Naga Emas Sang Pembantai

Naga Emas Sang Pembantai
Pelelangan Anggrek Part 1


Long Tian yang sudah kembali ke ruangan mulai kembali mendengarkan jika penawaran penawaran cukup berlangsung lama dan yang membuat dia kini tertarik adalah jika semua orang yang dia tandai sebagai orang orang yang berhati jahat lah yang selalu menaikan harga.


"Jadi seperti ini permainan kalian, kalian semua pastinya mempunyai niatan untuk merampok para pemenang lelang ini dan juga dengan pelelangan anggrek ini" ucap Long Tian berbicara sendiri.


"Tongkat tingkat pencipta lima ratus Keping koin emas apa ada lagi yang mau menawarnya" ucap pembawa lelang itu dan ini barang ke lima yang di lelang.


"Seribu keping koin emas" ucap Long Tian dengan santai.


"Seribu keping koin emas oleh Ruangan VVIP Nomor 1 apakah ada lagi yang berminat" ucap pembawa lelang itu dengan lantang.


"Seribu lima ratus keping koin emas" ucap ruangan VIP nomor tiga dan ini merupakan salah satu orang yang di tandai oleh Long Tian karena hanya ruangan VVIP nomor dua dan ruangan VIP nomor satu dan dua saja yang lolos dari penandaan Long Tian.


"Seribu lima ratus Keping koin emas oleh Ruangan VIP nomor tiga apakah ada lagi" ucap pembawa lelang dengan lantang namun tidak terlihat ada lagi yang hendak menawarnya dan Long Tian juga tidak mau menawar lebih tinggi karena memang dia berniat membuat orang orang yang ditandainya menjadi marah kepadanya.


"Satu ….. dua …… tiga…. Sah, Tongkat tingkat pencipta ini menjadi milik ruang VIP nomor tiga dan mohon siapkan uang anda karena barang akan segera dikirimkan ke ruangan anda" ucap pembawa lelang dengan lantang.


"Baiklah barang selanjutnya yaitu sebuah kristal kenangan tingkat dewa dan saya buka dengan harga seribu keping koin emas, dipersilahkan untuk kalian semua menawar dengan kelipatan seratus keping koin emas" ucap pembawa lelang sambil memperlihatkan sebuah kristal kenangan tingkat dewa dan Long Tian sendiri memiliki banyak kristal kenangan seperti ini bahkan tingkat pencipta juga dia miliki dalam jumlah banyak.


"Lima ribu keping koin emas" ucap Long Tian mendahului yang lainnya.


"Lima ribu seratus keping koin emas" ucap ruangan VIP nomor satu.


"Enam ribu keping koin emas" ucap ruangan VIP nomor dua


"Enam ribu lima ratus Keping Koin Emas" ucap kamar VVIP nomor dua.


"Tujuh ribu keping koin emas" ucap kamar VIP nomor lima.


"Kena kau" ucap Long Tian berbicara sendiri sambil tertawa ringan mendengar penawaran kamar VIP nomor lima.


Tidak ada lagi yang berani menawar seorang pun dan kini suasana menjadi hening.


"Baiklah tujuh ribu keping koin emas oleh ruangan VIP nomor lima apakah ada yang ingin menawar lebih dari harga ini" ucap pembawa lelang dengan lantang.


Semuanya terdiam dan dengan mata emasnya Long Tian bisa melihat jika kedua orang yang berada di kamar VIP nomor lima itu terlihat sangat kesal.


"Satu …. Dua ….. Tiga ….. Sah terjual seharga tujuh ribu keping koin emas ke kamar VIP nomor lima, mohon siapkan uang anda karena barang akan segera diantarkan" ucap pembawa lelang dengan lantang.


Long Tian melihat jika ada satu orang dari kamar VIP nomor empat mendatangi kamar VIP nomor lima dan memberikan sebuah cincin dimensi.


"Bahkan uang mu saja kurang namun berani bermain main dengan ku, baiklah akan aku buat kalian menangis setelah ini" ucap Long Tian dengan santai berbicara sendiri sambil melihat ke arah kamar VIP nomor lima dengan ilmu mata emasnya.


"Apa apan ini, lukisan siapa itu bahkan tidak ada mirip miripnya dengan ku" ucap Long Tian berbicara sendiri sambil melihat lukisan yang di pegang oleh pembawa lelang.


"Harga lukisan ini senilai lima ribu keping koin emas dan kelipatannya adalah seratus Keping Koin Emas" ucap pembawa lelang dengan lantang.


"Sepuluh ribu keping koin emas" ucap kamar VIP nomor satu dengan lantang.


"Sepuluh ribu seratus keping koin emas" ucap kamar VIP nomor dua.


"Lima belas ribu keping koin emas" ucap kamar VVIP nomor dua.


"Delapan belas ribu keping koin emas" ucap Long Tian dengan santai.


"Dua puluh ribu keping koin emas" ucap kamar VIP nomor empat dengan lantang.


Suasana kembali hening dan tidak ada lagi yang berani menawar lebih tinggi untuk lukisan itu.


"Kena lagi kau" ucap Long Tian berbicara sendiri dengan pelan sambil menikmati apel yang ada di Ruangan nya itu.


"Baiklah dua puluh ribu keping koin emas dari kamar VIP nomor empat apakah ada penawaran lebih untuk lukisan penguasa 100 galaksi ini" ucap pembawa lelang dengan lantang namun tidak ada seorang pun yang bereaksi untuk memberikan penawaran lagi.


"Satu …. Dua …. Tiga ….. baiklah sah lukisan dewa naga emas sang penguasa 100 galaksi terjual kepada kamar VIP nomor empat dengan harga dua puluh ribu keping koin emas, mohon anda menyiapkan uang anda karena barang akan kami antarkan ke ruangan anda" ucap pembawa lelang dengan lantang.


Long Tian melihat jika dua orang pria sepuh yang ada di kamar VIP nomor empat itu kini terlihat gelisah dan sangat murka karena mereka harus membayar mahal untuk lukisan yang dikira lukisan Long Tian.


"Jika uang kalian masih ada batasan kenapa juga kalian menaikan harga semau kalian" ucap Long Tian berbicara sendiri sambil menggelengkan kepalanya.


"Baiklah barang selanjutnya adalah sebuah pedang Giok yang merupakan sebuah pedang pusaka tingkat pencipta dan cocok untuk digunakan senjata kaum wanita" ucap pembawa lelang dengan lantang sambil memperlihatkan sebuah pedang giok ke semua yang ada di pelelangan itu.


"Pedang itu sangat cocok untuk digunakan oleh Li Yi" ucap Long Tian dengan santai dan sangat yakin akan memenangkan pelelangan itu.


"Saya buka dengan lima puluh ribu keping koin emas dan kelipatan seratus keping koin emas" ucap pembawa lelang dengan lantang.


"Lima ratus ribu keping koin emas" ucap Long Tian dengan santai.


Suasana pelelangan langsung ricuh atas harga tinggi yang di lontarkan oleh Long Tian itu karena baru sekarang yang sampai menawar barang pelelangan sampai setengah juta keping koin emas.


Banyak sekali perbincangan di kursi kursi yang berderet sekitar panggung pelelangan yang semuanya menebak nebak siapa yang ada di kamar VVIP nomor satu itu.