ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Kunci


" Kunci? ... Apakah gelang ini sebenarnya adalah sebuah kunci? "


Tarim Saka kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak yang di bawanya itu.


" Ya, sudah pasti itu sebuah kunci "


Handar sedikit histeris dengan kesimpulannya. Namun, semua orang yang ada di sana mengangguk menyetujui perkataan Handar.


Tarim Saka memperhatikan dengan seksama benda yang kini ada di tangannya itu. " Tapi, bagaimana ini bisa menjadi sebuah kunci dengan bentuk seperti ini? "


" Ketua Saka, ... karena kau adalah keturunan orang yang bernama Tarim Sadif itu, maka itu bisa di bilang sebuah berkah. " Ki jurung berpendapat " Anda hanya perlu memakainya dan memasukkan tangan anda ke dalam lobang yang ada di tengah itu! " sambungnya sambil menunjuk ketengah simbol yang ada di dinding tersebut.


Handar mengangguk " Ya! Itu sangat masuk akal " mendukung pendapat Ki Jurung.


Jantung Tarim Saka berdegup. Dia benar-benar merasa sudah terlalu tua untuk semua ini. Lelaki sepuh itu memasukkan tangan kanannya kegelang dan memakainya.


Arya sedikit mundur untuk memberi jalan pada ketua Sekte Awan senja itu untuk mendekati simbol yang ada di dinding tersebut.


Handar, Ki jurung, dan Sugal berserta sesepuh lainnya melihat Tarim Saka yang kini berdiri tepat di depan dinding itu dengan waspada. Bisa saja ada jebakan di sana. Atau bahkan di ruangan ini.


Ki Jurung merasakan kegugupan Tarim Saka " Tenangkan diri anda, Ketua "


Tarim Saka menghela nafas panjang dan melepaskannya. Dia mengulangi itu setidaknya lima kali untuk menghilangkan rasa gugupnya. Tarim Saka menatap gelang yang ada di tangannya lalu lobang yang ada di tengah.


" Tidak perlu takut, Ketua! Jika kau kehilangan satu tanganmu, kau masih memiliki satu lagi "


Tarim Saka dan semua orang langsung menatap Handar dengan pandangan tajam.


Menyadari semua orang menatapnya, membuat Handar merasa canggung " Maafkan aku! Aku hanya bercanda "


Bagaimanapun, Handar tidak bisa menahan dirinya melihat Tarim Saka ternyata bisa segugup itu. Dia sangat mengenal bagaimana keberanian ketua Sekte Awan Senja itu. Mereka berdua telah banyak menjalani misi dan pertarungan bersama disaat mereka masih muda.


Kenyataannya, sebelum Tarim Saka menduduki jabatan Ketua Sekte Awan Senja, keduanya cukup dekat. Itulah salah satu alasan kenapa Handar dipilih menjadi wakil Tarim Saka selain fakta memang Handar adalah orang terkuat nomor dua di sana setelah Tarim Saka. Saudara seperguruannya itu.


" Jika aku terluka sedikit saja, kau harus menggantikan semua pekerjaanku setidaknya selama sepuluh tahun " ancam Tarim Saka, ketus.


Perkataan Handar memang mampu sedikit mencairkan suasana. Namun, saat Tarim Saka mulai memusatkan konsentrasinya sekali lagi, mereka kembali waspada.


Dengan gelang hitam di tangannya, Tarim Saka melangkah lebih dekat. Dengan jarak yang dia rasa sudah cukup, Tarim Saka langsung memasukkan tangannya kedalam lobang itu.


Nafas mereka semua tertahan, menunggu reaksi yang akan ditunjukkan oleh Tarim Saka.


Mata Tarim Saka melebar, seperti merasakan sesuatu.


Mereka semua melihat tarim Saka seperti sedang meraba-raba apa yang ada di dalam lobang tersebut.


" Hiiiiyyyaaaaa ... "


Tarim Saka meninju dinding itu, menyebabkan seluruh ruangan sedikit bergetar. Lalu tiba-tiba dia menarik tangannya.


" Serangga Sialan! "


Tiga ekor Kalajengking selebar telapak tangan orang dewasa menggantung menyengat tangannya. Tarim Saka kesal karena melupakan kemungkinan ada binatang di dalam lobang tersebut


Melihat kejadian itu, Semua sesepuh berusaha menahan tawa mereka. Wajah Sugal memerah. Bagaimana tidak, mungkin bagi sepuh lainnya jika menertawakan ketua hanya membuat perasaan mereka sedikit tidak enak. Tapi tidak untuk Sugal, bisa saja itu menjadi tawa terakhirnya.


Arya langsung menangkap tangan Tarim Saka untuk melepas ketiga Kalajengking itu dan menginjaknya satu-satu di tanah. Saat memegang tangan Tarim Saka itu, Arya secara tak sengaja menyentuh gelang tersebut.


Sekilas, gelang itu menyala. Meski yang lain bahkan Arya sendiri tidak menyadari itu, tapi Tarim Saka merasakannya.


Gelang itu mengalirkan sebuah energi yang belum pernah di rasakan Tarim Saka sebelumnya.


" Apa itu sakit, Kek? " Tanya Arya sambil menunjuk bekas sengatan kalajengking itu.


Tarim Saka mengabaikan pertanyaan Arya bahkannrasa sakit nya. Ia manatap Arya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


Tarim Saka yakin bahwa Aryalah yang membuat gelang ini menyala dan memicu energi dari gelang yang sedang melingkar di pergelangan tangannya itu.


" Kenapa, Aku? "


" Sudah, coba saja! " Tarim Saka membalikan telapak tangan Arya dan langsung menaruh gelang itu di sana. Seketika gelang itu langsung menyala.


Garis-garis ukiran pada gelang itu bercahaya berwarna biru begitu menyentuh kulit Arya.


Arya sendiri merasakan getaran energi di gelang itu. Penasaran, Arya memasukkan lengan dan memakai gelang tersebut. Sekelebat ingatan dari Berkah air langsung muncul di kepalanya.


Arya berusaha memahami semua yang ada di kepalanya saat ini. Berkah Air sendiri memang bukan hal yang berhubungan langsung dengan pintu atau apa yang ada di dalam sana. Tapi gelang itu dibuat memang untuk memusatkan energi yang berasal dari berbagai berkah termasuk berkah Air.


Sementara itu terjadi, para sesepuh Sekte Awan Senja, melihat cahaya berwarna biru mengalir melewati kulit tangan Arya menuju gelang tersebut. Cahaya itu berpusat pada salah satu lobang yang ada di sana. Cahaya itu terlihat semakin lama semakin padat.


Hingga akhirnya semua proses itu selesai, sebuah batu energi telah memenuhi satu lobang yang ada di gelang tersebut.


Arya membuka matanya kemudian menatap gelang itu. " Jadi, begitu? " sebuah senyum penuh percaya diri terukir di wajahnya.


Mendekat satu langkah pada dinding itu. Arya langsung memasukkan tangannya kedalam lobang yang ada di tengah simbol tersebut.


Cahaya berwarna biru menyeruak dari dalam lobang diikuti aliran energi yang berwarna sama. Mula-mula, energi itu memenuhi ukiran ke delapan anak panah di tengah lingkaran. Saat kedelapan anak panah itu sudah di penuhi cahaya, ukiran anak panah itu memanjang hingga menyetuh lingakaran, kemudian lingkaran itu juga di penuhi aliran energi berwarna biru tersebut.


Ruangan tempat mereka berdiri itu kini mulai bergetar, diiringi dengan bergeraknya lingkaran itu searah jarum jam.


Muncul retakan berbentuk persegi dengan tinggi dua orang dewasa dan lebar sepanjang kedua tangan membentang.


" Berlindung! "


Arya berteriak meminta semua orang yang ada di sana mencari tempat untuk berlindung. Arya bisa merasakan energi yang keluar dari gelang itu semakin membesar.


Retakan-retakan besar mulai muncul di tengah persegi tersebut. Lalu dari retakan besar itu muncul retakan-retakan kecil yang semakin membanyak. Hingga akhirnya retakan itu nyaris memenuhi sisi dalam persegi tadi.


" Duaaaarrrrr! "


Akhirnya dinding itupun meledak. Menghamburkan pecahan-pecahan batu kecil kesegala arah. Batu-batu itu juga menghantam dan menyebabkan ratusan luka di tubuh Arya.


Jika itu manusia biasa, sudah di pastikan tubuhnya akan hancur karena sobekan dan hantaman ribuan batu-batu kecil itu. tubuh Arya bisa sembuh dengan sangat cepat.


Setelah semua mereda, di depan Arya kini terhampar sebuah pintu dengan lorong yang dalam.


" Nak, Arya. Jika kau sudah tau akan seperti ini. Bukankah sebaiknya kau memberi tahu kami sebelum memasukkan tanganmu ke lobang tadi? "


Arya memalingkan wajahnya pada Tarim Saka. Arya mendapati wajah dan anggota tubuh Tarim Saka lainnya mengalami luka goresan akibat pecahan-pecahan batu yang melesat sangat cepat itu.


" Maaf, itu ... Salahku! " jawab Arya sambil menatap yang lainnya yang juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda dengan Tarim Saka. " Maaf " katanya sekali lagi sambil sedikit menjnduk, suaranya lebih kepada bergumam dengan senyum canggung pada yang lainnya.


Arya berbalik melihat kedalam lorong yang kini ada di hadapannya. " Apapun yang orang itu lindungi, benda itu pasti ada di ujung lorong ini! "


Mereka melupakan lukanya dan mendekat pada Arya.


" Aku rasa, sebaiknya kita masuk " Arya melangkah.


Mereka mengikuti Arya dari belakang. para sesepuh tetap waspada hingga sekali-sekali menatap kebelakang. Takut sebuah pintu akan mucul dan membuat mereka terkurung di dalam selamanya.


Namun, hingga mereka menemukan titik cahaya di ujung lorong, pintu yang ditakutkan itu tidak pernah muncul. Ini sangat menggelikan jika mereka mengingat bahwa mereka adalah sesepuh-sesepuh sebuah Sekte.


Sampai diujung lorong, mereka baru menyadari bahwa cahaya terbut berasal dari selah-selah pintu kayu yang sudah sangat tua.


Arya mendorong pintu tersebut. Tidak terbuka, melainkan ambruk ke tanah.


Wajah mereka langsung di hujani cahaya terang hingga mereka harus memejamkan mata karena sedikit terkejut dengan cahaya yang menyilaukan yang tiba-tiba itu.


Saat mereka membuka mata, mata mereka kompak langsung melebar. Mulut mereka seketika mengaga.


Hamparan emas dalam berbagai rupa menggunung di hadapan mereka. Belum lagi batu-batu mulia beraneka ragam dan warna.