Naga Emas Sang Pembantai

Naga Emas Sang Pembantai
Galaksi ke 50 part 4


Sementara itu Long Tian sudah berada di depan desa lainnya yang juga meminta kehadirannya.


"Desa ini berdekatan dengan hutan hitam tujuanku, apa permintaan warga desa ini berkaitan dengan hutan hitam ini" ucap Long Tian sambil melihat sekelilingnya.


"Hujan berhentilah untuk desa ini dan berikan hujan badai yang kuat untuk hutan hitam ini" ucap Long Tian sambil tersenyum dan melangkah ke arah desa di depannya.


Long Tian sambil berjalan mengatur agar hujan turun setiap malam di dunia itu selama dua jam dengan deras agar dunia tempatnya berada saat ini menjadi dunia yang subur kembali.


"Petir sambarlah orang orang yang bisa kau sambar di dalam hutan itu yang akan meninggalkan hutan" ucap Long Tian pelan sambil tetap melangkah dan pikirannya fokus dengan semesta.


Terdengar suara petir bersahut sahutan bahkan ada tiga petir menyambar ke pinggiran hutan hitam itu.


Hujan badai pun dengan dahsyat terjadi di hutan itu membuat kengerian tersendiri bagi yang melihatnya.


"Desa ini sangat sepi, bahkan aku sudah berjalan masuk seratus meter pum belum menemui siapapun" ucap Long Tian dalam hatinya sambil melihat sekelilingnya dan terus berjalan ke dalam desa itu.


"Akhirnya ada juga kedai makan yang buka di desa ini" ucap Long Tian dalam hatinya sambil melangkah memasuki sebuah rumah yang bagian depannya terdapat kedai makan.


"Tuan muda, mohon maaf kami sudah tidak memiliki persediaan makanan, jika hanya Teh hangat kami masih memiliki nya" ucap seorang pemuda satu satunya di kedai makan itu.


"Tuan, tidak apa apa, saya pesan teh hangat saja" ucap Long Tian dengan ramah sambil duduk di kursi terdekatnya dengan menghadap ke arah luar.


"Tuan muda silahkan" ucap Pemuda itu sambil menyajikan satu poci kecil teh dan gelasnya.


"Tuan bisakah anda menemani saya dulu, jika boleh saya tahu kenapa desa ini sangat sepi" ucap Long Tian dengan ramah.


"Tuan muda, kami penduduk desa ini mengalami krisis makanan jadi saat ini semua penduduk laki laki sedang berburu di hutan yang sana" ucap Pemuda itu sambil duduk di dekat Long Tian dan menunjuk ke arah berlawanan dengan hutan hitam.


"Apakah pinggiran hutan hitam ini tidak hewan buruan" ucap Long Tian dengan ramah.


"Tuan muda sepuluh meter saja kami masuk maka kami akan pingsan, jadi kami tidak mau memasuki hutan hitam terlebih lagi sudah beberapa bulan ini hewan apapun yang kami pelihara selalu mati dikala malam" ucap pemuda itu dengan ramah.


"Apakah penduduk desa ini semua pemburu" ucap Long Tian dengan tetap ramah.


"Kami dulunya ada petani, namun sejak musim kemarau panjang datang kami beralih menjadi pemburu, dan kami semua sudah beberapa kali mencoba menternakkan ayam hutan namun ayam ayam itu saat malam semuanya mati" ucap Pemuda itu sambil melihat ke arah hutan hitam.


"Apakah ada hal aneh jika malam di desa ini, sehingga semua ayam hutan itu mati" ucap Long Tian sambil menuang teh nya.


"Benar benar menyeramkan" ucap Long Tian sambil kemudian meminum teh nya.


"Tuan muda apakah anda ingin kembali ke kota" ucap Pemuda itu dan di balas anggukan kepala oleh Long Tian.


"Sebaiknya anda mendatangi pos prajurit dahulu dan meminta mereka mengantar anda dengan kereta kuda mereka atau dengan kapal transportasi mereka, kami semua jika ke kota juga diantar oleh mereka dan mereka tidak pernah meminta apapun dari kami" ucap Pemuda itu dengan ramah.


"Apakah pos prajurit itu masih jauh" ucap Long Tian berpura pura ingin tau.


"Hanya satu jam perjalanan saja jika anda menaiki kuda, tapi jika jalan kaki bisa dua jam lebih" ucap pemuda itu.


"jadi berapa saya harus membayar untuk Teh ini" ucap Long Tian dengan ramah


"Tuan muda tidak usah membayarnya, itu hanya teh hangat saja" ucap pemuda itu dengan ramah


"Anda sangat baik, namun jika anda memberikan saya teh ini maka jangan menolak jika saya memberi anda juga, namun saya ingin tahu ada berapa penduduk di desa ini" ucap Long Tian dengan ramah.


"Tuan muda di desa kami semuanya keluarga dan kami disini ada dua ratus kepala keluarga dengan ayah saya yang tertua namun beliau sedang berburu" ucap Pemuda itu dengan ramah.


"Mohon terima pemberian saya ini, ada sedikit untuk membantu warga disini dan sepertinya anda sedang terluka saya juga sudah memasukkan beberapa pil penyembuh untuk anda dan persediaan warga desa ini, biarlah nanti ayah anda yang menyimpan pil penyembuh dari saya ini" ucap Long Tian sambil tersenyum dan memberikan sebuah cincin dimensi yang berisi dua ratus ribu keping koin emas dan seribu pil penyembuh tingkat dewa dan langsung di terima oleh pemuda itu.


"Tuan muda, terima kasih atas kebaikan an………da" ucap Pemuda itu yang terpotong karena tiba tiba Long Tian menghilang dari pandangannya.


"Kemana tuan muda bangsawan ini pergi, tidak mungkin dia hantu karena cincin dimensi ini nyata……. Oh dewa terima kasih" ucap pemuda itu sambil tersenyum melihat isi cincin dimensi pemberian Long Tian dan terkaget kaget melihat tumpukan koin emas dan Pil Penyembuh tingkat dewa yang sangat berharga.


Pemuda itu langsung mengeluarkan sebutir Pil Penyembuh tingkat dewa itu lalu menelannya dan merasakan khasiatnya yang sangat luar biasa, sehingga luka luka di tubuhnya kini menghilang dengan sendirinya secara cepat.


"Dewa terima kasih atas pertolongan anda" ucap pemuda itu sambil berlutut dan melihat ke atas.


Sementara itu Long Tian kini sudah di atas awan dan melihat jika petir terus menerus menyambar orang orang sekte aliran hitam yang akan meninggalkan hutan hitam di bawahnya.


"Aku tidak bisa langsung menghabisi mereka semua karena aku harus tau apa yang mereka lakukan di hutan ini dan dimana sarang kelelawar darah raksasa itu" ucap Long Tian sambil terus mengawasi kawasan hutan hitam.


"Ada sebuah Goa dan sepertinya itu sarang kelelawar darah raksasa itu, sebaiknya aku berikan mereka kejutan dulu saja." Ucap Long Tian sambil menunjuk ke arah hutan hitam dan cahaya emas berlapis cahaya merah kehitaman melesat keluar dari jari telunjuknya ke arah hutan hitam dan membentuk sebuah kubah cahaya emas berlapis cahaya merah kehitaman menutupi seluruh areal hutan hitam yang masih di landa hujan badai dan serangan petir yang terus menerus menyambar siapapun yang hendak keluar dari hutan itu.