga dalam yang besar. Satu anak panahnya, terus melesat menembus beberapa tubuh pendekar sekte aliran hitam. Sayang sekali bagi mereka, sekali tembakan, Ciel tidak melepas satu melainkan empat anak panah yang membuat musuh-musuh bertumbangan dengan sangat cepat.


"Tuan Darius, Bukankah dalam cerita hanya ada satu Satria yang memiliki kekuatan dengan seluruh titik Cakra menyala?"


Nick tidak lagi meragukan kata-kata Darius. Pedang dan tubuh Satria yang menyala, baginya sudah cukup untuk mempercayai dongeng yang selalu dia dengar sejak kecil.


Namun, tepat di depan matanya, sekarang ada tiga memiliki tubuh yang menyala. Bahkan dua diantaranya adalah wanita.


Darius sama terkejutnya. "Aku juga tidak tau. Tapi, bukankah tiga jauh lebih mengerikan?"


Sementara itu di tengah pasukannya, Rangkas dan Sapujagad telah menelan Pil Zulu, begitu pula ribuan bahkan mungkin puluhan ribu pendekar sekte hitam, sudah melakukan hal yang sama.


Namun, hal tersebut tidak ada pengaruhnya di depan musuh-musuhnya saat ini. Bagaimanapun, panah Ciel sudah menembus dan bersarang di jantung mereka.


Sementara itu, Rantoba dan puluhan pendekar suci di buat benar-benar panik. Pasalnya, ribuan pendekar yang berada di dekat mereka, tiba-tiba tercekik tak bisa bernafas.


Sebuah bayangan dengan kecepatan yang sangat tinggi terus bergerak ke segala penjuru. Bayangan itu meninggalkan pendekar di mana dia melintas, dalam keadaan memegang mulut dan hidung. Ada air yang tak bisa menghilang di antara keduanya.


Daga benar-benar tidak bisa berkutik. Meski dia bisa bergerak sedikit lebih cepat dari Bai Hua, namun tidak ada satupun serangan yang bisa di lancarkan pada gadis itu.


Saat Daga baru mendekat beberapa langkah saja, beberapa sambaran petir dari tubuh gadis itu langsung menghantamnya.


Bagi Bai Hua, Hanya perlu menunggu sampai Daga lengah saja hingga dia bisa menghabisinya. Sementara itu cucu Bai Fan itu, terus menghabisi setiap pendekar yang berada dalam jarak serangnya.


Inilah hasil latihan dari ketiganya. Selama beberapa waktu, Arya terus mempelajari cara kerja Bahuraksa. Saat ini, jika Arya yang membangunnya, pedang itu bisa mentransfer energinya pada Ciel dan Luna.


Saat ini terjadi, level kependekaran sama sekali tidak berarti bagi keduanya. Jika Arya bisa menghadapinya maka mereka juga bisa. Asal tubuh mereka mampu menahan pasokan energi secara terus menerus.


Hasilnya, mereka memang mampu. Bagaimanapun, keduanya adalah keturunan Helion Smith, sang pembuat sekaligus pemilik pertama, Bahuraksa.


Bai Hua sendiri, di untungkan dengan kondisi tubuhnya. Memang Ini akan sangat membahayakan jika pertempuran berlangsung lama. Karena seluruh Prananya akan habis saat itu terjadi.


Akan tetapi, Bai Hua telah berlatih sangat keras. Terakhir kali, Dia sanggup menahan kekuatannya selama setengah hari.


Jadi, jika hanya beberapa jam saja, bisa dikatakan bahwa saat ini, Daga memang sedang berhadapan dengan gadis gila pembawa malapetaka.


Di seberang, Seluruh pasukan aliansi benar-benar tidak bisa mengedipkan mata sekalipun, saat menyaksikan apa yang kini terhampar di depan mereka. Seluruh tubuh mereka bergetar hebat.


Saat itu, semua mata yang melihatnya sepakat dan menyimpulkan. Ini tidak lagi bisa dikatakan sebuah pertempuran. Karena, Di depan mereka saat ini jelas sedang terjadi, sebuah pembantaian.


"Ki Darsapati... Inikah kekuatan sesungguhnya leluhur keluarga, kita?"