Naga Emas Sang Pembantai

Naga Emas Sang Pembantai
Galaksi ke 73 part 10


"Desa ini sangat besar dan rumah rumah disini rata rata bangunan kuno namun sangat terawat" ucap Long Tian sambil melihat sekelilingnya dan dia merasakan perasaan nyaman di desa ini.


Long Tian terus melangkah dengan tenang sambil menikmati pemandangan rumah rumah penduduk di kiri dan kanannya yang sangat asri dengan model bangunan masa lalunya.


"Sepertinya ini kedai yang dimaksud oleh mereka yang berjaga di gerbang desa" ucap Long dalam hatinya yang melihat sebuah rumah kuno dengan banyak orang yang duduk di dalamnya.


Long Tian yang sangat mencolok dengan pakaian bangsawan menarik perhatian semua orang yang ada di kedai makan itu yang lebih tepatnya di sebut rumah makan, mereka semua menghentikan aktivitas mereka dan melihat ke arah Long Tian.


Seorang pria sepuh mendekati Long Tian yang berdiri di depan pintu masuk rumah makan itu.


"Tuan muda mari silahkan masuk dan anda bisa duduk sebelah sini" ucap pria sepuh itu sambil menunjukkan sebuah meja dengan dua kursi berhadap hadapan.


Long Tian hanya tersenyum dan berjalan ke arah meja itu lalu duduk di kursi yang menghadap ke arah luar.


"Tuan, bisakah anda menyajikan hidangan dan teh hangat terbaik anda" ucap Long Tian dengan ramah sambil tersenyum hangat.


"Sebentar Tuan Muda saya akan siapkan yang terbaik untuk anda" ucap pria sepuh itu dengan ramah dan kemudian meninggalkan Long Tian untuk menyiapkan pesanan Long Tian.


"Sepertinya aku salah kostum, pakaian ku terlalu mencolok perhatian mereka semua, tapi ini juga bagus untuk melihat kejujuran mereka" ucap Long Tian dalam hatinya sambil memperhatikan sekelilingnya.


"Sudah satu bulan kita berjaga di gerbang kota tapi tidak ada informasi akan kedatangan manusia manusia gunung itu, apakah kita akan terus berjaga jaga" ucap seorang pria sepuh yang merupakan pengunjung rumah makan itu.


"Kepala desa saja setiap hari berjaga di gerbang desa masa kita tidak menemaninya, bukankah dia saja sampai rela hartanya terkuras untuk membantu kita selama musim kemarau ini, kita beruntung meskipun hujan disini hanya sebentar tapi setidaknya tanah mulai subur lagi' ucap pengunjung sepuh lainnya.


"Kenapa dewa naga emas tidak mampir ke desa kita ya" ucap seorang pria sepuh lainnya dan ini langsung menarik perhatian semua orang termasuk Long Tian.


"Paman, kita semua mengetahui jika dewa naga emas telah memberikan kita hujan dan menunjuk kaisar baru untuk kita, kita hanya bisa berdoa saja agar kaisar baru itu mau memperhatikan kita dan memperbaiki jembatan yang terputus itu, karena jika kita harus terus memasuki hutan dan melingkari pegunungan seterusnya kita akan terisolasi" ucap seorang pemuda.


"Apakah kita harus mengirim seseorang ke benua tengah untuk bertemu dengan kaisar Han An yang baru dilantik itu" ucap seorang pria sepuh lainnya.


"Tidak dalam waktu dekat, karena biar bagaimana pun juga memerlukan waktu untuk kaisar baru untuk menyesuaikan diri dengan keadaan dunia kita ini, kita tetap bersabar saja" ucap seorang pria sepuh lainnya.


"Jadi bagaimana rencana kepala desa mengenai pembangunan jembatan itu, apakah tetap akan dilaksanakan atau rencana keduanya untuk melebarkan jalanan di hutan itu agar kereta kuda pembawa jualan daun teh dan biji kopi kita bisa melintas" ucap pria sepuh lainnya.


"Entahlah aku tidak tahu, manusia gunung ini sudah benar benar membuat keresahan untuk kita semua bahkan aku setiap malam susah tidur jadinya" ucap pria sepuh lainnya.


Long Tian terus mendengarkan mereka semua dan melihat jika pria sepuh pemilik rumah makan itu sudah datang kembali dengan membawa pesanannya.


"Tuan Terima kasih" ucap Long Tian dengan ramah.


Long Tian kemudian menikmati hidangan ayam bakar dengan bumbu khas desa itu yang terasa sangat nikmat untuknya.


"Kepala desa sepertinya anda lapar, duduklah disini" ucap seorang pria sepuh di samping meja Long Tian ke seorang pria sepuh yang tadi mempersilakan Long Tian memasuki desa itu.


"Jadi yang sangat ramah di gerbang desa itu adalah kepala desa" ucap Long Tian dalam hatinya sambil terus menikmati hidangan ayam bakar yang sangat besar itu.


"Kepala desa apakah kita jadi membangun jembatan atau kita akan melebarkan jalanan di hutan, jika kita terus begini aku takut jika nantinya persediaan makanan kita akan terus menipis, lagi pula sudah musim hujan jadi kita bisa bertani lagi dan menjual hasil pertanian kita lagi" ucap seorang pria sepuh.


"Baiklah kita siang ini kita akan kembali melihat jembatan itu lagi apakah masih memungkinkan kita perbaiki atau kita harus melebarkan jalanan di dalam hutan, namun jalanan hutan terlalu beresiko untuk kita" ucap kepala desa itu dengan ramah sambil tersenyum ramah ke semua warga yang ada di kedai makan itu.


"Kepala desa bukankah manusia gunung tidak ada di benua timur kita ini dan mereka juga sangat jauh untuk kesini" ucap seorang pemuda.


"Itu benar tapi apa salahnya kita berjaga jaga, bukankah dengan kita siap lebih baik dari pada kita harus kehilangan rumah rumah kita ini" ucap kepala desa itu dengan ramah.


"Jadi masalah mereka ini sebenarnya masalah mereka yang terisolasi akibat jembatan yang hancur, baiklah setelah ini aku akan membantu mereka" ucap Long Tian dalam hatinya sambil terus menikmati hidangan ayam bakar yang terasa sangat nikmat untuknya.


"Kalian semua bersiaplah selesai aku makan kita akan melihat jembatan, persiapkan semua yang sekiranya diperlukan untuk membangun jembatan itu" ucap kepala desa itu sambil kemudian mulai memakan makanannya yang sudah di sajikan.


"Tuan, tagihan mereka berikan saja kepada ku nanti, bilang saja anda yang menyumbang mereka untuk hari ini" ucap Long Tian bertelepati ke pria sepuh pemilik kedai itu sambil tersenyum dan memberikan petunjuk jika dia yang bertelepati.


"Baik Tuan muda, terima kasih" ucap pria sepuh pemilik kedai makan itu melalui telepati ke Long Tian.


Long Tian yang sudah selesai menikmati hidangan ayam bakarnya kemudian mulai menikmati Teh hangat nya.


"Prosesnya benar benar pas, teh ini benar benar nikmat" ucap Long Tian dalam hatinya sambil dengan santai menikmati Teh nya.


Waktu terus berlalu satu persatu pengunjung meninggalkan rumah makan itu demikian juga dengan kepala desa itu juga dan semuanya di gratiskan oleh pria sepuh pemilik rumah makan itu sehingga kini hanya tinggal Long Tian yang ada di sana.


"Hujan berhentilah" ucap Long Tian dalam hatinya sambil fokus berkomunikasi dengan semesta ini.


"Tuan berapakah saya harus membayar hidangan anda ini dan bisakah saya membeli banyak daun teh kering untuk saya konsumsi" ucap Long Tian dengan ramah.


"Tuan muda semuanya jadi lima belas keping emas saja sudah termasuk dengan tagihan yang lainnya, untuk pembelian daun teh kering anda bisa membelinya ke kepala desa kami yang tadi duduk sebelah anda namun sepertinya anda harus menunggu karena kami semua akan mencoba memperbaiki jembatan yang terputus dahulu" ucap pria sepuh pemilik rumah makan itu dengan ramah.