
Teman sejati adalah ia yang bersedia masuk dalam kehidupanmu saat seluruh dunia berjalan meninggalkanmu.
“Hai aunty Lila..” ucap Key yang baru saja masuk ke dalam rumah Lila.
“Hai sayang,, tumben sekali kamu datang di jam segini? Ada apa?” tanya Lila yang sedang duduk di sofa ruang tamunya.
“Key mau bertemu dengan Lana aunty, di mana dia?”
“Dia di kamarnya, masuklah dari tadi kerjaannya hanya makan tidur nonton drama korea sampe pusing aunty..” ucap Lila.
Key hanya tertawa mendengar ucapan Lila dan naik ke atas untuk menemui sahabat baiknya itu.
Key yang baru saja masuk ke dalam kamar Lana terkejut melihat Lana sedang menangis kejar sambil menatap laptopnya. Key segera menghampiri Lana dan kesal karena ternyata Lana sedang melihat drama korea.
“Apa hidupmu selalu di penuhi dengan drama Lan?” tanya Key.
“Hikss,, kau ini kenapa menganggu suasana saja sih!” ketus Lana.
“Ayo bersiaplah, lusa aku akan mengajakmu ke Jepang untuk berlibur.” Ucap Key yang membuat Lana mendongakan kepalanya melihat Key yang sedang berdiri.
“Benarkah? kapan? Apa mamaku sudah mengetahui hal ini?” tanya Lana antusias.
“Belum, abangku yang akan memberitahu mamiku dan mamamu nanti. Jadi kamu segera mengepak barangmu. Aku juga ingin mengajakmu untuk berbelanja bagaimana?” Ucap Key.
“Tentu saja aku mau! Ayo kita berbelanja, sudah lama sekali aku tidak berbelanja.” Ucap Lana sambil
“Dengan mata yang bengkak seperti itu?” tanya Key sambil menunjuk ke arah mata Lana yang bengkak karena menangis.
“Sudahlah tidak masalah, toh tidak ada yang mau melihatku! Ayo kita berangkat.” Ucap Lana dengan semangat.
Drrtt,, drrtt,,
“Tunggu Lan, hpku berbunyi.” Ucap Key yang segera mencari hpnya di dala tas lalu menghela nafas panjang saat mengetahui siapa yang menelfon.
“Siapa Key?” tanya Lana yang melihat perubahan ekspresi wajah sahabatnya itu.
“Om beruang!” ketus Key lalu mengangkat telfonnya.
“Halo om beruang, ada apa?”
“Kamu di mana? Apakah sudah sampai di rumah?” tanya Bernard.
“Aku di rumah Lana dan kami akan berbelanja!”
“Aku akan mengantar kalian, kirimkan alamat rumah temanmu itu.” Ucap Bernard.
“Tidak usah! Kami bisa berbelanja sendiri om!”
“Ayolah! Setelah berbelanja aku ingin menemui kedua orang tuamu! Aku masih tidak tenang jika tidak berbicara langsung dengan orang tuamu tentang keberangkatanmu ke Jepang.” Jelas Bernard.
“Tapi om! Kalau om beruang bilang sama papi dan mami, mereka tidak akan menyetujuinya, apalagi kita hanyalah berpura-pura! Aku dan temanku sudah senang karena kami bisa berlibur, jangan ganggu kesenangan kami!” ketus Key.
“Aku memiliki caraku sendiri untuk mendapatkan ijin dari kedua orang tuamu. Kamu tenang saja! yang penting aku harus bertemu dengan kedua orang tuamu, jika memang mereka tidak menyetujuinya aku akan membawamu kabur! Setidaknya mereka tau dengan siapa anaknya pergi jadi mereka tetap bisa mencarimu! Aku tidak ingin menjadi laki-laki yang pengecut, jadi cepat kirimkan alamat temanmu atau aku akan mencarinya sendiri.” Ucap Bernard yang langsung mematikan telfonnya.
“Aish!!! Kenapa dia sangat menyebalkan!” teriak Key.
“Kenapa Key? Apa kita tidak jadi berlibur?” tanya Lana.
“Om beruang akan menjemput kita, ayo bersiaplah!” ucap Key yang duduk di sofa kamar Lana untuk menunggu sahabatnya bersiap.
Tin…tin..
Tiba-tiba ada suara klakson mobil yang membuat Lila yang sedang duduk di ruang tamu terkejut dan segera melihat ke luar.
“Siapa sih yang tiba-tiba klakson mobil! Bikin orang jantungan aja.” Gumam Lila.
Tidak lama kemudian, Bernard keluar dari mobilnya dan membuat Lila terpesona akan ketampanan anak muda itu.

“Ih kamu ini pa! itung-itung cuci mata kan tidak masalah!” ketus Lila.
“Assalamualaikum..” ucap Bernard dengan sopan.
“Waalaikumsalam..” ucap Lila dan Riko secara bersamaan.
“Apa benar ini rumahnya Lana? Temannya Key?” tanya Bernard.
“Iya benar, ada yang bisa saya bantu?” tanya Riko.
“Begini om, saya Bernard saya temannya Key dan saya mau mengajak Key dan Lana untuk berbelanja.” Jelas Bernard.
“Apa saya boleh masuk? Ada yang ingin saya bicarakan kepada om dan tante.” Lanjutnya.
Dengan senang hati Lila dan Riko mengijinkan Bernard masuk ke dalam rumah dan mempersilahkannya untuk duduk.
“Apa yang ingin nak Bernard bicarakan?” tanya Lila.
“Begini, saya ingin mengajak Key ke Jepang, saya juga sudah berbicara dengan abangnya Key yang kebetulan ternyata sahabat baik saya, dia mengijinkan saya mengajak Key tapi saya juga harus mengajak Lana ikut.”
“Sebenarnya Kenan bilang tidak usah mengkhawatirkan ijin dari orang tua Key dan Lana karena dia yang akan mengurusnya, tapi saya juga tidak enak jika tidak berbicara langsung kepada orang tua mereka. Jadi saya sekarang sedang meminta ijin langsung kepada om dan tante.” Ucap Bernard.
“Begini, saya tau jika kami bukan orang tua Key, tapi kami adalah sahabat baik maminya Key jadi kami sudah menganggap Key sebagai anak kami sendiri. Kalau boleh tau, kenapa nak Bernard ingin membawa Key ke Jepang?” tanya Riko.
“Saya ingin mengenalkannya kepada mama saya om, saya ingin mengenalkan Keyla sebagai pacar saya.” ucap Bernard.
“Apa!? Jadi kalian pacaran?” tanya Lila yang terkejut mendengar perkataan Bernard.
Bernard hanya tersenyum menanggapi keterkejutan Lila. “*Maaf ya gadis cilik! Ini adalah caraku untuk mendapat ijin dari orang tuamu dan orang tua temanmu*!” batin Bernard.
“Kami tidak masalah, selama kamu berjanji untuk menjaga kedua anak perempuan kami dengan sangat baik!” tegas Riko.
“Tenang saja om! Saya akan selalu menjaga mereka dengan sangat baik.” Ucap Bernard meyakinkan.
Akhirnya setelah menjelaskan panjang lebar, Lila dan Riko mengijinkan Bernard untuk membawa Key dan Lana.
“Sebentar ya, saya akan memanggil mereka di atas.” Ucap Lila yang langsung meninggalkan Bernard dengan suaminya.
Cklek!!
“Kalian ini cepatlah turun ke bawah! Ada pacarnya Key yang sudah menjemput kalian.” Ucap Lila.
“Apa? Aunty ga salah? Pacar Key?” tanya Key yang merasa heran.
“Yaampun Key, Key, aunty tau kalau kamu ini sudah lama sekali jomblo tapi bukan berarti harus melupakan pacarmu yang tampan itu dong!” ucap Lila.
“Sudahlah ayo cepat turun!” perintah Lila yang langsung meninggalkan Lana dan Key.
Key dan Lana yang melihat kepergian Lila hanya bisa saling menatap satu sama lain, Lana mencari jawaban di wajah sahabatnya itu.
“Jangan melihatku seperti itu! Aku tidak pernah memiliki pacar!” ucap Key yang ikut meninggalkan Lana di kamarnya dengan rasa penasarannya.
Key yang baru saja menuruni tangga terkejut melihat Bernard yang sedang duduk dan berbincang dengan Riko.
“Ah jadi dia pacar yang di maksud aunty Lila. pacar dari gunung kali!” gumam Key sambil menatap tajam ke arah Bernard.
Bernard menoleh ke arah Key yang sedang berjalan menghampirinya dengan senyum yang lebar.
“Hai sayang, kamu sudah siap? Di mana temanmu?” tanya Bernard dengan senyum liciknya.
“*Sayang? sayang palalu peyang*!” batin Key dengan senyum yang di paksakan.

Sedangkan Lila yang mendengar Bernard memanggil anak sahabatnya itu dengan sebutan sayang merasa bahagia karena gadis dingin yang selalu menutup dirinya kepada siapapun terutama dengan laki-laki itu sudah memiliki pasangan yang menurut Lila sangat baik.
“*Semoga saja kelak Lana akan segera mendapatkan laki-laki yang bisa mencintainya dengan tulus, sama seperti Bernard yang mencintai Key*.” Batin Lila yang tidak tau kebenaran di balik drama yang sedang mereka mainkan.