
Lebih baik kalah dengan hasil kerja keras sendiri daripada kamu menang tapi hasil kerja keras orang lain.
Kenan menghampiri Belinda dan Diana yang masih saling melempar tatapan tajam satu sama lain.
“Apa-apaan ini!?” tanya Kena pura-pura tidak mengetahui apapun.
“Sayang.. aku di pukul sama wanita tidak tau diri ini..!” teriak Diana dengan nada manjanya sambil menghampiri Kenan.
Sedangkan Belinda yang melihat kelakuan Diana hanya tersenyum sinis lalu berjalan ke meja kerjanya dengan santai.
“Bel, apa benar yang di katakana Diana? Apa kamu memukulnya?” tanya Kenan dengan nada dinginnya.
Belinda kesal karena ia merasa Kenan lebih mementingkan Diana di bandingkan dirinya, Belinda hanya melirik ke arah Kenan dengan tajam.

“Menurutmu!?” ketus Belinda.
“Lihatkan? Dia itu hanyalah wanita murahan Kenan, kamu jangan mau di tipu olehnya!” ucap Diana.
“Apa kamu ingin di pukul kembali Diana!?” ucap Kenan dengan nada santainya.
“Dia tidak akan berani memukulku kembali jika ada kamu di sini.”
“Tapi bukan dia yang akan memukulmu kali ini.”
“Lalu siapa?”
“Aku!” ketus Kenan sambil menatap tajam ke arah Diana.
“Kenan? aku percaya kamu ga mungkin kasar.” ucap Diana yang sebenarnya merasa takut karena perkataan Kenan.
“Tapi kalau sudah menyangkut wanita yang aku cintai aku bisa melakukan apa saja Diana!”
Deg..!
Perkataan Kenan membuat Diana dan Belinda terkejut dan melihat Kenan secara bersamaan.
“Kenan, kamu mencintai wanita itu? Jadi kamu mengakhiri hubungan kita karena wanita ini?” ucap Diana yang mulai kesal.
“Aku mengakhiri hubungan kita karena aku tau semua yang kamu lakukan di belakangku Diana!”
Diana terkejut dengan ucapan Kenan, dia tidak tau apa yang di maksud Kenan, kelakuan yang seperti apa yang sudah di ketahui oleh Kenan.
“A,,apa yang kamu ketahui Kenan!?”
“Apa perlu aku sebutkan satu-satu? Aku bahkan mengetahui gaya apa yang kamu pakai saat melayani para sugar daddymu itu!” ketus Kenan dengan nada yang meninggi dan membuat Diana tidak berkutik lagi.
“Selama ini aku tau semua kelakuan busukmu Diana! Tapi aku tidak memperdulikannya karena aku ingin menikahimu dan membuatmu berubah menjadi Diana yang sebelumnya aku kenal, tapi kamu tidak pernah menganggapku penting!”
Diana terkejut mendengar ketulusan di hati Kenan untuknya selama ini, namun dia sudah menyia-nyiakannya.
“Kembalilah kepadaku Kenan! aku akan mulai merubah semua sifat burukku satu per satu secara perlahan.” Ucap Diana.
“Maaf Diana aku tidak bisa kembali bersamamu, karena sejak saat kamu keluar dari mobilku waktu itu aku sudah menemukan orang yang pantas untuk aku perjuangkan!” tegas Kenan sambil melihat Belinda yang masih menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Diana kesal saat melihat mata tulus Kenan salng bertatapan dengan mata Belinda, Diana tidak suka jika Belinda mendapatkan Kenan.
“*Aku tidak akan membiarkan wanita penggoda itu medapatkanmu Kenan*!” batin Diana lalu pergi meninggalkan Kenan dan Belinda tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Maaf! Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Kenan.
Belinda tersenyum melihat Kenan yang mengkhawatirkan dirinya, namun di sisi lain Belinda juga kasihan melihat Diana.
“Apa kamu tidak ingin menyusul Diana? Sepertinya dia sangat kesal tadi.” ucap Belinda.
“Aku sudah tidak ingin membahasnya lagi, ayo kita bekerja jangan memikirkan hal yang tidak penting.” Ucap Kena sambil tersenyum lalu masuk ke dalam ruangan.
Rey
“Rey kamu mau kemana?” tanya Robert yang melihat Rey sudah sangat rapih.
“Mau ke rumah om Kalandra pa, Rey mau menjenguk mereka pasti mereka kesepian cuma berduaan aja di rumah, kebetulah Rey juga sedang tidak ada kuliah.” Jelas Rey kepada papanya.
“Baiklah, hati-hati ya titip salam papa kepada mereka.”
“Baiklah pa Rey berangkat dulu ya..” pamit Rey lalu pergi meninggalkan rumahnya.
Setelah beberapa menit mengendarai motor besarnya, Rey sampai di depan rumah Kaladra dan segera masuk ke dalam.
“Assalamualaikum..” ucap Rey.
“Waalaikumsalam..” ucap semua orang yang ada di rumah.
“Kak Rey!!” teriak Elsa yang semangat karena kedatangan Rey.
“Kamu ngapain di sini!?” ketus Rey.
“Mau nemenin mami Khansa, sama mau ketemu kak Rey.” Ucap Elsa sambil memamerkan gigi putihnya.
Elsa memang menyukai Rey dan selalu saja mengganggunya walaupun Rey seringkali mengatainya namun Elsa tidak pernah merasa tersinggung dengan setiap ucapan Rey.
“Rey, kamu ke sini mau jenguk om dan tante apa mau berdebat dengan Elsa?” tanya Khansa.
“Eh iya sampe lupa kan gara-gara cewe nyebelin ini tante, tante sasa apa kabar?” ucap Rey sambil menatap tajam ke arah Elsa lalu beralih ke Khansa dan mencium punggung tangan Khansa.
“Kak, kakak ga mau nanya keadaa Elsa?” tanya Elsa.
“Ih, ngapain! Selama kamu masih se cerewet ini berarti kamu baik-baik saja!” ketus Rey.
“Kak, kakak itu ganteng sekali kalau sedang kesal. Bisakah kak Rey kesal hanya kepadaku dan jangan kesal kepada wanita lain?” ucap Elsa dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
“Dia ini sebenarnya wanita macam apa sih, aneh sekali!” batin Rey sambil menatap tajam ke arah Elsa.
“Tante, di mana om Kalandra? Rey mau ke om Kalandra aja males di sini ada yang bikin telinga Rey rusak!” ucap Rey sambil menatap Elsa.
“Om kamu ada di kamar, pergilah ke sana tante juga pusing jika harus mendengar kalian bertengkar terus!” ucap Khansa.
Setelah mengetahui keberadaan omnya, Rey segera pergi ke kamar omnya dan meninggalkan Khansa dan Elsa di ruang tamu.
“Mi, kenapa kak Rey selalu seperti itu sama Elsa? Perasaan kalo sama kak Key kak Rey selalu perduli, tapi kenapa kalau sama Elsa kak Rey malah kayak gitu?” ucap Elsa dengan wajah sedihnya.
Khansa yang melihat Elsa bersedih itu segera memeluk Elsa untuk menenangkannya dan agar tidak bersedih kembali.
“Apa kamu menyukai Rey Elsa?” tanya Khansa.
Elsa yang mendapat pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba langsung melepaskan pelukannya dari Khansa.
“Mami, Elsa..”
“Sudahlah mami itu tau bagaimana perasaan anak perempuan mami. Kalau memang kamu suka dengan Rey mami tidak melarangnya, kamu sudah besar sekarang selama kamu tau batasan-batasannya mami tidak akan pernah melarangmu menyukai laki-laki atau berpacaran Elsa.”
“Tapi kak Rey selalu menjauhiku mi..”
“Tidak masalah, selama hatimu masih menyukainya kejarlah terus dia. Namun saat hatimu mulai lelah mengejar laki-laki yang tidak memperdulikanmu, pergilah. Berarti laki-laki itu tidak pantas untukmu. Dia akan menyesal suatu saat nanti.”
“Apakah kak Rey akan menyukai Elsa mi?”
“Mami juga tidak tau sayang, kamu harus mencobanya untuk mengetahui perasaannya.” Ucap Khansa sambil tersenyum.
Khansa adalah pendengar dan pemberi nasehat terbaik untuk semua orang, semua nasehatnya selalu membangun dan tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar kepada orang lain.
Di kamar Kalandra, Rey yang sudah berada di sana sedang memijat kepala omnya yang sedang sakit.
“Apa om selalu sakit seperti ini?” tanya Rey.
“Jarang sih, namun akhir-akhir ini sepertinya lebih sering.” Ucap Kalandra.
“Apa tidak sebaiknya om periksa ke dokter saja om?”
“Untuk apa Rey, ini hanyalah penyakit orang tua saja.”
“Justru karena itu om, karena om sudah mulai lanjut usia sebaiknya om harus sering periksa kesehatan di rumah sakit karena orang tua itu rawan sekali terhadap penyakit.” Jelas Rey.
“Nanti saja, saat kamu mau mengambil alih perusahaan papamu baru om akan periksa kesehatan ke dokter.” Ucap Kalandra yang juga berusaha untuk membujuk keponakannya.
“Om,, apa papa yang menyuruh om membicarakan hal ini?” tanya Rey.
“Tidak Rey, papamu tidak pernah membicarakan apapun kepada om. Tapi memang kamu seharusnya sudah mulai bekerja membantu papamu di perusahaan.”
“Rey masih tidak ingin membicarakan hal itu om.”
“Baiklah om tidak akan membicarakan hal itu lagi. Tapi sampai sekarang om ini bingung, kenapa kamu tidak mau meneruskan perusahaan papamu? Sebenarnya kamu ini memiliki cita-cita lain kah?” tanya Kalandra penasaran.
“Rey takut om. Rey takut mengecewakan papa dan malah membuat perusahaan papa hancur.” Ucap Rey.
Kalandra membalikkan badannya dan menatap keponakannya itu, Kalandra mengerti ketakutan yang di rasakan oleh keponakannya itu.
“Cobalah untuk datang ke perusahaan dulu, perhatikan bagaimana cara papamu dan para karyawan di sana menangani masalah yang ada di perusahaan.” Ucap Kalandra.
“Baiklah om! Rey akan mencoba untuk ikut papa ke perusahaan dan mulai mempelajarinya.” Ucap Rey.
Rey memang selalu menuruti perkataan Kalandra, Kalandra dan Khansa sudah seperti orang tua kandungnya sendiri.