
Long Tian mengeluarkan sebuah Poci Teh besar dan gelas gioknya sejumlah mereka semua dan langsung di tuangkan oleh Li Yi dan kini Li Yi duduk di samping Li Lian.
Mereka berempat langsung bangun dan duduk dengan Mo Fei duduk disampingnya Li Yi.
"Kalian bertiga kenalkan ini kakak ipar kedua kalian, Li Lian" ucap Long Tian dengan ramah
"Kakak ipar Li Lian senang mengenalmu" ucap Jenderal Xuan Li dengan hormat.
"Kakak ipar apakah kau bisa memberikan salah satu adik mu untuk ketiga kakek tua ini" ucap Jenderal Mo Fei.
"Mo Fei" ucap Long Tian tegas.
Jenderal Mo Fei langsung diam dan menunduk.
Li Lian langsung berbisik ke Long Tian, meminta agar semua bawahannya yang sudah dia anggap adik itu keluar semuanya agar di lihat oleh mereka bertiga dan di iya kan oleh Long Tian.
Li Lian yang sudah mendapatkan izin dari Long Tian langsung bertelepati ke semua adik adiknya dan mereka semua mendatangi dek kapal itu dan berdiri melingkari mereka semua.
Jenderal Xuan Li langsung bertransformasi ke bentuk mudanya demikian juga dengan Huo Zhen.
"Kakak aku juga mau menikah" ucap Jenderal Xuan Li
"Kakak aku juga mau menikah" ucap Jenderal Huo Zhen
"Kakak apa lagi aku, aku mau menikah juga, tapi bolehkan aku menikahi mereka semua" ucap Jenderal Long Bo dan langsung mendapat pukulan dari Jenderal Xuan Li dan Jenderal Huo Zhen.
"Aduuuuuuh, kalian ini adik kurang ajar" ucap Long Bo sambil memegang kepalanya.
"Kalian bertiga aku ijinkan menikah jika calon kalian juga mau dengan kalian" ucap Long Tian dengan ramah.
"Terimakasih kakak" ucap mereka bertiga kompak dan langsung berdiri dan langsung mendekati wanita pilihan mereka.
"Kakak ipar berikan restumu untuk kami" ucap Jenderal Xuan Li yang sudah mengajak satu orang wanita muda yang cantik karena semuanya ras peri yang kecantikan nya tidak di ragukan, dengan rata rata memiliki bukit giok yang besar.
"Kakak mohon doa restu kalian" ucap Huo Zhen yang duduk bersama wanita pilihan nya.
"Kakak berikan restumu untuk kami juga" ucap Long Bo dengan menggandeng dua wanita di kiri dan kanannya.
"Long Booooooo" ucap mereka berdua karena melihat ada dua wanita lagi yang kemudian berdiri di belakang Long Bo.
"Kalian ini kenapa, aku ini tampan dan kuat jadi wajar aku menikahi empat wanita ini" ucap Long Bo.
"Long Bo apa kau yakin" ucap Long Tian.
"Kakak kapan aku pernah bercanda soal masa depanku" ucap Long Bo dengan tersenyum hangat.
"Kakak ipar apakah kau mengizinkan" ucap Long Bo
"Kalian berempat benar benar yakin menikah dengan Long Bo" ucap Li Lian.
"Kakak, aku tidak keberatan berbagi" ucap wanita yang duduk di sebelah kanan Long Bo.
"Kakak saya juga"
"Saya juga"
"Saya juga tidak keberatan kak"
Ucap ketiga wanita lainnya.
"Boooom"
Jenderal Xuan Li terpental ke belakang dengan sangat keras akibat di sikut oleh wanita pilihannya.
Jenderal Long Bo tertawa terbahak bahak demikian juga yang lainnya yang ada disana.
"Kakak jika kakak mau menikah lagi silahkan pilih lah adik adikku" ucap Li Yi ke Jenderal Mo Fei
"Adik aku cukup denganmu saja" ucap Jenderal Mo Fei "tapi jika kau tidak keberatan aku juga mau menikah lagi" ucap Jenderal Mo Fei dan di balas anggukan kepala oleh Li Yi.
Jenderal Mo Fei hanya diam tidak berdiri.
"Kakak pilih lah di antara adik adikku itu" ucap Li Yi.
"Adik terima kasih" ucap Jenderal Mo Fei sambil mendekati seorang wanita muda yang dia inginkan jadi istri nya dan mengajaknya mendekati Li Yi.
"Kakak juga boleh kok" ucap wanita pilihan Huo Zhen.
Huo Zhen tidak menyia nyiakan kesempatan dan langsung berdiri dan menjemput dua orang pilihannya dan mengajak nya ke kursi nya.
Jenderal Xuan Li bangun dari jatuhnya dan mengelus dadanya yang di sikut oleh pilihannya lalu duduk kembali.
"Kakak maaf, tapi jika kakak bisa adil dan sanggup silahkan" ucap wanita pilihannya.
Jenderal Xuan Li hanya mengangguk dan tetap duduk di kursinya, sambil mengelus dadanya yang sakit.
"Kakak kenapa diam saja" ucap wanita pilihannya itu.
"Adik kakak sama adik saja sudah terluka begini apa lagi nambah istri, bisa bisa kakak tidak berbentuk lagi" ucap Jenderal Xuan Li yang di balas tawa terbahak bahak oleh semuanya.
Wanita pilihan Jenderal Xuan Li berdiri dan mendekati satu wanita yang memang sempat di lirik oleh Jenderal Xuan Li dan membawa nya.
"Kakak dia kan pilihanmu" ucap wanita nya itu dan dibalas anggukan kepala oleh Jenderal Xuan Li sambil terus menunduk.
"Akhirnya dewa pedang yang terkenal arogan di galaksi surgawi kini kalah telak" ucap Jenderal Mo Fei diiringi tawa semua orang disana.
"Baiklah kita akan ke benua Lian-er dan meminta restu dari orang tua Lian-er* ucap Long Tian sambil tersenyum.
"Mo Fei arahkan kapal ini ke benua satunya" ucap Long Tian sambil tersenyum ramah.
Jenderal Mo Fei mengangguk dan langsung mengarahkan kapal perangnya ke Benua tempat Li Lian.
Memerlukan waktu dua puluh menit untuk kapal perang Jenderal Mo Fei untuk sampai di pesisir benua kedua itu dan disana tampak jika jutaan kapal perang dari bawahan Jenderal Mo Fei sudah terbang melayang di atas lautan mengelilingi Benua kedua yang di kelilingi oleh lautan.
"Gege ini benua kekuasaan ayahanda, kerajaan ada di puncak gunung kayu hitam itu" ucap Li Lian sambil tersenyum dan menunjuk ke Gunung tertinggi yang berjarak kurang lebih 50 kilometer dari tempat mereka.
"Mo Fei arahkah ke Puncak Gunung itu dan sampaikan ke bawahanmu segera adakan penyisiran di benua ini" ucap Long Tian dengan tegas.
"Baik Penguasa" jawab Jenderal Mo Fei dengan sigap dan langsung bertelepati ke semua Jenderal muda miliknya.
Kapal Perang milik Jenderal Mo Fei itu langsung melesat ke puncak gunung yang ditunjuk oleh Li Lian dan memerlukan waktu delapan menit untuk sampai di puncak gunung itu.
"Gege itu kerajaan ayahanda, memang di puncak gunung, dan ibukota ada di lereng lereng gunung ini" ucap Li Lian sambil menunjuk istana megah di puncak gunung itu.
"Mo Fei, turunkan di halaman istana dan tetap siaga jangan lengah" ucap Long Tian sambil tersenyum ramah dan menggerakkan tangannya dengan cepat.
Cahaya emas dan cahaya merah kehitaman melesat dari jari telunjuknya yang menunjuk ke atas dan langsung menyebar menutup ibukota kerajaan Li Lian, kubah cahaya berwarna emas dan dilapisi kubah cahaya berwarna merah kehitaman kini terlihat jelas menutup gunung yang menjadi ibukota sekaligus istana itu.