MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
ROBERT 2


Belajar untuk tegas pada diri sendiri. Tau mana yg jadi prioritas. Masih banyak hal baik yg lebih penting dari sekedar ngurusin galau hati.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1607222516075.jpg)



Hari-hari berlalu dengan sangat bahagia di keluarga Arnold dan Alisha, mereka sangat bahagia karena memiliki dua putra yang sangat tampan dan menggemaskan, Arnold pun sudah menyiapkan perusahaan untuk kedua anaknya tersebut.



Sampai akhirnya saat Robert dan Kalandra berada di bangku SMA mereka bersekolah di sekolah yang sama, hanya saja Robert saat itu berada di kelas 2 dan Kalandra berada di kelas 1 SMA.



Robert mencari keberadaan adiknya di dalam kelasnya untuk mengajak Kalandra istirahat bersama. Di kelas Kalandra Robert melihat jika adiknya sedang di kerumuni teman-teman wanita di kelasnya, namun Kalandra menyuekinya dan melihat mereka dengan tatapan sinisnya.



Berbeda dengan Robert yang memang tidak suka berteman dengan siapapun selain adiknya, Kalandra justru memiliki banyak teman laki-laki, Kalandra sangat ramah dan baik terhadap teman-teman laki-lakinya tapi kepada teman wanita Kalandra hanya berteman dengan Hani dan Amelia.



Kalandra menoleh ke arah pintu kelasnya dan melihat Robert sudah berdiri di depan kelasnya dengan senyum di wajahnya.



“Kakak!” teriak Kalandra dan menghampiri Robert.



“Syukurlah kakak datang tepat waktu, jadi aku bisa keluar dari wanita-wanita bringas itu.” Ujar Kalandra.



“Kamu ini Ndra, padahal kamu memiliki banyak teman laki-laki, tapi kenapa tidak dengan teman wanita?” tanya Robert.



“Aku juga memiliki 2 teman wanita kak.”



“Benarkah?”



“Hm, apa mau aku kenali?” tanya Kalandra.



“Ga perlu, untuk apa aku mengenal teman-temanmu yang hanya suka bermain dan membuang-buang waktunya, termasuk kamu.” Ketus Robert.



“Kak, tapi mereka teman-temanku kamu sebagai kakakku harusnya mengetahui siapa saja teman-teman yang bermain denganku.” Ucap Kalandra.



“Aku tau, Ryan dan Edo adalah sahabat terbaikmu bukan? Kalian selalu bermain bersama sampai lupa waktu pulang.”



“Tidak, aku tidak pernah melupakan waktu pulang kak.”



“Kamu ini sudah besar, setidaknya belajarlah menjadi dewasa dan sudah waktunya kamu belajar mengenai bisnis untuk meneruskan perusahaan papa.” Ujar Robert.



Kalandra sangat tau jika kakaknya memliki ambisi yang sangat besar untuk menjadi sukses seperti papanya, tapi kadang sifatnya yang terlalu berambisi itulah yang membuat Kalandra kesal.



Kalandra menghentikan jalannya, sedangkan Robert yang menyadari jika adiknya sudah tidak berada di sebelahnya menoleh ke belakang.



“Kenapa berhenti?” tanya Robert.



“Kak, bisa ga sih kakak tuh jangan ngomongin bisnis terus menerus? Kita ini anak SMA kak kita seharusnya senang-senang bersama teman-teman seusia kita, bukannya memikirkan urusan orang dewasa.” Ketus Kalandra.



“Tidak, aku tidak bisa bermain-main dan bersenang-senang dengan teman seusiaku karena aku memiliki adik yang suka membuang-buang waktunya, lalu jika aku juga membuang-buang waktuku dan jika ada hal buruk yang terjadi di perusahaan siapa yang akan membantu papa sedangkan kedua anak laki-lakinya tidak bisa di andalkan dan tidak mengerti apapun tentang bisnis.” Ketus Robert.



Kalandra terdiam mendengar ucapan kakaknya itu, dia tidak menyangka jika kakaknya memiliki pemikiran sejauh itu, sedangkan dirinya hanya tau menghabiskan waktu bermain bersama teman-temannya.



“Kamu kembalilan ke kelas, aku akan membelikan makanan dan minuman kesukaanmu dan akan membawakannya ke kelasmu.” Ujar Robert yang langsung meninggalkan Kalandra menuju kantin sekolah.



Kalandra hanya bisa terdiam menatap kepergian kakaknya itu. Kalandra dan Robert sebenarnya sangat menyayangi satu sama lain, namun mereka tidak pernah bisa menunjukannya dan memberitahu satu sama lain.



Akhirnya Kalandra memutuskan untuk kembali ke kelasnya dan menunggu kakaknya di dalam kelas.



“Nih.” Robert menyodorkan roti dan susu cokelat kesukaan Kalandra.



Kalandra mengambil roti dan susu yang di berikan oleh Robert.



“Terimakasih kak.” Ucap Kalandra sambil tersenyum kepada kakaknya.



“Belajarlah yang benar.” Ucap Robert sambil mengacak-ngacak rambut Kalandra lalu berjalan keluar kelas Kalandra.



Jam pelajaran telah selesai, seperti biasa pak Asep menjemput Robert sedangkan Kalandra biasanya pulang bersama teman-temannya.



“Tunggu dulu pak Asep, kita tunggu Kalandra.” ucap Robert kepada pak Asep.



“Bukankah biasanya tuan muda Kalandra tidak ikut pulang bersama kita?” tanya pak Asep.



“Sepertinya mulai hari ini dia akan pulang bersama kita pak Asep.” Ucap Robert sambil tersenyum licik.



“*Dia pasti memikirkan ucapanku setengah mati, aku yakin dia akan berubah sedikit demi sedikit*.” Batin Robert.




“Jadi kamu sudah memilih jalan yang benar?” ejek Robert.



“Diamlah kak, ini untuk papa bukan untukmu.” Ketus Kalandra.



Robert hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah adiknya itu.



Mereka sudah berada di halaman rumah, mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah bersamaan.



Seperti biasa, setelah pulang sekolah Robert dan Kalandra menuju dapur untuk mengambil minum dan camilan untuk di bawa ke kamar mereka.



“Eh denger-denger tuan muda Robert bukan anak kandung keluarga ini ya..”



“Iya, tuan muda Robert di pungut oleh tuan dan nyonya besar sejak bayi.”



“Wah berarti harta keluarga ini akan di berikan kepada tuan muda Kalandra dong?”



“Entahlah aku juga tidak paham, tapi bisa jadi sih karena dia bukan anak kandungnya.”



**Deg**..



Percakapan para pelayan itu membuat Robert dan Kalandra terkejut. Kalandra menoleh ke arah kakaknya sedangkan Robert hanya melihat lurus ke depan lalu berlari menuju kamarnya.



Kalandra yang melihat hal itu segera lari mengikuti kakaknya namun terlambat karena Robert sudah membanting pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam.



“Kak, kakak jangan dikunci pintu kamarnya. Ayo kita tanyakan kepada papa dan mama untuk kejelasannya kak.” Kalandra berusaha untuk membujuk Robert namun tidak ada jawaban.



Akhirnya Kalandra menuju ke kamar orang tuanya untuk memberitahu masalah yang terjadi hari ini.



Di kamar, Robert hanya menangis dan melempar barang-barang yang ada di dalam kamarnya sambil berteriak.



Robert tidak pernah menyangka jika dia hanyalah anak yang di pungut orang tuanya.



“Aku bukan anak papa dan mama? Aku hanyalah anak pungut? Tidak! Kenapa? Kenapa seperti ini? aku sudah berusaha untuk menjadi anak yang baik, aku sudah merelakan masa mudaku hanya untuk belajar tentang bisnis, tapi mereka akan memberikan perusahaan itu hanya kepada Kalandra? lalu untuk apa selama ini aku bersusah payan mempelajari bisnis keluarga!? Aaakhh aku benci aku benci semua orang yang berada di rumah ini!!” teriak Robert sambil melemparkan barang-barang yang ada di kamarnya.



Sedangkan Kalandra yang berada di kamar orang tuanya segera mengetuk pintu dan berteriak memanggil papa dan mamanya.



“Ada apa Kalandra?” tanya Alisha.



“Ma, kak Robert ma.” Ucap Kalandra sambil terbata-bata.



“Ada apa? Ada apa dengan Robert?!”



“Aku dan kakak mendengar percakapan para pelayan, katanya kakak bukan anak kandung papa dan mama, katanya kakak hanya anak pungut.” Ucap Kalandra.



Alisha yang mendengar hal itu sangat terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa, dia tidak menyangka jika pelayan mereka memiliki mulut yang tidak bisa di jaga sama sekali.



Alisha segera menghampiri kamar anak sulungnya itu dan mengetuk pintu kamarnya meminta Robert membuka pintunya dan berbicara dengannya.



“Robert sayang, jangan begini kamu adalah anak kandung papa dan mama selamanya akan tetap seperti itu. Biarkan mama menjelaskan kepadamu sayang.” ucap Alisha sambil mengetuk pintu kamar anaknya.



Robert membuka pintu kamarnya dan membiarkan mama dan adiknya masuk ke dalam kamarnya untuk berbicara.



“Sayang, kamu adalah anak papa dan mama kamu adalah kakak Klandra sayang.” ucap Alisha sambil memeluk Robert dengan sangat erat.



“Sudahlah ma, Robert baik-baik saja.” ucap Robert.



“Kak, kamu tetap jadi kakak Kalandra kak tidak akan ada yang berubah.” Ucap Kalandra sambil menangis.



“Kamu ini sudah besar masih menangis.” Ejek Robert.



“Kakak juga habis menangis kan, tuh matanya bengkak.” Balas Kalandra.



“*Kalian selamanya akan menjadi anak-anak mama yang paling berharga*.” Batin Alisha yang tersenyum sambil menatap kedua anaknya.



Setelah kejadian itu, hubungan Robert dan Kalandra semakin menjauh. Robert tidak pernah memperdulikan Kalandra, Robert juga tidak pernah menghampirinya di kelasnya.


Sikap baik Robert kepada Kalandra hanya kembali baik-baik saja jika di hadapan papa dan mamanya, tetapi saat sedang berduaan Robert kembali dingin terhadap Kalandra hingga membuat Kalandra merasa aneh dengan perubahan sikap Robert.


Sejak saat itu hubungan Kalandra dan Robert tidak pernah baik, dan Robert juga selalu menginginkan apa yang di inginkan Kalandra.


Kalandra hanya bisa mengalah kepada kakaknya itu, Kalandra juga tidak pernah mengadukan hal itu kepada orang tuanya karena ia tau jika orang tuanya sangat menyayangi Robert.