
Pergerakan pendekar-pendekar dalam jumlah yang sangat besar di segala penjuru negeri yang ada di Barat itu, membuat para penduduk di sana diselimuti kecemasan dan tanda tanya.
Siapa yang menyangka bahwa Sultan yang pertama kali bergerak dengan membawa prajurit serta pendekar dari negerinya dalam jumlah besar adalah Tengku Arif dari negeri Serambar.
Apalagi, saat ini pasukan itu secara terang-terangan menyebrang melintasi negeri Litapa, di mana Sultan Gonggo dan putranya Bujang Paju ditawan, menuju langsung ke arah negeri Sungai Sembilan.
"Tabik, Sultan. Kenapa gerangan tidak kepadaku saja beban diemban?"
Di atas kuda, di sebelahnya, Tengku Arif menjawab pertanyaan Patih Leman. "Aku terikat Sumpah tapi tidak dengan putriku."
Hanya itu jawaban yang di sampaikan oleh Tengku Arif dan langsung membuat Patih Leman terdiam.
Sementara itu, di benteng Nippokure di dekat kota Pinang Merah di mana Arya dan yang lainnya berada, Arya sudah sadar sepenuhnya.
"Arya, ada apa dengan tubuh Bai Hua?"
Arya menggelengkan kepala, "Aku tidak tau, tapi kita akan segera tau setelah aku membangunkannya."
Lebih dari yang lainnya, walaupun keduanya saat ini merasakan kekuatan mereka telah jauh berubah, sebenarnya Luna dan Ciel lebih penasaran dengan perubahan ada tubuh Arya.
Keduanya sangat yakin bahwa Arya setidaknya sedikit bertambah tinggi hanya dalam beberapa hari saja. Selain itu, hal yang lebih aneh lagi adalah, keduanya sudah bisa merasakan hawa keberadaan serta kekuatan Arya.
"Arya ... Kau, apakah ... Kau ... "
Tidak pernah seragu ini sebelumnya, apalagi mereka telah cukup lama berjalan bersama. Ciel sulit untuk menyembunyikan rasa penasarannya namun gugup untuk bertanya.
Arya berbalik dan tersenyum pada gadis itu. "Aku masih Arya yang sama. Hanya saja saat ini Zolka, memberikan seluruh kesadarannya padaku."
Saat Arya mengatakan itu, lagi-lagi kedua gadis tersebut menelan ludah. Zolka yang lebih mereka kenal sebagai Kulkan, adalah makhluk mitologi yang hanya di ceritakan di banyak kisah, yang mana sampai beberapa waktu yang lalu tidak pernah terbukti kebenarannya.
Di kenal sebagai makhluk terkuat di dunia yang mampu melahap jiwa serta energi kehidupan mahkluk lainnya. Memiliki daya hancur yang mempu meratakan satu benua hanya dengan sekali serangannya saja.
Yang membuat keduanya kini gugup adalah, Makhluk itu kini berada di dalam tubuh keturunan manusia terkuat di dunia, yang pernah membantai sembilan dewa perang di saat bersamaan saat perang dua dunia lebih dari tiga ribu tahun yang lalu, Arangga Sarka.
Meski belum saat ini, tapi Luna dan Ciel benar-benar yakin bahwa Arya memiliki potensi menghancurkan dunia. Sebab, jelas bahwa baik Arangga maupun Kulkan atau Zolka, memiliki kekuatan yang tidak bisa lagi di nalar manusia maupun dewa.
Dan dua kekuatan yang dulu berseberangan itu, kini menjadi satu dan berada di tubuh seorang pemuda, yang tengah berusaha membangunkan Bai Hua di depan mereka ini.
"Arya, aku dan Ciel ... Akan mengikutimu ke mana saja. Tapi, bisakah kau membuat matamu itu kembali normal seperti biasa?"
Ini satu lagi yang mengganjal hati keduanya. Tidak ada yang ingin setiap saat bertatapan dengan mata yang mampu membuat jiwa seseorang meronta ketakutan.
Itu bukan ungkapan, Mata Arya memang mampu menyerap massa jiwa seseorang. Bahkan, sejak tadi Ciel dan Luna harus memfokuskan prana mereka agar tidak pingsan berada di sana.
"Oh, baiklah ... Maafkan aku."
Saat itu juga, mata Arya berubah. Keduanya langsung bisa bernafas lega.
"Arya, kau ... Harus ... Harus ... Mencari cara, agar jiwa kami tak akan termakan oleh tatapan matamu, itu."
Itulah yang sejak tadi ingin di sampaikan oleh keduanya. Mereka benar-benar takut kesadaran Arya lah yang di ambil Kulkan, bukan sebaliknya.
Arya hanya tersenyum dan menggelengkan.
"Kalian tidak akan mati hanya karena mata ini, bukankah kalian sudah pernah masuk ke alam kesadaranku? Kalian hanya perlu membiasakannya saja."
Ini lah yang pertama kali di rasakan Arya saat pertama kali menatap mata Kulkan, yang begitu menakutkan itu. Namun, setelah lama berada di tubuhnya, Arya menjadi biasa dan teramat biasa.
Saat itu, mata Bai Hua mulai terbuka. Arya memberi tanda bagi keduanya agar keluar dari ruangan itu.
"Senior ... Kau ... "
Tidak menganggi Bai Hua, Arya bakas mengingatkannya.
"Bai Hua, aku tau ini terlalu cepat tapi persiapkan dirimu. Energimu sudah terlalu lama terkumpul, kau bisa merasakannya bukan?"
Bai Hua menganggukkan kelapa. Dia juga bisa merasakan energi yang sangat besar sedang meledak-meledak ditubuhnya, meski prananya masih dalam keadaan tersegel.
"Aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi, kau tau bagaimana cara menemukanku, bukan?"
Bai Hua tampak berfikir sejenak, lalu kembali menatap Arya. Saat itu, matanya sedikit melebar karena untuk pertama kalinya dia bisa merasakan hawa keberadaan serta energi Arya.
"Ya, aku bisa menemukanmu." Jawabnya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membuka seluruh segel Pranamu ... "
Hanya butuh beberapa detik saja bagi Arya membuka seluruh segel Prana Bai Hua. Namun, pada detik terakhir sempat melihat mata Bai Hua menyala berwarna biru sebelum sebuah kilatan terjadi yang membuat seluruh tubuh Bai Hua, menghilang.
Arya sempat sempat tertegun, sebelum akhirnya dia bisa merasakan Bai Hua di belakangnya. Namun, itu hanya sebentar sebelum akhirnya menghilang kembali.
"Bai Hua ... Pusatkan seluruh pranamu di satu tempat ... "
"Sen ... "
"A ... "
"Or ... "
Arya bisa mendengar suara-suara terputus dari Bai Hua dalam kecepatan tunggi.
Arya langsung bisa mengerti apa yang kini sedang di cemaskan gadis itu. Saat itu, Arya hanya tersenyum.
"Ya, kau memang sangat kuat. Tapi aku adalah Arya ... Tentu saja aku mampu menahannya ... "
Saat itu, Arya merentangkan tangan.
"Bai Hua ... Datanglah ... !"
Detik itu juga, Bai Hua muncul dan memeluknya dengan energi petirnya. Tidak lagi menyambar-nyambar namun, saat ini Bai Hua telah menjadi dan bersatu dengan energi itu sendiri.
"Senior ... Aku ... Aku ... "
Arya tau ketakutan Bai Hua. Karena jika dia tidak bisa mengendalikan energinya, maka dia akan kehilangan tubuhnya.
Petir benar-benar sulit untuk dipelajari apalagi untuk di kendalikan.
"Bai Hua, selama aku masih ada ... Kau bisa menemukanku dan kau tidak akan pernah kehilangan dirimu ... Mengerti?"
Bai Hua memeluk Arya erat. Hatinya sangat sakit sekaligus sangat senang. Karena, dia tau bahwa kini kekuatannya sedang mencoba melukai Arya.
Namun, di saat bersamaan dia juga menyadari bahwa saat ini Arya adalah satu-satunya manusia yang mampu menahan kekuatannya.
Oleh karena itu, Bisa dikatakan bahwa Arya adalah tempatnya untuk kembali saat dia kehilangan diri karena kekuatannya sendiri.
"Sekarang, cobalah segel kembali Pranamu ... "
Memang, tidak mudah. Perlu beberapa kali pengulangan sampai Akhirnya Bai Hua bisa menyegel kembali Pranannya sendiri.
Akan tetapi, itu sudah cukup bagi Arya. Karena setidaknya kini dia sudah mulai mengerti bagaimana cara kerja energi serta elemen milik Bai Hua.
Hanya menunggu waktu saja sampai Arya benar-benar bisa memahami dan menunjukkan pada gadis itu, bagaimana mengendalikan elemen baru yang sangat kuat di dunia tersebut.
Tidak berapa lama kemudian, Arya dan Bai Hua sudah keluar dari ruangan itu.
Luna dan Ciel langsung memeluknya. Keduanya sudah tau bahwa tubuh Bai Hua bisa saja menghilang. Karena, sebelumnya Arya mencoba membuka Prana gadis itu sebelum menyadarkannya.
"Gadis, gila ... Kenapa kau tidak menghilang saja?"
"Jika aku menghilang, maka kau akan kesepian, percayalah padaku ... "
Arya hanya menggelengkan kepala dengan sikap ketus Ciel pada Bai Hua dan tanggapan cucu Bai Fan itu.
"Aku akan membangunkan Citra Ayu. Setelah itu kita akan—"
Kata-kata Arya terpotong karena saat itu ada orang lain di sana. Berfikir bahwa orang itu hanya pemuda-pemuda yang menjadi tawanan dan memilih tetap tinggal di benteng itu, namun ternyata tidak.
"Tuan Muda ... Bisakah kita bicara?"
Arya mengernyitkan dahinya. Namun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah! katakan, apa yang ingin kau bicarakan."
Pemuda itu itu mengangguk lalu kembali memperkenalkan diri sebelum mulai menjelaskan.
"Aku Tungkeh Aji, putra Tungkeh Aram dari negeri Bukit Batu ... "
Saat itu, Arya langsung menatap Luna yang ditanggapi sebuah anggukan oleh gadis itu dan kembali menoleh pada Tungkeh Aji.
"Maaf, jika kalian ingin memulai semua peperangan ini, sebaiknya kalian sekarang ke negeriku ... "
"Kenapa kami harus ke sana?" Tanya Ciel, heran.
"Ada alasan lain kenapa Negeriku di beri nama sebagai Bukit Batu ... "
"Aku mengingatmu ... kau adalah salah satu putra Sultan, kenapa selama ini kau diam dan baru memutuskan bicara sekarang?"