
Long Tian muncul di atas awan galaksi ke delapan puluh dua dan dia kini berada di atas sebuah kota yang sangat ramai.
"Baiklah kita lihat dulu kota ini" ucap Long Tian sambil berteleportasi ke jalanan yang mengarah ke gerbang kota itu.
Long Tian muncul lima ratus meter dari gerbang kota dan langsung berjalan mengarah ke gerbang kota itu.
"Banyak juga yang ingin memasuki kota ini" ucap Long Tian dalam hatinya sambil ikut mengantri untuk memasuki kota.
"Kita jadi melihat pasar herbal kah" ucap seorang pemuda yang mengantri di depan Long Tian.
"Kawan, tentu saja jadi sebaiknya kita ke pasar herbal dahulu baru kita melihat yang lainnya" jawab pemuda satunya.
"Nah itu lebih baik, aku dengar hanya di kofa ini yang memiliki herbal terlengkap dan masih banyak yang kondisi hidup jadi bisa kita tanam di sekte kita" ucap pemuda lainnya.
"Baguslah jika demikian, eh pakai medali kau saja untuk kita masuk" ucap pemuda satunya, karena giliran mereka untuk memasuki kota.
"Maaf Tuan muda bisakah anda memperlihatkan medali anda" ucap prajurit yang berjaga di gerbang kota
"Maaf, medali saya hilang di perjalanan, jadi berapa saya harus melanjutkan biaya masuknya" ucap Long Tian dengan ramah.
"Tuan muda lima Keping Koin Emas saja" ucap prajurit itu dengan ramah sambil memperlihatkan peraturan kota yang ada di tembok dekatnya.
Long Tian kemudian memberikan sepuluh keping koin emas.
"Tuan sisanya untuk anda saja, bisa beritahukan saya jalan untuk menuju pasar herbal" ucap Long Tian dengan ramah sambil melihat sekelilingnya.
"Tuan muda terima kasih, anda lurus saja nanti jalan besar ke dua anda ke kanan disana pasar herbalnya" jawab prajurit penjaga gerbang kota itu dengan ramah.
"Baik Tuan, terima kasih juga, saya permisi" ucap Long Tian sambil tersenyum ramah dan melangkah memasuki kota itu dengan santai sambil melihat sekelilingnya.
Long Tian terus berjalan santai dan dia memerlukan waktu sepuluh menit untuk sampai di pasar herbal kota itu.
Para pedagang di sana banyak yang menjajakan dagangannya di atas trotoar jalan dan banyak juga terdapat toko toko herbal di sana, bahkan di dalam gang gang pun banyak yang berjualan namun semuanya hanya berjualan di trotoar tidak ada yang berjualan di jalanan sehingga tidak menghambat perjalanan siapapun.
Satu persatu pedagang di trotoar jalan itu dia singgahi dan saat ini belum ada satupun yang menarik perhatiannya karena dia memiliki yang lebih baik di Kebun herbal miliknya yang ada di dunia jiwanya.
"Baiklah semua di jalan utama sudah ku lihat namun tidak ada yang menarik, coba kita lihat di jalanan kecil ini" ucap Long Tian dalam sambil melangkah ke arah jalanan kecil yang di penuhi oleh para pedagang tanaman herbal.
"Kek, berapa harga ginseng ini" ucap Long Tian sambil berjongkok di depan sebuah Lapak jualan seorang pria sepuh.
"Kek hendak kakek tukar dengan apa ginseng ini" ucap Long Tian dengan ramah sambil meneliti jiwa pria sepuh itu dan ternyata berjiwa baik namun tubuhnya dalam kondisi sangat kelelahan.
"Tuan muda, saya sedang membutuhkan satu butir Pil Penyembuh tingkat pencipta untuk kesembuhan istri saya, dan semua dagangan saya ini akan saya berikan sebagai gantinya" ucap pria sepuh itu dengan ramah sambil memperlihatkan semua dagangannya.
"Kek, kedua Pil ini untuk kakek, dengan syarat kakek mau mengajak saya ke rumah kakek" ucap Long Tian sambil tersenyum ramah dan memberikan sebuah kotak giok kecil yang berisi dua pil penyembuh tingkat Pencipta buatannya.
"Tuan muda, saya tinggal di hutan dekat kota ini, jika memang Tuan muda berkenan mari kita kesana sekarang, Tuan muda nanti saja memberikan nya jika sudah sampai ke gubuk kami" ucap pria sepuh itu sambil mengembalikan kotak giok kecil itu lalu membereskan dagangan nya.
Long Tian sengaja menerima kembali kotak giok nya karena dia memang ingin mengetahui penyakit yang diderita oleh istri pria sepuh itu.
Long Tian mengikuti pria sepuh itu keluar dari kota itu dan benar benar memasuki hutan, mereka berjalan mengikuti jalan setapak yang kecil namun cukup bersih pertanda sering dilintasi oleh orang.
Long Tian dan pria sepuh itu tidak banyak bicara dan Long Tian memahami hal ini karena kondisi tubuh pria sepuh itu juga cukup kritis karena kelelahan.
"Hutan ini sangat asri, bahkan masih banyak binatang kecil disini" ucap Long Tian sambil memberikan melihat sekelilingnya.
Memerlukan satu jam perjalanan dari lokasi pasar herbal sampai gubuk kecil milik pria sepuh itu.
"Tuan muda, ini gubuk kami dan istri saya ada didalam, mari kita masuk" ucap pria sepuh itu sambil tersenyum ramah dan mengajak Long Tian untuk memasuki rumahnya.
Hanya ada satu ruangan di gubuk itu dan lantainya pun terbuat dari tanah, ada seorang wanita sepuh yang kondisi nya kritis akibat luka pertarungan di organ dalam tubuhnya terbaring lemah di atas kasur lantai yang sudah cukup usang.
Pria sepuh dan wanita sepuh ibu sama sama memiliki kultivasi tingkat pencipta semesta tahap akhir.
"Kek, ini pil penyembuh tingkat pencipta yang anda butuhkan, silahkan anda konsumsi jika sudah minumlah satu gelas air Teh Herbal buatan saya yang ada di poci ini" ucap Long Tian sambil tersenyum ramah dan memberikan satu kotak giok yang berisi dua butir pil penyembuh tingkat pencipta dan satu poci teh ukuran sedang karena dia sudah kehabisan poci teh besar.
"Tuan muda terima kasih banyak" ucap pria sepuh itu dengan ramah sambil menerima pemberian Long Tian itu lalu membungkukkan badannya tanda dia berterima kasih kepada Long Tian.
"Kek, saya akan di luar saja ya" ucap Long Tian sambil tersenyum ramah dan melangkah keluar dari gubuk sempit itu yang sangat tidak manusiawi untuk di tempati.
Di luar gubuk pria sepuh itu Long Tian melihat jika sebenarnya di dalam hutan itu ada ratusan gubuk yang sama dengan milik pria sepuh itu bahkan banyak kondisi nya yang lebih memprihatinkan dan diisi oleh beberapa orang.
"Kenapa ada banyak sekali yang memilih tinggal di dalam hutan itu" ucap Long Tian dalam hatinya sambil terus mengawasi sekelilingnya.
"Jadi Kebanyakan yang tinggal di dalam hutan ini adalah kaum lansia, baiklah aku harus mengetahui kenapa mereka sampai harus tinggal di dalam hutan" ucap Long Tian sambil duduk di batu besar yang atasnya datar di depan rumah gubuk kecil milik pria sepuh itu.