MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
AKU TAU SEBENARNYA KAMU ADALAH TEMAN YANG BAIK


Kesuksesan hanya untuk mereka yang mampu bangkit dari setiap kegagalan, anda dikatakan gagal ketika anda memutuskan berhenti.



Hari ini Kalandra terbangun dari tidurnya lebih dulu di banding Khansa, Kalandra menatap wajah polos istrinya tanpa makeup, dia tersenyum mengingat jika dirinya meminta jatah kepada Khansa berkali-kali dengan berbagai macam gaya hingga membuat Khansa kelelahan.



Kalandra mengelus lembut rambut istrinya itu sambil menatapnya dalam.



“Maaf karena membuatmu kelelahan semalam sayang.” ucap Kalandra lalu mengecup kening istrinya itu.



Khansa yang merasa ada bibir kenyal yang menempel di keningnya dengan perlahan dan tersenyum menatap wajah suaminya.



“Selamat pagi sayang.” ucap Kalandra dengan lembut.



“Selamat pagi suamiku, aku kesiangan ya?” tanya Khansa dengan suara khas bangun tidurnya.



“Tidak kok, maaf ya aku membuatmu kelelahan semalam.” Ucap Kalandra.



Khansa segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum kepada suaminya. “Itu sudah menjadi kewajibanku mas.”



Kalandra tersenyum karena istrinya memang tidak pernah protes sedikitpun saat dia meminta jatah sebanyak yang dia inginkan.



“Ayo bangun mas, mau sampai kapan kita bersantai seperti ini. Kita harus segera ke perusahaan.” Ucap Khansa yang bangun dari tempat tidurnya.



“Kamu lupa jika aku adalah CEO perusahaan itu dan kamu adalah istri seorang CEO.”



“Lalu? Apa kita bisa seenaknya jika kamu adalah seorang CEO dan aku adalah istri CEO? Cepat bersiaplah tidak ada alasan apapun!” tegas Khansa yang berlalu menuju kamar mandi meninggakan Kalandra yang masih terdiam di tempat tidurnya.



“*Yaampun, sebenarnya yang CEO ini siapa? Bagaimana bisa seorang CEO hebat seperti Kalandra bisa menuruti perintah istri sekaligus sekertarisnya sendiri*.” Batin Kalandra sambil menggelengkan kepalanya.



Kalandra melihat Khansa keluar dari kamar mandi dengan tubuh dan rambut yang hanya terlilit oleh handuk putih. Kalandra segera menghampiri istrinya itu dan memeluknya dari belakang.



“Sayang, sepertinya kita tidak usah bekerja hari ini.” Kalandra berbisik tepat di belakang telinga Khansa.



“Kenapa mas?” tanya Khansa yang segera membalikkan badannya.



“Sepertinya aku ingin menyantapmu lagi pagi ini.” ujar Kalandra yang membuat Khansa membulatkan matanya dengan lebar.



“Mas, aku baru saja mandi besar dan kita akan terlambat jika melakukannya lagi. Sudahlah cepat mandi sebelum Kenan bangun dan mengetuk pintu kamar kita.” Ucap Khansa sambil mendorong suaminya ke kamar mandi.



“Huh, apa semua laki-laki tidak memiliki rasa puas? Badanku saja sudah sangat pegal dengan semua perbuatannya tadi malam.” Gumam Khansa yang segera memakai bajunya kembali.



Setelah memakai pakaiannya, seperti biasa Khansa menuju kamar anak-anaknyaa untuk memberi mereka ASI dan membawa Rey ke kamar mama mertuanya lalu melihat apakah Kenan sudah siap untuk berangkat ke sekolah.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1607584371767.jpg)



“Kenan sayang, apakah kamu sudah siap?”



“Sudah mami.” Ucap Kenan sambil membalikkan badannya ke arah maminya.


Khansa tersenyum melihat anaknya karena masih ada pakaian yang keluar dari celananya, Khansa segera menghampiri anaknya dan merapihkan pakaiannya.



“Kamu sudah semakin besar sekarang, dan kamu akan meninggalkan mami saat besar nanti.” Ucap Khansa yang menunukkan ekspresi sedih.



Kenan menyentuh kedua pipi maminya dengan lembut. “Mami tenang saja, Kenan akan membeli rumah di dekat rumah papi agar tidak jauh dari mami.” Ucap Kenan.



Khansa hanya tersenyum mendengar ucapan anaknya itu. “Sudahlah ayo kita sarapan lalu berangkat ke sekolah.” Ucap Khansa.



Khansa mengangguk dan segera mengambil tasnya lalu mengikuti maminya untuk turun ke bawah.




“Selamat pagi anak papi.”



“Kemana papa dan mama mas? Mereka masih belum turun?” tanya Khansa yang tidak melihat papa dan mama mertuanya.



“Entahlah, mungkin mereka masih ingin berduaan di kamar.” Canda Kalandra.



“Mas, aku sedang tidak bercanda loh.” ucap Khansa dengan tatapan sinisnya.



“Tadi aku sudah mengetuk pintu kamarnya, mereka akan menyusul nanti dan menyuruh kita untuk makan terlebih dahulu. Jadi kalian segera makanlah agar tidak terlambat.”



Akhirnya Khansa pasrah dan menuangkan makanan untuk suami dan anaknya secara bergantian. Mereka makan dengan tenang tanpa berbicara sepatah katapun.



Setelah menyelesaikan makanannya Khansa melihat Kenan yang awalnya bersemangat tiba-tiba saa menjadi murung dan membuat Khansa merasa ada yang aneh dengan anak sulungnya itu.



“Kenan, kamu kenapa tiba-tiba murung?” tanya Khansa.



“Kenan baru ingat mi kalau Bernard dan Belinda akan pindah sekolah hari ini.” ucap Kenan dengan wajah yang sedih.



“Benarkah? kemana mereka akan pindah?”



“Ke Jepang mi, orang tua mereka membangun perusahaan di sana jadi mereka ikut orang tuanya.” Jelas Kenan.



“Seperti itulah memang, pas lagi ada kamu jutek banget sama mereka, sekarang mereka mau pindah baru ngerasa kehilangan.” Ejek Kalandra yang membuat Kenan semakin bersedih mendengar ucapan papinya.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1607584371762.jpg)



“Mas, kamu ini kok malah bikin Kenan sedih sih. Sudahlah sayang, papi juga memiliki perusahaan di Jepang, kita akan mengunjungi mereka jika ke Jepang nanti.” Ucap Khansa.



“Tidak perlu mi, untuk apa Kenan mengunjung mereka sampai jauh-jauh ke Jepang.” Ketus Kenan.



“*Lah bukannya tadi dia yang sedih, kenapa sekarang jadi sok jual mahal gini sih*.” Batin Khansa.



Sekolah Kenan


Kenan masuk ke dalam kelas dengan lemas karena memikirkan jika teman yang selama ini menemaninya akan pindah jauh.


“Hai Kenan..” sapa Belinda dan Bernard secara bersamaan dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


“Kalian? bukankah kalian akan pindah hari ini?” tanya Kenan.


“Iya, nanti malam aku dan Bernard akan meninggalkan Indonesia. Apa kamu sedih karena kami pindah?” tanya Belinda.


“Tidak, aku senang karena kamu akan segera pindah dan aku tidak akan mendengar ocehanmu lagi.” Ketus Kenan yang berbohong.


“Ish, kamu ini selalu saja menyebalkan. Apakah tidak bisa kamu mengatakan iya walaupun hanya berbohong?” ucap Belinda.


“Sudahlah Bel, jangan berdebat dengan Kenan di saat terakhir kita bertemu.” Ujar Bernard.


“Lihat saja nanti, aku akan menjadi wanita dewasa yang cantik dan hebat, aku akan membuatmu menyukaiku.” Tegas Belinda.


“Terserah kamu saja, aku tidak akan pernah menyukaimu walaupun saat kamu sudah wanita dewasa yang cantik.” Ketus Kenan.


Belinda yang kesal karena mendengar ucapan Kalandra itu hanya diam lalu pergi meninggalkan Kenan.


“Kamu baik-baik di sini ya Kenan, jangan terlalu jutek karena kamu tidak akan mendapatkan teman jika terus memasang wajah jahatmu itu.” Ucap Bernard.


“Iya iya, kamu hati-hati disana semoga kita bisa bertemu lagi nanti.” Ujar Kenan dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


“Aku akan menemuimu jika aku ke Indonesia.” Bernard membalas senyuman Kenan.


“Terimakasih.” Ucap Kenan secara tiba-tiba dan membuat Bernard terkejut.


“Ha? terimakasih untuk apa?” tanya Bernard.


“Terimakasih selama ini kamu tetap mau menemaniku walaupun aku selalu jahat.” Ucap Kenan dengan malu-malu.


Bernard tersenyum karena setidaknya Kenan yang sangat dingin itu bisa mengucapkan terimakasih kepadanya.


“Sama-sama Kenan.” Bernard mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Kenan.


Kenan tersenyum dan membalas uluran tangan temannya itu.


“Aku tau kamu sebenarnya adalah teman yang baik Kenan.” ucap Bernard di dalam hatinya.