Naga Emas Sang Pembantai

Naga Emas Sang Pembantai
Desa Sungai Naga part 1


"Baiklah waktunya bekerja, kita lihat siapa di dunia ini yang paling membutuhkan kehadiran ku" ucap Long Tian sambil berdiri di dek kapal dan berteleportasi secara acak dengan menyerahkan keberadaannya kepada semesta.


Long Tian muncul di depan sebuah desa yang sangat sepi.


"Selalu masyarakat di pedalaman yang membutuhkan ku, hutan kiri kanan ini sangat luas dan lebat sekali" ucap Long Tian sambil melihat sekelilingnya.


"Kemana penduduk desa ini, meski bangunan mereka sangat sederhana dan terlihat rusak beberapa bagian karena usia namun desa ini masih sangat bersih" ucap Long Tian berbicara sendiri sambil terus berjalan memasuki desa itu.


"Tuan maaf, apakah di desa ini ada kedai makan" ucap Long Tian ramah saat melihat seorang pria sepuh yang duduk di teras rumahnya dan ia berbicara dari luar pagar rumah pria sepuh tersebut.


"Tuan muda kemarilah duduk dulu disini" ucap pria sepuh itu.


"Tuan maaf mengganggu istirahat anda" ucap Long Tian sambil tersenyum dan duduk di kursi teras itu persis di depan pria sepuh.


"Tuan muda, maafkan aku, pinggangku ini sudah susah untuk ku berjalan jadi aku meminta mu duduk di sini, mengenai kedai makan maaf tapi sejak desa ini berkali kali mengalami gagal panen kami tidak lagi memiliki kedai makan" ucap pria sepuh itu dengan ramah.


"Tuan, bolehkan saya tahu apa penyebab gagal panen hasil tani desa ini" ucap Long Tian dengan ramah.


"Tuan muda, kami mengalami kekeringan, sudah lama hujan tidak turun, bahkan sungai pun kini mengering" ucap pria sepuh itu dengan ramah.


"Tuan maafkan saya jika lancang, tapi bagaimana cara kalian selama ini bertahan jika tidak ada air" ucap Long Tian.


"Tuan muda ada satu sumber air di dalam hutan dan kami biasa bergiliran kesana untuk mengambil air minum kami, di sana juga saya tergelincir dan mengakibatkan pinggang tua ini jadi sakit untuk berjalan" ucap pria sepuh itu dengan ramah.


"Tuan, mohon di coba Pil Penyembuh buatan saya ini" ucap Long Tian dengan ramah sambil memberikan sebutir Pil Penyembuh tingkat dewa miliknya kepada pria sepuh itu dan ia juga mengeluarkan satu poci besar teh herbal buatannya dengan dua gelas yang langsung ia tuangkan isinya.


"Tuan muda, Pil anda ini sepertinya sangat berharga mahal dan maafkan pria tua ini tidak menyuguhkan anda minuman apapun" ucap pria sepuh itu sambil berusaha menolak Pil Penyembuh dari Long Tian.


"Tuan, ini buatan saya sendiri mohon jangan sungkan dan jika sudah mohon minumlah teh racikan saya ini" ucap Long Tian dengan ramah sambil meminum teh di gelasnya sampai habis.


"Baiklah jika demikian, Tuan muda terima kasih" ucap pria sepuh itu sambil menelan Pil Penyembuh tingkat dewa itu dan saat pil itu masuk ke dalam tenggorokannya pria sepuh itu mulai merasakan khasiatnya, sakit di tubuh nya mulai menghilang, dan dia juga merasakan jika semua luka luka di tubuhnya menghilang.


"Tuan muda ini benar benar ajaib, semua sakit dan luka di tubuh tua ini benar benar menghilang" ucap pria sepuh itu yang langsung berdiri dan membungkuk ke Long Tian.


"Tuan, duduklah lagi dan minumlah" ucap Long Tian dengan ramah dan di ikuti oleh pria sepuh itu dengan duduk di kursinya kembali serta langsung meminum teh herbal yang disajikan oleh Long Tian.


"Tuan, dimana istri anda" ucap Long Tian dengan ramah.


"Tuan muda karena kami tidak bisa bertani jadi setiap sore hari seperti saat ini semuanya masih berburu di hutan, pria dan wanita semua berburu jika di desa ini agar selain bisa mendapatkan hasil untuk dimakan, masih ada sedikit untuk di jual juga" ucap pria sepuh itu dengan ramah.


"Simpanlah Poci Teh ini untuk istri Tuan nanti jika dia pulang, saya masih memiliki banyak" ucap Long Tian sambil tersenyum dan menyerahkan Poci Teh besar yang ada di depannya itu.


"Tuan muda, istri hamba cukup satu gelas saja" ucap pria sepuh dengan hormat.


"Tuan begini saja jadi anda jangan menolak lagi" ucap Long Tian sambil menuang kembali gelasnya yang sudah kosong dan menyerahkan poci teh besar yang masih penuh itu.


"Tuan muda Terima kasih" ucap pria sepuh itu hendak berlutut namun ditahan oleh Long Tian.


"Tuan duduklah kembali" ucap Long Tian sambil kembali ke tempat duduknya.


"Jika saya boleh tau, apakah sudah lama tidak turun hujan di desa ini" ucap Long Tian dengan ramah.


"Tuan muda, bukankah benua ini memang kekeringan sejak beberapa tahun terakhir, namun kami yakin jika Penguasa 100 galaksi akan berusaha memberikan kami hujan kembali" ucap pria sepuh itu dengan ramah sambil tersenyum dan melihat ke atas langit.


"Apakah anda pernah bertemu dengan Penguasa 100 Galaksi sampai Tuan seyakin ini" ucap Long Tian sambil tersenyum ramah.


"Tuan muda, secara turun temurun kami semua di ajarkan untuk yakin dan percaya dengan sosok Dewa Naga Emas Long Tian sebagai penguasa 100 galaksi dan kami semua yakin dan percaya, bahkan setiap satu bulan kami selalu berdoa bersama di desa ini, namun kami yakin bukan hanya kami saja manusia di dunia yang di bawahi oleh beliau jadi kami yakin suatu hari nanti pasti beliau akan datang kedesa ini atau ke benua lain di dunia ini" ucap pria sepuh itu dengan penuh keyakinan tanpa mengetahui jika yang dia bicarakan itu ada di depannya.


"Tuan kenapa kalian tidak mempunyai hewan ternak di desa ini" ucap Long Tian sambil tersenyum dan melihat sekelilingnya yang tidak melihat satupun hewan ternak khas desa desa.


"Tuan muda kami untuk makan saja sulit jadi semua hewan ternak kami lepas di hutan agar mereka bisa makan, dan yang kami buru juga adalah anak dari hewan hewan ternak kami itu" ucap pria sepuh itu dengan ramah.


"Kalian benar benar berjuang untuk hidup dan bahkan itu tidak menggoyahkan kepercayaan kalian kepadaku" ucap Long Tian dalam hatinya.


"Tuan apakah tidak ada perampok atau penjahat lainnya ke desa ini sampai kalian mengosongkan desa untuk berburu" ucap Long Tian sambil tersenyum.


"Tuan muda, bukankah anda tadi waktu datang kesini melihat jika untuk sampai ke pegunungan ini harus melewati jalanan di tebing curam, dan itulah sebabnya tidak ada perampok kesini karena sejak jembatan kami hancur kami harus melewati jalanan di tebing sungai yang surut itu." Ucap pria sepuh menjelaskan.