
"Tuan muda masuk saja bangunan ini, karena semua sewa dan jual beli bangunan di lakukan di dalam bangunan ini" ucap wanita sepuh itu sambil menunjuk bangunan yang pagarnya itu dijadikan tempat bersandar.
"Besok nenek akan kesini jam berapa" jawab Long Tian dengan ramah.
"Tuan muda saya dari pagi sudah berjualan disini jadi besok pagi saya sudah siap disini, anda besok bisa menjumpai saya disini untuk mengambil pesanan anda" ucap wanita sepuh itu dengan ramah dan sopan.
"Baik Nek, saya permisi dulu" Ucap Long Tian sambil memasukkan semua bakpao yang dibelinya kedalam cincin dimensi dan memasuki bangunan besar di belakangnya itu.
"Tuan muda ada yang bisa paviliun Beringin bantu" ucap seorang wanita muda yang menyambut kedatangan Long Tian.
"Nona adakah bangunan toko yang dijual di jalanan utama ini" ucap Long Tian dengan ramah.
"Tuan muda maaf sebelumnya saya harus tahu apa yang hendak anda jual" ucap wanita muda itu dengan ramah.
"Nona bukan saya yang mau berjualan tapi nenek itu, saya hanya ingin memberikannya hadiah saja karena rasa bakpao nya sangat enak sudah sepantasnya dia berjualan di dalam toko" ucap Long Tian sambil tersenyum dan menunjuk wanita sepuh yang masih membereskan gerobaknya itu.
"Tuan muda, ada beberapa toko yang di jual dengan harga termurah lima juta keping koin emas, karena harga toko dan harga kediaman memang lebih mahal harga toko" ucap wanita muda itu dengan ramah.
"Nona harga bukan masalah untukku, bisakah anda menunjukan sekiranya toko yang pas untuk nenek itu berjualan" ucap Long Tian sambil tersenyum dan memberikan satu cincin dimensi yang berisi lima ratus juta keping koin emas dan lima ratus juta tael emas.
Wanita muda itu kemudian melihat isi cincin dimensi itu dan kembali menyerahkannya kepada Long Tian.
"Tuan muda mari ikuti saya" ucap wanita muda itu sambil mengambil beberapa kunci bangunan di laci mejanya.
Mereka berdua keluar dari paviliun Beringin itu dan ternyata nenek penjual bakpao itu sudah meninggalkan lokasi itu.
"Nona apa kau mengenal nenek penjual bakpao itu" ucap Long Tian yang berjalan di samping kanan wanita muda itu.
"Tuan nenek itu, nenek saya sendiri dan saya bisa kerja di paviliun Beringin juga karena nenek yang sejak bertahun tahun jualan di depan paviliun Beringin" ucap wanita muda itu dengan ramah.
"Dimana nenekmu tinggal" ucap Long Tian kemudian.
"Tuan nenek tinggal di kota ini juga meskipun bangunam rumah nya tidak besar namun ada sepuluh anak yang dibesarkan oleh nenek tanpa pamrih sama sekali termasuk saya" ucap wanita muda itu dengan ramah sambil tersenyum hangat dan tetap melangkah.
"Maksud anda apa, saya tidak memahaminya" ucap Long Tian sambil tersenyum ramah.
"Tuan muda, saya anak yatim piatu dan dari kecil saya bertemu nenek dia membawa saya ke rumahnya lalu merawat kami semua dengan hasil berjualan bakpao, kami semua ada sepuluh orang dan saya yang tertua jadi baru saya yang bekerja itu pun berkat bantuan nenek saya bisa bekerja di paviliun Beringin" ucap wanita muda itu dengan ramah
"Sebenarnya nenek melarang kami membantunya membuat bakpao tapi kami suka memaksa jadi akhirnya kami semua bekerja sama untuk membuat bakpao untuk nenek jual, kebetulan adik adik saya ada lima yang laki laki dan mereka sering menangkap ayam hutan di hutan belakang kota ini, itulah sebabnya harga bakpao nenek tetap murah' ucap wanita muda itu dengan ramah sambil menjelaskan semuanya.
Mereka berdua terus berjalan dan sampai di salah satu bangunan besar yang semuanya serba tertutup baik pintu maupun jendelanya.
"Tuan muda ini berada di bagian tengah sentra usaha kota ini, dan bangunan ini juga sebelum nya digunakan sebagai toko kue" ucap wanita muda itu dengan ramah.
"Nona apakah tidak ada yang memiliki dua lantai atau tiga lantai jika tidak yang memiliki kediaman di belakangnya saja" Ucap Long Tian dengan ramah.
"Tuan muda apa tidak terlalu mahal, sebagai pekerja dari paviliun Beringin saya senang jika anda membeli yang terbesar namun karena ini untuk nenek saya jadi saya tidak enak" ucap wanita muda itu dengan ramah sambil menundukkan kepalanya.
"Nona, jika anda mampu maka anda akan memberikan rumah dan toko terbesar atau hanya rumah kecil saja untuk nenek anda" ucap Long Tian sambil tersenyum ramah.
"Yang terbesar" ucap wanita muda itu dengan ramah sambil tetap menundukkan kepalanya.
"Ayo liatkan kepada saya bangunan nya" ucap Long Tian dengan ramah.
"Baik Tuan muda, jika saya boleh tahu kenapa anda begitu baik kepada nenek" ucap wanita muda itu dengan ramah sambil kembali melangkahkan kakinya.
"Tidak ada alasan apapun saya hanya ingin membantu saja" ucap Long Tian dengan ramah sambil melihat sekelilingnya dan dia melihat beberapa penginapan di sana yang akan di cek nantinya apakah ada kamar kosong atau tidak untuk dia menginap.
"Tuan muda sungguh dermawan, kami semua di ajarkan oleh nenek untuk tidak menjadi pengemis dan kami semua dulunya adalah pengemis karena kami hidup sebatang kara, tapi nenek selalu meyakinkan kami jika mujizat itu nyata dan hari ini dengan kehadiran tuan muda saya semakin yakin ucapan nenek adalah benar jika Dewa Naga Emas Long Tian akan membantu kami dengan caranya sendiri" ucap wanita muda itu dengan ramah dan kini berhenti di depan sebuah bangunan besar dan memiliki tiga lantai bangunan.
"Nona apakah ini yang terbesar yang paviliun Beringin jual" ucap Long Tian dengan ramah.
"Benar tuan muda, tapi saya lupa membawa kunci bangunan ini, mohon tunggu sebentar saja saya akan mengambil dulu kuncinya" ucap wanita muda itu dengan ramah.
"Tidak perlu, saya setuju saja, saya akan membeli bangunan ini, ayo kita kembali ke paviliun Beringin" ucap Long Tian dengan ramah.
"Tuan muda bangunan ini di tawarkan oleh pemiliknya senilai lima belas juta keping koin emas tapi anda nantinya akan saya usulkan untuk keringanan mungkin bangunan ini bisa terjual hanya dua belas juta keping koin emas saja" ucap wanita muda itu dengan ramah.
"Apakah itu berarti kau tidak mendapatkan bonusnya" ucap Long Tian dengan ramah sambil tertawa ringan.
"Tidak apa apa tuan muda, bukankah ini untuk nenek saya juga" ucap wanita muda itu dengan ramah sambil kembali melangkahkan kakinya menuju paviliun Beringin.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka berdua sampai di paviliun Beringin itu lagi dan Long Tian kembali duduk di kursi yang sama dengan sebelumnya.