Naga Emas Sang Pembantai

Naga Emas Sang Pembantai
Galaksi ke 83 part 1


Long Tian muncul di sebuah jalanan di tengah tengah hutan yang sangat lebat dan juga jalanannya sangat tidak terawat terlihat jika jalanan itu sudah lama tidak di lintasi oleh siapapun karena rumput rumput yang tampak tumbuh dengan tinggi disana.


"Rerumputan ini sangat tinggi jelas sekali jika desa di depanku ini sudah sangat lama terisolir dari luar, baiklah sebaiknya aku berganti pakaian dahulu agar kedatangan ku tidak terlalu mengejutkan mereka semua" ucap Long Tian sambil berteleportasi ke istana naga emas di dunia jiwanya untuk berganti pakaian dengan pakaian biasa yang semuanya serba biru muda namun masih dengan kualitas terbaik tetapi tidak memiliki ornamen ornamen seperti pakaian bangsawan yang biasa dia gunakan lalu muncul kembali di jalanan itu.


Long Tian kemudian berjalan mendekati desa besar yang ada di dekatnya itu dan dia melihat jika desa itu cukup terawat tidak seperti jalanan untuk menuju desa itu.


"Tuan maaf apakah di desa ini memiliki kedai makan" ucap Long Tian yang berpura pura kecapaian kepada seorang pria sepuh yang sedang berjalan di jalanan desa itu.


"Anda bukan penduduk desa kami, bagaimana bisa sampai ke desa kami, ah sudahlah di desa kami ini tidak memiliki kedai makan sebaiknya kau ikut dengan ku ke rumah ku saja untuk bisa beristirahat dan kau bisa makan di rumah ku saja" ucap pria sepuh itu dengan ramah sambil mengajak Long Tian untuk ikut dengannya.


"Tuan terima kasih atas bantuan anda" ucap Long Tian yang masih berpura pura kelelahan sambil berjalan di samping pria sepuh itu.


Mereka berdua memasuki sebuah rumah yang cukup besar di desa itu yang tidak terlalu jauh dari gerbang desa itu, dan mereka duduk di teras rumah itu.


"Tuan muda aku tidak tahu bagaimana anda bisa sampai melewati hutan siluman serigala, anda sebaiknya minum teh ini terlebih dahulu" ucap pria sepuh itu sambil menuangkan teh dari poci yang memang ada di atas meja teras itu ke gelas nya untuk Long Tian.


"Tuan anda sangat baik, terima kasih" ucap Long Tian sambil menerima gelas itu lalu meminum habis teh di gelas itu yang terasa sangat menyegarkan untuknya.


"Tunggulah sebentar disini" ucap pria sepuh itu sambil berdiri lalu memasuki bagian dalam rumah nya dan tidak lama keluar lagi dengan membawa sepiring roti kukus lalu memberikannya kepada Long Tian.


"Makanlah dulu roti kukus ini mumpung masih hangat agar perutmu terisi" ucap pria sepuh itu dengan ramah sambil meletakkan piring berisi roti kukus itu di hadapan Long Tian lalu kembali menuangkan Poci Teh ke gelas Long Tian.


"Tuan terima kasih" ucap Long Tian yang dibalas senyuman oleh pria sepuh itu lalu mengambil satu roti kukus itu dan langsung memakannya perlahan.


"Roti kukus ini sungguh nikmat, terima kasih atas kebaikan anda kepada saya" ucap Long Tian yang sudah menghabiskan dua roti kukus yang di berikan oleh pria sepuh itu.


"Ceritakan lah padaku bagaimana anda sampai di desa kami ini" ucap pria sepuh itu dengan ramah sambil tersenyum hangat ke Long Tian.


"Saya tersesat dan sampai di sini, saya hendak bepergian ke ibukota namun entah bagaimana saya sampai di sini" ucap Long Tian dengan ramah.


"Ibukota masih sangat jauh dan anda akan melewati kembali hutan siluman serigala itu, setelah anda menemukan sungai anda berbelok lah ke arah kanan dan ikutilah sungai itu namun perjalanan mu akan sangat berbahaya, siluman siluman serigala itu jika sudah keluar tidak pernah melepaskan siapapun" ucap pria sepuh itu dengan ramah menjelaskan kepada Long Tian situasinya.


"Itu benar, kami memilih untuk tidak keluar dari desa kami ini, karena siluman serigala itu sudah berjumlah ribuan dan sekalinya mereka menyerang mereka selalu tidak melepaskan siapapun, sudah banyak korban di desa kami ini" ucap pria sepuh itu dengan ramah.


"Tuan apakah tidak ada jalan lain untuk keluar dari desa anda ini" ucap Long Tian sambil melihat sekelilingnya.


"Tidak ada jalan lain di desa ini, karena jalan penghubung lainnya tertimbun oleh tanah longsor dan menutupi lembah yang merupakan jalan terdekat ke kota, kami setiap hari berusaha membersihkan tanah longsor itu namun belum berhasil" ucap pria sepuh itu dengan ramah.


"Bukankah anda memiliki kultivasi tingkat pencipta bumi tahap akhir dan bisa terbang keluar dari desa ini" ucap Long Tian dengan ramah.


"Tuan muda anda bisa melihat tingkat kultivasi saya sedangkan saya malah tidak bisa melihat tingkat kultivasi anda dan anda juga bisa melewati hutan siluman serigala itu jika boleh saya tahu sebelumnya anda berada di tingkat apa" ucap pria sepuh itu dengan penuh rasa penasaran terhadap Long Tian.


"Tuan saya sedikit di atas anda saja" ucap Long Tian sambil tersenyum hangat.


"Kami memang memiliki kultivasi namun kami tidak berani terbang karena di pegunungan ini ada suatu hukum yang membuat kami semua disini tidak bisa terbang, kami tidak tahu yang jelas jika kami terbang kami akan di paksa untuk kembali turun karena kami seperti menabrak sesuatu yang tidak terlihat di atas kami ini" ucap pria sepuh itu dengan ramah menjelaskan situasinya.


"Jadi seperti itu, saya akan mencoba membantu desa ini dengan membuka jalanan yang tertutup oleh tanah longsor itu dan juga akan mengatasi masalah siluman serigala itu, jadi bisakah anda mengantar saya ke lokasi longsor itu dahulu" ucap Long Tian dengan ramah.


"Tuan muda apakah anda benar benar bisa menghilangkan seutuhnya tanah longsor itu" ucap pria sepuh itu dengan ramah tanpa adanya keraguan apapun terhadap Long Tian.


"Tuan saya tidak bisa menjawabnya sekarang sebelum saya melihat sendiri situasinya di sana seperti apa" ucap Long Tian dengan ramah.


"Baiklah jika demikian mari tuan muda ikuti saya" ucap pria sepuh itu dengan ramah sambil berdiri dan mengajak Long Tian untuk mengikutinya.


Mereka berdua kemudian berjalan keluar dari desa itu dan setelah gerbang desa mereka berbelok ke kiri menuju jalanan di antara lembah yang tertutup oleh Longsor sesuai penuturan dari pria sepuh itu sebelumnya.


"Tuan jika saya boleh tahu kalian sudah berapa lama terisolir seperti ini" ucap Long Tian yang herjalan di samping kiri pria sepuh itu menuju ke lokasi longsor.


"Tuan muda, sudah kurang lebih sepuluh tahun lamanya, sehingga kami hanya mengandalkan apa yang ada di desa kami saja kadang kami berburu juga di pinggiran hutan ini" ucap pria sepuh itu dengan ramah sambil melihat sekelilingnya.