MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
KECEMBURUAN KHANSA


Percayalah bahwa kejujuran, kesetiaan dan tanggung jawab adalah elemen penting dalam sebuah cinta untuk terus bertumbuh.




Hari ini adalah hari terakhir Kalandra dan lainnya berada di Jepang karena besok mereka harus kembali ke Indonesia.



Hari ini Kalandra mengajak Khansa untuk pergi berjalan-jalan. Selama di Jepang, Ryan selalu membawa Kenan bersamanya karena dia ingin mendekatkan Kenan dengan Rose.



Sebenarnya Khansa sempat merasa sedih karena Kenan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Ryan dibanding dengan dirinya dan Kalandra.



“Aku tau kamu sedih karena Kenan selalu bersama Ryan, tapi kita harus mengerti sayang. Ryan ingin mendekatkan diri dan ingin mendekatkan Rose dengan Kenan.” Kalandra memberikan penjelasan kepada istrinya.



“Aku tau kok mas, tapi suka cemburu aja kalo ngeliat Kenan lebih dekat sama mereka dibanding sama kita.”



Kalandra memeluk istrinya, ia sangat mengerti jika Khansa merasa cemburu, karena selama ini Kenan selalu bersama mereka, sedangkan selama di Jepang Kenan selalu pergi bersama Ryan dan Rose.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1605609474164.jpg)



“Sudahlah sayang, bukankah setiap hari Kenan selalu bersama kita? Biasanya kamu selalu dewasa menyikapi sesuatu, kenapa sekarang jadi cemburuan gini? Sama Kenan lagi, harusnya kan kamu cemburuannya sama aku.” Ucap Kalandra yang berusaha mengajak Khansa bercanda.



“Apaan sih mas, nyebelin deh.”



“Daripada sedih terus, mendingan kita jalan-jalan aja yuk. Kamu mau kemana sayang?” tanya Kalandra.



“Aku mau ke pantai mas, boleh?”



“Boleh dong, apasih yang engga buat istriku yang satu ini.” ucap Kalandra sambil memegang dagu Khansa.



Khansa segera mengganti bajunya dan bersiap untuk pergi ke pantai bersama suaminya, begitu pun dengan Kalandra.



“Mas, kamu ga bilang Kenan kalo kita mau ke pantai?” tanya Khansa.



“Aku udah bilang lewat telfon tadi, kamu mau telfon dia lagi?”



Khansa mengangguk mengiyakan pertanyaan Kalandra, ia sangat rindu dengan putra kesayangannya itu dan ingin berbicara dengannya.



Khansa berusaha menelfon Ryan, setelah di angkat Kalandra langsung memberikan telfonnya kepada Khansa dan membiarkan Khansa berbicara dengan Kenan.



“Halo mami..” ucap Kenan antusias.



“Wah anak mami sekarang udah lupa sama mami ya?” rengek Khansa.



Kalandra yang melihat istrinya merengek itu hanya memukul keningnya sambil menggelengkan kepalanya.



“*Astaga dia mulai lagi*..” batin Kalandra.



“Mami padahal kangen banget sama Kenan, tapi Kenan udah lupa sama mami huhuhu..” ucap Khansa yang berpura-pura menangis.



“Mami jangan bilang gitu, Kenan juga kangen sama mami tapi Kenan mau biarin mami berduaan sama papi, kan sebentar lagi adek-adek Kenan lahir, mami sama papi ga akan punya waktu buat liburan berdua.” Jelas Kenan.



Khansa terkejut mendengar ucapan anaknya itu, ia tidak menyangka jika Kenan bisa berfikir se dewasa itu.



“Kalo mami sedih Kenan bakalan minta papa Ryan buat anter Kenan ke mami sekarang.” Lanjut Kenan.



“Engga sayang, mami bercanda kok sayang, Kenan sama papa Ryan dulu aja ya. terimakasih karena mau memikirkan mami dan papi ya sayang.” Ucap Khansa.



Setelah lama berbincang, Khansa mematikan telfonnya dan mengembalikan hpnya kepada Kalandra.



“Mas, ternyata anak kita sudah besar hikss..” ucap Khansa dengan suara bergetar.



“Sudahlah sayang, ayo kita berangkat ke pantai sekarang.” Ajak Kalandra agar istrinya tidak terlalu lama bersedih.



Kalandra dan Khansa menaiki mobilnya untuk menuju ke pantai.



“Sayang, mukanya jangan cemberut gitu dong. Masa kita mau ke pantai muka kamu cemberut gitu.” Ucap Kalandra yang melihat istrinya masih memasang wajah cemberutnya.



“Aku masih kepikiran sama ucapan Kenan mas, dia sekarang sudah dewasa ya. Bahkan aku kalah dewasa dibanding dirinya.” Ucap Khansa.



“Sudahlah, jangan dipikirin terus nanti kamu stress. Kata dokter, ibu hamil ga boleh stress nanti anaknya ikut stress loh.”



“Iya mas aku ga stress kok tenang aja hehe.” Ucap Khansa yang memaksakan senyumnya.



“Oh iya sayang, bagaimana jika setelah dari pantai kita membeli peralatan bayi untuk anak-anak kita.” Ajak Kalandra.




“Tunggu! Selama ini aku ga ngeh, tapi sepertinya kamu sudah mengingat semua kan mas? Kamu sudah tidak lupa ingatan kan mas?” tanya Khansa yang menyadari keanehan dari suaminya.



“Ha? apaan sih sa, aku masih belum mengingat apapu.” Elak Kalandra.



“Mas, sudahlah kamu tidak bisa membohongiku. Semua yang kamu lakukan ini adalah kebiasaanmu waktu dulu.” Ucap Khansa.



“Aku.. maafkan aku sa, aku berbohong padamu..” ucap Kalandra menyesal.



Khansa menatap wajah suaminya dan melihatnya dengan tatapan serius.



“Sebenarnya dari kapan ingatanmu kembali? Apa jangan-jangan sebenarnya kamu tidak lupa ingatan mas?” selidik Khansa.



“Tidak sayang, aku memang benar-benar lupa ngatan. Tapi saat aku bisa berjalan tiba-tiba kepalaku sangat sakit dan sempat pingsan lalu tiba-tiba aku mengingat semuanya.” Kalandra memberikan penjelasan kepada istrinya.



“Pingsan? Kapan mas? Kenapa aku tidak mengetahui apapun?” tanya Khansa.



“Entahlah aku juga lupa waktu itu kamu kemana, intinya disana hanya ada aku dan Anita. Aku menyuruh Anita untuk tidak memberitahumu.” Ucap Kalandra.



“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh mengetahuinya? Apa kamu sangat senang jika aku bahkan sangat canggung untuk berbicara denganmu?” tanya Khansa kesal.



“Maaf sayang, aku hanya ingin kamu tetap berada di perusahaan dan menggantikanku, aku melihat jika kamu sangat senang bekerja disana, makanya aku menunggu waktu yang tepat untuk memberitahumu.”



Khansa hanya menghela nafas panjang tanpa merespon ucapan dari suaminya.



“Jangan marah ya sayang, aku tidak bermaksud apa-apa serius deh..”



“Oh iya, aku juga tidak ingin kamu berurusan lagi dengan Robert.” Lanjut Kalandra.



“Kenapa mas?” tanya Khansa.



“Karena dia terlalu berbahaya sayang. Biarkan aku saja yang membalasnya.”



“Tapi mas..” omongan Khansa terputus karena Kalandra menghentikannya.



“Tidak ada tapi-tapian sa, kamu bahkan belum mengetahui bagaimana wajah Robert, bagaimana sifatnya. Lalu bagaimana bisa kamu melawannya hanya berdasarkan informasi?”



“Baiklah aku akan menuruti perintahmu..” ucap Khansa lemas.



Kalandra mengelus rambut istrinya dengan tangan kirinya.



“Setelah kamu melahirkan, aku akan membiarkanmu tetap bekerja di perusahaan sayang.”



“Lalu bagaimana dengan anak-anak kita jika aku bekerja?” tanya Khansa.



“Aku akan merenovasi ruangan kerjaku dan membuat ruangan istirahat untuk anak-anak kita, jadi kamu akan tetap bisa memantau mereka saat bekerja.” Ucap Kaladra.



Khansa menjadi sangat senang mendengar ucapan suaminya yang membiarkannya bekerja, karena setelah Khansa masuk ke perusahaan suaminya, Khansa merasa nyaman dan senang bisa bekerja dan ingin tetap bekerja walaupun hanya diam tidak melakukan apapun.



Setelah melewati perjalanan yang cukup lama, mereka akhirnya sampai di pantai yang sangat indah dan populer di sana.



Khansa sangat antusias dengan segera keluar dari mobil dan berlari ke arah pantai, Kalandra yang melihat istrinya berlari merasa khawatir karena takut jika istrinya terjatuh.



“Sayang pelan-pelan jangan berlari!” teriak Kalandra yang baru saja menutup pintu mobilnya.



“*Astaga kadang kala istriku benar-benar susah di atur*.” Batin Kalandra yang berlari mengikuti Khansa.



Disana Khansa meminta Kalandra untuk memotretnya karena dia tidak ingin melewatkan pemandangan indah itu.



“Bagaimana hasilnya mas? Apakah aku terlihat cantik?” tanya Khansa yang sedikit berteriak karena disana sangat berisik dengan ombak yang cukup besar.



Khansa menghampiri suaminya dan melihat hasil fotonya.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1605609474167.jpg)



“Cantik kok sayang, kamu ga percaya sama aku?” tanya Kalandra.



“Ih mas, kok aku keliatan gendut sih? Ulangi pokoknya sampe aku ga keliatan gendut lagi.” protes Khansa yang segera menuju tempat fotonya tadi.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1605609474159.jpg)



“*Ya mau sampe tanganku keriting juga ga akan keliatan kurus orang dia lagi hamil, astaga apa salah dan dosaku*..” batin Kalandra yang mengeluh dengan tingkah istrinya.