
"Saya akan membakarnya juga nantinya, sekarang biarkan saja dahulu agar banyak penduduk yang melihatnya supaya mereka mulai bisa berpikir jernih" ucap Long Tian dengan ramah sambil kemudian menikmati Teh nya.
Seorang pria sepuh terbang dengan cepat dan berdiri di depan rumah makan itu, Long Tian memeriksa jiwanya dan melihat jika pria sepuh itu berhati baik.
"Tuan muda ini tuan kota" ucap pria sepuh itu dengan ramah memperkenalkan pria sepuh yang kini berdiri di depan Long Tian.
"Tuan muda terima kasih atas bantuan anda" ucap pria sepuh itu dengan ramah sambil membungkukkan badannya di depan Long Tian.
"Tuan kota duduklah" ucap Long Tian dengan ramah.
"Terima kasih tuan muda" ucap pria sepuh itu sambil duduk di depan Long Tian dengan sopan.
"Tuan kota apakah ada yang bisa saya bantu" ucap Long Tian dengan ramah.
"Tuan muda nama saya Foo Gang dan bantuan anda sangat berarti untuk saya dan seluruh penduduk kota ini, bolehkan saya mengetahui siapa nama penolong kami" ucap pria sepuh yang merupakan tuan kota itu.
"Foo Gang, apa hubungan mu dengan Foo Sui" ucap Long Tian dengan ramah yang balik bertanya.
"Tuan muda Foo Sui adalah adik saya namun saya tidak tahu dimana dia sekarang, selama ini mereka mengurung saya dan keluarga saya di kediaman saya sehingga saat saya tahu orang orang sekte kalajengking hitam menyerang desa adik saya, saya tidak bisa berbuat apa apa" ucap Foo Gang dengan sangat sopan dan tampak kejujuran di matanya.
"Tuan kota, Kultivasi mu dan mereka sebanding kenapa kau tidak melawan" ucap Long Tian kemudian.
"Tuan muda jika saya melawan mereka maka akan banyak nyawa penduduk kota yang akan melayang, demi mempertahankan nyawa mereka jadi saya mengalah" ucap tuan kota itu dan langsung berdiri berlari ke depan rumah makan itu palu lalu memuntahkan seteguk darah hitam yang pekat.
Tuan kota itu kemudian kembali duduk di depan Long Tian dengan sangat sopan.
"Kau terkena racun kalajengking, beruntung kau masih selamat, telan pil penyembuh ini jika kau masih ingin tetap hidup" ucap Long Tian dengan ramah sambil memberikan sebutir Pil Penyembuh tingkat pencipta karena racun kalajengking itu sudah sangat menyebar di seluruh tubuh Foo Gang.
"Terima kasih tuan muda" ucap Foo Gang sambil menerima Pil Penyembuh tingkat pencipta itu palu lalu menelannya.
"Foo Sui kenapa kau tidak bilang jika tuan kota adalah kakak kandungmu" ucap Long Tian melalui telepati ke Foo Sui.
"Maafkan hamba penguasa, hamba hanya kecewa saja karena dia menutup kota dan tidak menolong hamba saat hamba dan para penduduk membutuhkan bantuan nya" jawab Foo Sui melalui telepati dan terdengar sedih.
"Kau itu, kakak mu di tahan oleh orang orang sekte aliran hitam dan di beri racun kalajengking beruntung dia masih bisa aku selamatkan" ucap Long Tian melalui telepati.
"Maafkan hamba penguasa" jawah Foo Sui melalui telepati.
Sementara itu Foo Gang merasakan khasiatnya pil penyembuh tingkat pencipta milik Long Tian, semua organ tubuh nya membaik dan bahkan semua luka lamanya menghilang.
Foo Gang kemudian berlari kembali ke luar dan kembali memuntahkan seteguk darah hitam yang sangat pekat yang merupakan semua racun di tubuhnya.
Sedangkan Long Tian menarik Foo Sui kehadirannya, Foo Sui yang kini berdiri di depan Long Tian sempat kaget karena tiba tiba berpindah tempat namun dia segera sadar dan langsung berlutut di depan Long Tian lalu bersujud tiga kali untuk menghormati Long Tian dan hal ini mengejutkan semua orang yang ada disana.
"Hormat kepada Penguasa" ucap Foo Sui dengan sangat hormat.
"Foo Gang nanti saja beramah tamah dengan adikmu nya" ucap Long Tian dengan ramah
"Penguasa kenapa di jalanan kota ini banyak sekali darah" ucap Foo Sui dengan sangat hormat dan Long Tian hanya tersenyum mendengarnya.
"Adik kenapa kau memanggil tuan muda ini dengan sebutan penguasa" ucap Foo Gang melalui telepati le Foo Sui.
"Kakak, didepan kita ini adalah dewa naga emas Long Tian, Penguasa Abadi 100 galaksi" ucap Foo Sui melalui telepati.
Foo Gang langsung berlutut dan bersujud tiga kali untuk menghormati Long Tian.
"Hormat kepada Penguasa" ucap Foo Gang sambil tetap berlutut dan membuat semua yang ada di rumah makan itu kebingungan.
"Hormat mu aku terima, Kau duduklah lagi" ucap Long Tian dengan ramah.
"Terima kasih Penguasa" ucap Foo Gang dengan sangat hormat sambil kembali duduk di kursinya.
"Foo Gang, siapa lagi yang terkena racun kalajengking gurun seperti mu" ucap Long Tian dengan ramah.
"Penguasa, anak dan istri hamba juga terkena racun kalajengking gurun, dan mereka saat ini sudah tidak sadarkan diri namun masih bernafas" ucap Foo Gang sambil menundukkan kepalanya.
"Kalian berdua ikut aku" ucap Long Tian sambil berdiri.
"Baik Penguasa" ucap Keduanya dengan hormat dan kompak lalu berdiri.
"Tuan terima kasih atas teh nya" ucap Long Tian sambil tersenyum dan melangkah menuju ke depan gerbang kota itu.
"Sama sama tuan muda eh maaf penguasa" ucap pria sepuh pemilik rumah makan itu karena teringat jika Tuan kota mereka memanggil Long Tian dengan sebutan penguasa dan dibalas senyuman oleh Long Tian.
Long Tian yang melangkah menuju gerbang kota itu langsung melayang karena banyak nya darah di jalanan kota itu di ikuti oleh Foo Gang dan Foo Sui dibelakangnya.
Long Tian kemudian mengeluarkan api lava suci abadi miliknya dan membakar semua mayat yang menggunung di depan gerbang kota itu, semua mayat itu secara cepat menjadi abu seutuhnya dalam hitungan detik akibat api Lava suci abadi yang semakin meningkat kekuatan nya itu.
"Kita ke rumahmu, cepat kau tunjukkan jalannya" ucap Long Tian dengan ramah sambil melayang di depan Foo Gang dan Foo Sui.
"Baik Penguasa" ucap Foo Gang sambil melesat dengan kecepatan penuhnya di ikuti oleh Long Tian dan juga Foo Sui.
Mereka kemudian sampai di sebuah rumah besar dan langsung memasuki salah satu kamar di rumah itu.
Ada satu orang perempuan paruh baya dan seorang anak perempuan yang berusia kurang lebih dua puluh lima tahun terbaring di atas tempat tidur kamar itu.
"Kalian berdua duduklah biar aku menolong mereka berdua" ucap Long Tian yang melihat ada empat kursi yang melingkari sebuah meja.
"Baik Penguasa" ucap keduanya dengan kompak sambil kemudian melangkah menuju kursi kursi itu.