Naga Emas Sang Pembantai

Naga Emas Sang Pembantai
Galaksi ke 82 part 15


"Tuan muda bisa kami tahu maksud kedatangan anda ke desa kami" ucap seorang pria sepuh yang berjaga di gerbang desa itu dengan ramah sambil memperlihatkan Long Tian yang berpenampilan layaknya seorang pangeran.


"Tuan saya hanya sedang berpetualang saja dan kebetulan lewat di desa anda, saya berencana untuk ke kedai makan yang ada di desa ini jika diperkenankan" jawab Long Tian dengan ramah sambil tersenyum hangat.


"Tuan muda untuk ke kedai makan anda silahkan melalui jalan yang itu nanti ada sebelah kanan anda" ucap pria sepuh itu dengan ramah sambil menunjuk jalan sebelah kiri di dalam desa itu.


"Tuan terima kasih, apakah ada yang terjadi sehingga banyak yang berjaga di desa ini" ucap Long Tian dengan ramah.


"Tuan muda, kami hanya bersiaga saja, karena kami tidak ingin ada perampok atau orang orang sekte aliran hitam yang mendatangi desa kami ini" ucap pria sepuh lainnya dengan ramah.


"Baiklah jika demikian, saya akan ke kedai makan dahulu terima kasih sudah mengijinkan saya masuk" ucap Long Tian dengan ramah sambil melangkah memasuki bagian dalam desa itu dengan santai dan di balas anggukan kepala oleh semua yang berjaga di gerbang desa itu.


"Entah sampai kapan orang orang sekte aliran hitam dan para perampok itu akan selalu menjadi teror menakutkan bagi semua orang di 100 galaksi ini, jalanku untuk ke galaksi surgawi sepertinya harus aku tunda sebentar sampai 100 galaksi ini benar benar bisa menjadi galaksi yang damai untuk semua umat manusia" ucap Long Tian dalam hatinya sambil melangkah menuju kedai makan yang sudah dia lihat dan cukup ramai disana.


"Bagunan disini semuanya bangunan tua, penduduk disini benar benar menjaga adat mereka" ucap Long Tian dalam hatinya sambil melihat sekelilingnya dan kini dia sudah semakin dekat dengan kedai makan itu.


"Sepertinya ini kedai makan yang dimaksud oleh para penjaga gerbang desa" ucap Long Tian dalam hatinya sambil memasuki kedai makan itu dan duduk di salah satu kursi yang kosong di pojokan kedai makan yang merupakan sebuah rumah besar yang di sulap menjadi kedai atau tepatnya rumah makan.


"Tuan muda selamat datang di rumah makan kami, apakah anda mau mencoba hidangan daging atau sayuran kami" ucap seorang wanita yang mendatangi meja Long Tian.


"Nyonya, bisakah saya mencoba semua makanan terbaik anda disini dan teh terbaik anda juga tentunya" jawab Long Tian dengan ramah sambil tersenyum hangat ke wanita tersebut.


"Tuan muda silahkan menunggu sebentar, saya akan menyiapkan semua hidangan terbaik saya untuk anda" ucap wanita itu sambil melangkah pergi ke bagian dapur rumah makan itu.


"Master Sekte Jima, saya minta tolong jika nanti sekte sudah berjalan atur beberapa wanita muda untuk membersihkan selalu kediamanku" ucap Long Tian melalui telepati ke master sekte Jima.


"Baik Penguasa, saat ini saya sedang menerima lebih dari lima ratus orang yang katanya diperintahkan oleh anda untuk kesini, dan mereka semua dahulunya adalah orang orang sekte aliran putih" ucap master sekte Jima melalui telepati.


"Mereka yang dahulunya adalah tetua jadikan kembali tetua, mereka yang berpotensi menjadi wakil ketua maka jadikan wakil tetua, buatlah pengaturan dengan bijaksana dan sesuai dengan potensi masing masing jangan melihat dari tingkat kultivasi karena masih bisa di tingkatkan di dalam sekte" ucap Long Tian melalui telepati.


"Baik Penguasa, saya akan menjalankan semua perintah anda" ucap master sekte Jima melalui telepati.


"Baiklah jika ada kendala segera kabari saya mumpung saya masih di dunia ini" ucap Long Tian melalui telepati sambil melihat sekelilingnya.


"Semoga semuanya lancar dan galaksi ke delapan puluh dua ini bisa mengamankan semua galaksi di bawahnya" ucap Long Tian dalam hatinya sambil terus mengawasi setiap pengunjung rumah makan itu.


"Kakek Yu, apakah pasukan wanita memiliki kendala" ucap Long Tian melalui telepati ke Long Yu karena akan mencolok perhatian pengunjung lainnya jika menggunakan cincin komunikasi.


"Lapor Penguasa, Mereka masih belum mengabari saya jika mereka memiliki kendala dan sudah saya sampaikan agar tidak terburu buru agar mereka benar benar bisa membersihkan semua ras iblis darah dan para pengikutnya" ucap Long Yu melalui telepati.


"Kakek Yu, bisakah anda perintahkan tuan kota penempa untuk membuat medali sekte pilar naga emas dan buat dari Giok putih saja agar bisa di tulis nantinya untuk nama nama pemegang medali itu, jika sudah selesai maka kabari saya akan saya tarik kesini saja" ucap Long Tian melalui telepati.


"Baik Penguasa, saya akan segera ke kota penempa untuk membuat medali tersebut, tapi apakah tidak sebaiknya ada perbedaan warna antara master sekte dan lainnya" ucap Long Yu melalui telepati.


"Kakek Yu, Atur saja bagaimana baiknya, dan sampaikan agar membuatnya dengan segera, dahulukan pembuatan medali ini saja dulu, buat sebanyak mereka bisa" ucap Long Tian melalui telepati sambil melihat jika wanita pemilik rumah makan itu datang dengan membawa Satu Poci Teh dan satu gelasnya.


"Baik Penguasa" jawab Long Yu melalui telepati kembali.


"Tuan muda sambil menunggu silahkan di cicipi dahulu teh racikan saya ini, semoga anda berkenan dengan rasa nya" ucap wanita pemilik rumah makan itu sambil tersenyum dan menuangkan Teh untuk Long Tian.


"Nyonya terima kasih" ucap Long Tian dengan ramah sambil tersenyum hangat ke wanita pemilik rumah makan itu.


"Baik Tuan muda saya akan kembali lagi nanti untuk membawakan makanan anda" ucap wanita pemilik rumah makan itu sambil tersenyum hangat dan kemudian meninggalkan Long Tian kembali.


"Teh ini sungguh nikmat, tapi kenapa dia menggunakan pucuk bunga mawar bukan pucuk melati, namun teh ini benar benar berbeda karena menggunakan ginseng juga sebagai bahan utamanya" ucap Long Tian dalam hatinya sambil menikmati Teh tersebut dan dia telah selesai memeriksa semua orang di rumah makan itu yang ternyata semuanya berhati baik.


"Aku benar benar tidak habis pikir, sudah satu tahun sejak kehancuran sekte aliran putih dan sampai sekarang pihak istana masih saja tidak mengirimkan pasukan untuk menjaga kota dan desa termasuk desa kita ini" ucap seorang pria sepuh yang duduk di meja sebelah kanan Long Tian ke pria sepuh lainnya.


"Entahlah aku juga tidak tahu kenapa pihak kekaisaran selalu saja bersikap seakan tidak peduli, bukankah aliansi sekte aliran putih hancur juga gara gara berperang di ibukota kekaisaran" ucap pria sepuh lainnya itu.


"Tapi setidaknya kita beruntung sungai yang membelah desa kita ini tidak lagi mengering namun aku jadi takut jika sekte aliran hitam yang ada di muara sungai bangkit lagi" ucap pria sepuh lainnya.


"Itulah kenapa kepala desa meminta kita semua ikut serta menjaga desa kita ini" ucap pria sepuh lainnya.