ARYA MAHESA

ARYA MAHESA
Pertempuran Daratan Timur XII


"Kaungsaji, jujur saja. Apakah kita masih pantas mengaku-ngaku sebagai keturunan, Arangga?"


Keduanya tak lagi melanjutkan pembicaraan itu. Pasalnya, dengan melihat apa yang sedang terjadi di depan mereka saat ini, benar-benar sudah di luar nalar keduanya.


Darsapati dan Kaungsaji adalah pendekar paling di hormati di Daratan ini. Sepak terjang keduanya sudah tidak perlu di ragukan lagi. Sekte Singa Emas menjadi yang terkuat adalah karena keduanya.


Sebagai pemegang tanggung jawab Basaka, Hampir setiap tahun Sekte Singa Emas bertempur. Baik dalam skala kecil ataupun besar. Sehingga keduanya sangat mengetahui apa artinya kekuatan, tekad, pengalaman, kebanggaan serta kehormatan dalam bertempur.


Keduanya tak pernah berfikir bahwa akan datang masanya mereka mengasihani musuh. Arya berserta teman-temannya sedang menunjukkan apa arti kemarahan sesungguh.


Di salah satu titik di medan tempur, seorang gadis dengan godam besar di tangannya, menghantam ke segala arah. Gerakannya yang sangat cepat membuat pasukan musuh sangat sulit untuk mengelak. Kan tetapi, apa gunanya mengelak jika daya kejut hantaman Godam nya saja sudah cukup untuk menerbangkan puluhan pendekar Raja, dan menghancurkan jantung pendekar ahli ke bawah.


Pendekar-pendekar suci tampak berlarian, bukan mengejarnya. Namun berusaha menjaga jarak sejauh mungkin darinya. Tubuhnya Luna yang menyala itu, sudah seperti mimpi buruk bagi mereka.


Tak jauh dari sana, seekor iblis kera lebih parah. Sudah belasan ribu pasukan sekte aliran hitam terbakar. Bahkan, jika mereka tidak terbakar sekalipun, tubuh mereka melepuh karena hawa panas yang di lepas tubuh siluman tersebut. Malah, mungkin saat itu mereka memilih terbakar dan langsung mati dengan cepat, daripada harus menderita yang akhirnya berujung mati jua.


Darsapati dan Kaungsaji, juga tidak pernah menyangka akan melihat lusinan pendekar suci berlari-larianan sambil menangis putus asa. Di belakang mereka terlihat seekor siluman serigala sebesar kuda, dengan tanduk runcing di kepala mengejar mereka.


Memanfaatkan banyaknya pendekar di sana, para pendekar suci itu bisa mengelak dengan mengorbankan banyak nyawa pasukan mereka, untuk sekedar memperlambat langkah sang siluman serigala itu. Malangnya, itu saja tidak cukup.


Seorang gadis muda dengan panah berada di atas punggungnya itu mengincar mereka. Saat ini, mereka merasa seperti hewan yang sudah terkunci oleh bidikan pemburu.


Satu persatu, jumlah mereka berkurang. Setiap sepuluh langkah, satu nyawa pendekar suci melayang. Gadis dengan tubuh berpendar putih itu, menembakkan panah bahkan tanpa melihat ujung mata panahnya. Warna matanya yang berubah-ubah, akan mereka kenang sampai ke dalam neraka.


Berbicara tentang neraka, seseorang seolah telah membawa tempat paling mengerikan di akhirat itu, langsung ke dunia.


Masalahnya, sejak tadi tidak ada yang melihatnya dengan jelas. kehadirannya, Hanya terasa seperti sapuan angin melintas di selah-selah pendekar sekte aliran hitam. Setelah itu, mereka tidak akan pernah bernafas lagi.


Layaknya ikan, Tidak kurang dari tiga puluh ribu pendekar sekte aliran hitam, kini menggelepar-gelepar di tanah.


Semua kejadian itu, juga di saksikan oleh seluruh pendekar dari aliansi sekte aliran putih, dengan mata terbuka lebar.


Apa yang mereka lihat sekarang, akan tertanam di benak dan akan terus mengalir ke darah mereka, dan akan turun pada penerus hingga tujuh keturunan lamanya. Ingatan itu akan menanamkan pada mereka bahwa, tidak ada satupun pendekar aliran hitam bisa hidup di daratan ini.


Tiba-tiba sebuah suara teriakan memecah suasana.


"Omerta ... !"


Omerta. Nama jurus yang di berikan Arya pada teknik pengendalian air yang membungkus wajah musuh dan memecahkan kepala mereka.


"Omerta ... !"


Sekali dia menggunakannya, tidak kurang dari lima ribu pasukan musuh kehilangan kepala.


"Omerta ... !"


"Omerta ... !"


"Omerta ... !"


Perut para pendekar aliansi mulai terasa mual dan kepala mereka terasa pusing. Hal itu karena, setiap tubuh pendekar musuh yang kehilangan kepala, dari leher mereka menembakkan darah segar. dan pemandangan seperti itu, belum pernah mereka lihat bahkan di mimpi sekalipun.


Lautan darah bukan lagi istilah. Saat ini mereka seolah benar-benar melihatnya. Darah setinggi mata kaki mulai menggenangi seperempat medan tempur.


"Omerta ... !"


Teriakan jurus terakhir Arya, benar-benar membuat hampir seluruh pasukan aliansi mengeluarkan isi perut mereka. Saat ini, mereka sudah tidak sanggup lagi menahannya. tertunduk di tanah, para pendekar-pendekar itu mengekuarkan seluruh isi perut, muntah.


Bahkan ketua dan tetua sekte mengalami hal serupa. Begitu pula Darius, Nick dan seluruh petualang. Tidak ada yang bisa menahannya lagi.


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


"Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!" "Argh!"


Genangan Darah manusia itu memberi efek lain pada elemen petir Bai Hua. Kini, seluruh pendekar yang berdiri di atas genangan tersebut, merasakan sengat dari elemennya. sengatan itu begitu menyakitkan hingga sampai ke otak mereka.


Tubuh mereka mulai mengeluarkan asap seperti sedang terbakar. Tidak dari luar, akan tetapi dari dalam.


Daga yang sama berdiri di atas genangan darah, juga merasakan efeknya. Malang baginya dia juga tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Bai Hua langsung menyerangnya dan mulai melibas kan pedang di tangannya secara beruntun pada tubuh Daga dengan sangat cepat.


"Arrrrrrrgghhhhhhhhh ... !"


Cucu Bai Fan itu, terus menyerangnya tanpa jeda dan benar-benar tak kenal ampun.


Rantoba, berdiri mematung menyaksikan kekejaman cucu gadis dari Kekaisaran Yang itu. Sangat menyesal dia tidak membunuh gadis tersebut saat ada kesempatan, di masa lampau. jelas bahwa dia dan Darmuraji lah yang meminta salah satu sekte aliran Hitam di Kekaisaran Yang, untuk mengirim Wu Guo.


Sementara itu Daga si Pendekar Suci tingkat Akhir yang bergelar Setan Gila itu, merasakan kematian yang sangat lambat. Namun, sangat teramat sakit.


Pedang Bai Hua terus memotong, mengiris, dan mengupas kulit hingga daging Daga, sedikit demi sedikit namun dalam kecepatan tinggi.


Saat Bai Hua berhenti, Daga masih berdiri dengan sebagian tubuhnya tinggal tulang belaka. Namun, Bai Hua membiarkan jantungnya terus berdetak agar kepalanya tetap hidup.


Sesuai dengan apa yang dia ajarkan Arya, Bai Hua kembali menyegel kekuatannya. Saat petir menghilang, dia menatap tajam pada Daga.


"Ingin Membunuhku? ... Huh, Mimpi!"