
Semua orang yang di atas pedati melihat pendekar yang tertawa itu dengan heran.
" Maaf tuan, saya berlari untuk mencari pertolongan. Dan ini adalah Ki Sugal, pemimpin pendekar luar sekte awan senja "
" Maaf Ki Sugal, saya tidak mengerti maksud anda. Kami memang disergap sekelompok perampok dan tuan Arya ini yang menyelamatkan kami "
" Tidak mungkin! " Sugal mengeraskan suaranya. Kemudian melihat Arya dengan tatapan penuh selidik " Anak muda, kau cukup pandai bersandiriwara. Namun di depan kami, kebohonganmu tidak ada gunanya " kata Sugal meremehkan Arya.
Tanpa dia sadari, Kera yang berada di atas kerbau dan anjing yang ada di depan pendekar paruh baya bernama Sugal itu kini sedang menatap tajam padanya.
Ke lima orang yang di atas pedati langsung memucat. Mereka tau pendekar sekte Awan Senja kuat-kuat. Setidaknya, orang-orang yang dibawa oleh Parjo ini mampu mengimbangi para perampok tadi.
Akan tetapi mencari masalah dengan Arya, tentu saja bukan hal yang baik. Bisa-bisa mereka semua dan penduduk desa akan mati oleh amukan salah satu siluman peliharaannya. Ini bisa jadi malapetaka yang jauh lebih buruk daripada sebuah perampokan.
" Maaf Ki Sugal, tolong jaga sikap anda pada Tuan Arya! " kata Barda sedikit ketus membela Arya.
" Hahahaha! Aku menjaga sikapku pada semua orang. Tapi tidak untuk, Penipu! " jawab Sugal tak kalah ketusnya.
" Apa maksud anda?! " tanya Barda pada Sugal. Sesekali matanya melirik Arya untuk memastikan. Ternyata Arya hanya diam tak bereaksi apapun. Dan itu tidak membuat perasaan Barda merasa lebih baik. Karna saat melihat Rewanda dan Krama, Barda dan ke empat orang lainnya sudah seperti kehilangan separuh nyawa mereka.
" Kalian bilang dia yang menyelamatkanmu dari perampokan, bukan? " tanya Sugal pada semua orang yang masih berada di atas pedati.
Semuanya mengangguk yakin dengan serentak.
" Kalian telah ditipu, bagaimana pemuda tanpa tenaga dalam ini bisa menyelamatkan kalian? Perampok itu pasti teman-temannya dan jelas kalian sudah dipermainkan di sini "
" Apa maksudmu menuduh tuan Arya seperti itu. Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri saat— "
Perkataan Barda terpotong saat Arya tiba-tiba memegang bahunya. Arya sengaja menghentikan omongan Barda karena saat itu Arya yakin Barda akan mengungkap identitas Rewanda dan Krama.
Arya menggeleng saat Barda menatapnya. Barda pun mengerti dan langsung menutup mulutnya.
" Maaf Ki Sugal, saya tidak menipu. Tapi, kami telah mengikat perampok itu di sana. Ki Sugal bisa melihat langsung ke sana. "
" Baiklah anak muda. Aku tidak akan terkejut jika tidak menemukan mereka di sana. Tapi, jangan fikir kau bisa lari begitu saja setelah ini. Aku akan meninggalkan satu orang di sini untuk mengawasimu! "
Setelah itu Sugal dan para pendekar Awan Senja mengambil kuda mereka dan mulai memacunya ke arah kedatangan Arya dan keluarga Barda.
" Anak muda, lebih baik kau mengakui saja perbuatanmu. Ki Sugal terkenal sangat kejam pada para penjahat termasuk penipu! " Saran pendekar yang ditinggalkan Sugal untuk mengawasi Arya.
" Benar kata pendekar ini anak muda, kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa kau bukan pendekar dan kini kau tiba-tiba datang mengaku sebagai penolong tuan Barda. Demi nyawamu sendiri, sebaiknya akui saja perbuatanmu! " tambah Parjo dengan tatapan tak kalah menuduh.
Barda yang sudah prustasi dengan keadaan langsung melompat turun dan menyerang parjo " Bajingan tengik! Apa yang kau katakan pada tuan Arya? " Barda memukul Parjo membabi buta tanpa ampun.
" Ampun tuan!, apa salahku? "
Kini Parman yang tadi terluka karna anak panah yang melompat turun dan ikut memukul parjo. " Kamu saudara gak guna, udah ninggalin aku. Sekarang mulut mu bisa bikin satu desa kita modyar le! "
Pemukulan yang berkesan penganiayaan itu segera dilerai oleh pendekar Awan Senja yang ada di sana. " Tuan Barda, tolong hentikan. Anda tidak boleh memukul anak buah anda seperti ini. "
" Ndak apa-apa! Dia adikku, biar aku yang membunuhnya sekalian, demi keselamatan seluruh warga desa ndak apa-apa dia saja yang mati. Ibu bapakku tidak akan menyalahkanku! "
" Maaf tuan Arya, Parjo ini memang sedikit bodoh! Aku akan memberinya pelajaran " Barda berusaha melihatkan keseriusannya pada Arya.
" Tapi tuan— "
" Parman, bawa adikmu pergi dari sini! Atau aku benar-benar akan membunuhnya! "
" Baik tuan! "
Parman langsung menyeret adiknya itu pergi menjauh.
Barda mengajak Arya ke rumahnya yang berada di dalam desa. Pendekar Awan Senja selalu berada tidak jauh dari Arya berjaga-jaga jika tiba-tiba Arya memilih untuk melarikan diri.
Sementara Rewanda dan Krama terus mengikuti mereka dari belakang. Namun, saat baru saja memasuki rumah Barda, pendekar Awan senja menghentikan langkahnya.
" Aku di tugaskan ki Sugal untuk mengawasimu. Bukan binatang peliharaanmu. Perintahkan mereka untuk keluar dari rumah ini "
Kata pendekar itu sambil memandang jijik Rewanda dan Krama.
Habis sudah kesabaran Barda. Kali ini dia tidak bisa menahan diri lagi. " Kau mungkin pendekar sekte Awan Senja. Tapi kalian sama sekali tidak bisa mengukur kekuatan kalian saat berbicara dengan seorang yang jauh lebih kuat dari kalian "
Barda tak kuasa menahan emosinya, rasa segannya pada pendekar-pendekar Sekte Awan Senja tidak ada apa-apanya jika dibandingkan rasa takutnya pada Arya, Rewanda dan Krama.
" Jaga bicaramu tuan Barda! Aku tidak terima sekteku diremehkan oleh orang seperti mu! " protes pendekar itu.
Barda menggeleng meremehkan pendekar itu. " Baiklah jika begitu, Sekte Awan Senja hanya di isi oleh pendekar-pendekar bodoh tak tau diri! "
Pendekar itu tersulut emosi. Dia mencabut senjatanya yang tersamoir di pinggang dan menghunuskan pada Barda " Tarik kembali ucapanmu, sebelum aku terpaksa memisahkan kepala dari tubuhmu itu "
" Aku lebih baik mati daripada menarik ucapan ku! "
Mendengar Barda yang sangat meremehkan dia dan Sektenya. Pendekar itu langsung menghambur pada Barda untuk melukainya. Namun, Arya langsung menahannya.
" Kau?! " Dia tersadar bahwa tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak " lepaskan aku! " teriaknya.
" Tenanglah tuan pendekar "
" Ah! Kalian sama saja! "
Pendekar itu mengayunkan pedang nya pada Arya. Namun Arya sama sekali tidak mengelak. Pedang itu berhasil mendarat dan melukai bahu Arya cukup dalam.
Arya melepaskan pegangannya pada pendekar tersebut. Dan memegang bahunya yang terluka.
Pendekar itu mundur beberapa langkah kebelakang setelah menarik pedangnya dari bahu Arya. tarikan itu menyebabkan lukanya semakin memanjang.
" Kalian yang memaksaku untuk bertindak jauh. Jadi jangan salahkan aku! " kata pendekar itu pada semua orang yang ada di hadapannya.
Tetapi saat dia memperhatikan semua orang itu, matanya mengernyit heran. Dia melihat Barda dan kedua Anak nya menatapnya takut. " Hahaha! Tenang saja, aku tidak akan membunuh kalian. Aku hanya ingin menunjukkan pada kalian seberapa kuat kami, para pendekar dari sekte Awan Senja "
Mata Barda dan kedua anaknya melebar. Hal yang paling mereka takutkan akhirnya terjadi.
" Kau ... Memang ... Bodoh! " Tunjuk Barda geram.
" Haa?! Apa katamu? "
Tiba-tiba pendekar itu melihat dua bayangan dari pintu rumah di belakangnya, semakin membesar melewati tempat dia kini berdiri. Dia menatap Barda kembali dan menyadari bahwa ketakutan Barda itu bukan karenanya.
Nalurinya berkata agar tidak melihat kebelakang. Namun, rasa penasarannya mengalahkan itu. Dengan perlahan di membalikkan badannya. Mata nya sempat melebar sebentar dan saat itu juga dia langsung menyadari semua sudah terlambat.