
Beberapa orang datang ke dalam hidup kita sebagai berkah, sementara yang lain datang ke dalam hidup kita sebagai pelajaran, jadi cintai mereka apa adanya alih-alih menilai mereka apa adanya.
Semua orang sudah siap di bawah, keluarga Bernard juga sudah berkumpul di sana untuk berangkat bersama ke hotel mereka.
“Nyonya Sanjaya, kemana Belinda? Saya tidak melihatnya.” Ucap mami Khansa kepada mama Bernard.
“Ah, Belinda akan menyusul sebentar lagi karena tadi dia masih sibuk berdandan nyonya Kalandra.” Ucap mama Bernard.
Mami Khansa hanya mengangguk mendengar ucapan calon besannya itu.
“Tante, Key kemana ya?” tanya Bernard kepada mami Khansa.
“Key? Dia dan Lana masih di atas sepertinya, tunggu Elsa dan Audrey juga tidak ada.” Ucap mami Khansa yang baru menyadari kalau ke empat gadis yang ada di rumahnya tidak terlihat.
“Bernard akan menyusul Key tante.” Ucap Bernard.
“Tidak usah nak Bernard, sebentar lagi juga dia akan turun kamu ini tidak sabaran sekali melihat Key.” Canda mami Khansa.
Bernard yang mendapat candaan seperti itu langsung tersipu malu karena dirinya memang sudah merindukan Key.
Tidak lama kemudian mami Khansa tersenyum melihat Elsa dan Audrey yang sedang menuruni tangga dengan penampilannya yang sangat cantik.
Ken yang melihat Audrey dengan dandanannya sangat terpesona karena kecantikan Audrey yang semakin terlihat, begitu juga dengan Rey yang terpesona melihat Elsa berdandan untuk pertama kalinya.

“Itu beneran Elsa?” gumam Rey di dalam hatinya.

Elsa berjalan menghampiri Rey dengan senyuman yang mengembang di wajahnya, Elsa berdiri tepat di hadapan Rey hingga membuat Rey gugup.
“Kak Rey, bagaimana penampilanku?” tanya Elsa dengan memamerkan gigi putihnya.
“*Cantik, sangat cantik! Ah gila kamu Rey kalau sampai bicara seperti itu di hadapannya*!” gumam Rey di dalam hatinya.
“Biasa aja!” ketus Rey yang membuat Elsa menjadi murung.
Tidak lama kemudian, Key dan Lana juga turun dan bergabung bersama mereka semua yang sudah berkumpul di bawah.
“Itu dia Key.” Ucap mami Khansa kepada Bernard sambil tersenyum melihat putrinya menuruni tangga.
Bernard melihat ke arah yang di tunjukkan oleh mami Khansa, dia melihat kekasihnya menuruni tangga dengan gaun berwarna hita dan rambut yang di kuncir memamerkan leher mulusnya.

“*Dia benar-benar membuatku gila*.” Gumam Bernard yang pandangannya tidak terlepas dari Key.
Bernard menghampiri Key dan menggandeng tangannya dengan sangat erat.
“Kamu sangat cantik.” Bisik Bernard kepada Key.
“Apaan sih om beruang, jangan gombal deh ga mempan.” Balas Key.
Di sisi lain, Jonathan dan Lana hanya saling pandang dari kejauhan tanpa bicara apapun. Key yang melihatnya langsung menghampiri Jonathan karena gemas dengan sikap Jonathan dan sahabatnya.

“Kalo emang suka ya di kejar dong kak Jo, jangan cuma di liatin ntar keburu bulukan Lananya.” Bisik Key.
Jonathan yang mendengar bisikan dari Key terkejut dan menoleh ke arahnya.
“Maksud nona Key apa?” tanya Jonathan.
“Jangan panggil aku nona, anggap saja aku adikmu dan panggil saja aku Key.” Tegas Key yang di balas anggukan oleh Jonathan.
“Kak Jo suka sama Lana kan? Ya langsung ngomong aja kalo suka, ntar keburu di ambil dokter Harry loh, Lana juga sepertinya kagum dengan dokter Harry.” Ucap Key.
“Aku tidak sebanding dengan dokter Harry Key, aku hanyalah seorang asisten.” Ucap Jonathan.
“Huh, selalu ada udang di balik bakwan! Kalau mau memberi semangat kepada kak Jo ya beri semangat saja tidak usah membanggakan diri sendiri.” Ketus Key.
Setelah semuanya berkumpul, papa dan mama Bernard segera mengajak semuanya untuk berangkat bersama-sama menuju hotel karena Belinda langsung berangkat ke hotel dengan supir pribadinya.
“Dia itu memang menyebalkan, tadi bilang kalau dia mau menyusul ke sini, sekarang malah sudah berada di hotel.” Gumam Bernard yang masih bisa di dengar oleh Key.
“Sudahlah jangan marah-marah terus ntar cepa tua loh om beruang, lagipula kak Belinda adalah pemeran utama di pesta itu tentu saja dia sengaja membuat kita penasaran terlebih lagi membuat abang Kenan penasaran.” Ucap Key sambil melihat ke arah Kenan yang berada di sebelah mereka.
Bernard mengikuti arah mata Key yang sedang melihat Kenan yang sibuk dengan hpnya dengan wajah yang gelisah.
“Aku yakin abang pasti sedang mengirim pesan kepada kak Belinda.” Bisik Key.
“Kamu itu jangan sok tau, dia seperti itu karena sedang mengirim pesan kepada rekan bisnisnya.” Balas Bernard.
Key hanya melirik tajam kepada Bernard lalu beralih melihat ke arah abangnya lagi, Key akhirnya berjalan mendekati abangnya karena penasaran sebenarnya kenapa abangnya melihat hp dengan wajah yang gelisah seperti itu.
“Abang, sedang apa sih?” tanya Key to the point.
“Sedang mengirim pesan.” Jawab Kenan sambil melihat ke arah Key.
“Kepada siapa?”
“Kenapa kamu bertanya? Tumben sekali.” ucap Kenan yang kembali mengalihkan pandangannya ke hpnya.
“Aku hanya penasaran abang, apakah tidak boleh?” ketus Key.
“Abang sedang mengirim pesan kepada teman abang untuk bermain futsal setelah abang kembali ke Indonesia.” Ucap Kenan yang membuat Key menghela nafas panjang lalu kembali menghampiri Bernard.
Bernard yang dari tadi melihat Key dan Kenan sedang mengobrol langsung tersenyum karena melihat perubahan ekspresi Key.
“Kenapa? Apakah prediksimu salah?” tanya Bernard dengan senyum cerahnya.
“Ga usah senyum-senyum gitu! Prediksi om beruang juga salah kok!” ketus Key.
“Lalu dia mengirim pesan kepada siapa?” tanya Bernard.
“Sama teman mainnya! Sudahlah ayo berangkat, biarkan saja abang Kenan sibuk dengan hpnya.” Ajak Key.
Semuanya menggunakan mobil sport masing-masing dengan pasangan masing-masing, sedangkan Elsa hanya diam karena tidak tau harus berangkat bersama siapa. Rey yang melihat Elsa sedang kebingungan langsung menghampirinya.
“Kamu berangkat sama siapa?” tanya Rey.
“Ga tau juga kak, papa dan mama naik mobil sport juga soalnya jadi aku ga bisa naik di mobil mereka.” Jelas Elsa.
“Ayo bareng aku aja.” Ajak Rey.
Elsa yang mendapat ajakan seperti itu langsung tersenyum senang karena akhirnya Rey berinisiatif untuk mengajaknya pergi bersama.
“Terimakasih kak Rey.” Ucap Elsa sambil melangkah ke arah mobil Rey.
Elsa sudah masuk ke dalam mobil Rey begitu pun dengan Rey yang sudah duduk di kursi kemudi, Rey menjalankan mobilnya mengikuti mobil di depannya.
“Bagaimana kuliahmu? Di semester awal bukannya kamu tidak boleh banyak membolos?” tanya Rey.
“Em,, iya begitulah.. aku juga sebenarnya tidak ingin membolos kak, tapi papa dan mama menyuruhku ikut karena tidak mau meninggalkanku sendirian, akhirnya papa meminta ijin keada dosenku untuk mengganti absenku dengan tugas lain setiap harinya.” Jelas Elsa.
“Tapi aku tidak pernah melihatmu mengerjakan tugas.”
“Itu karena kak Rey tidak pernah keluar dari kamar dan hanya sibuk bermain game dengan kak Ken, aku setiap hari mengerjakan tugas kuliah kok, kadang juga aku bertanya kepada abang Kenan dan kak Key.”
“Kenapa tidak meminta bantuan Ken atau aku?” tanya Rey.
“Abang dan kak Key kan pintar, kalau kak Ken dan kak Rey sepertinya hanya tau cara bermain game saja hehe.” Ucap Elsa dengan polosnya.
Rey yang mendengar ucapan Elsa hanya terdiam untuk menahan kekesalannya, padahal baru saja dia berusaha untuk bersikap baik tapi Elsa sudah membuatnya naik darah lagi.
“*Sepertinya dia ini memang tidak bisa di baiki*.” Gumam Rey di dalam hatinya.