
Tidak perlu berembuk cukup lama. Semuanya setuju untuk mendaftar dan melihat apa yang ada di dalam reruntuhan kuno yang dimaksud oleh Mundara itu.
Pasalnya, Mundara mengatakan bahwa, saat reruntuhan Kuno itu ditemukan, ada sebuah pintu yang memiliki tangga yang jauh kebawah. belum ada satu orang pun yang masuk dan berhasil keluar hidup-hidup dari sana.
Orang-orang menganggap di dalam sana terdapat banyak jebakan atau bahkan di dalam sana mungkin sudah di huni dengan Siluman yang sudah berusia ratusan bahkan ribuan tahun.
Untuk itu, Pihak kerajaan bekerja sama dengan sekte petualang mengadakan semacam sayembara bagi siapa saja yang bisa memasuki dan membongkar rahasia yang ada di dalamnya.
Pihak kerajaan dan serikat petualang, memberikan sebanyak dua puluh persen dari harta yang bisa saja ditemukan di dalam sana. Mengingat saat reruntuhan kuno itu pertama kali ditemukan, beberapa orang sempat menemukan benda-benda yang terbuat dari perungguk, perak, dan bahkan emas di lantai pertama runtuhan tersebut.
Akan tetapi, belum ada yang kembali, saat ada yang mencoba memasuki satu lantai di bawahnya. Untuk itu, pihak kerajaan dan serikat petualang memberi kesempatan bagi para pendekar yang berprofesi sebagai petualang dan pemburu, untuk memasuki runtuhan tersebut dan mendapatkan bagian dari apapun yang bisa ditemukan di dalamnya.
Karna mengharuskan setiap orang yang akan masuk ikut mendaftar, kelimanya harus pergi ke serikat petualang tersebut untuk mendaftarkan diri dan diberikan semacam token sebagai tanda pengenal.
Sekarang, mereka berdiri di depan sebuah gedung yang terlihat cukup besar. Di depan gedung tersebut banyak terlihat pendekar-pendekar dari berbagai daerah.
Ciel langsung mengendarkan pandangannya, mencoba menilai tingkat kekuatan pendekar-pendekar tersebut. Hasilnya, cukup mencengangkan. Tidak seperti pendekar-pendekar kota Arsa atau pendekar-pendekar dari Sekte Besar yang kini di pimpin oleh Lamo, didepan mereka saat ini di penuhi oleh pendekar level mahir dan level ahli.
Bahkan, di beberapa titik Ciel bisa merasakan kehadiran pendekar berlevel raja tingkat pertama hingga tingkat tiga. Karena sepertinya tidak ada yang menutupi tingkat tenaga dalam mereka. Meski tidak seakurat yang bisa di ketahui oleh Ciel, tapi Bai Fan, Luna, dan Bai Hua juga bisa merasakannya.
Akan tetapi, Arya terlihat biasa saja. Pemuda itu hanya mengedarkan pandangannya keseluruh kota, untuk mempelajari apapun yang bisa dia pelajari.
"Sebaiknya kita langsung masuk saja!" Saran Bai Fan pada semuanya saat menyadari tatapan-tatapan tidak bersahabat yang tertuju pada mereka.
Kelimanya langsung masuk ke dalam gedung tersebut. Sedikit mengejutkan. Di dalam terdapat banyak meja. Tapi, sudah dipenuhi oleh banyak pendekar-pendekar asing dengan level kependekaran ahli hingga level raja.
Saat kelimanya masuk, beberapa tatapan kembali tertuju pada mereka. Namun, kali ini tatapan itu beragam. Beberapa dari mereka tampak meremehkan, tapi sebagian tampak sangat kagum.
Hal itu tentu saja dikarenakan kehadiran tiga gadis yang sangat cantik yang baru saja masuk itu.
"Selamat siang! Ada yang bisa aku bantu?"
Sapa seorang gadis yang duduk di meja yang memiliki sebuah plakat dengan tulisan pendaftaran di atasnya.
Luna yang berdiri paling depan langsung mengangguk. "Ya! Kami berniat mendaftarkan diri untuk bisa masuk ke dalam reruntuhan kuno. Apakah kami masih bisa mendaftar?"
"Tentu saja, ini adalah hari terakhir. Besok, reruntuhan kuno itu akan dibuka untuk semua peserta yang telah terdaftar!" Jelas gadis itu.
Setelah itu, mereka semua mendaftarkan diri masing-masing. Namun saat pendaftaran, ada kejadian yang sedikit tidak mengenakkan. Ternyata, Arya tidak memenuhi syarat untuk bisa berpartisipasi sebagai peserta.
Hal tersebut karena, syarat untuk bisa mendaftar adalah seseorang setidaknya harus telah berada di level mahir. Gadis itu menjelaskan sekali lagi bahwa reruntuhan akan sangat berbahaya bagi pendekar yang memiliki level di bawah itu.
Arya sempat menjadi bahan ejekan saat dirinya meletakan tangan di atas sebuah benda berbentuk bulat dengan sebuah batu yang berkilat di bawahnya. Sesuatu akan muncul di atas batu tersebut. tulisan di sana di percaya adalah nilai level kependekaran seseorang. Hasilnya, benda itu menunjukkan bahwa Arya sama sekali tidak memiliki tenaga dalam.
Tawa para pendekar menggelegar di dalam gedung tersebut.
"Ada apa dengan pemuda itu?"
"Bagaimana seseorang bisa lebih lemah bahkan dari seorang gadis kecil?"
"Ya, dia akan menjadi beban di dalam sana"
Berbagai macam hujatan di terima Arya saat itu. Tatapan Rewanda dan Krama, sudah seperti akan menerkam mereka semua. Bahkan Ciel dan Bai Hua sempat bertengkar dengan beberapa orang pendekar karenanya.
Beruntung Bai Fan dan Luna cepat menghentikan keduanya sebelum terjadi pertumpahan darah.
Arya sendiri hanya terdiam saat kejadian itu. Tidak ada yang atau apa yang sedang di fikirkan pemuda tersebut.
Seperti tidak memperdulikan hinaan yang di terimanya, Arya maju selangkah mendekati meja gadis tadi. "Apakah aku bisa mendaftar sebagai pengangkut, mereka?"
Gadis itu mengangguk canggung. "Ya. Kau bisa mendaftar sebagai pengangkut jika mereka menginginkan kau tetap ikut."
"Hahahaha!" Seseorang tertawa lantang saat mendengar Arya mendaftar sebagai pengangkut. "Hei kalian! Apakah kalian benar-benar akan membawanya ke dalam sebagai pengangkut?"
"Kalian tidak lihat benda itu telah mengatakan bahwa dia sama sekali tidak memiliki tenaga dalam. Itu berarti pemuda itu sangat tidak berguna!" sambut yang lainnya.
Suara riuh tawa kembali bergema di dalam gedung tersebut. Kali ini, tidak ada yang berniat menahan Ciel dan Bai Hua. Luna dan Bai Fan sudah hampir dipastikan ikut bertarung saat ini. Tidak ada dari mereka yang menerima jika Arya direndahkan seperti itu.
Semua itu tidak terjadi karena Arya sudah berjalan menuju pintu keluar.
"Ya, Pergilah! Carilah tempat untuk meratapi nasibmu yang menyedihkan itu!" Teriak seseorang sesaat sebelum Arya keluar dari gedung serikat tersebut.
Keempat orang yang masih ada di dalam, mencoba mengingat setiap wajah yang tertawa di sana. Meski tidak saling mengatakan. Dari tatapan mereka sudah jelas, semuanya kompak memutuskan bahwa, semua ini tidak akan berakhir hanya sampai di sini. Orang-orang tersebut akan mendapat balasannya. Segera.
Puas mengingat wajah-wajah tersebut. Akhirnya mereka keluar menyusul Arya. Ciel dan Bai Hua keluar paling terakhir. Tampak ketidakpuasan mereka saat meninggalkan gedung tersebut.
"Saat ini, Aku berharap bisa mengusai Jurus Penghancur Kepala Tanpa Ampun milik senior!" Geram Bai Hua saat baru saja keluar.
"Aku lebih suka membunuh mereka dengan Jurus Yang membuat orang memohon atas kematiannya milik Arya. Saat mereka semua memohon, aku akan balas menertawakannya!" Sahut Ciel tak kalah geramnya.
"Ya! Itu lebih tepat!." Jawab Bai Hua cepat. "Tapi, apa nama jurus itu?"
"Aku rasa, Jurus Do'a Kematian lebih bagus" Jawab Ciel.
"Apakah ada do'a meminta kematian?" Berjalan beriringan, Bai Hua dan Ciel memikirkan kembali nama jurus-jurus Arya.
Sebenarnya, Luna dan Bai Fan juga berharap memiliki salah satu jurus Arya untuk membalas rasa sakit hati mereka.
Luna ingin menghacurkan seluruh tubuh pendekar di dalam sana dan menyisakan kepala saja dan melihat apakah mereka masih bisa tertawa setelahnya, sementara Bai Fan ingin menenggelamkan mereka semua.
Hanya saja, keduanya tidak sampai mengatakan itu seperti yang dilakukan Ciel dan Bai Hua yang sekarang sedang sibuk membahas nama jurus Arya.
Larut dengan rasa kesal mereka, hingga mereka tidak menyadari bahwa Arya kini sudah tidak ada di depan mereka.
"Kemana Dia?"