MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
KAMI TIDAK MAU DI EJEK


Ken sudah mengantar Andini ke rumahnya untuk membereskan semua barang-barang yang akan di bawa ke apartment Ken.


"Apa harus membawa barang lama? Kamu ga mau beli baru aja? Aku akan memberikan uang untuk kamu belanja." ucap Ken.


"Tidak Ken, selagi yang lama masih layak pakai kenapa harus beli yang baru? Aku tau kamu banyak uang tapi kamu juga harus pintar menabung dan jangan menghamburkan uang." Ucap Andini.


"Iya iya bawel, kamu ini seperti mami saja!" Protes Ken.


"Bawel untuk kebaikan itu perlu! Lagian bukankah semua fasilitasmu di ambil?" Tanya Andini dengan menahan tawanya dan keluar dari dalam mobil.


"Apa? Kamu tau dari mana?"


"Dari kak Belinda, sudahlah aku tidak butuh harta yang berlimpah, kamu bertanggung jawab dan bisa mencukupi biaya sehari-hari saja sudah cukup untukku." ucap Andini.


Andini segera meninggalkan mobil dan masuk ke dalam rumah yang dulu di tempatnya bersama dengan sang ayah.


Andini melihat sekeliling ruangan kecil tersebut dan melihat bingkai foto orang tuanya yang masih tertata dengan rapih.


"Hikss,, ayah ibu, Andini sudah memiliki pasangan yang baik tapi kenapa rasanya masih hampa tanpa adanya ayah dan ibu yang menemani Andini? Hikss.." Ucap Andini sambil menangis.


Ken yang merasa Andini sudah lama berada di dalam rumahnya itu segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya untuk memastikan keadaan Andini.


"Din, kamu kenapa menangis?" Tanya Ken yang melihat Andini sedang terduduk di lantai sambil menangis.


"Hikss,, Ken, aku merindukan kedua orang tuaku.." ucap Andini.


"Bagaimana sebelum kita menikah, kita mengunjungi makam ibumu dan menjenguk ayahmu di penjara?" Tanya Ken.


"Apa kamu mau menemaniku? Aku takut ayahku memarahiku." ucap Andini.


"Tentu saja, aku akan menemanimu." ucap Ken sambil tersenyum ke arah Andini.


Setelah mendengar ucapan Ken, Andini segera merapihkan barang-barangnya dan membawa beberapa foto yang ada di rumahnya.


"Ayo kita pulang, hari sudah semakin gelap, kamu pasti sudah lapar kan?" ucap Andini.


"Kita akan makan malam bersama keluargaku, papi dan mami menyuruhku untuk membawamu ke rumah." Ucap Ken.


Ken mengambil tas yang di pegang Andini lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya. Mereka berdua segera pergi menuju kediaman orang tua Ken untuk makan malam bersama.


Beberapa saat kemudian mereka berdua sampai di depan rumah papi Kalandra, Ken segera menuntun Andini untuk turun dan masuk ke dalam rumahnya.


"Din, jangan gugup gitu ini adalah kedua kalinya kamu datang ke rumahku." ucap Ken yang mengetahui kalau Andini sedang gugup.


Andini memang sangat gugup hari itu, dia mengingat saat pertama kali masuk ke rumah ini penuh dengan kebencian.


"Kan beda Ken, kemarin aku membenci keluargamu dan sekarang aku sebagai calon menantu mereka, tentu saja aku gugup." ucap Andini.


"Kamu tenang saja, kamu tau bukan kalau kedua orang tuaku sangat baik, selama kamu tidak melakukan kesalahan mereka juga tidak akan memarahimu." jelas Ken sambil mempererat genggaman tangan Andini.


Walaupun Ken belum benar-benar bisa melupakan Audrey dan membuka hati untuk Andini, tapi Ken berusaha untuk mendekatkan diri kepada Andini, dia yakin kalau dia dan Andini akan saling menyukai satu sama lain seiring berjalannya waktu.


"Hai pi, mi.." sapa Ken kepada kedua orang tuanya yang berada di ruang tamu.


"Hai Andini, bagaimana kabarmu? Ken bilang kamu habis di pukuli sama ayahmu lagi? Bagaimana keadaanmu sekarang, apa sudah lebih baik?" Tanya mami Khansa yang sangat mengkhawatirkan keadaan Andini.


"Mi, kalo tanya satu-satu Andini juga bingung mau jawab yang mana dulu." ucap Ken.


"Ah iya, maaf ya sayang mami khawatir sekali saat mendengar kabar dari Ken."


"Iya, dia sampai memohon untuk pergi ke apartment Ken dan melihat keadaan Andini." sambung papi Kalandra.


"Mas! Kamu ini buka kartu orang aja deh." ketus mami Khansa.


Andini senang di perhatikan seperti itu, semenjak ibunya tiada dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya lagi.


"Mami, mami tenang saja Ken sudah mengobati luka Andini dengan sangat baik." ucap Andini sambil menggenggam tangan mami Khansa.


"Syukurlah kalau begitu, ayo duduk kamu pasti lelah sekali, kita akan makan malam bersama setelah ini."


"Lebih baik Andini beristirahat di kamar Ken saja mi, makan malam masih lama dia pasti ingin beristirahat." ucap papi Kalandra.


"Kenapa harus di kamar Ken mi? Ken tidur di mana dong?" Tanya Ken.


"Kamar yang lain belum sempat di bersihkan jadi lebih baik Andini beristirahat di kamarmu, kamu tidak perlu beristirahat kamu harus segera ke perusahaan." ucap papi Kalandra.


"Perusahaan? Perusahaan siapa pi?"


"Perusahaanmu tentunya!"


"Bukannya papi melarang Ken ke perusahaan."


"Karena Andini sudah mau menikahimu, jadi kamu sudah di perbolehkan untuk pergi ke perusahaan."


Ken tersenyum senang mendengarnya, begitu juga dengan Andini yang senang melihat kebahagiaan di wajah Ken.


Ken segera mengantar Andini ke kamarnya untuk beristirahat.


"Aku penasaran deh, sebenarnya siapa yang membersihkan kamar dan apartmentmu Ken? Semuanya sangat bersih dan rapih." ucap Andini.


"Semuanya mami yang membersihkan, mami selalu berkunjung ke apartmentku seminggu sekali untuk membersihkan ruangan dan mengganti sayuran yang ada di kulkas, begitu juga dengan kamar ini." jelas Ken.


"Ah begitu, pantas saja semua tertata dengan rapih dan bersih."


"Tapi setelah ini kamu yang akan melakukan tugas mami benarkan?" Ucap Ken yang membuat Andini tersipu mendengarnya.


"Aku mau beristirahat, kamu keluar sana pergi ke perusahaanmu setelah itu pulanglah untuk makan malam bersama." ucap Andini.


Akhirnya Ken keluar dari kamarnya dan membiarkan Andini beristirahat dengan nyenyak di sana.


Di dalam kamar Andini merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Ken, namun dia merasakan ada sesuatu di bawah bantal.


Saat Andini mengambil benda tersebut dia tersenyum getir melihat bingkai foto yang berisi wajah seorang wanita cantik di dalamnya.


"Ini pasti Audrey, dia bahkan masih menyimpan fotonya di bawah bantal, sedangkan aku sudah terlalu berharap dengan hubungan ini." gumam Andini.


Andini tidak tau kalau semenjak kejadian naas malam itu, Ken sama sekali belum tidur di kamarnya dan belum menyingkirkan kenangan tentang Andini di kamarnya.


Andini memutuskan untuk tidak memusingkan hal itu dan berusaha memejamkan matanya agar tertidur.


Sedangkan di bawah Ken, papi Kalandra dan mami Khansa di kagetkan dengan kedatangan Key yang berteriak.


"Aaaaa!! Papi mami!!" teriak Key.


"Yaampun Key! Kamu ini perempuan, kamu tidak boleh berteriak begitu!" tegur mami Khansa.


"Maaf mi, habisnya Key lagi seneng banget!"


"Ada apa sih Key sampai kamu kegirangan begitu?" Tanya Ken.


"Jangan kaget ya, jangan kaget ya, aku di lamar sama om beruang!!" teriak Key kembali.


Semua orang yang ada di sana tidak menyangka ternyata Bernard akan melamar Key secepat itu.


"Wah ternyata kak Bernard gerak cepat sekali ya! Selamat ya Key, tapi aku dulu yang harus menikah!" ucap Ken.


"Iya bawel aku tau!" ketus Key.


"Bagaimana kalau pernikahan kalian di adakan secara bersamaan agar kita tidak lelah berkali-kali." usul papi Kalandra.


"No!" Teriak Ken dan Key secara bersamaan.


"Kenapa kalian ini kompak sekali! Emangnya kenapa kalau di adakan bersamaan?"


"Kami malu mami, dulu saja aku malu kalau harus memakai pakaian kembar dengan Ken, apalagi kalau aku harus menikah bersamaan dengan Ken pasti teman-temanku mengejekku." rengek Key.


"Iya mi, kami tidak mau di ejek." sambung Ken.


Papi Kalandra dan mami Khansa hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak kembarnya itu.