MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
KEGALAUAN KENAN


Bila dia menangis untukmu, pastikan air matanya bukan karena sedih untukmu, tetapi karena bangga memilikimu.



Setelah menjemput Kenan, Ryan mengajak Kenan untuk ke restorant dan memakan sesuatu terlebih dahulu.



“Pa, kenapa papa yang jemput Kenan?” tanya Kenan kepada Ryan.



“Hm, papi dan mami sedang berada di bandara sayang.”



“Untuk apa mereka di bandara? Apa mereka akan pergi dan meninggalkan Kenan?” tanya Kenan dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.



“Tidak sayang, untuk apa mereka meninggalkanmu?” Ryan terkejut karena Kenan memiliki pemikiran seperti itu.



“Apa papi dan mami tetap akan menyayangi Kenan setelah adek Kenan lahir pa?” tanya Kenan kembali.



“Tentu saja mereka akan selalu menyayangi Kenan sampai kapanpun, kenapa kamu bertanya seperti ini Kenan?” Ryan semakin bingung dengan pertanyaan Kenan yang menurutnya semakin aneh.



“Kenan kan bukan anak papi dan mami, Kenan takut jika nanti adek-adek Kenan lahir papi dan mami akan melupakan Kenan.”



Ryan dan Rose saling tatap mendengar ucapan seorang anak kecil yang seperti itu.



“Sayang, papa adalah papa kandung Kenan. Tapi papa sangat yakin jika rasa sayang mereka kepada Kenan jauh lebih besar dibandingkan papa.”



“Benarkah pa?”



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1605957522380.jpg)



“Jika Kenan merasa Kenan sudah tidak di sayang oleh papi dan mami, pintu rumah papa selalu terbuka untuk Kenan, papa akan sangat senang jika Kenan tinggal dengan papa.”



Kenan menggelengkan kepalanya bermaksud menolak ajakan papanya.



“Tidak pa, Kenan mau tinggal sama papi dan mami. Kenan mau biarin papa fokus buat nyariin Kenan mama baru.”



Ryan tersenyum dan melirik ke arah Rose, sedangkan Rose yang melihat Ryan sedang meliriknya hanya berdehem tanpa mengatakan apapun.



“Lalu untuk apa papi dan mami ke bandara pa?” Kenan kembali bertanya kepada Ryan.



“Untuk menjemput kakek dan nenek Kenan.”



“Benarkah? Apa kakek dan nenek akan datang?” Kenan merasa sangat antusias menyambut kedatangan kakek dan neneknya.



Ryan mengangguk mengiyakan ucapan anaknya itu, ia sangat tau betul jika Kenan akan bersemangat jika menyangkut masalah keluarga Kalandra.



Ryan melajukan mobilnya sampai di depan rumah Kalandra. Kenan yang mengetahui jika dirinya sudah sampai di rumahnya dengan segera turun dari mobil Ryan dan berlari masuk ke dalam rumah.



“Kenan sayang jangan lari nanti jatuh!” teriak Ryan dari dalam mobil.



“Kenapa dia selalu semangat jika menyangkut keluarga Kalandra..” gumam Ryan namun masih bisa di dengar oleh Rose.



“Sabarlah kak, sejak lahir Kenan besar di rumah ini di beri kasih sayang yang berlimpah di rumah ini, tentu saja dia akan lebih mementingkan keluarga ini. Darah memang lebih kental di bandingkan air, tapi bukan berarti air tidak bisa mengalahkan darah, itulah kenapa Kenan tetap menjadikan keluarga ini yang pertama walaupun dia tau jika mereka bukanlah orang tua kandungnya.” Ucap Rose yang berusaha untuk menenangkan Ryan.



“Hm, kamu benar Rose. Kenan tidak membenciku saja aku sudah sangat senang.” Ucap Ryan sambil menatap kea rah Rose.



Rose tersenyum ke arah Ryan, Rose bersyukur karena Ryan bisa menerima semua yang di jelaskan oleh Rose.



Ryan dan Rose turun dari mobil dan memasuki rumah Kalandra. Bi Rini menyambut kedatangan mereka.



“Selamat datang tuan Ryan dan nona Rose. Silahkan masuk dan duduk di dalam.” Ucap bi Rini yang mempersilahkan Ryan dan Rose masuk ke dalam rumah Kalandra.



“Papa,, papi dan mami tidak ada di rumah.” Rengek Kenan yang menghampiri Ryan.



“Bi, Kalandra dan Khansa belum datang?” tanya Ryan kepada bi Rini.



“Belum tuan, katanya tuan dan nyonya besar belum sampai di Indonesia.” Ucap bi Rini.




Bandara


Kalandra dan Khansa masih menunggu kedatangan orang tua mereka di bandara.


“Mas, apa mereka akan selama ini ya? kalau begitu tadi kita pulang dulu ke rumah untuk beristirahat sebentar.” Ucap Khansa yang sudah mulai kelelahan.


Kalandra kasihan melihat istrinya mulai kelelahan.


“Kita tunggu di mobil aja ya sayang, kamu bisa beristirahat di sana.” Ajak Kalandra.


“Em baiklah, kita tunggu di mobil saja ya..”


Akhirnya Kalandra dan Khansa memutuskan untuk menunggu orang tua mereka di mobil sambil beristirahat.


Kalandra mencoba untuk menghubungi orang tuanya di luar mobil karena takut mengganggu Khansa yang sedang tertidur.


“Halo pa?”


“Halo Ndra.”


“Papa kemana sih? Kok belum sampai? Aku dan sasa sudah menunggu sejak tadi.” ucap Kalandra.


“Ha? kita sudah ada di jalan, papa sedang menemani mama kamu belanja.”


“Apa? Kok papa ga bilang sih? Kita udah nungguin kalian dari tadi, Khansa sampe kecapekan pa yaampun..” Kalandra mengeluh karena papa dan mamanya tidak mengabari mereka sama sekali.


“Sudah, kalian berdua pulanglah lebih dulu. Kita akan segera ke rumahmu setelah berbelanja.” Ucap papa Arnold.


Akhirnya Kalandra mematikan telfonnya dan menaruhnya kembali di kantongnya. Kalandra melirik ke dalam mobil dan menatap istrinya yang sedang tertidur.



“Papa sama mama nyari gara-gara aja nih, kasihan kan Khansa sampe kecapekan gini.” Gumam Kalandra.


Kalandra masuk ke dalam mobil, sedangkan Khansa terbangun karena mendengar suara pintu yang tertutup.


“Mas, gimana? Papa dan mama belum sampai?” tanya Khansa yang baru saja terbangun.


“Mereka sudah ada di mall sayang, mama sedang berbelanja.” Ucap Kalandra.


“Ha? jadi mereka sudah berada di Indonesia mas? Terus dari tadi kita di sini ngapain? Jagain bandara?” Khansa mencoba mencairkan suasana karena Khansa tau jika suaminya sedang kesal.


“Gausah bercanda deh sayang..”


“Hehehe sudahlah mas, jangan kesal begitu. Yang penting papa dan mama sampai dengan selamat itu udah lebih dari cukup.” ujar Khansa.



Akhirnya Kalandra tersenyum mendengar ucapan Khansa, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke rumah mereka.



“Andra pa?” tanya mama Alisha yang melihat papa Arnold yang baru saja mematikan telfonnya.



“Iya ma, Andra dan Sasa menunggu kita dari tadi di bandara.”



“Ha? benarkah? Kenapa kita tidak melihat mereka tadi?” tanya mama Alisha.



“Entahlah ma, papa sudah menyuruh mereka pulang ke rumah, kasihan Khansa sudah kelelahan.” Ucap papa Arnold.



“Biarkanlah mereka, mama ingin membeli barang-barang untuk menantu dan cucu-cucu mama.” Ucap mama Alisha.



Kalandra dan Khansa sudah berada di rumah mereka dan melihat mobil Ryan terparkir di halaman rumah.


“Loh, kak Ryan masih ada di rumah kita mas?” tanya Khansa.


“Iya sayang, mungkin karena kita belum datang jadi dia menunggu Kenan di rumah.”


Kalandra dan Khansa masuk ke dalam rumah mereka dan di sambut oleh Kenan yang berlari ke arah mereka.


“Papi, mami..” teriak Kenan.


“Hai sayang..” Khansa memeluk dan mencium anaknya itu.


“Loh nenek sama kakek mana mi?” tanya Kenan sambil menoleh ke belakang papi dan maminya.


“Nenek ternyata sedang berada di mall sayang, dia sedang berbelanja untuk membelikan mainan untuk Kenan.” jelas Khansa.


Kenan hanya mengangguk mendengar ucapan maminya.


“Hai kak sasa.” Sapa Rose.


“Hai Rose.. kamu mau melihat kamar anak-anakku tidak? Mas Andra sudah mengaturnya dan lucu sekali.” ajak Khansa.


“Baiklah aku sangat penasaran.”


“Kenan mau ikut sayang?” tanya Khansa yang di balas anggukan oleh Kenan.


Akhirnya Khansa, Rose dan Kenan menuju ke kamar bayi kembar Khansa.


Di ruang tamu Ryan dan Kalandra berbincang-bincang membicarakan berbagai macam hal.


“Ndra, kamu tau tadi Kenan bertanya apa kepadaku?” tanya Ryan.


“Pasti dia bilang kalo aku dan Khansa tidak akan menyayanginya lagi.” Ucap Kalandra yang membuat Ryan terkejut.


“Kok kamu tau?” tanya Ryan.


“Dia juga bertanya seperti itu kepadaku dan Khansa. Mungkin dia takut jika kasih sayang kami akan berkurang kepadanya.”


“Aku harap kamu tidak akan membeda-bedakan antara Kenan dengan anakmu yang lain ya Ndra.” Ucap Ryan.


“Tenang saja, aku tidak akan pernah membedakan mereka. Mereka adalah anak-anak kandungku.” Ucap Kalandra.


Ryan hanya tersenyum menanggapi ucapan Kalandra.


“Semoga saja apa yang kamu katakan benar Ndra.” Batin Ryan.