
Sebaik apa bisa menyimpan rahasia di sebuah Daratan yang di penuhi pendekar dan banyak mata-mata dari empat kubu yang kini ada di sana.
Di mulai dari hilangnya Komandan Pasukan Nippokure dari Bentengnya, membuat Pasukan Nippokure yang ada di Malka menyadari ada sesuatu yang terjadi di Jampa.
Meski pasukan Nippokure yang berada di Malka sangat kuat, itu tak menjamin bahwa di sana tak bisa disusupi mata-mata.
Negeri Sungai sembilan yang pertama kali mendengar berita. Sedayu kembali ke Sekte Lubuk Bebuai untuk bertemu langsung dengan Lindu Ara.
"Kakak ... Benarkah apa yang kau sampaikan?"
Nilam Sari mengangguk meyakinkan keduanya. Karena dialah yang menyusup ke benteng Nippokure dan menerima beritanya langsung.
Memang, tidak di ketahui dengan pasti siapa yang memenangkan perang. Akan tetapi, dengan hilangnya komunikasi antara Pasukan Nippokure di Malka dan Jampa, itu sudah membuat semua orang menjurus pada satu kesimpulan.
Rencana yang Rangkupala sampaikan lewat surat pada mereka itu, setidaknya sudah terlihat berjalan dengan benar.
"Sedayu ... Sebaiknya, kau sudah menyiapkan pasukan Sungai Sembilan. Kita tidak bisa menunda. Jika Rangkupala membawa perang, maka kita akan mengikutinya."
Sultanah Sedayu mengangguk mantap. "Srikandi Negeri Sembilan telah siap berperang. jika hari itu datang, kami akan menghancurkan semua penghalang."
Saat itu, keduanya melihat pada Nilam Sari yang memberi tanda. Keduanya langsung mengangguk mengerti apa yang coba di sampaikan pendekar wanita itu.
Saat itu, Nilam Sari mengingatkan mereka agar tak meninggalkan Negeri Sembilan. Karena, sebenarnya tugas mereka adalah menjaga negeri ini.
Bukan, lebih tepatnya tugas mereka menjaga sesuatu yang ada di negeri ini.
"Nilam Sari ... Kita tidak tau dimana perang akan terjadi. Bisa di Malka ... Tapi, bisa juga di negeri ini."
Sepertinapa yang coba di ingatkan oleh ibu kandung dari Citra Ayu itu, Sedayu dan Lindu Ara tentu saja mengerti.
Bahkan apa yang kini sedang mereka lindungi itu. Lebih berarti dari seluruh Daratan ini.
Untuk meyakinkan kakak yang seharusnya mengemban tugas Sultan Negeri Sembilan alih-alih dirinya itu, Sedayu kembali bersuara
"Riak telah menjadi gelombang. Hanya menunggu sedikit angin sebelum badai datang. Di manapun akan terjadi perang, Negeri Sembilan yang paling harus siap tegak menantang."
Nilam Sari mengangguk. Saat itu, Lindu Ara dan Sedayu bisa melihat dari matanya, bahwa di balik cadar yang menutupi wajahnya itu, wajah cantik seorang pendekar wanita yang kini di yakini sebagai yang terkuat di Daratan Barat sekarang itu, sedang terkembang.
Sungguh Sedayu ingin sekali lagi melihat wajah Cantik kakaknya itu. Namun, Sedayu terikat sumpah. Jangankan dia adiknya. Bahkan, Citra Ayu anaknya saja, tidak bisa melihatnya.
Saat pikiran tentang Citra Ayu melintas di kepalanya, Sedayu kembali bersuara untuk bertanya.
"Kakak, apakah sudah ada kabar dari Karpatandanu? Bagaimana dengan nasib keponakanku itu?"
Saat itu Nilam Sari menjelaskan bahwa sepertinya sudah tidak apa-apa. Entah bagaimana caranya, Sultan negeri Pasir Putih itu bisa menyelamatkan anak mereka.
"Nilam Sari? ... Bagaimana kau mengetahui?"
Saat itu Nilam Sari menjawab seolah mengatakan bahwa. Sama sepertinya, Karpatandanu juga sangat menyayangi Citra Ayu putri mereka.
Jika tidak ada sesuatu yang bisa dilakukannya di sana, maka sudah dipastikan Sultan Negeri Pasir putih itu, kini sudah berada di sini membawa Citra Ayu pada dia dan Lindu Ara.
Saat itu juga, Sedayu dan Lindu Ara mengernyitkan dahi mereka. Karena, bisa saja terjadi sesuatu saat perang berkecamuk di sana, sehingga Karpatandanu tidak bisa melakukan hal itu.
Tau apa yang difikirkan keduanya, Nilam Sari Kembali berbicara dengan bahasa isyaratnya, yang mengatakan bahwa, suaminya, sangat pintar dan kuat. Karpatandanu tak akan mati hanya karena perang itu.
Lalu, Nilam Sari meletakkan kedua tangannya di dadanya, seolah dia mengatakan bahwa. Saat ini, hatinya sangat tenang. Jadi, dia yakin putri nya memang dalam keadaan baik-baik saja.
Begitulah besarnya Cinta Nilam Sari untuk putrinya. Entah bagaimana itu bisa terjadi. Akan tetapi, setiap Citra Ayu dalam bahaya, hatinya langsung berubah dan begitu juga sebaliknya.
Bahkan, tugas yang kini di emban wanita itu, jauh lebih berat dari pada tanggung jawab yang berada di pundak keduanya.
"Baiklah, jika memang sudah seperti itu, tidak ada alasan lagi untuk menunda."
Lindu Ara menoleh dan menatap Sedayu.
"Sedayu, Minta semua Sekte di Negeri Sungai Sembilan untuk ikut serta. Kita harus memastikan apapun yang terjadi ke depan, Negeri Sungai Sembilan harus tetap berdiri."
Saat itu juga, Nilam Sari kembali memberi tanda. Apa yang dikatakan Nilam Sari sontak membuat keduanya terkejut.
"Kakak, apa kau sangat yakin?"
Anggukan Nilam Sari membuat keduanya langsung merasa cemas. Baru saja, wanita itu mengatakan bahwa terjadi perubahan besar di Kota Malka.
Belum bisa dipastikan apa tujuan mereka, akan tetapi Nilam Sari yakin bahwa hampir setiap hari, kota itu kedatangan pendekar-pendekar asing yang sangat kuat.
Yang paling mengejutkan, Nilam Sari saat ini tidak mengetahui dimana keberadaan Adiaksa. Raja istana Malka.
"Sial ... Banjanang ini, begitu licik."
Semua orang juga mengetahui bahawa Malka sebenarnya di atur oleh Banjanang, guru Adiaksa. Sementara Raja itu, hanya sibuk berlatih dan terus berlatih.
Saat ini, bahkan Lindu Ara sekalipun belum tentu bisa menang jika harus berhadapan langsung dengannya.
"Nilam Sari ... Aku akan bertanya hal yang sangat penting. Jika negeri Sembilan memutuskan menyerang Malka dengan seluruh kekuatan sekarang, adakah kesempatan kita untuk menang?"
Gelengan sekali dari Nilam Sari, langsung membuat membuat Sedayu dan Lindu Ara mengerti, sekuat Apa Malka sekarang.
Lama, Lindu Ara dan Sedayu termenung. Keduanya sedang memaksa otak mereka bekerja lebih keras. Jika apa yang dikatakan Nilam Sari benar, maka Banjanang dan Adiaksa memang sudah sangat siap dengan semua hal.
Malangnya, hal itu dikatakan langsung oleh Nilam Sari dan tentu saja hal itu sangat benar.
"Guru ... Bukankah Tuanku Rangkupala memiliki murid? Kami tidak tau dia siapa, akan tetapi kehadirannya pasti akan sangat membantu saat ini."
Mata Lindu Ara seketika melebar. Apa yang dikatakan Sedayu, tentu saja sangat benar adanya.
Saat itu juga, Lindu Ara berseru memintanya.
"Sedayu ... Kirim sebuah surat pada Tengku Arif Sultan Serambar ... Minta dia dan seluruh pasukannya untuk langsung datang kesini, membantu kita."
Saat itu juga mata Sedayu ikut melebar. "Tengku Arif? ... Jadi, dia ... ?"
Lindu Ara langsung mengangguk. "Ya, Sultan yang berdaulat di negeri Serambar itu, adalah satu-satunya murid Rangkupala."
Mendengar itu, di hati Sedayu langsung mengumpat.
"Sial ... Pantas saja aku tak pernah menang melawannya barang sekalipun. Ternyata dia murid Jemba, si Kebojalang."
Meski mengumpat, entah kenapa wajahnya tersenyum.
Lindu Ara dan Nilam Sari menatapnya heran.
"Sedayu, kenapa kau tersenyum?"
"Oh, tidak, tidak ... Aku akan mengirim surat pada pemuda itu?"
"Hah? ... Pemuda, kau bilang?"