
Long Tian terus melesat keatas dan dia kembali mencoba berteleportasi secara acak dan muncul di langit sebuah kota. Namun karena hari sudah malam jadi dia memilih untuk berada di atas awan dahulu.
Long Tian berdiri di atas awan dan tidak lagi menggunakan kekuatan 100 galaksi nya, dia mengeluarkan artefak kuil naga emas dan melemparnya, artefak kuil naga emas itu perlahan membesar dan mencapai ukuran aslinya.
"Waktunya untuk tidur sebentar" ucap Long Tian sambil berjalan memasuki kamarnya di kuil naga emas dan dia mengaktifkan segel perlindungan dan segel pembalik serangannya.
Waktu berlalu dan matahari pagi sudah bersinar kembali, kini dia sudah duduk di teras nya kamarnya atau mungkin buat orang lain akan menyebutnya pelataran kuil naga emas sambil menikmati Teh Herbal dan buah apel emas.
" Aku tidak tau tau ada dengan kota ini kenapa aku di teleportasi kan ke atas kota ini" ucap Long Tian sambil mengawasi kota di bawahnya dengan mata emasnya.
"Tidak ada yang aneh sama sekali dengan kota ini, semuanya normal, tapi siapa yang berdoa dengan begitu kuatnya meminta kehadiranku" ucap Long Tian lagi.
"Anak anak saja masih banyak yang berjalan dan berlari lari di jalanan kota ini jadi seharusnya semuanya normal" ucap Long Tian
"Sepertinya aku memang harus turun dan melihat kota itu langsung" ucap Long Tian sambil berteleportasi 200 meter diluar kota itu, dia sengaja tidak menyimpan kuil naga emas karena mungkin dia akan kembali kesana jika tidak menemukan apapun di kota ini dan seandainya dia berpindah dunia pun dia masih bisa memanggilnya.
Long Tian berjalan memasuki kota itu dan seperti biasa dia harus membayar untuk memasuki kota itu dan di kota ini dia dikenakan 5 koin emas.
Long Tian kemudian berjalan di dalam kota itu dan dia masih belum menemukan petunjuk tentang alasan dia di teleportasikan ke atas kota itu.
"Kedai Teh ini ramai juga sebaiknya aku mencicipi teh di kedai ini" ucap nya sambil memasuki kedai itu dan duduk di dekat jendela agar dia bisa sambil melihat sekitarnya.
"Tuan Muda apakah anda ingin memesan Teh Racikan terbaik kami" ucap seorang pria sepuh yang kemungkinan pemilik kedai itu.
"Benar Tuan, dapatkan saya mencicipi teh terbaik kedai anda ini" ucap Long Tian dengan ramah.
"Mohon tunggu sebentar Tuan Muda" ucap pria sepuh itu sambil bergegas masuk ke bagian belakang kedai teh itu.
"Apakah kau mendengarnya dua hari kelompok pembunuh mencoba membunuh tuan kota kita" ucap seorang pria di meja samping Long Tian.
"Ya aku mendengarnya, padahal Tuan kota kita sangat baik dan di kota ini dia bahkan tidak memiliki musuh" ucap pria di depan pria tadi.
"Apa kalian berdua tidak tau, Tuan kota kita itu hendak dibunuh karena menolak menaikan pajak di kota kita ini" ucap pria di meja lain.
"Apakah hanya karena itu saja, bukankah karena Tuan kota menolak untuk menjadikan kota ini sebagai basis militer' ucap pria lainnya.
"Kau salah Tuan kota kita menolak ada wajib militer untuk kita dan sebagai gantinya dia diminta untuk menaikan pajak kota namun dia menolaknya karena tidak mau menyusahkan semua warganya, aku tahu ini karena aku kan kerja di kediaman Tuan Kota" ucap seorang pria lainnya yang berpakaian prajurit.
"Kasian Tuan kota kita, dia juga bahkan menolak kita rakyat nya untuk menjaga kediamannya" ucap pria lainnya.
"Aku sejak kejadian itu selalu berjaga jika malam bersama prajurit yang jaga di gerbang kota" ucap pria lainnya.
"Kalian semua benar, Tuan Kota sangat menyayangi kita bahkan rela jika harus kehilangan nyawanya demi kita, kita beruntung memiliki pemimpin sebaik dia" ucap pria lainnya.
"Kalian tahu ngak, kalau Tuan kota meminta kita semua yang ada di kediaman nya berdoa agar sosok dalam legenda bisa hadir membantunya" ucap pria yang berpakaian prajurit.
"Nah benar jika begitu umumkan saja agar kita berdoa bersama sama pagi ini di kuil dewa naga emas Long Tian saja bagaimana, bukankah hanya disana yang cukup luas untuk kita berdoa bersama sama" ucap Pria sepuh pemilik kedai itu yang datang sambil membawa minuman pesanan Long Tian.
"Tuan Muda silahkan cicipi, anda sepertinya baru berkunjung di kota kami" ucap pria sepuh itu sambil menyajikan minuman pesanan Long Tian.
"Tuan Terima kasih, memang benar saya baru tiba di kota ini karena saya memang sedang mencari pengalaman" ucap Long Tian dengan ramah.
"Silahkan dinikmati dulu oleh Tuan Muda, jika anda tidak cocok maka saya akan merubahnya" ucap pria sepuh itu.
"Tuan duduklah dulu, agar saya bisa nyaman mencoba teh buatan anda" ucap Long Tian sambil tersenyum ramah.
Pria sepuh itu kemudian duduk di kursi depan Long Tian yang memang kosong.
Long Tian langsung menuang teh itu ke gelas giok yang ada dan meminum teh itu.
"Tuan Teh anda sangat bagus, anda menggunakan daun Krisan dan teratai bulan sebagi bahan utama teh ini" ucap Long Tian sambil tersenyum.
"Anda benar benar hebat Tuan muda, baru anda yang bisa menyebutkan bahan utama teh racikan terbaik saya ini" ucap pria sepuh itu dengan kagum.
"Saya hanya asal menebak nya saja, maaf jika saya boleh tau dimanakah kuil dewa naga emas yang tadi anda sampaikan" ucap Long Tian dengan ramah.
"Kami juga akan kesana bersama sama, kita bisa berjalan bersama jika tuan muda tidak keberatan" ucap pria sepuh itu sambil berdiri.
"Kalian semuanya kenapa masih disini ayo beritahu warga yang lain tapi jangan lupa bayar dulu minuman kalian" ucap pria sepuh itu dengan lantang namun sopan.
Satu persatu berdiri dan membayar minuman mereka lalu meninggalkan kedai teh itu sehingga hanya tinggal Long Tian dan pemilik kedai saja.
*Tuan berapakah Teh saya ini" ucap Long Tian dengan ramah.
"Tuan muda itu hanya 10 perak saja" ucap pemilik kedai dengan ramah.
"Tuan, ini terimalah" ucap Long Tian sambil memberikan 10 koin emas.
"Tuan muda 10 koin perak bukan koin emas" ucap pria sepuh itu
"Tuan ini untuk rasa yang lidahku rasakan dan untuk khasiat yang teh anda buat untuk badan saya" ucap Long Tian dengan ramah
"Baiklah tuan muda, terima kasih" ucap pria sepuh itu dengan gembira.
"Tuan apa nama kota ini" ucap Long TianĀ
"Tuan Muda, kota ini adalah kota yang dibentuk untuk menghormati penguasa 100 galaksi Dewa Naga Emas Long Tian dan kota ini bernama Kota 100 Galaksi" jawab pria sepuh itu sambil tersenyum.