
Cinta adalah ketika kamu yakin bahwa dirimu telah melupakannya, tapi kamu masih menemukan dirimu peduli padanya.
“Tidak, kamu selalu benar kok Key. Sudahlah ayo kita pulang, aku yakin keluargamu sudah menunggu kita.” Ucap Bernard.
“Loh, katanya om beruang mau ngajak aku jalan-jalan?” rengek Key.
“Tidak ada waktu lagi! Waktu kita sudah terbuang karena kelamaan di kantor polisi!” ketus Bernard.
Key yang mendengar ucapan Bernard hanya bisa menghela nafas panjang dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Bernard tersenyum mengetahui kalau Key kesal karena dirinya yang tidak ingin mengajaknya jalan-jalan.
Saat itu Bernard yang sedang menyetir mobil Key, Bernard menyetir mobil Key menuju suatu tempat yang tidak begitu jauh dari kantor polisi yang mereka datangi.
“Kita mau kemana om beruang?” tanya Key yang baru menyadari kalau dia dan Bernard tidak berada di jalan menuju apartment.
“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang akan kamu sukai.” Ucap Bernard.
“Kemana?” tanya Key.
“Diamlah, aku yakin kamu akan menyukainya.” Ucap Bernard.
Mendengar ucapan Bernard, Key tidak berbicara apapun lagi dia hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Setelah beberapa menit mengendarai mobil Key, Bernard akhirnya berhenti di pinggir sungai yang sama yang pernah di kunjungi oleh mami Khansa dan papi Kalandra saat mereka berdua sedang berbulan madu.
“Wah, indah sekali! tapi mami bilang kalau akan lebih indah di lihat saat malam hari.” Ucap Key yang melihat lewat jendela mobilnya.
“Kamu pernah ke sini?” tanya Bernard.
“Aku hanya pernah melewatinya saat aku ke Jepang beberapa tahun yang lalu, mami bilang kalau papi mengungkapkan perasaannya kepada mami di sini.” Jelas Key.
“Benarkah?” tanya Bernard.
“Iya benar, bahkan papi memberi mami bucket bunga mawar biru untuk dirinya. Bukankah itu sangat romantis?” Ucap Key sambil menyatukan kedua tangannya membayangkan kejadian yang pernah di lakukan papi Kalandra kepada mami Khansa.
“Wah, harusnya aku membeli bunga juga agar semuanya tepat seperti apa yang papi Kalandra lakukan.” Ucap Bernard.
“Tidak perlu membeli bunga om beruang, di ajak ke sini aja aku udah seneng banget soalnya biasanya aku hanya melewatinya dan tidak betul-betul melihat jelas keindahan sungai ini.” ucap Key.
Bernard yang mendengar ucapan Key langsung tersenyum melihat Key yang sedang fokus menatap ke luar jendela mobil. Bernard membuka seatbelt nya dan mengajak Key untuk turun dari mobil.
“Baiklah ayo kita turun dan nikmati pemandangan sungai ini sebentar saja sebelum kita kembali ke Indonesia.” Ucap Bernard sambil membuka pintu mobil.
Key turun dari mobil dengan semangat, dia langsung berlari ke pagar di pinggir sungai untuk melihatnya dari dekat.
“Kalau malam, lampu yang ada di jembatan itu akan menyala dan itu sangat indah.” Ucap Bernard.
“Apa om beruang pernah ke sini sebelumnya?” tanya Key.
“Tentu saja pernah, kalau tidak aku tidak akan mengajakmu ke sini.” Ucap Bernard.
“Dengan siapa om beruang ke sini? Apa dengan mantan om beruang itu?” selidik Key.
“Iya!” ucap Bernard.
Jawaban yang sangat singkat namun menusuk ke dalam hati menurut Key, entah kenapa Key merasa sesak di dadanya, dia tidak menyengka kalau Bernard akan berbicara jujur tentang hal itu.
“Ayo kita pulang, aku sudah bosan!” ketus Key.
“Apa? Kenapa pulang? Apa kamu sakit?” tanya Bernard yang khawatir.
“Tidak! Aku hanya ingin pulang!” tegas Key.
Bernard melihat ke arah Key sambil mengerutkan keningnya, dia yakin kalau ada sesuatu yang terjadi hingga membuat mood Key berubah secara tiba-tiba.
“Kamu kenapa Key!?” tanya Bernard.
Key hanya diam dan membalikkan badannya ingin berjalan kembali ke mobil, namun Bernard menggenggak tangan Key dengan kuat hingga membuat Key merintih kesakitan.
“Aw! Sakit om beruang!” ucap Key.
“*Sebenarnya dia itu kenapa? Kenapa dia jadi marah-marah gini sih, emang aku tadi ngomong apasih sampe dia ngamuk gitu*?” gumam Bernard di dalam hatinya sambil menatap Key yang sudah masuk ke dalam mobil.
Setelah beberapa menit memikirkan kesalahan yang sudah ia perbuat, akhirnya Bernard masuk ke dalam mobil untuk menemui Key dan bertanya kepadanya kembali.
“Key sebenarnya kenapa kamu seperti ini?” tanya Bernard saat dirinya baru saja masuk ke dalam mobil.
“Pikir aja sendiri!” ketus Key.
“Ayolah, kalo aku di suruh mikir sendiri ya ga bisa dong kan aku ga tau isi hati dan pikiranmu.” Ucap Bernard dengan nada sedikit merengek hingga membuat Key melirik Bernard dengan tajam.
“Ga lucu!” ketus Key.
“Aku juga lagi ga ngelucu kok. Kamu ini sebenarnya kenapa sih Key!?” tanya Bernard kembali.
“Diamlah om beruang, coba saja mengingat apa yang tadi kamu ucapkan.”
“Apa yang aku ucapkan memangnya?” tanya Bernard yang benar-benar tidak mengerti maksud dari Key.
“Ah terserahlah, aku pusing mikirin apa salahku mending kita pulang saja.” lanjut Bernard yang langsung menginjak pedal gas mobil Key.
Key yang mendengar kalau Bernard akan langsung mengajaknya pulang langsung menatap tajam ke arah Bernard dan membuang wajahnya.
“*Cih, dasar laki-laki tidak peka*!” gumam Key di dalam hatinya sambil menatap ke luar jendela.
Selama perjalanan ke apartment keluarga papi Kalandra, Bernard mencoba untuk mengajak Key berbicara namun Key hanya diam saja tanpa menjawab satu pun pertanyaan dari Bernard.
“Key, aku ga tau sebenarnya apa ucapanku yang sudah membuatmu marah seperti ini, tapi aku benar-benar minta maaf jika aku memang membuatmu kesal dan marah.” Ucap Bernard.
Key hanya diam tidak mengucapkan sepatah katapun kepada Bernard, Key juga merasa bingung kenapa bisa dia sangat kesal hanya karena mengetahui kalau Bernard pernah mengajak Tiara ke sungai itu.
“*Aku ini sebenarnya kenapa sih? Kenapa aku marah hanya karena hal sepele seperti itu*?” gumam Key di dalam hatinya.
Setelah mereka sampai di apartment keluarga papi Kalandra, Bernard dan Key masuk ke dalam dan bertemu dengan semua orang yang kebetulan sedang berkumpul di lobby.
“Kalian dari mana saja?” tanya Lana yang baru saja melihat Key dan Bernard masuk.
“Kami dari kantor polisi!” ucap Bernard secara tiba-tiba hingga membuat semua orang yang berada di ruangan itu langsung melihat ke arah mereka berdua.
“*Aish, kenapa om beruang bilang kayak gitu sih*!” gumam Key.
“Kalian dari kantor polisi? Ada masalah apa? Apa sesuatu terjadi kepada kalian berdua?” tanya mami Khansa yang sangat khawatir kepada keadaan Key dan Bernard.
“Tidak ada yang terjadi mami, mami tenang saja ya.” ucap Key mencoba untuk menenangkan maminya.
“Lalu kenapa nak Bernard mengatakan kalau kalian habis dari kantor polisi?” tanya mami Khansa kembali.
“Kami menjenguk seseorang, dan Bernard yakin semuanya pasti tau siapa itu.” Sambung Bernard.
“Kamu menjenguk Dina!?” tanya Kenan.
“Iya bang.” Ucap Key pasrah.
“KEnapa kamu sama sekali tidak memiliki rasa khawatir sih Key? Aku tau kamu pemberani tapi kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi kepada kamu!” ketus Kenan.
“Sudahlah bang, jangan marah-marah terus toh Key juga ga kenapa-kenapa kan? Ada om beruang juga yang menjaga Key.” Ucap Key sambil melirik ke arah Bernard.
“Ada satu hal lagi!” ucap Bernard.
Key tau betul apa yang akan di bicarakan oleh Bernard, dia berusaha untuk mencubit pingga Bernard agar tidak mengadu kepada yang lain, namun Bernard tetap membicarakan apa yang terjadi di kantor polisi.
“Sebenarnya Bernard tau kalau Bernard tidak seharusnya berbicara hal ini, tapi Bernard harus berbicara agar hal ini tidak akan terjadi lagi dan kita semua bisa terus memantau Key.” Ucap Bernard.
“Ada apa Bernard? Apa ada sesuatu yang di lakukan oleh adikku?” tanya Kenan.
Key hanya bisa menghela nafas panjang karena dia tau kalau Bernard akan berbicara tentang rencananya membawa Dina ikut bersama mereka ke Indonesia.
“*Kalo tau om beruang mulutnya kayak ember bocor aku ga akan ngajak dia tadi*!” gumam Key di dalam hatinya.