
Jangankan pendekar sekte aliran hitam bahkan Rantoba dan Darmuraji serta pendekar suci yang datang bersama mereka lainnya juga terkejut.
"Kakak? ... Adik?"
Gumam mereka semua dengan nada tidak percaya. Bagaimana sebuah kebetulan bisa seperti ini.
"Hahahahaha!"
Pendekar itu kembali tertawa dan kini semakin lantang. Terlihat sangat bahagia.
Rantoba berfikir cepat. Semua pendekar yang dia bawa adalah pendekar-pendekar dari pesisir timur Daratan Barat kerajaan Swarna. Kemungkinan ini bisa saja terjadi. Akan tetapi, seharusnya dia mengetahuinya.
"Guru! Bagaimana bisa wakil Kelang ini menjadi Adikmu?" Tanya Rantoba memastikan.
"Rantoba, aku memang memiliki seorang adik. Dan dia adalah orang ini. Adikku yang bodoh. Hahahahahha!"
Daga menggaruk kepalanya. Hanya ada satu orang yang berani memanggilnya bodoh dan tetap masih hidup di dunia ini, Dan orang itu adalah kakaknya.
"Kakak, setelah puluhan tahun, kau tidak pernah berubah, selalu memanggilku bodoh. Ku ingatkan, aku tak selemah dulu. Sekarang, mungkin saja kau bisa mati jika kita berlatih tanding melawanku."
"Hahahahahhaa! Karena itulah kau selalu ku panggil bodoh. Karena kau tidak akan mungkin bisa mengalahkan ku, walaupun kau sudah menguasai jurus terlarang itu. Hahahahaha.!"
"Buuuuk!"
Sesaat yang lalu, semua orang yakin bahwa Daga masih berdiri ditempatnya. Namun, sekarang di sudah berada di depan pendekar yang mengaku sebagai kakaknya tersebut.
Mereka terkejut saat Sebuah pukulan dari Daga sudah mendarat di dada pendekar itu. Namun, hal mengejutkan lainnya adalah, pendekar itu berhasil menahannya.
"Cih, tubuhmu masih seperti dulu. Aku membencinya." Daga menggerutu karena gagal menembus dada kakaknya.
Kenneth dan seluruh ketua sekte yang melihatnya, kini mengetahui bagaimana cara Daga mengambil jantung Fyn sebelumnya. Hanya saja, kali ini dia gagal.
"Hahahaha! Seharusnya tadi kau gunakan seluruh tenaga mu. Mungkin saja itu akan berhasil."
Daga tersenyum masam. Tapi, secepat kilat dia menarik pedang yang tersampir di pinggangnya dan mengayunkannya dengan cepat pada kakaknya.
Pendekar itu segera menghindar. Jelas serangan itu bukan serangan biasa. Karena bersamaan dengan itu, Daga melepas Aura membunuh yang sangat kuat.
Semua pendekar di dalam tenda cepat menyingkir. Karena mereka menyadari satu ayunan pedang dari Daga, mengandung tenaga dalam yang sangat kuat.
Untung saja tepat di belakang kakaknya itu, tidak ada satupun orang di sana. Jika tidak, bisa dipastikan dia akan mendapatkan luka yang cukup parah akibat tebasan udara dari pedang Daga
Serangan Daga tidak hanya sekali saja tapi dia terus menebas berkali-kali. Namun semua bisa di hindari oleh kakaknya itu. Akan tetapi, tidak ada serangan balasan yang di berikan padanya.
"Kecepatan mu bertambah cukup jauh. Tapi itu belum cukup hanya untuk menyentuh satu rambut ku." Ejek kakaknya.
Wajah Daga menjadi sedikit gusar. Dia seolah merasa sangat di remehkan. Dengan begitu, dia kembali menambah kecepatan dan kekuatan dalam serangannya.
Ini semakin membahayakan bagi siapa saja yang berdiri di dekat mereka. Karena tenda sudah mulai tercabik disebabkan efek dari tenaga dalam yang Daga kerahkan pada pedangnya.
"Paduka. Sebaiknya kita menyingkir."
Rantoba membawa Darmuraji keluar, pendekar lainnya juga berfikir sama. Karena saat ini, itu sudah tidak seperti latih tanding lagi. Daga memang berniat membunuh kakaknya.
Cara yang aneh untuk sepasang saudara yang sudah tidak bertemu puluhan tahun lamanya, hanya untuk saling menyapa.
Baru beberapa saat mereka keluar, tenda itu sudah terbelah-belah menjadi beberapa bagian. Terlihat Daga melompat tinggi dengan pedang dan kembali mendarat menghantamkan pedang itu pada kakaknya.
"Penghancur Karang!"
"Ting!"
Mata Rantoba dan seluruh pendekar suci yang datang bersamanya, terbelalak. Mereka semua sangat mengenali jurus itu. Karena itu adalah salah satu jurus rahasia dari sekte mereka.
Melihat bagaimana Daga menggunakannya dengan sangat baik, kini mereka yakin bahwa Daga memang adik guru mereka. karena hanya keturunan langsung dari pendiri sekte itu yang menguasai jurus tersebut.
"Apa yang terjadi? Bukankah itu kakaknya? Kenapa dia seperti ingin membunuhnya?"
Nyai Anjaran yang berdiri di sebelah Ki Sapujagad tidak bisa mempercayai kejadian ini. Baru saja beberapa saat yang lalu, dengan sangat mengejutkan bahwa seseorang bisa membuat mereka semua berlutut, kini muncul satu orang lagi yang terlihat jauh lebih kuat.
"Aku tidak tau, tapi sebaiknya bersiagalah." Ingat Sapujagad pada yang lainnya.
Daga saja tidak bisa mereka atasi bersama, dan kini kakaknya muncul dengan kekuatan yang sangat kuat. Bahkan, mereka tidak yakin akan bisa bertahan sepuluh jurus di depan Daga. Namun, kakaknya seolah seperti sedang bermain-main saja.
Darmuraji terperangah. Namun, hatinya merasa sangat senang. Dia tidak menyangka Rantoba akan membawa seorang pendekar yang sangat hebat. Apalagi itu gurunya.
Tidak peduli pertarungan ini sungguhan atau bukan, kakak Maharaja kerajaan Swarna itu, melihat bahwa sekte aliran hitam bukan lagi masalah.
"Berhenti!"
Tiba-tiba Daga berteriak agar kakaknya berhenti. Namun, itu membuat semua orang menjadi heran. Padahal, tidak ada satupun serangan yang di terima dari kakaknya itu.
"Aku menyerah!" Tegas Daga.
Mata nya menatap pada sebelah tangan kakaknya yang kini sudah memegang gagang seolah berniat menghunuskannya.
"Jangan cabut pedangmu. Bisa-bisa semua rencana yang telah aku siapkan beberapa tahun ini, gagal karena kekuatanmu itu."
Barulah semua mata melihat ke arah yang sama dengan arah tatapan Daga. Meski penasaran apa yang akan terjadi jika kakaknya mencabut pedangnya, semua lebih berharap pendekar tua itu mengurungkan niatnya saja dan mengikuti permintaan adiknya.
Kata-kata Daga jelas mengisyaratkan jika kakaknya melakukan itu, maka sesuatu yang buruk bisa terjadi. Karena ini menyangkut sebuah rencana, maka mereka menyimpulkan kekuatan kakaknya bisa membahayakan orang-orang di Sekelilingnya.
"Hahahhahaha! Maafkan aku. Aku rasa kau sudah cukup kuat untuk menahannya. Jadi, aku ingin mencobanya!"
Daga menggelengkan kepala. "Mungkin aku bisa menahan beberapa saat tapi mereka tidak mungkin mampu." Ucapnya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Kekuatanmu, tidak bisa digunakan untuk bercanda, Moro." Ingatnya.
TIdak perlu di jelaskan lagi. Semua orang di sana sudah bisa menyimpulkan. Jika kakak Daga yang ternyata bernama Moro ini mencabut pedangnya, itu sudah jelas berarti, malapetaka.
"Hahahaha!"
Tiba-tiba saja sebuah tawa terdengar dari salah satu orang yang berdiri tidak jauh di sana. Namun, saat mereka melihat, itu adalah tawa Darmuraji.
"Ck! Ck! Ck!" Darmuraji berdecah sambil menggeleng dan tersenyum. "Hebat! Aku tidak menyangka, ada dua saudara yang sangat hebat seperti kalian, dan yang paling kuat di antaranya, bekerja untukku. Hahahahaha!"
Darmuraji begitu senangnya saat melihat dua Saudara itu. Apalagi dia baru saja mengetahui bahwa Moro adalah kakak dari Daga dan kekuatannya jelas jauh di atas adiknya itu.
Yakin pertarungan keduanya sudah selesai, Darmuraji mendekat pada mereka. Raja istana Basaka itu, menatap keduanya dengan bangga.
"Daga—"
Baru saja Moro hendak berkata, namun sepertinya dia terlambat. Kini, di tangan adiknya itu, ada sebuah jantung yang masih berdetak.
Daga melihat ke Moro, heran. "Kenapa? Bukankah pada akhirnya, kau juga akan membunuhnya? aku membantumu, dan aku juga butuh tenaga setelah bertarung denganmu."
Mata Darmuraji terbelalak. Badannya tiba-tiba terasa mendingin. Tidak ada satu katapun yang bisa keluar dari Mulutnya karena saking terkejutnya.
Kakak Maharaja kerajaan Swarna itu, menyaksikan langsung Daga mengunyah jantungnya dengan mata kepalanya sendiri. Itulah ingatan terakhirnya sebelum pandangannya menggelap dan mati dalam keadaan berdiri dengan mata masih melotot.
Sebuah akhir yang sangat konyol mengingat beberapa saat yang lalu, Darmuraji adalah orang yang tertawa terakhir kali di sana.
Kenneth yang berdiri sedikit jauh, semakin mengerti kenapa Daga di beri gelar sebagai, Setan Gila.