
Long Tian kemudian mengeluarkan beberapa kayu bakar dan langsung dia susun di depan tenda lalu dia nyalakan dengan kekuatan elemen api nya.
"Untung aku menemukan banyak daging jadi malam ini sebaiknya aku membakar daging ayam hutan saja untuk makan malam ini" ucap Long Tian sambil mengeluarkan satu ekor ayam hutan yang sudah dibumbui dari cincin dimensinya yang juga dia temukan dari jutaan cincin dimensi ras iblis darah di dunia galaksi ke 73 ini.
Long Tian membakar ayam hutan itu dengan tingkat kematangan yang dia inginkan dan dia pun menikmati momen seperti ini.
"Ayam bakar ini sungguh luar biasa" ucapnya sambil duduk di kursi kayu yang ada di dalam tendanya sambil menikmati ayam bakar nya.
"Malam ini sungguh indah, sepertinya aku harus sering sering seperti ini" ucap Long Tian sambil tetap menikmati ayam bakarnya dan terlihat jika cincin komunikasi nya bersinar terang.
Long Tian kemudian memberikan sedikit Qi nya ke cincin komunikasi miliknya itu.
"Gege, semua perhiasan sudah ku bagikan dengan rata, jadi kapan dirimu akan pulang" suara Hao Ling terdengar merdu melalui cincin komunikasi itu.
"Ling-er kenapa ingin aku segera pulang, apakah ada masalah" ucap Long Tian melalui cincin komunikasi nya.
"Tidak Gege, hanya sudah cukup lama saja kita tidak berkultivasi ganda, apa Gege kecapean karena sudah dengan yang lainnya" ucap Hao Ling dengan mesra.
"Ling-er jika urusan dunia di galaksi ke tujuh puluh tiga ini sudah selesai aku akan menemuimu" ucap Long Tian melalui cincin komunikasi itu.
"Gege bukankah bisa kita lakukan di dunia jiwamu atau di dunia kecilmu atau di dunia kecilku yang mempunyai perubahan waktu jadi tidak mengganggu waktu gege di dunia itu" ucap Hao Ling dengan mesra melalui cincin komunikasi.
"Ling-er apakah harus kau berbicara begitu di depan yang lainnya" ucap Long Tian yang mengetahui jika Li Lian, Li Mei, Leiji dan Qia Qia ada duduk di depan Hao Ling.
"Suami ya kalo mau bersama dengan kami berlima sekaligus juga boleh kok, apa mau sekalian dengan adik adikku dan dengan bawahan kakak Qia sekalian" suara Leiji terdengar merdu melalui cincin komunikasi itu.
"Kalian semua benar benar sudah mulai gila ya, sudahlah nanti saja aku akan pulang ke istana merah sementara aku sendiri saja dulu" ucap Long Tian sambil tetap mengunyah ayam bakarnya.
Sementara itu di taman belakang istana merah semua wanita Long Tian tertawa terbahak bahak mendengar jawaban Long Tian itu.
"Leiji kau memang paling bisa menggoda suami kita tapi awas lho nanti jangan jangan dia membawa wanita lagi pulangnya" ucap Li Mei sambil tertawa ringan.
"Kakak Mei semakin kita buat Gege seperti itu maka dia semakin ingin pulang, percayalah dia pasti sedang membayangkan meniduri kita semua" Jawab Leiji sambil tertawa ringan.
"Kalian itu benar benar ya, eh malam ini kita tidur bersama lagi saja, Chen-er juga sudah di kamarnya bersama Zan Lie" ucap Hao Ling.
Mereka terus mengobrol dan membahas Long Tian sedangkan Long Tian sendiri saat ini sedang menikmati ayam bakarnya.
"Meniduri mereka memang asyik tapi menikmati ayam bakar ini juga sangat asyik" ucap Long Tian sambil tertawa ringan dan kemudian dia mulai menikmati paha ayam bakarnya yang sangat besar untuk ukuran ayam hutan.
Long Tian yang berada didalam tenda besar miliknya itu merasakan jika ada yang mengawasinya dari dalam kelima bangunan besar itu namun dia tidak khawatir apapun karena segel emas buatannya sanggup menahan semua serangan selama penyerangnya di tingkat pencipta abadi ke bawah.
"Besok aku harus menyelesaikan misteri ini sebaiknya aku membuat segel luar menjadi tidak tembus dahulu" ucap Long Tian sambil menggerakkan tangannya dan menunjuk ke arah luar tenda.
Long Tian juga membuat segel perlindungan di tendanya untuk mengantisipasi hal terburuk yang mungkin terjadi saat dia tertidur.
Waktu terus berlalu dan kini terlihat jika matahari pagi sudah bersinar terang menyinari dunia itu.
Long Tian sendiri sudah menyimpan tendanya di dalam cincin dimensi miliknya.
"Tuan kepala desa saya masih menyelesaikan pembersihan jadi penduduk desamu jangan dulu melintasi jembatan" ucap Long Tian melalui telepati ke kepala desa perkebunan teh dan kopi itu.
"Baik Penguasa saya akan menyampaikan ke semua penduduk, mohon penguasa selalu berhati hati" jawab kepala desa itu dengan ramah melalui telepati.
"Terima kasih" ucap Long Tian kembali melalui telepati dan saat ini dia sedang berdiri di depan bangunan terbesar.
Long Tian kemudian menggerakkan tangannya lalu menyentuh dinding bangunan itu.
Cahaya emas kembali keluar dari telapak tangannya dan langsung menyebar di bagian dalam bangunan besar itu dengan sangat cepat.
Kraaaaaaaaaak
Booooooooooom
Suara pecahan kaca terdengar dan di ikuti dengan suara ledakan keras yang terdengar sampai ke desa perkebunan teh dan kopi kembali membuat kaget penduduk desa itu.
"Benar dugaan ku, ada segel ilusi di dalam bangunan ini" ucap Long Tian sambil tersenyum dan melihat jika didalan bangunan besar itu kini penuh dengan asap hitam.
Long Tian kemudian melakukan hal yang sama kesemua bangunan dan suara suara ledakan kembali terdengar dengan keras.
Dua jam berlalu dan kini semua asap hitam dalam bangunan bangunan besar itu sudah menghilang semua.
"Kita lihat ada apa sebenarnya didalam bangunan bangunan besar ini" ucap Long Tian berjalan memasuki bangunan terbesar itu.
"Benar dugaanku semalam ada yang memata mataiku" ucap Long Tian yang melihat banyak tapak kaki di lantai bangunan yang berdebu itu.
"Setidaknya ada sepuluh orang disini karena ukuran tapak kaki ini berbeda beda antara satu dan lainnya" ucap Long Tian yang masih memperhatikan dengan teliti bekas tapak kaki di dalam bangunan terbesar itu.
Long Tian terus mempelajari lantai bangunan itu karena mata emasnya masih tidak bisa menembus ke dalam lantai bangunan bahkan kekuatan kontrak dunia juga sama tidak bisa mendeteksi apapun di bawah bangunan bangunan besar itu, bahkan tapak tapak kaki itupun tidak dapat diketahui kemana akhir dan awalnya.
"Benar benar misteri, ada apa sebenarnya di dalam bangunan ini" ucap Long Tian sambil mengeluarkan sebuah tongkat pusaka tingkat pencipta.
Satu persatu lantai bangunan itu dia ketuk ketuk dengan tongkat miliknya itu secara teliti demikian juga dengan dinding bangunan terbesar itu dengan harapan dia bisa mengetahui jika ada ruangan rahasia di dalam bangunan terbesar itu.