
Perlu satu menit untuk menyukai seseorang dan satu jam untuk mencintai seseorang, tapi perlu seumur hidup untuk melupakannya!
Kehadiran Kalandra dan Khansa di sambut dengan senang hati oleh Aldi dan keluarganya.
“Selamat datang tuan Kalandra dan nyonya Kalandra.” ucap Aldi sambil mengulurkan tangannya.
“Terimakasih atas undangannya tuan Aldi.” Ucap Kalandra sambil membalas uluran tangan Aldi.
“Selamat ulang tahun untuk adiknya tuan Aldi.” Ucap Khansa sambil tersenyum.
“Terimakasih nyonya Kalandra. Mari, aku akan memperkenalkan kalian kepada adikku.” Ajak Aldi kepada Kalandra dan Khansa.
Mereka menghampiri wanita cantik yang sedang berdiri dan berbicara dengan teman-temannya di depan.
“Kakak.” Teriak wanita cantik itu dan berlari memeluk kakaknya.
“Kamu sudah besar sekarang Liv jangan seperti ini.” tegas Aldi.
“*Dia imut sekali, sepertinya sepantaran dengan Leo dan Rose*.” Batin Khansa.
“Kenalkan, ini adalah teman-teman kakak. Ini Kalandra dan yang ini adalah istrinya Khansa.” Ucap Aldi memperkenalkan Kalandra dan Khansa.
“Hai, kak Kalandra hai kak Khansa. Namaku Olivia aku masih berumur 19 tahun.” Ucap Olivia memperkenalkan dirinya dengan ceria.
“Hai Olivia panggil aku kak sasa saja ya, selamat ulang tahun, kamu cantik sekali.” puji Khansa.
“Terimakasih kak sasa, kakak juga sangat cantik tapi sepertinya aku pernah melihat wajah kakak dimana ya?” Olivia mencoba mengingat dimana dia pernah melihat Khansa.
Aldi yang mendengar perkataan adiknya itu tersadar, adiknya pernah melihat buku hariannya dan di dalam buku itu terselip foto SMA Khansa.
“Aduh kamu ini Liv, mungkin kamu salah orang. Sudahlah jangan buat orang bingung.” Ucap Aldi mencoba untuk mengalihkan pembicaraan adiknya itu.
Sebenarnya Khansa juga bingung kapan Olivia bertemu dengannya, karena Khansa pun baru hari ini mengetahui jika Aldi memiliki adik kandung.
“Mas, aku ke toilet sebentar ya?” Khansa tiba-tiba ingin pergi ke toilet.
“Aku akan mengantarmu.” Ucap Kalandra.
“Tidak usah mas, kamu di sini aja sama tuan Aldi dan Olivia, aku bisa sendiri kok mas.” Ucap Khansa.
Kalandra mengangguk dan mengijinkan istrinya untuk pergi ke toilet sendiri, Aldi memberitau dimana toilet berada kepada Khansa, setelah mengetahui keberadaan toilet akhirnya Khansa segera meninggalkan mereka.
Setelah keluar dari toilet, Khansa berjalan menuju cermin terlebih dahulu untuk merapihkan dandanannya, setelah selesai Khansa segera keluar dari toilet.
“AWW!” ucap Khansa dengan nada sedikit berteriak karena tubuhnya tidak sengaja di tabrak oleh seorang laki-laki.
“Ah, maaf saya tidak sengaja.” Ucap lelaki yang tidak sengaja menabrak Khansa sambil mengambil dompet Khansa yang terjatuh.
“Saya yang teledor maaf, dan terimakasih karena sudah mengambilkan dompet saya tuan.” Ucap Khansa sambil mengambil dompet yang di berikan oleh laki-laki itu.
“Saya permisi dulu tuan, sekali lagi saya mohon maaf.” Ucap Khansa lagi lalu pergi meninggalkan laki-laki itu.
“*Siapa wanita cantik itu*?” batin laki-laki tersebut sambil tersenyum melihat kepergian Khansa.
Khansa kembali ke tempat suaminya yang sedang berbincang-bincang dengan rekan-rekan bisnisnya.
“Sudah sayang?” tanya Kalandra yang melihat Khansa sudah berada di sebelahnya.
“Mas, apakah masih lama? Aku sudah merindukan anak-anak.” Bisik Khansa.
Kalandra tersenyum melihat istrinya yang sudah gelisah karena memikirkan anak-anaknya.
“Maaf tuan-tuan, sepertinya saya dan istri saya harus undur diri karena kami meninggalkan anak-anak kami di rumah.” Ucap Kalandra kepada rekan-rekan bisnisnya.
“Kenapa cepat sekali tuan Kalandra, bukankah anda memiliki pelayan untuk menjaga anak-anak anda?” ucap salah satu rekan bisnis Kalandra.
“Mungkin tuan Kalandra takut sama istrinya.” Ejek rekan bisnis lainnya.
“Wah, kalau begitu lebih baik tidak usah menikah lagi tuan Kalandra agar tidak hidup seperti di penjara.” Ucap rekan bisnis yang lainnya.
Deg..
Kalandra terdiam mendengar ucapan rekan bisnisnya itu, Kalandra menoleh ke arah istrinya yang menahan emosinya.
“Maaf tuan-tuan saya lancang, tapi saya tidak pernah takut kepada istri saya, saya seperti itu karena saya mencintainya dan menghormatinya sebagai perempuan, tidak seperti kalian yang selalu pulang malam setelah berpesta dan minum-minum. Apa kalian pernah membawa istri kalian ke pesta? tidak bukan? Kalian lebih memilih untuk membawa wanita simpanan kalian ke pesta dan membiarkan istri kalian menunggu kepulangan kalian di rumah sampai merelakan waktu tidurnya.” Tegas Kalandra.
Semua rekan bisnis Kalandra hanya bisa terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun, mereka tidak pernah melihat tatapan Kalandra yang setajam itu.
Kalandra segera berbalik dan merangkul pinggang Khansa dengan erat.
“Mas, kamu ga perlu sampai segitunya.” Ucap Khansa.
“Aku kesal jika mereka membicarakanmu sayang.”
“Iya mas sudahlah tidak usah di ambil hati perkataan mereka. Ayo kita pamit kepada tuan Aldi dan Olivia.” Ajak Khansa yang di balas anggukan oleh Kalandra.
Kalandra dan Khansa menghampiri Aldi dan Olivia untuk berpamitan.
“Tuan Aldi, nona Olivia maaf saya dan istri saya harus pamit untuk pulang terlebih dahulu.” Ucap Kalandra.
“Kenapa cepat sekali?” tanya Aldi.
“Anak-anakku ditinggal di rumah, istriku kepikiran dengan mereka.” Jelas Kalandra.
“Olivia, kak sasa pulang dulu ya. Lain kali mainlah ke rumah dan bermain dengan anak-anakku.” Ucap Khansa.
“Bolehkah kak? Kapan-kapan aku akan meminta kak Aldi untuk mengantarkanku bermain ke rumah kakak.” Ucap Olivia.
Khansa tersenyum melihat tingkah Olivia yang masih seperti anak kecil itu. Akhirnya Khansa dan Kalandra masuk ke dalam mobil dan memutuskan untuk pulang.
Tiba-tiba keheningan di dalam mobil tertutupi dengan suara perut Khansa yang meminta makan. Kalandra yang mendengar suara perut istrinya itu hanya tertawa dan menoleh ke arahnya.
“Perutmu lagi konser sayang?” ejek Kalandra.
“Kamu kebiasaan deh pasti ngeledek aku, aku kan malu lagian tadi aku belum makan apa-apa terus pundak aku juga sakit habis di tabrak orang.” Keluh Khansa.
Kalandra yang mendengar istrinya di tabrak orang itu segera menghentikan mobilnya secara mendadak dan membuat Khansa terkejut.

“YaAllah mas, ada apa?” tanya Khansa yang segera menoleh ke arah suaminya.
“Kamu bilang tadi kamu di tabrak orang? Siapa itu, kapan, kenapa aku tidak mengetahuinya?” tanya Kalandra.
“Tadi pas di kamar mandi mas, aku keluar terus ada orang yang masuk dan ga sengaja kita bertabrakan.” Jelas Khansa.
“Siapa yang menabrakmu?” tanya Kalandra.
“Pokoknya laki-laki mas, aku juga tidak begitu paham dengan wajahnya. Sudahlah mas aku baik-baik saja kok, beneran deh.” Ucap Khansa menenangkan suaminya.
“Kamu yakin kalau kamu baik baik saja?”
“Iya suamiku sayang, lihatlah bukankah aku baik-baik saja? sudah ayo cepetan aku laper banget nih..” rengek Khansa.
Setelah memastikan jika istrinya baik-baik saja, akhirnya Kalandra melanjutkan perjalanannya dan berhenti di sebuah restoran untuk makan malam bersama istrinya.
Kalandra mencari kursi untuk dirinya dan Khansa lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan.
“Kamu mau makan apa sayang?” tanya Kalandra yang sedang memegang buku menu.
“Terserah kamu deh sayang, pokoknya jangan yang aneh-aneh ya.” ucap Khansa.
“Baiklah samakan saja dengan punyaku ya?” tanya Kalandra yang di balas anggukan oleh Khansa.
“Baiklah mbak saya pesan 2 steik porsi sedang 2 spaghetti dan 2 jus alpukat.” Ucap Kalandra.
Pelayan tersebut menganggukkan kepala tanda mengerti dan pergi meninggalkan meja Kalandra dan Khansa.
“Mas, habis steik makan spaghetti, terus jus Alpukat?” tanya Khansa.
“Hm, kamu harus banyak makan agar kamu bisa menghasilkan ASI yang banyak dan anak-anak kita mendapatkan ASI yang cukup.” ucap Kalandra sambil tersenyum.
“Yaampun mas, kamu kira aku sapi perah harus menghasilkan susu yang banyak?” tanya Khansa sambil memainkan lilin yang ada di meja.

Kalandra hanya tertawa mendengar ucapan istrinya itu, sedangkan Khansa hanya menggelengkan kepalanya karena tingkah suaminya.