
Tidak ada satupun yang bisa Long Tian ambil dari perkemahan itu karena semuanya sudah menjadi abu.
"Baiklah waktunya kembali ke dalam tendaku" ucap Long Tian sambil berteleportasi kembali ke dalam tendanya bersamaan dengan datangnya pangeran Hinjo.
"Tuan muda Tian, apakah anda sudah beristirahat" ucap Pangeran Hinjo di luar tenda Long Tian.
"Pangeran masuklah" jawab Long Tian dengan ramah sambil membukakan pintu tenda nya.
"Terima kasih Tuan muda Tian, maaf mengganggu anda yang sedang beristirahat" ucap Pangeran Hinjo dengan sangat hormat.
"Duduklah dulu dan ceritakan ada apa anda kesini" ucap Long Tian dengan ramah.
"Tuan muda Tian apakah anda tidak mendengar beberapa kali suara Ledakan barusan" ucap Pangeran Hinjo dengan hormat.
"Saya mendengarnya dan biarkan saja, toh suaranya juga sangat jauh jadi buat apa kita khawatir, aku tahu apa yang kau pikirkan, sudah tidak perlu khawatir seperti itu semuanya masih aman untuk kita bermalam di sini" ucap Long Tian dengan ramah dan tersenyum hangat ke Pangeran Hinjo.
"Baik Tuan muda Tian, saya merasa lebih tenang jika anda mengatakan seperti itu" ucap Pangeran Hinjo dengan hormat dan nampak wajah nya lebih santai tidak lagi tegang.
"Baiklah jika demikian saya akan beristirahat dahulu sambil menunggu makanan nya selesai di tangkap dan dimasak" ucap Long Tian sambil menguap.
"Baik Tuan muda Tian, silahkan anda beristirahat dahulu" ucap Pangeran Hinjo dengan hormat dan langsung berdiri lalu meninggalkan Long Tian kembali sendirian di dalam tenda itu.
"Anak ini terlalu khawatir dan sebaiknya aku tiduran dulu saja sambil menunggu ikan bakar itu matang" ucap Long Tian berbicara sendiri sambil melangkah menuju ke tempat tidurnya dan langsung tiduran di atasnya.
Dua jam berlalu dan long Tian sudah membuka matanya kembali lalu turun dari atas tempat tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi di tendanya untuk membersihkan dirinya.
"Sepertinya mereka sudah mulai membakar ikan dan daging rusa" ucap Long Tian sambil melangkah keluar dari dalam tendanya lalu menemui mereka semua dan nampak jika ada banyak api unggun yang dikelilingi oleh para prajurit sedangkan Pangeran Hinjo sedang duduk bersama dengan Jenderal Po.
"Tuan muda Tian, silahkan duduk" ucap Jenderal Po dengan hormat sambil mempersilahkan Long Tian untuk duduk di sampingnya.
"Terima kasih Jenderal" ucap Long Tian sambil duduk santai di kursi itu.
"Tuan muda Tian, mari silahkan dinikmati" ucap Pangeran Hinjo dengan hormat mempersilahkan Long Tian untuk ikut menikmati ikan dan daging rusa bakar yang disiapkan oleh para prajurit itu.
Mereka semua berpesta menikmati hidangan hidangan yang disiapkan dengan semangat oleh para prajurit dan sampai larut malam mereka semua baru beristirahat di Tenda masing masing.
Di pagi hari mereka semua melanjutkan perjalanan mereka dan kembali beristirahat di malam hari sehingga memerlukan waktu sampai sepuluh hari untuk mereka sampai di sebuah gerbang yang sangat besar yang di jaga oleh ratusan orang tingkat pencipta abadi.
"Baiklah, tapi aku akan menemani mu" ucap Long Tian sambil turun dari atas singa tunggangannya itu demikian juga dengan yang lainnya.
"Tuan muda Tian mari kita temui mereka" ucap Pangeran Hinjo sambil melangkah maju menemui mereka di dampingi oleh Long Tian.
"Kalian berdua datang kesini apa tujuan kalian" ucap seorang pria sepuh yang maju dari barisan orang orang yang berjaga di pintu gerbang dengan suara yang datar.
"Tuan perkenalkan nama saya Hinjo, maksud kedatangan kami kesini untuk meminta pertolongan sekaligus meminta perlindungan kepada anda semua" ucap Hinjo sambil menyerahkan medali naga yang merupakan harta warisan nya.
Pria sepuh itu kemudian menerima medali naga dan memeriksa keasliannya.
"Baiklah kalian berdua ikut dengan ku, biarkan prajurit prajurit mu disini saja, kita akan masuk menemui Yang Mulia di dalam" ucap pria sepuh itu setelah memeriksa keaslian medali naga itu.
Long Tian dan Pangeran Hinjo memasuki pintu gerbang besar tersebut mengikuti langkah kaki pria sepuh itu dan Long Tian melihat jika semuanya merupakan eksistensi yang kuat dan bahkan ada segel kuno transparan yang di pasang di pintu gerbang besar itu.
"Dapat aku pastikan jika eksistensi di gunung terlarang ini sangat kuat namun sayang mereka tidak secara langsung membantu penduduk dunia ini" ucap Long Tian dalam hatinya sambil melihat jika ada seribu orang tingkat pencipta abadi tahap akhir yang berjaga di bagian dalam gunung terlarang itu.
Mereka berjalan menaiki anak tangga yang sangat banyak sampai ke dekat puncak gunung terlarang itu dan ada sebuah istana besar yang berdiri di sana, sedangkan jarak ke puncak masih sekitar satu kilometer dari sana.
"Ini istana naga dan kita akan menemui Yang Mulia Kaisar jadi kalian saya mohon jaga sikap kalian nanti di dalam" ucap Pria sepuh itu dengan ramah dan nampak sangat bersahabat berbeda sikapnya waktu pertama kali bertemu di luar gerbang yang di balas senyuman oleh Long Tian dan anggukan kepala oleh Pangeran Hinjo.
Pria sepuh itu membawa Pangeran Hinjo dan juga Long Tian ke dalam sebuah aula yang sangat besar dan megah.
"Hormat kepada Yang Mulia Kaisar naga" ucap pria sepuh itu sambil membungkukkan badannya dan pangeran Hinjo langsung berlutut di depan kaisar itu yang masih duduk di singgasananya.
Sang kaisar melihat ke arah Long Tian dan langsung berdiri lalu berlutut dan bersujud tiga kali di depan Long Tian sehingga membuat semuanya menjadi kaget karena orang yang paling mereka hormati tidak pernah sekalipun menundukkan kepalanya di hadapan siapapun di dunia itu.
"Kalian semua apa yang kalian lakukan, cepat beri hormat kepada Penguasa 100 Galaksi" ucap kaisar Naga itu dengan mendominasi sambil terus bersujud lima puluh sentimeter di depan Long Tian.
"Penguasa mohon terima hormat hamba mu ini" ucap kaisar naga itu dengan sangat hormat tanpa mengangkat kepalanya dan kini ratusan orang yang ada di aula itu sudah semuanya bersujud di depan Long Tian demikian juga dengan Pangeran Hinjo.
"Kau itu sudah menjadi kaisar kenapa kau berlutut di depan ku" ucap Long Tian dengan ramah sambil tersenyum hangat dan melihat ke semua orang yang masih dalam posisi bersujud di depannya.
"Penguasa setinggi apapun kekuasaan hamba tidak bernilai apapun jika dibandingkan dengan kekuasaan anda" ucap kaisar naga itu dengan sangat hormat dan masih dalam posisi bersujud.