
"Tuan muda sebaiknya anda menghindari arah ibukota, karena perebutan kekuasaan ini bisa berimbas peperangan" ucap wanita muda itu dengan sangat ramah dan tersenyum mesra ke Long Tian.
"Nona terima kasih atas perhatiannya saya akan mengingatnya dengan baik" ucap Long Tian dengan ramah.
"Tuan muda sudah sangat malam dan sepertinya saya harus pamit agar anda bisa beristirahat" ucap wanita muda itu dengan ramah dan tersenyum mesra ke Long Tian sambil berdiri
"Nona terima kasih" ucap Long Tian sambil tersenyum ramah.
Wanita muda itu kemudian meninggalkan Long Tian dengan terlihat ingin jika Long Tian menahannya agar ia tetap di kamar Long Tian itu.
Long Tian langsung mengunci pintu dan memasang segel perlindungan di kamar itu lalu melangkah menuju kamar tidurnya dan beristirahat.
Waktu berlalu dan matahari pagi pun kini sudah bersinar terang, Long Tian pun sudah duduk di kursi ruang tamu kamarnya itu bahkan dia sudah menikmati sarapannya.
"Malam yang tenang dan aku tidak yakin jika kehadiranku disini hanya untuk menghabisi sepuluh pembunuh itu semalam dan juga sepertinya bukan untuk bersama dengan wanita muda itu" ucap Long Tian berbicara sendiri sambil menikmati Teh Herbal buatannya.
"Baiklah kita lihat apakah yang hal lain selain itu" ucap Long Tian sambil berdiri dan hendak melangkah keluar namun berbarengan dengan suara pertarungan di luar penginapan.
Long Tian kemudian mencoba melihat melalui jendela kamarnya namun tidak bisa melihat jelas bagian depan penginapan itu tempat terjadinya pertarungan sehingga dia kemudian bergegas turun ke lantai satu penginapan itu.
"Sudah tidak ada yang berjaga berarti pangeran itu sudah pergi atau baru mau pergi" ucap Long Tian berbicara sendiri sambil menuruni tangga.
"Wanita muda ini bahkan berani melawan sepuluh orang sekaligus dengan kultivasi yang sama" ucap Long Tian dalam hatinya sambil melihat jika wanita muda yang selalu melayaninya kini sedang di kepung oleh sepuluh orang yang berpakaian serba hitam dan menggunakan penutup wajah.
Wanita muda itu dengan berani menangkis semua serangan pedang sepuluh orang itu dengan pedang nya dan dampak pertarungan mereka sudah banyak membuat kerusakan di sekitarnya.
Long Tian kemudian menekan sepuluh orang berpakaian hitam itu dengan menggunakan aura naganya dan mengakibatkan sepuluh orang itu kini berjongkok dengan menggunakan pedang sebagai penyeimbang badan mereka.
Hal ini sontak membuat wanita muda itu kaget dengan hal ini karena semua lawannya berjongkok dengan pedang di depan mereka.
"Pengendalian senjata, datanglah" ucap Long Tian dalam hatinya sambil mengangkat tangan kanannya perlahan ke atas kepalanya.
Sepuluh pedang yang dijadikan tongkat itu kini melesat ke arah kepala Long Tian dan melayang di atas kepala Long Tian.
Long Tian kemudian mengirim segel kutukan darah dan segel penghapus jiwa untuk melapisi semua senjata itu.
Wanita muda itu tercengang melihat semua senjata lawannya kini melayang di atas kepala Long Tian yang duduk di teras penginapannya sendirian bahkan semua orang yang melihat Long Tian juga kaget dan kagum.
"Potong leher mereka" ucap Long Tian dengan santai sambil menggerakkan tangan kanannya ke arah orang orang itu.
Semua senjata kembali kepada pemiliknya dan kini semua senjata itu bergerak cepat memotong leher pemiliknya.
Semua senjata itu kini kembali ke Long Tian dan langsung di kirim oleh Long Tian ke halaman istana dunia jiwanya.
Wanita muda itu berjalan pelan ke Long Tian lalu memeluk Long Tian yang sedang duduk itu.
"Tuan muda terima kasih" ucap wanita muda itu sambil memeluk Long Tian yang masih dalam posisi duduk sehingga wajah Long Tian kini tepat di bukit kedua gunung giok kembar.
"Nona aku susah bernafas, bukit giok anda terlalu besar" ucap Long Tian pelan dan hanya terdengar oleh wanita muda itu.
Wanita muda itu melepaskan pelukannya dan langsung duduk di depan Long Tian.
"Tuan muda maaf" ucap wanita muda itu sambil membetulkan pakaiannya karena akibat pertarungan dan akibat pelukannya barusan lembah bukit giok kembar nya jadi terlihat.
" Nona kenapa mereka mengincar anda" ucap Long Tian dengan ramah.
"Tuan muda bisakah kita berbicara di ruangan saya saja sebentar" ucap wanita muda itu sambil berdiri dan meminta Long Tian mengikutinya.
Long Tian kemudian mengikuti wanita muda itu keruangan besar di lantai satu itu dan duduk di kursi giok yang ada disana berhadapan dengan wanita muda itu.
"Tuan muda sepertinya tidak ada yang bisa saya sembunyikan dari anda, memang benar mereka sebenarnya bukan ingin menyerang putra mahkota namun mereka hendak membunuh saya" ucap wanita muda itu dengan ramah.
"Nona ada masalah apa sebenarnya" ucap Long Tian dengan ramah.
"Tuan muda saya sebelumnya adalah bagian dari mereka namun seiring waktu saya mengetahui jika yang membunuh kedua orang tua saya ada salah satu pemimpin disana, jadi saya berjuang keras agar memiliki kultivasi tingkat pencipta langit tahap akhir ini dan berhasil membunuh pembunuh kedua orang tua saya namun perbuatan saya diketahui dan saya pun melarikan diri lalu saya melarikan diri ke benua ini, di benua ini berbekal uang hasil pelaksanaan tugas pembunuhan sebelumnya saya membuka penginapan ini dan pelan pelan melatih semua pelayan disini karena mereka adalah anak yatim piatu jadi bisa selalu disini bersama saya" ucap wanita muda itu dengan ramah.
"Jadi seperti itu dan kebetulan pangeran itu juga target dari mereka dan mereka berhasil menemukan lokasimu" ucap Long Tian dengan ramah
"Benar Tuan muda" ucap wanita muda itu sambil menganggukan kepalanya.
"Pantas semua pelayan wanita disini sudah di tingkat pencipta bumi tahap awal, lalu apa rencana mu selanjutnya" ucap Long Tian sambil tersenyum ramah.
"Tuan muda saya juga tidak tahu, hanya penginapan ini yang kami miliki namun kami sudah tidak bisa disini karena sekalinya mereka datang lagi pasti akan berjumlah lebih banyak. Tentunya jika itu terjadi akan banyak korban jiwa dari pengunjung dan penduduk kota ini" Ucap wanita muda itu dengan ramah.
"Ada berapa pasukan wanita mu" ucap Long Tian dengan ramah.
"Saya hanya memiliki dua ratus orang saja" ucap wanita muda itu sambil bersandar di kursi gioknya sehingga kini terlihat lebih menantang karena bukit nya makin menonjol jelas dan kakinya juga melebar ke kiri dan kanan seolah mengucap selamat datang untuk Tombak Long Tian yang sangat kuat dan besar.
" Nona seberapa kuat mereka semua" ucap Long Tian yang tetap menikmati pemandangan di depannya.