ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Penyelamatan II


"Jemba, apa itu?! ... "


Baru saja Salendra dan Rangkupala tiba, lagi-lagi mereka di kejutkan oleh pemandangan yang tak mereka duga.


Sebuah Pedang besar menyala biru terang yang keluar dari antah berantah, melayang di udara.


Tiga tubuh menyala, lalu dua orang yang menghilang begitu saja.


"Salendra, sebenarnya aku juga tidak tau."


Belum berapa lama dia berkata seperti itu, Rangkupala kembali terngaga. Bahkan, Citra Ayu juga membuatnya terkejut.


"Gadis ini ... " Gumamnya.


Saat itu, Rangkupala langsung mengingat sebuah kisah yang pernah diceritakan oleh Lindu Ara padanya.


Tentang seorang pendekar wanita yang sangat kuat. Wanita itu adalah salah satu leluhur dari sekte Lubuk Bebuai.


Menurut cerita Lindu Ara. Kisah pendekar wanita inilah yang menginspirasi seluruh anggota sekte Lubuk Bebuai dari generasi ke generasi, selama ribuan tahun lamanya.


Keperkasaannya, membuat dia menjadi satu dari dua wanita saja di dunia, yang benar-benar mampu memberi perlawan pada prajurit langit, di Perang Dua Dunia, lebih dari tiga ribu tahun yang lalu.


Salah satu dari dua Wanita terkuat dalam sejarah manusia, yang mampu mengendalikan elemen yang paling sulit dikendalikan di dunia, yaitu elemen, Logam.


Di depan matanya dan Salendra, Citra Ayu baru saja menjadikan pagar gerbang benteng Nippokure itu, berubah menjadi Zirahnya.


Meski merupakan elemen terkuat, hampir semua orang di dunia ini, tau bahwa elemen Logam adalah kutukan.


Memiliki pusat energi yang mengandung elemen itu, tidak menjadikan seseorang mampu menggunakannya. Dibutuhkan tenaga dalam yang sangat besar, hanya untuk sekedar mengendalikan dan memanipulasi segenggam logam.


Akan tetapi, Citra Ayu baru saja menunjukkan pada Rangkupala tepat di depan matanya.


Gadis yang hampir saja mati tiga hari yang lalu ini, telah bertransformasi menjadi satu dan bergabung dengan kelompok tiga gadis lainnya yang memiliki kekuatan yang tidak mementingkan level kependekaran dalam pertarungan mereka.


"Salendra, aku rasa kita benar-benar baru melihat lahirnya calon legenda baru dari Daratan ini. Tidak, aku rasa kerajaan ini bahkan dunia."


Salendra langsung mengangguk. Logam adalah elemen terkutuk. Begitulah semua orang menganggapnya. Tapi, dia juga melihat dengan mata kepalanya sendiri, seorang gadis baru saja menjadikan gerbang sebuah Zirah sebelum menyerang musuhnya.


Di depan keduanya, gadis itu baru saja mematahkan sebuah kutukan dan menjadikannya berkah.


"Ya, tapi dia saja tidak akan cukup, sebaiknya kita langsung masuk dan membantu mereka."


Keduanya langsung berlari memasuki lorong itu. Mencabut pedang mereka karena sudah mendengar teriakan-teriakan dari pertarungan di dalam benteng.


Akan tetapi, saat mereka tiba di tepi lapangan, langkah mereka langsung terhenti.


"Ba-bagaimana ...  ca-cara ... Mem ... "


Salendra tidak bisa menyusun kata-kata. Niat mereka di sini ingin membantu. Tapi saat melihat bagaimana cara dua wanita di lapangan itu bertarung menghadapi semua musuh dan menyelamatkan semua pemuda itu dalam waktu bersamaan, membuat keduanya berfikir ulang.


Mereka langsung menyimpulkan, keduanya tidak akan membantu malah akan merusak dan mengganggu konsentrasi gadis-gadis itu saja. Karena, saat itu mereka melihat kombinasi keduanya benar-benar menakjubkan.


Musuh  yang mereka hadapi kali ini, ternyata jauh lebih sulit dari melawan pasukan kependekaran Barus. Luna bjsa langsung menyadarinya.


Musuh-musuh ini, terlihat benar-benar terbiasa dalam pertempuran melawan pendekar yang jauh lebih kuat dari mereka. dan mereka juga memiliki intuisi kuat dalam membaca serangan lawan.


Inilah perbedaan jika seorang pendekar juga di latih menjadi prajurit perang. Mental mereka tidak akan terlalu goyah meski musuh mereka jauh lebih kuat.


Beruntung saat ini, Luna bersama dengan Citra Ayu di sana. Setiap Luna menyerang, Citra Ayu bersiap memberikan perlindungan.


Luna menghantamkan godamnya pada musuh dengan kekuatan yang dahsyat. Tidak hanya menghantam langsung saja. Luna bahkan membuat getaran agar musuh tidak bisa berdiri dengan benar.


Saat itu terjadi, beberapa prajurit akan coba menyerangnya. Dan Citra ayu akan maju lau membuat tameng dari tanah yang di dipadatkannya sekeras batu.


Tentu saja itu tidak cukup untuk menahan musuh. Tapi serangan sebenarnya berasal dari atas tembok.


Saat itu terjadi, Anak-anak panah Ciel akan melesat cepat ke jantung atau tengkorak mereka. Kombinasi itu berhasil membunuh beberapa prajurit, sebelumnya.


"Booom ... "


Sekali lagi Luna, melakukan trik yang sama, namun saat itu tidak ada satupun prajurit yang terpental. Mereka cukup pintar dan cepat pelajar.


Saat itu, mereka langsung menghambur pada Citra Ayu. Meski terbuat dari logam, para prajurit itu tau bahwa Zirah bukanlah Pelindung terbaik. Masih banyak kelemahan yang ada pada sebuah zirah besi.


Saat itu mereka melihat Citra Ayu kembali membuat dinding yang mengepung para pemuda di dalamnya. Memanfaatkan itu, mereka menyerang bersamaan untuk melumpuhkannya.


Namun, yang mereka tidak sadari adalah, Ciel tidak terlalu membutuhkan hal itu.


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


Gadis itu hanya perlu prajurit itu sedikit menjaga jarak dari para pemuda, agar bisa di kunci bidikannya. lalu melepaskan tembakan sambil melihat pada target berikutnya.


"Kalian ... Pergi ke atas tembok dan lumpuhkan gadis itu ... "


Sadar bahwa saat ini Ciel adalah masalahnya, beberapa orang berlari untuk menaiki tembok. Namun, baru mereka berbalik badan ...


"Booom ... "


"Booom ... "


Godam Luna menghantam punggung mereka dan mengirim mereka terbang dan menabrak tembok tersebut.


Tidak bisa di pastikan tubuh itu hancur setelah atau sebelum membentur tembok, tepat di mana Ciel berdiri saat ini.


Setiap mereka lengah, Citra Ayu akan membuat dinding perisai agar para pemuda di sana tidak terkena imbas serangan mereka.


Setiap kali berhasil, Citra Ayu bisa meyelamatkan setidaknya lima puluh orang.


Ini jadi lebih mudah karena sebagian pemuda-pemuda itu, berani bergerak dan melarikan diri.


"Mau kemana kau ... Bajingan, bantu kami ... Bodoh ... !"


Seorang prajurit baru saja melempar salah satu pemuda ke arah Luna. Namun, tidak seperti apa yang prajurit itu kira, Luna hanya mengelak dan tidak menyerang pemuda tersebut.


"Mereka ingin menyelamatkan pemuda-pemuda ini ... !"


Saat itu juga, para prajurit itu menyadari bahwa gadis ini tidak berniat melukai pemuda-pemuda itu.


"Sial, mereka menyadarinya ... "


Tadi, Luna sudah tau bahwa para pemuda-pemuda kurus itu akan diperintahkan oleh Nippokure untuk menyerang mereka.


Itu kenapa Luna meminta Citra Ayu mengurung alih-alih menyuruh mereka lari. Karena, bisa saja para prajurit itu menjadikan mereka sandera. Atau mungkin saja saat itu, mereka akan membunuh hingga memaksa Luna dan Citra Ayu berhenti menyerang.


Sekarang, musuh sudah mengetahuinya. Namun jumlah musuh ataupun pemuda sudah tidak sebanyak awal.


Teriakan salah satu prajurit Nippokure itu, juga menyadarkan bahwa keduanya tidak akan membahayakan mereka. Reflek pemuda-pemuda itu mulai menjauh.


Luna tersenyum saat melihat mereka sedang menatapnya "Bagus, karena kalian sudah mengerti." Gumamnya.


Sadar bahwa para pemuda itu sudah mengetahuinya, para prajurit bergerak seperti apa yang sejak awal ditakutkan Luna.


Akan tetapi, sekarang berbeda. Menurutnya, Itu sepertinya sudah tidak masalah.


"Citra Ayu, sekarang ganti. Kurung para prajurit itu ... "


"Baiklah, aku mengerti ... "


Sejak saat itu, pola serangan mereka berubah. Ciel melepaskan anak panah, setiap ada prajurit yang mendekat pada para pemuda.


"Ting ... " "Ting ... " "Ting ... " "Ting ... "


Para prajurit itu tersenyum karena berhasil menangkis anak-anak panah yang ditembakkan Ciel.


"Booom ... "


Mereka tidak sempat merasa puas begitu lama. Mereka langsung menyadari bahwa sekarang, tembakan itu hanya peralihan. karena baru saja Luna menghatamkan Godam dan melemparkan tubuh mereka cukup jauh.


Malangnya, mereka berakhir tepat di depan Citra Ayu.


"Penjara ... Bumi." Seru gadis itu