MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
PENGAKUAN BI RINI


Tuhan selalu memiliki yang terbaik untukmu. Ia memiliki jalan keluar atas semua masalahmu, perasaan yang melegakan atas kesedihanmu, dan kebahagiaan yang menunggumu.




***Rumah Sakit***



Anita mengantar Khansa ke ruangan suaminya, disana ada banyak orang yang menunggu di depan ruangan Kalandra.



Karena hanya ada satu orang yang di perbolehkan masuk, mereka memberikan kesempatan untuk Khansa agar bisa melihat suaminya.



“Kenapa kalian ga masuk? Apa terjadi sesuatu pada mas Andra?” tanya Khansa panik karena melihat semua orang berada di luar ruangan.



“Hanya satu orang yang boleh masuk ke dalam, jadi kamulah yang harus berada di sebelah Kalandra.” ucap Ryan.



“Terimakasih karena sudah menjaga suamiku.” Ucap Khansa kepada Ryan.



Ryan menggelengkan kepalanya, “Aku minta maaf karena membuat Kalandra seperti ini.”



“Ini musibah kak, tidak ada yang salah disini.” ucap Khansa sambil tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam ruangan.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1604653815136.jpg)



Saat memasuki ruangan, Khansa melihat suaminya yang terbaring lemah tidak sadarkan diri dengan perban di kepalanya.



Khansa berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya namun tidak bisa, akhirnya air mata itu terjatuh dan membasahi pipinya.



“Mas, kenapa kamu membohongiku? Kamu bilang tidak akan ada yang terjadi kepadamu, lalu kenapa kamu sekarang terbaring lemah disini? kenapa kamu berbohong mas kenapa? Hikss..Hikss,, apa kamu sangat suka membuatku mengkhawatirkanmu? Bangunlah mas, aku dan anak-anak membutuhkanmu hikss..” ucap Khansa sambil menangis.



Anita masuk ke dalam ruangan dan memanggil Khansa untuk berbicara dengannya.



“Ada apa kak?” tanya Khansa.



“Aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu.”



Anita menuntun Khansa untuk duduk di tempat yang jauh dari orang-orang.



“Sa, pertama kamu harus menerima apapun yang akan aku bicarakan kepadamu.” Ucap Anita.



“Ada apa kak? Apakah terjadi sesuatu?” tanya Khansa yang mulai merasa gelisah.



“Sa, kamu tau kan kalau suamimu terluka di kepalanya?”



Khansa mengangguk mengiyakan ucapan Anita.



“Luka tembak yang ada di kepala Kalandra sangat parah, dan kemungkinan besar akan terjadi amnesia dan karena syarafnya ada yang rusak, kemungkinan dia juga mengalami kelumpuhan.” Jelas Anita.



Khansa terkejut dan menangis mendengar ucapan Anita.



“Apa itu bersifat selamanya kak?” tanya Khansa yang sudah mulai merasa lemas.


Anita menggeleng, “Selama dia menerima terapi aku yakin dia akan cepat kembali seperti semula.” Ucap Anita.



“Lalu, kapan mas Andra akan sadar dari komanya kak?”



“Kalau itu kita tidak bisa memastikan, kita harus sabar menunggu Kalandra sadar.”



“Apa mama dan papa sudah mengetahui hal ini?”



“Aku sudah menghubunginya tadi dan menjelaskan semua dari awal, mereka mengutus orang untuk mencari keberadaan Robert yang kabur, dan mereka segera kemari.”



“Lalu bagaimana dengan Hani kak?” tanya Khansa.



“Dia sudah ditangani oleh polisi.”



“Tpi dia sedang hamil kak, apakah akan berpengaruh pada bayinya?”



“Tenanglah, kamu juga sedang hamil jika kamu memikirkan banyak hal itu akan berpengaruh terhadap bayimu.” Ucap Anita sambil mengelus perut Khansa yang sudah mulai terlihat.



“Sepertinya aku yang membawa kesialan di keluarga ini, semenjak aku masuk ke dalam keluarga ini tidak ada hal baik yang terjadi.”



Khansa menyalahkan dirinya sendiri dan meneteskan air mata.



“Tidak sa, ini adalah dendam pribadi Robert pada Kalandra, walaupun kamu tidak masuk ke dalam keluarga ini, cepat atau lambat hal ini akan tetap terjadi.”



Tiba-tiba bi Rini datang ke rumah sakit dan berlutut di hadapan Khansa dan Anita.



“Astaga bi Rini, bibi ngapain?” tanya Khansa yang berusaha membangunkan bi Rini.



“Hikss,, hikss,, Maafkan saya nyonya, ini semua karena saya, saya tidak menyangka hal ini akan melukai tuan.” Ucap Bi Rini.




“Saya yang membantu tuan Robert untuk memata-matai tuan dan nyonya, saya yang memberi tahu jadwal tuan dan nyonya, saya juga memberitau jadwal Kenan nyonya, tapi tuan Robert bilang dia tidak akan menyakiti siapapun, saya tidak tau jika tuan Andra akan terluka seperti ini nyonya maafkan saya hikss,,”



Khansa dan Anita terkejut mendengar pengakuan dari bi Rini yang tidak terduga itu.



“B,,bagaimana bi Rini tega melakukan itu kepada Kenan dan mas Andra bi? Bukankah selama ini mereka memperlakukan bibi dengan sangat baik? Bukankah bibi yang sudah merawat Kenan sejak kecil?” tanya Khansa dengan nada sedikin tinggi.



“Saya diancam oleh tuan Robert nyonya, dia bilang akan menyakiti anak saya di kampung dan menjualnya kepada laki-laki hidung belang jadi saya tidak memiliki pilihan lain, maafkan saya nyonya hikss, hikss..”



“Bi Rini pulanglah lebih dulu, Khansa butuh waktu untuk menerima hal ini.” ucap Anita yang menyuruh bi Rini pulang.



Khansa merasa pusing dan lemas tiba-tiba mendengar ucapan bi Rini.



“Sa, kamu baik-baik saja?”



“Aku baik-baik saja kak hanya sedikit pusing tapi tidak apa-apa.” Ucap Khansa sambil tersenyum menunjukkan bahwa dirinya merasa baik-baik saja.



Khansa berpamitan untuk ke kamar mandi dan sholat terlebih dahulu. Kenan yang melihat maminya pergi itu menghampiri maminya.



“Mami mau kemana?” tanya Kenan



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1604653815141.jpg)



“Mami mau sholat sayang, kamu mau ikut?”


Kenan mengangguk mengiyakan ucapan maminya, Khansa menggandeng tangan Kenan dan pergi ke mushola bersama.



“Mami mau ke kamar mandi dulu ya sayang, Kenan bisa ambil wudhu sendiri kan?” tanya Khansa.



“Bisa mami.” Ucap Kenan sambil memamerkan gigi putihnya.



Di kamar mandi Khansa melihat dirinya di cermin, Khansa kembali mengeluarkan air matanya. Setelah mengusap pipinya yang sudah di basahi oleh air mata, Khansa keluar dan menghampiri anaknya.



“Mami, Kenan sholat di tempat cowok-cowok ya..” ucap Kenan yang baru saja melihat kedatangan Khansa.



“Iya sayang, nanti kalau sudah selesai tungguin mami ya.” Ucap Khansa dan dibalas anggukan oleh Kenan.



Khansa menjalankan sholat dengan khusyuk.



“YaAllah, apa salahku sehingga engkau memberikan cobaan seperti ini kepada keluargaku?” Khansa berdoa di dalam hatinya, tapi air matanya juga ikut keluar membasahi pipinya.



“Mami?” panggil Kenan.



Khansa yang mendengar anaknya memanggilnya langsung menghapus air matanya dan menoleh ke arah anaknya itu.



“Hai sayang, sudah selesai?” tanya Khansa dengan senyuman dan dibalas anggukan oleh Kenan.



Khansa dan Kenan kembali ke ruangan Kalandra, disana dokter sedang memindahkan Kalandra ke ruangan yang lebih besar.



“Sasa!” Khansa terkejut ada seseorang yang meneriaki namanya.



Khansa menoleh ke arah sumber suara untuk melihat siapa yang memanggilnya.



“Ibu!?” Khansa terkejut karena ibunya ada disana.



“Kenapa ibu bisa ada disini?” lanjutnya.



“Apa kamu tidak apa-apa sayang? Kamu baik-baik saja kan?” tanya ibu Khansa.



“Hiks..hikss.. ibuu…” Khansa menangis dan memeluk tubuh ibunya itu.



“Sstt,, tenanglah sayang..” ibu Khansa mengelus rambut Khansa dengan lembut.



“Kenapa hal ini terjadi kepada Khansa bu.. hikss”



Ibu Khansa memegang pipi Khansa menggunakan kedua tangannya.



“Sayang, semua orang yang sudah berumah tangga pasti akan menghadapi ujiannya masing-masing. Ada banyak keluarga yang sangat bahagia dan dijauhkan dari masalah di kehidupannya, tapi mereka memiliki masalah dengan mertua dan keluarganya.



Sedangkan kamu, kamu di beri ujian kehidupan seperti ini karena Allah tau kamu memiliki mertua dan keluarga yang sangat menyayangimu dan selalu menguatkanmu dalam menghadapi ujian hidupmu.” Ucap ibu Khansa.



“Jadi kamu tidak boleh menyalahkan keadaan, ingatlah bahwa Allah memberikan ujian untuk menaikkan derajat hambanya, terimalah dengan ikhlas dan bersabarlah pasti akan ada kebahagiaan setelahnya.” Lanjutnya.



Khansa mengangguk dan menghapus air matanya.



“*Ibu benar, ini adalah ujian untuk keluargaku dan aku harus menerimanya dengan ikhlas dan sabar*.” Batin Khansa.