
"Desa yang satu ini kenapa sangat sepi padahal hari masih siang" ucap Long Tian yang sedang mengawasi sebuah desa di dalam kubah perlindungan nya sambil memakan bakpao isi ayam yang sebelumnya dia beli.
"Baiklah sebaiknya aku mengunjungi desa itu" ucap Long Tian sambil berteleportasi ke jalanan yang menuju desa itu dan dia muncul lima ratus meter sebelum desa itu.
Long Tian kemudian berjalan mengarah ke desa itu dengan santai seolah olah dia memang mengarah ke desa itu.
"Desa ini sangat bersih dan terawat tapi kenapa sepi sekali" ucap Long Tian dalam sambil tersenyum dan melangkah memasuki desa itu.
"Tuan maaf apakah di desa ini ada kedai makan" ucap Long Tian ke seorang pria sepuh yang berjalan di depannya.
Pria sepuh itu berhenti dan membalikkan badannya lalu melihat Long Tian dari atas ke bawah.
"Tuan muda, maaf kedai makan ada di dalam tinggal lurus saja, saya hendak kesana meminum teh mari kita pergi bersama jika anda mau" ucap pria sepuh itu dengan ramah.
"Tuan mari silahkan tunjukan jalannya" ucap Long Tian dengan ramah.
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju ke kedai makan itu yang memang tidak terlalu jauh dari gerbang desa itu dan langsung memasuki nya bahkan mereka duduk di meja yang sama.
"Paman apakah anda ingin memesan teh melati seperti biasa" ucap seorang pemuda yang merupakan pemilik kedai makan itu.
"Benar dan aku tidak tahu apakah Tuan muda ini ingin memesan apa" ucap pria sepuh itu dengan hormat.
"Saya juga ingin mencoba teh terbaik anda" jawab Long Tian dengan ramah.
"Baiklah sebentar saya siap kan dahulu" ucap Pemuda itu dengan ramah.
"Tuan muda apakah anda dari kota" ucap pria sepuh itu dengan ramah memulai percakapan mereka.
"Benar Tuan, saya kebetulan jenuh saja dan ingin berjalan jalan" ucap Long Tian dengan ramah.
"Tuan muda apakah anda tidak takut berjalan sendirian sedangkan banyak perampok yang berkeliaran di jalanan menuju ke sini" ucap pria sepuh itu dengan ramah.
"Tuan saya tidak mengetahui hal itu dan saat saya kesini saya juga tidak melihat atau bertemu dengan mereka" ucap Long Tian dengan ramah.
"Dari apa yang saya dengar mereka merupakan sisa sisa orang aliran hitam dan bermarkas di lembah siluman" ucap pria sepuh itu dengan ramah.
"Oh iya Tuan apakah memang desa ini selalu se sepi ini" ucap Long Tian sambil melihat sekelilingnya.
"Sebenarnya tidak, tapi desa kami ini mengalami gagal panen jadi kebanyakan penduduk berdiam di rumah mereka karena keuangan mereka yang menipis, kebetulan jika saya hidup sendiri sejak kematian anak dan istri saya jadi bisa lebih berhemat dan masih bisa menikmati teh melati disini" ucap pria sepuh itu dengan ramah.
"Jika saya boleh tau apakah yang di tanam oleh penduduk desa ini" ucap Long Tian sambil tersenyum ramah
"Tuan muda kami selama ini bertani padi dan sawah kami ada di belakang desa ini namun anda tidak dapat menikmati pemandangan indah sawah karena kami belum bertani lagi jadi masih jadi tanah kosong saja" ucap pria sepuh itu dengan ramah sambil tertawa ringan bersamaan dengan datangnya pemuda pemilik kedai makan itu membawakan satu poci besar teh melati pesanan mereka dengan dua gelas gioknya dan menuangkan untuk kedua gelas itu lalu duduk di kursi yang ada di meja sebelah kanan nya mereka karena kedai itu hanya kedatangan mereka berdua.
"Tuan muda silahkan" ucap pria sepuh itu dengan ramah dan dibalas senyuman oleh Long Tian.
"Tuan apakah kalian penduduk desa tidak beternak sekalian jadi bisa menjadi sumber penghasilan tambahan kalian" ucap Long Tian sambil menikmati Teh Melati itu.
"Tuan muda kami hanya petani tidak memiliki modal untuk membeli hewan ternak meskipun kami ingin tapi kami tidak memiliki modalnya" ucap pria sepuh itu dengan ramah.
"Bukankah kalian bisa menangkap hewan di hutan seperti ayam hutan dan kelinci untuk kalian ternak" ucap Long Tian lagi sambil tersenyum ramah.
"Tuan muda meskipun kami semua di desa ini berkultivasi tapi kami tidak berani masuk hutan karena banyak sekali ular beracun disana" ucap pria sepuh itu sambil menikmati Teh melatinya dan dia memiliki kultivasi tingkat Dao surgawi tahap akhir.
"Tapi apakah ular ular itu tidak menyerang desa ini" ucap Long Tian dengan ramah.
"Sesekali ada saja yang nyasar kesini dan kami binasakan namun jika kami membinasakan yang ada di dalam hutan kami tidak sanggup karena terlalu banyak" ucap pria sepuh itu dengan ramah.
Mereka berdua terus menikmati Teh melatinya dan tidak terasa sudah satu jam berlalu.
"Tuan saya akan melanjutkan perjalanan saya, jika boleh saya ingin berbagi sedikit dengan kalian semua penduduk desa ini, jadi saya menitipkan ini untuk anda bagikan secara merata kesemuanya" ucap Long Tian sambil tersenyum dan memberikan satu cincin dimensi yang berisi satu juta keping koin emas.
"Tuan muda ini sangat berharga apakah anda tidak merugi jika ini untuk kami disini" ucap pria sepuh itu sambil melihat isi cincin dimensi itu.
"Tuan, di saya tidak berguna banyak namun akan berguna untuk kalian semua" ucap Long Tian dengan ramah sambil berdiri dan berteleportasi ke jalanan tempat dia muncul.
Pria sepuh dan pemuda pemilik kedai itu terkejut karena tiba tiba Long Tian menghilang dari pandangan mereka berdua.
"Paman kemana tuan muda, kenapa dia bisa menghilang seperti hantu" ucap Pemuda pemilik kedai makan itu dengan panik.
Pria sepuh itu tidak menjawabnya melainkan terdiam sambil melihat isi cincin dimensi yang sebelumnya diberikan oleh Long Tian.
"Paman apa kau baik baik saja" ucap pemuda pemilik kedai makan sambil memegang pundak pria sepuh itu dan menyadarkan pria sepuh itu dari lamunannya.
"Tuan muda itu seorang dewa yang datang membantu kita semua penduduk desa yang sedang kesusahan" ucap Pria sepuh itu sambil terus melihat isi cincin dimensi pemberian Long Tian.
"Paman apa maksud anda" ucap pemuda itu sambil duduk di depan pria sepuh.
"Dia seorang dewa aku sangat yakin dengan hal ini, dia memberikan ku satu juta keping koin emas untuk dibagikan kepada seluruh warga desa kita ini termasuk untukmu juga" ucap pria sepuh itu sambil tersenyum hangat.
"Dewa, apakah maksud anda beliau dewa naga emas Long Tian sang Penguasa abadi 100 galaksi" ucap pemuda itu dengan ramah.
"Benar, itu dugaan ku, tidak ada lagi yang bisa menjelaskan siapa dewa itu selain besar kemungkinan jika beliau adalah dewa naga emas, kita sebaiknya segera menemui kepala desa dan mengumpulkan semua penduduk desa untuk segera membagikan koin emas ini dan melakukan penghormatan kepada dewa naga emas secara bersama sama, aku sangat yakin jika dewa naga emas masih memperhatikan kita" ucap pria sepuh itu bersemangat sambil berdiri dan tersenyum hangat diikuti oleh pemuda itu.
Mereka berdua meninggalkan kedai makan itu lalu memanggil semua penduduk desa untuk bersama sama ke kediaman kepala desa yang ada di belakang desa mereka.
"Kalian semua kenapa kesini, apakah ada sesuatu yang terjadi" ucap kepala desa saat pria sepuh itu dan semua penduduk menemuinya.