Naga Emas Sang Pembantai

Naga Emas Sang Pembantai
Penculikan warga desa bag 3


"Tuan muda ini ada ada saja" ucap Kepala desa sambil kembali mengikuti Long Tian yang sudah kembali berjalan.


Mereka terus berjalan memasuki hutan dan kini mereka tiba di sebuah tepi jurang namun malam semakin larut.


"Tuan muda mungkinkah anak itu terjatuh ke jurang ini" ucap kepala desa itu


"Saya tidak tahu, malam sudah semakin larut apakah Tuan kepala desa hendak pulang atau tetap bersama saya" ucap Long Tian dengan ramah.


"Saya sudah bertelepati dengan istri saya dan di desa juga aman, kini semua penduduk berkumpul di rumah saya menunggu kepulangan kita berdua, dan maaf Tuan muda apakah istri saya boleh meminum teh punya ada yang tertinggal di rumah saya" ucap kepala desa sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Tentu saja boleh, habiskan saja tidak apa2" ucap Long Tian sambil melihat ke bawah jurang itu dan dia melihat bahwa anak perempuan itu ada di bawah jurang itu bersama dengan seorang wanita sepuh yang merupakan jelmaan siluman serigala.


"Siluman tua, mau apa kau dengan anak kecil itu, jika niatmu jahat maka akan ku buat kau jadi abu" ucap Long Tian dalam hatinya.


"Tuan muda apa kita akan menginap di sini malam ini" ucap kepala desa itu dengan ramah.


" Tuan kepala desa, Bisakah anda membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh kita" ucap Long Tian tetapi dia tetap melihat ke arah lembah di bawahnya.


" Baik akan saya buatkan" ucap kepala desa itu.


"Terima kasih" ucap Long Tian.


Long Tian kemudian duduk di pinggir tebing itu dan masih melihat ke bawah nya.


"Siluman serigala ini memperlakukan anak itu dengan baik, bahkan dia membakarkan ayam hutan untuk anak itu" ucap Long Tian dalam hatinya.


"Tuan muda api sudah menyala dan apakah anda lapar, jika iya saya akan mencari ayam hutan dulu, di hutan ini sangat banyak" ucap kepala desa itu mendatangi Long Tian.


"Tuan Kepala Desa apakah anda dapat menceritakan tentang keluarga anak yang hilang" ucap Long Tian dengan santai sambil berdiri dan berjalan ke arah api unggun itu, dia tidak takut anak itu hilang lagi karena sudah menandai jiwa anak itu dan juga wanita siluman serigala itu.


"Tuan muda, anak itu sudah tidak memiliki ayah, dia hanya hidup dengan ibunya saja, ayahnya meninggal dunia sebulan yang lalu akibat terluka saat menghadapi perampok yang mencoba merampok saat beberapa warga desa hendak ke kota untuk menjual hasil kebun kami" ucap kepala desa itu.


"Tuan kepala desa, apakah ayah anak itu asli desa mu" ucap Long Tian dengan ramah


"Bukan Tuan Muda, ayah anak itu katanya penduduk benua lain yang merantau ke benua ini dan dia juga sudah hampir lima belas tahun hidup di desa kami." Ucap kepala desa itu dengan sopan.


"Lalu apakah desa anda pernah kedatangan seorang wanita tua beberapa hari ini" ucap Long Tian.


"Pernah Tuan muda, tiga hari yang lalu, wanita tua itu hanya singgah sebentar saja di desa kami dan kembali ke kota" ucap kepala desa itu


"Dan saya ingat jika wanita tua itu sempat bertemu dengan anak perempuan itu, karena saya memergoki mereka berjalan bersama, apakah menurut anda wanita tua itu yang menculik anak perempuan didesa kami" ucap kepala desa itu lagi.


Kepala desa terdiam dan tampak jika dia sedang merenungkan perkataan Long Tian barusan.


"Tuan kepala desa apakah anda tau kemana arah lembah di bawah kita ini" ucap Long Tian lagi


"Tuan muda, lembah ini menuju hutan terlarang, disana terlarang untuk kami di benua ini, karena disana hidup para siluman yang sudah menjelma menjadi manusia, dan jaraknya juga masih satu hari perjalanan, jika anak perempuan itu di bawa kesana maka kita tidak memiliki harapan untuk menyelamatkannya karena akan terjadi peperangan antara manusia dan jelmaan siluman" ucap kepala desa itu dengan kepala menunduk.


"Tuan muda pasti belum lama meninggalkan ibukota sampai tidak tahu mengenai hutan terlarang" ucap Kepala desa itu lagi.


" Itu memang benar" ucap Long Tian sambil tersenyum


Long Tian Kemudian berdiri dan menggerakkan tangannya dengan cepat di hadapan kepala desa itu dan kemudian dia menunjuk ke atas dan dari telunjuknya melesat dua cahaya emas ke angkasa dan kemudian cahaya emas yang merupakan cahaya emas penariknya itu menukik ke arah lembah di bawah mereka dengan cepat.


Kepala desa melihat ini sampai terpesona dan bahkan tidak mengedipkan matanya.


Long Tian membalikan badannya dan menghadap ke arah jurang itu dan dia berjarak 20 meter dari jurang.


Cahaya emas penariknya kembali kepadanya dan yang satu mengikat anak perempuan itu sedangkan satunya mengikat wanita tua jelmaan serigala.


Kedua orang itu melayang lima meter di depan Long Tian.


"Tuan muda ini anak yang hilang, dan ini wanita tua yang datang ke desa kami" ucap kepala desa.


"Tuan lepaskan nenek saya dan tangkap saya saja" ucap anak perempuan itu.


"Cucuku jangan takut, ada nenek disini, berdoalah kepada Dewa Naga Emas niscaya beliau akan menolong kita atau setidaknya hati kita akan menjadi tenang" ucap wanita tua itu.


"Jadi wanita tua ini juga berdoa kepadaku" ucap Long Tian dalam hatinya sambil menurunkan keduanya ke tanah dengan perlahan.


"Kalian berdua duduklah disini ceritakan padaku kenapa kalian bisa disini dan kenapa kalian pergi dari desa tanpa berpamitan dengan benar, Malah membuat drama penculikan" ucap Long Tian dengan ramah dan duduk di sebuah batu datar yang ada di dekatnya.


"Kepala desa dan Tuan Muda, ini nenek saya, ibu dari ayah saya, alasan saya ikut nenek karena saya ingin belajar kultivasi dari nenek dan bisa membalas kematian ayah saya, saya yang mempunyai ide untuk berpura pura diculik agar nenek tidak di salahkan siapapun, dan koin emas itu saya hanya agar kalian percaya jika saya di culik oleh penjahat" ucap anak perempuan berusia 13 tahun itu.


"Kenapa kamu tidak pamit sama ibumu? Dan apakah benar ini nenekmu, ibu dari ayahmu" Ucap kepala desa.


"Ibu tidak mengijinkan saya pergi karena saya anak perempuan, benar ini nenek saya dan waktu ayah masih hidup sering mengajak saya menemui nenek di hutan terlarang" ucap anak perempuan itu.


"Tuan Kepala desa apakah sudah jelas masalah ini" ucap Long Tian