
Long Tian membalikan badannya dan melihat jika kedua pria sepuh itu sedang duduk di atas tanah dengan kedua tangan memegang tangan.
"Kalian berdua apa yang kalian lakukan, aku akan ke ibukota kalian mau ikut atau tidak" ucap Long Tian dengan tegas dan dia kini sudah melayang 50 sentimeter di atas tanah.
"Penguasa maaf tadi saat ada gempa kami terjatuh" ucap Patriark Ding Li yang langsung bangun dan berdiri demikian juga tetua yang ada di sebelahnya.
"Tunjukkan jalan ke ibukota, dan gunakan kecepatan terbang penuh kalian" ucap Long Tian dengan tegas namun ramah.
"Baik Penguasa" jawab Patriark Ding Li dan langsung terbang melesat di ikuti oleh tetua nya.
"Kakek tua ini, sampai aku ditinggalkan olehnya" ucap Long Tian menggelengkan kepalanya melihat kedua pria sepuh yang sudah terbang jauh darinya dan dia langsung melesat mengejar mereka berdua.
Memerlukan waktu hampir satu jam untuk mereka sampai di atas gerbang ibukota dan terlihat jika ada ratusan juta orang yang di luar gerbang itu dengan semuanya berpakaian hitam.
"Penguasa itu kaisar Ding Tao dia sepupu hamba" ucap Patriark Ding Li dengan hormat.
"Jadi kau seorang bangsawan yang memilih menjadi pemimpin sekte aliran putih" ucap Long Tian dengan ramah.
"Benar Penguasa" ucap Patriark Ding Li dengan hormat.
"Kau temuilah dia dan bilang jangan ada yang keluar gerbang ibukota sampai aku selesai" ucap Long Tian sambil tersenyum dan melesat ke tengah tengah pasukan sekte aliran hitam.
"Patriark apakah kita tidak membantu penguasa" ucap tetua itu.
"Tetua apa kau sanggup melawan mereka semua, sudah kita temui saja Kaisar Ding Tao" jawab Patriark Ding Li sambil melesat turun menuju ke atas tembok ibukota tempat Kaisar Ding Tao berada.
Long Tian turun di tengah tengah pasukan sekte aliran hitam dan dia tidak bersantai
"lingkaran kematian" ucap Long Tian pelan dan langsung memutar badannya dengan sambil menebaskan pedang naga emas , gerakan 360 derajat ini membuat sebuah lingkaran Qi Pedang dan mengenai semua yang ada di sekeliling nya tepat di bagian perut mereka semua.
Dan lingkaran Qi Pedang ini terus membesar sampai mengenai tembok ibukota meski hanya sedikit menggores tembok itu.
Bruuuuuuuuuug
Terdengar suara gerbang ibukota yang terbelah dan jatuh ke tanah berbarengan ambruknya semua pasukan sekte aliran hitam yang kini tergeletak di atas tanah hanya dalam waktu beberapa detik saja.
Semua pasukan sekte aliran hitam itu mengalami luka yang sama yaitu perut yang terpotong dengan sangat rapi dan mengakibatkan mereka semua tidak mengetahui apa yang menjadi penyebab mereka terbunuh.
Jutaan Badan dan kaki yang terpisah itu menimbulkan kengerian bagi semua orang yang ada di atas tembok ibukota itu termasuk Ding Li dan kaisar Ding Tao.
"Pengendalian Alam, tanah telanlah" ucap Long Tian sambil menghentakkan kakinya pelan dan tanah langsung bergetar, semua melihat jika potongan potongan tubuh pasukan aliran hitam itu kini perlahan masuk kedalam tanah seolah olah tanah itu adalah lumpur hisap.
Long Tian melayang ke atas dan melesat ke atas awan.
Semuanya yang ada di ibukota itu termasuk kaisar Ding Tao dan Patriark Ding Li berlutut dan bersujud tiga kali untuk menghormati Long Tian sambil sebagian terlihat menangis dan berdoa, sebagian besar malah menangis dan memohon pengampunan.
"Aku tau hati kalian semua tidak bersih karena banyak kejahatan kalian tapi semoga saja kalian bisa berubah menjadi lebih baik kedepannya" ucap Long Tian berbicara sendiri sambil mencoba berteleportasi secara acak namun dia tidak juga berpindah tempat.
"Baiklah waktunya melanjutkan perjalanan ke semesta kedua" ucap Long Tian sambil tersenyum dan berteleportasi ke dek kapal dunia naga.
Long Tian yang sudah ada di atas dek kapal dunia naga langsung duduk dan melesatkan kapal dunia naga tidak ke gerbang dimensi yang menuju ke semesta kedua namun langsung ke galaksi ke dua puluh enam, karena di merasa ada panggilan kuat dari satu satunya dunia di galaksi ke dua puluh enam.
Kapal dunia naga masih melesat di ruang hampa poros langit dan kini terlihat jika cincin komunikasi Long Tian bercahaya.
Long Tian kemudian memberikan sedikit Qi nya ke cincin komunikasi.
"Penguasa laporan dari pasukan bayangan ada dua raja iblis di galaksi ke dua puluh enam, mereka saat ini terkurung di sebuah Goa yang mulut Goa nya di segel oleh salah satu raja iblis itu, apakah saya bisa mengirim pasukan kesana" ucap Pemimpin Long Yu.
"Kakek Yu, saya sedang perjalanan kesana dan kedua raja ras iblis darah itu bukan lawan kalian, jadi jangan ada yang bergerak dulu" jawab Long Tian melalui cincin komunikasi.
"Baik Penguasa, saya akan meminta mereka untuk bertahan dahulu di sana sampai penguasa tiba" ucap Pemimpin Long Yu melalui cincin komunikasi.
Dan suara Pemimpin Long Yu berbarengan dengan Kapal dunia naga yang keluar dari gerbang dimensi di poros langit, kapap dunia naga melayang dan hanya berjarak 500 meter dari poros langit itu.
Long Tian langsung berteleportasi ke lokasi pasukan bayangan dan dia kini muncul di dalam sebuah Goa yang sangat luas dan tampak ada 500 orang pasukan bayangan disana yang semuanya terluka.
"Penguasa, maafkan kami" ucap seorang jenderal muda yang berlutut di depan Long Tian sambil menundukkan kepalanya.
"Apa kalian tidak memiliki pil penyembuh" ucap Long Tian
"Penguasa, pil penyembuh kami tertinggal di dunia Naga dan kami sebelumnya sempat mengutus sepuluh orang mengambilnya namun mereka gagal dan terbunuh, hamba mohon maaf 500 orang prajurit perang meninggal dunia karena kegagalan hamba" ucap Jenderal muda itu.
"Bagikan ini ke semua prajurit yang tersisa untuk menebus kesalahanmu" ucap Long Tian dengan ramah sambil memberikan sebuah cincin dimensi yang berisi 5000 pil penyembuh.
"Baik Penguasa, terima kasih" ucap Jenderal muda itu dengan hormat dan langsung menerima cincin dimensi itu lalu membagikannya untuk semuanya.
Satu persatu mulai membaik setelah mereka menelan dan menyerap khasiat pil penyembuh tingkat dewa itu.
Setengah jam berlalu dan kini semuanya sudah kembali siap berperang.
"Jenderal bagikan sisanya secara merata untuk cadangan semuanya" ucap Long Tian berteriak ke Jenderal muda yang sedikit jauh darinya.
"Baik Penguasa" jawab Jenderal muda itu dengan hormat.