
"Bibi Wenji, apakah ada ahli Teleportasi di dunia ini?" Tanya Long Tian.
"Tuan muda, hanya ada dua orang ahli Teleportasi di dunia Bulan, yang pertama adalah Kaisar dan yang kedua adalah Jenderal Hao Tu, Jenderal Hao Tu adalah Kepala Pengawal Pangeran ke dua" Jawab Hao Wenji.
Long Tian menyimpulkan bahwa yang menculik dan Membunuh anak Bibi Wenji adalah Hao Tu, karena hanya Hao Tu yang bisa berteleportasi selain Kaisar sendiri, dan saat yang sama kaisar jatuh sakit.
Hao Ling sendiri saat ini masih dengan perasaan tidak menentu karena baru mengetahui bahwa dia masih memiliki orang tua, selama bertahun tahun dia sendiri menganggap bahwa anak yatim piatu.
"Ling-er, Gege bisa saja langsung membawa Ling-er ke Istana untuk bertemu orang tua Ling-er tapi sebaiknya kita membantu dunia ini dahulu, Gege rasa mencari orang yang mengirim Ling-er ke Semesta Manusia Dewa dan otak di balik layar nya lebih baik didahulukan" ucap Long Tian.
"Gege, apapun keputusan Gege, Ling-er akan selalu mendukung Gege, kita juga sebaiknya mengenal Dunia ini terlebih dahulu" jawab Hao Ling dengan antusias.
"Bibi Wenji apakah Bibi memiliki Peta dunia bulan ini?" Tanya Long Tian
" Bibi memiliki nya dan jarak ke istana Bulan dari sini sangat jauh sekira satu bulan jika menaiki kuda." Jawab Hao Wenji sambil memberikan sebuah gulungan yang merupakan Peta Dunia Bulan.
Long Tian menerima Peta tersebut dan langsung melihat dan mempelajarinya, kemudian dia menyimpannya di cincin dimensinya.
" Tuan dan Nona Muda jika diperkenankan Bibi ingin mengabdi kepada kalian, melihat Nona Muda masih hidup dan sehat, semangat hidup Bibi timbul kembali dan bibi akan sangat senang bisa mengabdi kepada kalian berdua" ucap Hao Wenji dengan berlutut kepada Long Tian dan Hao Ling.
"Ling-er keputusan ada padamu" ucap Long Tian.
"Bibi bangunlah, jika bibi tidak keberatan dengan kontrak jiwa maka Ling-er bersedia membawa bibi" ucap Hao Ling sambil membantu Hao Wenji berdiri dan duduk di dekatnya.
"Bibi setuju" jawab Hao Wenji sambil membuka pertahanan jiwa nya.
Hao Ling memberikan kontrak jiwa kepada Hao Wenji agar dia bisa mempercayai Jao wenji sepenuh hati.
"Hari ini sudah malam bagaimana jika Tuan dan Nona Muda beristirahat di rumah bibi dahulu" ucap Hao Wenji.
Long Tian dan Hao Ling menyetujuinya dan mereka beristirahat di kediaman Hao Wenji yang ada di belakang kedai milik Hao Wenji.
Waktu berlalu dan hari pun sudah pagi, matahari bersinar dengan terang dan cerah.
Saat ini Long Tian dan Hao Ling sedang duduk bersama Hao Wenji di ruang tamu rumah Hao wenji.
"Kita akan melanjutkan perjalanan, Bibi Wenji apakah ada kereta kuda yang bisa kita beli" ucap Long Tian kepada Hao Wenji.
" Tuan muda satu satunya kereta kuda di desa ini hanya milik Kepala desa, bibi rasa kepala desa mau menjualnya jika harga nya pas" jawab Long Tian.
" Baik, kita berangkat sekarang saja dan kita akan mampir ke kediaman kepala desa terlebih dahulu" ucap Long Tian.
Mereka bertiga yang telah bersiap sebelumnya langsung meninggalkan rumah tersebut dan melangkah menuju kediaman kepala desa dan ternyata rumah dan kedai yang ditempati oleh Hao Wenji juga merupakan milik kepala desa yang di sewa oleh Hao Wenji.
Di Kediaman kepala desa.
"Kepala desa saya ingin berpamitan dan pergi dari desa ini untuk tinggal bersama keponakan Hamba dan ini adalah kunci rumah yang hamba sewa" ucap Hao Wenji kepada kepala desa sambil menyerahkan kunci rumahnya.
" Kepala desa jika diperkenankan kami ingin membeli kereta kuda anda" ucap Long Tian dengan sopan.
" Tuan muda, saya membeli kereta kuda itu senilai 500 koin emas di ibukota" ucap kepala desa dengan ramah dan berharap Long Tian memberikan lebih dari harga yang dikeluarkan.
" Semoga ini cukup" ucap Long Tian sambil menyerahkan sebuah cincin dimensi yang berisi 1000 koin emas.
Kepala desa yang melihat isi cincin dimensi tersebut langsung tersenyum bahagia, dan kemudian mengajak Long Tian dan yang lainnya ke samping rumahnya tempat dia menyimpan kereta kudanya.
Long Tian dan Hao Ling serta Hao Wenji pun meninggalkan desa Pandan, Long Tian sebagai kusir kuda, Hao Ling dan Hao Wenji pun duduk di dalam kereta kuda tersebut.
Perlahan namun pasti mereka semakin menjauh dari desa pandan dan mulai memasuki kawasan Hutan yang sebelumnya di lewati oleh Long Tian dan Hao Ling.
Waktu pun memasuki malam hari dan mereka saat ini masih berada di kawasan Hutan, Long Tian kemudian berhenti di sebuah tanah lapang di dekat pinggir sungai besar, dan sesuai peta yang dia lihat mereka seharusnya melintasi sungai ini tapi karena sering terjadi perang maka tidak ada perahu yang berani berlayar
"Gege apakah kita akan beristirahat disini?" Ucap Hao Ling yang turun dari kereta kuda dan menemui Long Tian dan sedang memberi makan kudanya.
"Benar Ling-er, malam ini kita akan beristirahat disini dan besok pagi kita akan melanjutkan perjalanan kita." Ucap Long Tian.
Hao Ling dan Hao Wenji kemudian memilih menyiapkan ayam bakar karena memang Hao Wenji membawa perlengkapan masaknya dan beberapa ekor daging ayam yang sudah dilumuri bumbu.
Long Tian kemudian mengeluarkan artefak rumahnya dan mereka pun malam itu beristirahat dengan nyenyak karena memang hanya mereka yang ada disana.
Di pagi harinya….
Long Tian sudah menyimpan artefak rumahnya dan sudah menyiapkan kuda nya.
"Tuan muda, mengingat sudah tidak ada lagi perahu yang berani melintas kita harus melingkari hutan ini dahulu dan nanti akan ada jembatan untuk melintasi sungai ini" ucap Hao Wenji menjelaskan.
Long Tian hanya tersenyum dan kemudian dia menggerakkan tangannya dengan cepat dan mengarahkan tangannya ke arah sungai " jurus cahaya pembeku" ucapnya pelan dan cahaya emas keluar dari tangan nya dan mengarah ke sungai yang lebar nya kurang lebih 500 meter.
Air sungai setelah terkena cahaya tersebut perlahan membeku dan membentuk sebuah jalan yang cukup luas, Hao Wenji terkejut dengan kejadian itu.
"Kalian naiklah ke kereta kita akan berangkat sekarang" ucap Long Tian kepada Hao Ling dan Hao Wenji, dan dia sendiri mulai ke posisi nya sebagai kusir kereta kuda itu.
Kereta kuda nya berjalan di atas air sungai yang membeku tersebut dan setiap selesai kereta tersebut melintas air sungai kembali normal.
Tidak memerlukan waktu lama untuk mereka melintasi sungai tersebut dan kini sudah memasuki jalanan utama menuju ibukota.
Long Tian merasakan ada kurang lebih 100 orang yang ada di kiri dan kanannya dengan jarak kurang lebih 200 meter di kiri dan kanannya.
Ratusan anak panah menyerang kereta kuda mereka dan Long Tian hanya menggerakkan tangannya dan membuat segel pembalik serangan. Panah panah tersebut kembali ke penyerangnya dengan kecepatan dua kali lipat.
Dia menghentikan kereta kudanya, "ling-er ada sedikit masalah, kalian tunggu saja di dalam kereta" ucap Long Tian dan kemudian dia membuat segel pertahanan dan pembalik serangan yang berbentuk kubah melindungi kereta kudanya.