ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pelindung


Arya sudah melihat semua hal yang disebabkan serikat Oldenbar di Daratan ini. Mengubah pendekar yang memang sudah jahat menjadi pemangsa yang meresahkan seluruh penduduk Daratan ini.


Belum lagi dengan cara mereka menguasai wilayah-wilayah di setiap kota ataupun sekte-sekte. Memanfaatkan daya pikir manusianya yang jauh tertinggal, membuat kekacauan dan memanfaatkan situasi untuk mengambil alih saat semua pihak lengah.


Dari sudut manapun, jika difikirkan kembali, tidak ada manfaat keberadaan serikat itu di Daratan ini. Selain merusak dan membawa malapetaka yang menyengsarakan kehidupan orang-orang lemah.


Itulah mengapa Oldenbar adalah target pertama Arya untuk di hapuskan dari Daratan Timur ini. Hanya saja dia tidak secara sengaja bertemu dengan Kelang, ketua sekte Tanah Hitam, yang lebih dahulu dikirimnya ke neraka.


Sekarang, di sinilah Arya berada. Di pegunungan Singa Emas. Di depan gerbang yang di jadikan pusat kegiatan oleh Serikat Terkutuk ini.


Setelah membantai dengan sadis seluruh penjaga gerbang, Saat ini Arya menatap jauh kedalam.


Malam ini juga, Arya Berniat mengambil alih dan mengembalikan keadaan pegunungan Singa Emas seperti bagaimana seharusnya.


Arya mengangkat tinggi Bahuraksa dan mengacungkannya ke udara. seketika itu juga auranya berubah.


"Kosha...!"


"Jurus pertama ... Gerbang Cakra."


Arya mengambil kuda-kuda. Memusatkan energi asing di dalam dirinya dalam jumlah besar ke seluruh titik Cakra yangbsudah terbuka. Matanya menyala terang, penuh amarah.


"Langkah Seribu Bintang!"


"Wusssh...!"


Arya langsung melesat dengan kecepatan tinggi menuju pusat keramaian. Dengan Bahuraksa di tangannya, setiap anggota serikat Oldenbar yang di lewatinya, di tinggalkan dengan kepala yang sudah terpisah dari tubuh mereka.


Tanpa aba-aba. Saat melihat keramaian, mata Arya langsung mencari setiap anggota serikat Oldenbar yang ada dan langsung menyerangnya.


Kejadian itu begitu cepat hingga beberapa saat pun belum ada yang menyadarinya. Hingga salah satu dari orang berada di jalan, melihat anggota serikat Oldenbar yang sedang berdiri tidak jauh darinya, tiba-tiba ambruk begitu saja.


Akan tetapi, apa yang dilihatnya itu seperti mimpi. Jangankan untuk berteriak. Saat itu juga orang tersebut pingsan dan ikut tumbang di tempat dia berdiri.


Kejam?. Itu tidak seberapa dibandingkan apa yang telah mereka perbuat dan sebabkan karena perbuatan itu.


Arya melihat sendiri bagaimana putus asanya orang-orang yang di tawan Oldenbar. dan tak bisa di hitung lagi nyawa yang menjadi korban atas akibat Pil Zulu yang mereka edarkan.


Terakhir, Arya melihatnya di Sekte Tanah Hitam. Sejak itu, darah Arya benar-benar mendidih. Ingin rasanya dia menghancurkan daratan ini begitu saja.


Meski tidak begitu lama mengenal banyak manusia, Arya tak bisa membayangkan jika salah satu orang yang dia kenal bernasib sama.


Arya semakin memacu kecepatannya saat tiba di tempat yang lebih ramai. Matanya terus mencari anggota serikat Oldenbar dan langsung mengayunkan Bahuraksa, membelah memenggal. Bahkan di saat bersamaan Arya juga melayangkan tinjunya dan memecah kepala-kepala mereka.


"Hiyaaaaa...!"


"Aaaaaa......!"


Barulah setelah beberapa lama, banyak orang menyadari kejadian itu. Satu-satu Teriakan demi teriakan mulai bermunculan dari setiap tempat yang sudah di lewati Arya.


Akan tetapi, saat itu terjadi, Arya sudah berada di tempat yang lebih jauh. Meski mendengar teriakan tersebut, Arya tidak menghentikan langkahnya dan tetap mengincar seluruh anggota serikat Oldenbar yang di lihatnya.


Teriakan semakin banyak hingga menggema ke seluruh penjuru lembah. Kepanikan besar pun mulai terjadi.


Pasalnya, dalam waktu sekejap saja, Arya sudah menyisir sebagian pusat keramaian itu. Tidak bisa dihitung pasti berapa tubuh anggota dari serikat Oldenbar yang telah di bunuhnya. Lagi pula, Arya tidak berniat menghitungnya.


Teriakan yang menggema tersebut, terdengar sampai ke tempat Angus. Orang-orang di sana langsung keluar berhamburan untuk memastikan apa yang terjadi.


Begitu pula dengan Angus yang sekarang berjalan tergesa-gesa ke arah pintu keluar. Namun, saat dia baru berjalan beberapa langkah, dia pun terhenti.


Dari kerumunan orang yang berbondong-bondong keluar itu, ada satu sosok yang baru saja masuk.


Entah bagaimana, Orang-orang di sana tidak begitu memperhatikannya. Mungkin karena begitu penasarannya saat mendengar suara teriakan, yang bermula darinarah gerbang kota. Teriakan-teriakan itu seperti saling bersambut hingga semakin mendekat ketempat mereka.


Seharusnya kedatangannya begitu mencolok karena pedang besar yang ada di tangannya dan dengan tubuh yang berpijar berwarna biru menyala.


Angus membeku di tempatnya berdiri karena sosok itu kini berjalan ke arahnya.


Hampir saja Angus mati karena serangan jantung jika sosok itu tidak langsung dia kenali.


"M-Ma-Ma-Master ... ?!"


Arya berjalan melewati Angus. Arah nya ke tangga menuju lantai dua. Disana, Arya tau anggota serikat Oldenbar sedang banyak berkumpul.


Angus sama sekali tidak bisa bereaksi apapun. sekali lagi Arya bersuara tepat sebelum menginjakkan kakinya di anak tangga pertama.


"Tuan Angus. Sebaiknya, bantu aku menenangkan mereka. Jika bukan anggota serikat Oldenbar, maka malam ini mereka akan selamat. Jika tidak, ... "


Angus tak mendengar lagi kata-kata Arya karena sosoknya telah menghilang. Setelah beberapa detik, teriakan demi teriakan, mulai membahana di lantai dua langsung memekakan telinga. Hal itu langsung menyadarkan Angus tentang apa yang sedang terjadi.


Tak peduli apa yang di lakukan Arya pada semua anggota Oldenbar di lantai dua, Angus langsung berlari keluar.


"Kalian ... !"


Angus melihat beberapa orang yang di kenalnya berdiri menyaksikan tumpukan daging manusia dengan seragam Oldenbar yang sudah tercabik-cabik.


"Bantu aku! Jika kalian bukan anggota Oldenbar, maka akan selamat. Dan sebaiknya diam Di tempat."


Orang-orang yang sedang linglung itu, tidak bisa begitu saja mengerti apa yang di maksud oleh Angus. Sebab, saat ini selain ketakutan, perut mereka juga terasa sangat Mual.


"Arrrgghhh...!" "Arrrgghhh...!" "Arrrgghhh...!"


Arrrgghhh...!" "Arrrgghhh...!" "Arrrgghhh...!"


Arrrgghhh...!" "Arrrgghhh...!" "Arrrgghhh...!"


Arrrgghhh...!" "Arrrgghhh...!" "Arrrgghhh...!"


Teriakan-teriakan lebih keras kini terdengar dari luar yang berasal dari lantai dua restoran Angus. Hal itu langsung menarik perhatian semua orang di dekat sana.


Beruntung Angus berfikir cepat dan memanfaatkan kejadian itu, untuk menjelaskan.


"Lihat dan dengar lah! Jika kalian bukan bagian Oldenbar, diam dan tetaplah di tempat kalian!"


Beberapa pendekar mendapatkan kesadarannya meski rasa takut masih menggerayangi mereka sampai ke ulu hati. Dalam kepanikan tersebut, Saat itu mereka bisa berfikir sedikit lebih jernih dari yang lainnya.


"Hei! ... Dengarkan Tuan Angus."


Melihat ada beberapa orang yang tampak mengerti, Angus langsung menghampiri.


"Kalian, bantu aku untuk menenangkan orang-orang. Jika kalian bukan bagian Oldenbar. Diam dan tetaplah ditempat. Maka, kalian akan selamat."


Mata mereka melebar. Sayangnya, mereka Tidak begitu mengerti setelah beberapa saat, Angus melihat mereka tetap tidak bereaksi apaoun.


Angus menjadi putus asa. Dia juga tidak tau bagaimana caranya untuk menenangkan orang-orang ini. bahkan sebenarnya dia juga tidak bisa menenangkan diri. saat ini saja, rasanya jantungnya berpacu sangat cepat.


Saat Angus masih berputus asa di tempatnya berdiri, Tiba-tiba semua mata pendekar yang ada di dekatnya terbelalak.


Angus tak menyadari jika Arya dengan tubuh menyala dan pedang besar yang juga berpijar terang, sudah berdiri di sebelahnya.


Mata Arya yang bersinar lebih terang, menatap pada semua pendekar itu. Tatapan itu mampu membuat organ dalam perut semua orang yang melihatnya, tidak bekerja sebagaimana mestinya.


Tak berkata apapun. bahkan, bersuara pun tidak. Arya hanya menepuk bahu Angus pelan sebanyak tiga kali. sebelum dia berbalik.


Saat itu, Arya menatap istana Singa Emas. Dan detik berikutnya dia menekuk kedua kakinya. seperti sedang mengambil kuda-kuda, dan detik berikutanya, Arya membuat lompatan yang sangat jauh.


Saat itulah semua orang bisa melihat, sebuah kilat cahaya berwarna biru seperti berlari di atas pohon-pohon hutan dengan kecepatan yang sangat tinggi. kilatan itu kini mengarah pada istana Singa Emas yang berada di ujung lembah.


Hal tersebut berhasil membuat semua orang bungkam. Dan terus melihat cahaya itu sampai menghilang, saat mencapai puncak bukit di mana sisa-sisa anggota serikat Oldenbar, berada.


Lama mereka terdiam, sebelum akhirnya salah satu pendekar di dekat Angus memberanikan diri untuk bertanya.


"Tuan Angus ... siapa? Eh, maksudku apa sebenarnya itu?"


Pendekar itu, Tidak yakin bagaimana cara yang tepat menanyakannya dan tidak tau kata apa yang tepat untuk bertanya. Karena tidak ada satupun dari mereka pernah melihat seseorang atau sesuatu seperti itu sebelumnya.


"Itu ... Itu ... Pelindung ... seluruh Daratan ini!"


Jawab Angus asal dan terbata.