ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
ADAMANTINE


Sama dengan Kelang, Darius tidak langsung pulang ke markas pusat serikat petualang. Dirinya lebih memilih untuk langsung melaporkan kejadian tersebut pada Arya.


Selama menjabat sebagai kepala serikat, belum pernah dia melakukan kesalahan se-fatal itu. Namun, kejadian ini memang sangat sulit untuk di antisipasi.


Berharap penjelsannya dapat dimengerti, begitu bertemu dengan Arya, Darius langsung menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Master, aku sudah menceritakan kejadiannya. Meski terdengar tidak masuk akal, tapi itulah yang benar-benar terjadi."


Darius menyadari kerugian yang disebabkannya tidak akan mampu ditanggulangi oleh serikat petualang.


"Tuan Darius, aku mempercayainya."


Darius mengernyit. "Master, kau percaya?!"


Arya mengangguk. "Ya. Aku mempercayainya. Dan itu tidak masalah."


"Master. Aku tidak akan berlepas tangan. Kami dari pihak serikat petualang akan menyelediki ini."


"Tidak perlu, tapi ada yang ingin aku tanyakan padamu."


Saat itu mereka sedang berada di gedung dimana hanya ada Arya di sana. Darius tidak menyangka bahwa laporannya akan semudah ini.


Akan tetapi dengan apa yang akan ditanyakan Arya padanya ini, ketua serikat petualang itu sedikit ragu. Mungkin saja pemuda itu malah mencurigainya.


"Ya, Master. Silahkan! ... Aku akan menjawab jika aku mengetahuinya."


Tanpa fikir panjang, dengan tersenyum Arya bertanya. "Di negaramu, dengan kekuatanmu mungkin kau akan menjadi pendekar yang di segani. Tapi, Apa yang membuatmu jadi petualang?"


Mata Darius melebar. Pertanyaan ini tidak diduganya, "Tentang apa ini? Kenapa kau mempertanyakan keputusanku menjadi petualang?"


"Jawab saja. Aku hanya penasaran."


Darius menelan ludah. Dia tidak terbiasa bersilat lidah. Sebagai petualang, dia tidak takut berhadapan dengan siapa saja. Sejak memutuskan menjalani kehidupan seperti ini, Darius sudah menyadari profesinya bukanlah profesi yang menjamin keamanan dan kenyamannya.


"Aku ingin mengelilingi dunia dan menguak banyak misteri yang ada di dalamnya."


Arya mengangguk, "Jadi, siapa dirimu sekarang? Apakah kau masih seorang petualang?"


Darius terdiam. "Soal itu ... Aku ... Aku ... !"


Sudah banyak yang berubah di dunia ini. Bahkan para petualang itu sendiri sudah lama kehilangan jati diri mereka.


Dengan serikat yang memayungi mereka saat ini saja mereka masih di sebut sebagai petualang. Selebihnya, mereka hanya pekerja yang melakukan tugas menantang dengan beyaran yang cukup besar. Itu saja.


Melihat Darius tidak menjawab, Arya sudah mengerti. Tidak meneruskan, sekarang Arya beralih sedikit. "Kenapa serikat ini ada? Apakah kalian membutuhkan serikat ini, atau serikat ini yang membutuhkan kalian?"


'Deghh!'


Jatung Darius berdetak keras. Seperti sesuatu baru saja menghujamnya. Ketua serikat petualang itu, sekarang melupakan alasan kenapa dia ada di gedung dan menemui Arya.


Sebaliknya, dia kembali memikirkan kenapa dia bisa sampai ke Daratan yang sangat jauh dari tanah kelahirannya ini.


"Tuan Darius, ketahuilah. Aku berniat berpetualang mengelilingi dunia dan mencari sesuatu yang mungkin belum pernah ditemukan. Sejak awal aku ingin menjadi petualang. Tapi, jika seorang petualang itu seperti dirimu saat ini, aku sepertinya harus memikirkan ulang lagi rencanaku."


"Bruuk...!"


Darius jatuh berlutut. kepalanya langsung tertunduk. Bukan ini yang dia harapkan saat memulai dahulu. Jauh sebelum itu, dimana dia menganggap bahwa petualang adalah seseorang yang akan memegang rahasia besar dunia di puncak kejayaannya.


Namun saat ini, dia menyadari bahwa dia telah kehilangan arah. Banyaknya masalah di dunia membuat tujuannya bergeser sedikit demi sedikit. Hingga dia kehilangan jati diri dan ikut berubah.


Darius mendapati dirinya saat ini hanya pekerja yang berharap di bayar oleh seseorang atau kelompok tertentu. Tantangan yang ditemukan disaat menjalani misi, bukan lagi sesuatu yang dia anggap hal menarik melainkan hanya alasan kenapa dia di bayar begitu tinggi.


Mendengar itu, Darius langsung berdiri. emosinya meredang dan wajahnya yang langsung memerah, menatap Arya tajam. "Master! Kau boleh meremehkanku atau menghinaku. Tapi, tidak untuk orang itu. Jaga ucapannmu!"


Tepat seperti yang Arya harapkan. Darius bukan seperti petualang lainnya. Dia hanya orang yang sudah terjerat oleh perputaran roda dunia ini.


"Melihat reaksimu, sepertinya kau sangat mengagumi orang itu. Apakah dia sehebat itu?!" Tanya Arya dengan nada yang penasaran.


Darius merapatkan dan menggeretakan giginya, serikat petualang tidak sesederhana itu baginya. Apalagi sejarah panjang yang menyertainya.


"Berbeda dari para pendekar, orang yang mendirikan serikat petualang adalah orang yang mengerti bahwa dunia tidak bisa ditakhlukkan oleh hanya satu orang saja. Orang itu mulai mengumpulkan orang-orang dengan tekad yang sama dan membentuk sebuah kelompok. Awalnya ini bukan serikat. Tapi, rumah bagi kelompok mereka. Serikat petualang adalah rumah untuk mereka kembali


dan saat mereka pulang, mereka akan menceritakan pada keturunannya, kisah pertualangan hebat yang telah mereka lalui."


Melihat Arya mengangguk seolah memahami apa yang dia katakan, emosi Darius sedikit mereda.


"Siapa orang yang pertama kali mendirikan rumah bagi petualang-petualang itu?"


Darius menatap ke atas, seolah mengingat masa kecilnya. Saat dimana orang tuanya menceritakan kisah seorang petualang hebat yang telah mengelilingi dunia.


Kisah tentang Seseorang dengan pedang besar dan di ikuti oleh orang-orang yang sangat kuat yang mampu membunuh makluk yang tak mungkin bisa dikalahkan manusia.


Orang yang dijadikan Darius kecil sebagai panutannya dan menginspirasinya untuk mengarungi benua untuk tujuan yang sama.


"Orang itu adalah pahlawanku. Seorang yang kami sebut sebagai satu-satunya Ksatria yang menapakkan kakinya di Kelas Adamantine. Leluhur para petualang, Si pembunuh Naga. Sarka!"


Saat menjawab itu, mata Darius berapi-api. Seolah tidak ada lagi orang yang hebat dimatanya di dunia ini selain orang itu. Namun, kejadian berikutnya akan segera membuat dunianya berguncang.


"Tuan Darius. Ini tanah leluhurku. Ada rumah tempat dan keluarga yang akan menanti saat aku kembali ... !"


Saat Arya berdiri, mata Darius terbelalak. Seketika aura yang begitu mengintimidasi menyeruak keluar memenuhi ruangan tersebut. Seketika Darius kembali berlutut.


"Bahuraksa ... Bangunlah!"


Sebuah pedang besar melayang keluar dari di udara. Pedang itu menyala di setiap ukiran yang ada pada gagang dan sarungnya.


"Kosha ... !"


"Jurus pertama ... Gerbang Cakra!"


Darius mematung dengan mata terbuka lebar. Bagaikan mimpi yang sangat nyata. Tepat seperti dongeng yang dia dengar dari orang tuanya hampir setiap kali saat dia ingin tidur.


Pendekar hebat dengan pedang menyala dan tubuh yang di penuhi Aura yang mampu menggetarkan jiwa-jiwa musuhnya. Leluhur petualang. Seseorang dalam legenda. Sarka, si pembunuh Naga.


Dengan mata yang masih menyala, Arya menoleh pada Darius yang menatapnya seolah seperti sedang melihat dewa.


Darius kehilangan kata-kata. Dia tidak siap menyaksikan ini. Bahkan jika difikirkan lagi, siapa yang siap dengan sesuatu yang seperti, Saat apa yang hanya ada di dalam mimpimu kini muncul tepat di depan matamu.


"Katakan, Apakah Kau masih seorang petualang?!"


Arya bertanya pada Darius yang kini langsung menunduk. Tidak menjawab atau tepatnya tidak sanggup menjawab. Dengan kondisinya seperti ini, dia terlalu malu untuk mengakui bahwa dirinya masihlah seorang petualang.


Bahuraksa berputar-putar di udara sebelum akhirnya menukik di lantai.


"Ting...!"


Darius terkejut dan langsung mendongak. Di depannya, pedang itu kini tertancap dan berdiri. Dibelakangnya berdiri sosok yang dia percayai sebagai Sarka itu, mulai kembali berbicara.


"Darius sang petualang! Aku memiliki misi, untukmu ... !"