
"Rewanda! Krama! Berjagalah!"
Arya dapat merasakan orang-orang yang baru saja keluar dari goa itu, bisa membahayakan Ki Jabara dan para pendekar yang bersamanya.
Ki Jabara tersulut emosi dengan cara pendekar asing itu meremehkan bukan hanya dirinya. Tapi, juga prajurit dan pendekar yang jelas-jelas satu kubu denganya.
Dengan kata lain, Ki Jabara marah karena orang itu telah meremehkan seluruh pendekar-pendekar dari Daratan Timur.
"Cih! Aku tak tau siapa kau. Tapi sepertinya kau terlalu meremehkan kami."
"Hahahaha!"
Wu Guo tertawa seperti sehabis mendengar kata-kata yang terdengar lebih seperti sebuah lelucon itu.
"Aku tidak meremehkan kalian. Tapi, aku merasa jijik dengan orang-orang seperti kalian yang hanya memiliki sedikit kekuatan dan bergaya seperti pendekar!"
"Tutup mulutmu, dan hadapi aku! "
Ki Jabara langsung menantang Wu Guo untuk bertarung satu lawan satu.
"Aish!" Wu Guo sedikit kesal. Dia menaruh satu tangannya di belakang. "Majulah! Akan aku tunjukkan padamu seperti apa pendekar sesungguhnya!"
Kata-kata Wu Guo semakin membuatnya marah. "Bajingan itu benar-benar meremehkanku" Gumam Ki Jabara.
Dengan memusatkan tenaga dalam pada kaki dan tangannya. Ki Jabara langsung mengambil kuda-kuda hendak menyerang. "Kau akan mengesali kata-katamu."
"Wussshhhhh... "
Ki Jabara langsung melesat dengan kecepatan penuhnya. Saat itu, dia juga mengangkat pedangnya tinggi. Ki Jabara Berniat mengakhiri hidup pendekar asing yang telah menghinanya itu dengan sekali serang.
"Jurus Pembelah Batu!"
Serangan dengan penuh tenaga dalam dari Ki Jabara itu, terjadi sangat cepat. Hingga dia merasa Wu Guo taidak punya kesempatan untuk mengelak. Namun, hal yang terjadi berikutnya membuat mata Ki Jabara terbelalak.
"Ini serangan terkuatmu?" Wu Guo baru saja menghentikan serangan dan menangkap pedang Ki Jabara hanya menggunakan dua jarinya.
Ki Jabara langsung menyadari bahwa orang yang dia lawan sekarang ini benar-benar berbahaya.
Ki Jabara berniat mundur secepatnya. Namun, langkahnya tertahan. Saat ini dia bahkan tidak mampu melepaskan pedangnya dari jepitan jari Wu Guo.
"Kau!?"
"Buk!"
Ki Jabara tidak sempat menunjukkan betapa terkejutnya dia, namun Wu Guo langsung menendang perutnya, keras.
Tendangan Wu Guo itu, melemparkan Ki Jabara lebih jauh daripada tempat dia memulai serangan sebelumnya. Tubuhnya berguling beberapa meter sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pendekar-pendekar yang tadi di belakangnya.
"Ki Jabara!"
Teriak para pendekar itu bersamaan. Melihat serangan paling kuat dan terkenal dari Ki Jabara bisa dihentikan dengan sangat mudah, para pendekar itu juga langsung menyadari betapa mengerikannya pendekar asing yang kini menjadi lawan mereka itu.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Ki Jabara langsung terbatuk sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Dari mulutnya juga keluar darah segar. Dia bisa merasakan bahwa organ dalam perutnya sudah rusak.
"Kalian ... Larilah! Orang itu terlalu, berbahaya!" Ucap Ki Jabara dengan bersusah payah.
Mereka tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari seorang pendekar setingkat Ki Jabara. Tapi melihat bagaimana Ki Jabara bisa terluka seperti itu, mereka mengerti kenapa pendekar sepuh itu menyuruh mereka lari.
"Hahahaha! ... Hahahahha!"
Tawa Wu Guo menggema di udara. Dia merasa bahwa pendekar-pendekar di Daratan Timur kerajaan Swarna ini, ternyata memang sangat lemah.
Ki Jabara dan semua pendekar yang bersamanya terdiam saat Wu Guo tertawa seperti itu.
"Ting!"
Dengan kedua jarinya, Wu Guo baru saja mematahkan pedang Ki Jabara. Hal itu mempertegas bagaimana kuatnya dia di banding semua orang di sana.
Sama dengan tendangan yang mengenai perut Ki Jabara, saat mematahkan pedang itu, Wu Guo sama sekali tidak menggunakan tenaga dalamnya.
"Aku rasa, aku bahkan tak begitu membutuhkan Senjata pusaka itu, hanya untuk menguasai Daratan ini."
Kata-kata Wu Guo itu tentu saja mengejutkan semua orang di sana. Pendekar asing ini barusaja mengatakan bahwa dia berniat untuk menguasai Daratan Timur kerajaan Swarna ini.
Wu Guo tidak sedang bercanda. Seperti kata-kata yang dilontarkannya, memang seperti itulah niat Wu Guo saat ini.
Awalnya, Wu Guo hanya mendapatkan misi dari sektenya untuk mengikuti dan mengawasi Bai Fan ke Daratan ini.
Namun, seiring berjalan waktu. Saat menjalani misi ini, Wu Guo melihat sebuah kesempatan yang lebih baik bagi dirinya di Daratan Timur ini.
Dia tidak menyangka misi yang di berikan oleh sektenya telah membuka matanya. Ternyata, dunia begitu luas. Dengan kekuatannya, di luar Kekaisaran Yang, Ada daratan yang cukup luas yang mungkin bisa dia kuasai.
Di Daratan ini, dengan tambahan beberapa pendekar lagi dari Sektenya di Kekaisaran Yang, Wu Guo yakin dia bisa mengambil alih Daratan Ini.
Dengan senjata itu, Wu Guo yakin, kedepan, tidak hanya Daratan Timur ini saja, melainkan seluruh Daratan Kerajaan Swarna akan mampu dia ambil alih.
Wu Guo yakin bahwa seseorang yang berada di Kota Basaka lah yang memberikan informasi tentang kedatangan Bai Fan di sini pada sektenya.
Meski tidak pernah bertemu dengan orang itu, melihat bagaimana Nurmageda bertindak, Wu Guo yakin bahwa Nurmageda bisa mempertemukannya dengan orang itu.
Itu salah satu alasan kenapa Wu Guo belum membunuh Nurmageda hingga saat ini. Dia ingin memanfaatkan pengaruh yang di miliki orang di belakang Nurmageda untuk memulai ambisinya dengan menguasai Daratan Timur ini.
Arya tidak menyangka Ki Jabara sangat gegabah dan langsung menyerang orang itu. Sepengetahuan Arya, seharusnya Ki Jabara bisa mengukur kekuatannya sebelum memutuskan untuk menyerang.
" Ki Jabara!"
Setelah mendengar apa yang di katakan Wu Guo, semua orang di sana terdiam termasuk prajurit dan pendekar yang berada di belakangnya. Namun, suara Arya yang barusaja memanggil Ki Jabara, tentu saja menarik perhatian semua orang.
Saat Arya tiba, dia sudah mendapati mulut Ki Jabara berlumur darah. Dengan cepat Arya meletakkan tangannya di perut Ki Jabara menghentikan rasa sakit yang di alami pendekar tua itu menggunakan teknik penyembuhannya.
Tak ada satupun orang di sana yang menyadari itu, selain Arya dan Ki Jabara.
Setelah Rasa sakitnya mereda, Ki Jabara merasaakan sesuatu yang salah. "Tuan Arya! Kenapa kau bisa berada disini?!"
Tidak mengucapkan terimakasih atas apa yang di lakukan Arya padanya, Ki Jabara malah bertanya kenapa Arya bisa berada di sana.
Sekarang wajah Ki Jabara tampak mencemaskan keselamatan pemuda yang baru saja mengobatinya itu.
"Aku kesini ingin menolong kalian"
Jawaban Arya katakan, bukanlah hal yang dia harapkan. Kehadiran Arya saja sudah menarik perhatian semua orang. Sekarang, jawaban yang dia lontarkan ternyata lebih mengejutkan lagi.
"Hahahaha" Wu Guo kembali tertawa. "Lelucon apa lagi ini?"
"Tuan Arya. Cepat selamatkan dirimu. Kami tidak bisa bertarung dan melindungimu di waktu bersamaan!"
Tanpa kehadiran Arya saja, menurut Ki Jabara situasi sudah sangat sulit. Dengan kedatangannya yang tidak diduga oleh mereka itu, tentu saja ini menjadi semakin rumit.
Mereka tidak bisa menyelamatkan diri mereka dan meninggalkan Arya begitu saja.
"Tenang Ki. Aku yang akan melindungi kalian"
Setelah mengatakan itu, Arya berdiri dan langsung menatap tajam pada Wu Guo.
"Tuan Arya. Apa yang kau lakukan?!" Ki Jabara tidak percaya Arya bisa menjadi sebodoh ini, "Orang asing itu sangat kuat. Jangan berbuat bodoh! " Ki Jabara mengingatkan.
Dia merasakan sendiri kebodohan yang baru saja dia lakukan. Tanpa berfikir panjang telah menyerang lawan tanpa lebih dahulu mengukur kekuatan hanya karena tersulut amarah.
"Cukup! Ini benar-benar memuakkan." Wu Guo menjadi sangat kesal.
Ke hadiran pendekar tua yang lemah itu saja sudah membuatnya jijik. Sekarang muncul pemuda tanpa tenaga dalam yang barusaja berkata ingin melindungi semua orang.
"Saat Aku menguasai Daratan ini nanti, aku bersumpah akan memusnahkan orang-orang bodoh seperti kalian ini!" Geram Wu Guo.
Arya tiba-tiba berjalan dan melangkah mendekati Wu Guo. Masih menatap kedua matanya tajam.
"Jadi, kau ingin menguasai Daratan ini? " Arya terus berjalan. Matanya tak lepas dari Wu Guo, seolah mengunci pendangan pendekar asing itu.
Arya terus melangkahkan kakinya mendekati pendekar asing itu. Saat sudah berada tidak lebih dari satu langkah di depan Wu Guo, Arya berhenti dan kembali bertanya.
"Apa kau benar-benar sudah merasa sangat kuat?!" Tantang Arya.
Pertanyaan Arya itu menyulut emosi Wu Guo. Belum pernah seseorang mempertanyakan kekuatannya dan masih hidup setelahnya.
Sekarang di depannya, seorang pemuda tanpa tenaga dalam barusaja melakukannya. tak pernah dia merasa diremehkan oleh seseorang seperti ini. Apalagi pertanyaan itu lebih terasa seperti tantangan terbuka. Wu Guo merasa pemuda ini sengaja menghinanya.
Sekarang, Mata Wu Guo membalas tatapan Arya, dingin. Wu Guo benar-benar geram dan berniat menghancurkan oemuda yang di depannya itu.
"Buk!"
Arya tiba-tiba menyerang Wu Guo dengan cepat. Sebuah pukulan dari Arya, kini mendarat tepat di dada Wu Guo.
Namun sesuai dugaan semua orang, Serangan yang di lakukan Arya tidak mampu membuat tubuh Wu Guo bereaksi sedikitpun.
Wu Guo merapatkan giginya, dan berkata dengan geram. "Matilah kau, bo—"
Wu Guo tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Karena saat Arya menarik tangannya, hal itu seketika membuat mata Wu Guo melebar.
Sebuah jantung yang masih berdetak, Berada dalam genggaman pemuda yang kini memandangnya dengan tajam dan tersenyum miring.
"Orang lemah sepertimu berkata ingin menguasai Daratan ini?"
"Kreus"
Arya meremas jantung Wu Guo tepat di depan matanya.
"Huh! ... Jangan bermimpi!"